DILEMA - Turun Ranjang

DILEMA - Turun Ranjang
Keinginan Untuk Tidak Bercerai


__ADS_3

****


Keesokan harinya. Seperti hari sebelumnya, Alfiya kembali memasak. Kali ini ia mencoba memasak nasi goreng untuk sarapan pagi. Membuatkan susu untuk Anggian dan juga untuknya dan Elvan.


Sosok dua lelaki yang tengah menunggunya di meja makan terlihat memiliki keasikan masing-masing. Jika Anggian seperti biasa sibuk dengan mainannya sembari menyedot susu dari botol yang dibuatkan Alfiya, maka Elvan sibuk memperhatikan wanita yang tengah sibuk mengaduk dua gelas susu itu dengan serius.


Elvan kemudian membiarkan Anggian duduk sendiri dikursi, sementara ia beranjak mendekati Alfiya yang berdiri.


Sadar Elvan mendekatinya Alfiya lantas menoleh. "Mas...."


Kejadian tadi malam rupanya telah membuat hubungan mereka lebih intim tanpa mereka sadari. Sebenarnya semalam Elvan bergegas menyusul Alfiya dikamarnya, karena penasaran akan beberapa hal. Namun, karena Rian tiba-tiba datang dengan menggendong Anggian yang sudah tertidur maka ia pun mengurungkan niat tersebut.


Barulah pagi ini ia bertemu lagi dengan Alfiya setelah apa yang terjadi tadi malam.


"Ini susunya, aku bawa ke meja ya." Ujar Alfiya berusaha mengalihkan suana yang ia rasa canggung.


Belum sempat Alfiya mengangkat dua gelas susu tersebut. Tiba-tiba ia terdiam saat Elvan tak bergerak sedikit pun dari hadapannya.


"Mas, minggir aku mau lewat."


Berbeda dengan Alfiya yang berusaha menghindar. Fokus laki-laki itu beralih pada tanda kemerahan yang masih membekas dileher Alfiya.


Laki-laki itu lantas tersenyum. Tangannya kemudian dengan jahil menyentuh itu.


"Mas, jangan." Alfiya menepis pelan tangan Elvan.


Namun, Elvan tak bergeming. Seperti ia sengaja membuat Alfiya salah tingkah dengan sikapnya. Hingga akhirnya laki-laki itu memberanikan diri untuk menurunkan wajahnya perlahan untuk menggapai sesuatu disana.


"Mas, ada Gian."


"Kenapa? Kita adalah orang tuanya. Boleh, kan?"


"Hm...."


Baik, Alfiya menahan nafasnya. Ini tidak benar, ia kesulitan bernafas. Setelah kejadian tadi malam Elvan semakin tidak takut untuk menyentuhnya. Ini salahnya, dia yang terlebih dahulu dengan beraninya mendaratkan ciuman pada laki-laki ini.


Sebuah kecupan singkat mendarat dibibirnya yang ranum. Kecupan selamat pagi. Alfiya mengigit bibir bawahnya sejenak.


Namun, tidak dengan Elvan. Laki-laki itu semakin berani untuk meraih pinggang Alfiya dengan kedua tangannya.


"Mas, udah ya. Kita sarapan."


Elvan memiringkan wajahnya. Lalu tersenyum santai untuk menatap Alfiya, membuat gadis itu sedikit menundukkan wajahnya.


Ampun,


Alfiya bingung harus bagaimana. Ia juga tidak bisa untuk menahan Elvan untuk melakukan ini padanya. Janji nikah, menjadi salah satu alasannya. Merasa tidak enak, merasa bersalah, takut semua perasaan itu percampur aduk menjadi satu.

__ADS_1


"Terimakasih ya, sudah mau berperan sebagai ibu yang baik dan juga...." Elvan kembali tersenyum sembari memiringkan wajahnya untuk menatap Alfiya yang setika mendongak.


"Dan juga, membuatkan sarapan untuk mas dan Gian."


"Ini, aku melakukannya karena ingin kok mas." Entahlah Alfiya hanya ingin mencari sebuah alasan, pada dasarnya sedari bangun tadi pagi dikepalanya sudah terintruksi membuat sarapan untuk Elvan dan juga Gian.


Lagi-lagi Elvan tersenyum, menerima saja alasan yang dilontarkan oleh gadis ini. Andai saja Alfiya ingat kejadian kemarin malam. Betapa mereka berdua sudah begitu dekat.


"Terimakasih sudah melakukannya karena ingin."


Alfiya benar-benar ingin menghembuskan nafas yang tertahan saat ini, entah kenapa suara Elvan terasa sangat merdu menerpa telinganya. Apa sih, maunya laki-laki yang ada dihadapannya ini. Selalu saja melontarkan kata-kata yang membuat dadanya berdesir dengan cepat.


Tidak, ini bukan salah Elvan. Tetapi ini salahnya, salahnya karena memiliki hati yang rapuh. Sehingga bisa langsung terbuai begitu saja.


****


Alfiya duduk dibangku penumpang saat itu. Mobil masih melaju dengan kecepatan sedang. Seolah memberi waktu pada dua insan yang sedang duduk berdua disana.


Sementara itu Elvan tengah menyetir dengan tenang. Pandangannya lurus kedepan. Untuk sesaat Alfiya lagi-lagi terpaku. Elvan benar-benar laki-laki dewasa yang mempunyai daya tarik tersendiri.


"Kenapa, Fi?"


Ha,


Alfiya tersadar. "Kenapa mas?" jawabnya seketika.


Elvan tersenyum dengan mata masih fokus pada lalu lalang didepannya. Agaknya ia sadar kalau Alfiya sedari tadi memperhatikannya. Gadis ini semakin hari selalu membuat gerak-gerik yang semakin menarik perhatiannya. Entah apa lagi yang akan ia lakukan nantinya.


Sebuah keajaiban yang tidak terduga tat kala Alfiya tanpa diduga melakukan hal-hal mengejutkan beberapa hari ini. Bahkan ia sempat mendaratkan sebuah kecupan singkat tadi pagi terhadap gadis itu.


****


Sesampainya dikampus Alfiya ingin bergegas turun saja. Jujur ia semakin tidak bisa mengkondisikan dirinya sendiri jika terus berlama-lama bersama Elvan.


"Mas, aku berangkat ya." jelasnya pada Elvan.


"Fiya, sebentar. Mas, mau bicara hal penting sama kamu." ujarnya dengan raut wajah serius.


Walau termangu sejenak Alfiya menjawab. "Iya, mas mau ngomong apa?"


Elvan terlihat terpejam, berusaha untuk mengkondisikan dirinya sebaik mungkin dihadapan Alfiya.


"Mas, mau bicara apa? Bicaralah?" Ujarnya sembari menyilapkan rambut panjangnya yang menjuntai kedepan dengan satu tangannya lagi berusaha membuka pintu mobil tanpa menatap Elvan.


"Apa kalau mas meminta kamu untuk menjauhi laki-laki itu sekarang, kamu mau menurutinya."


Setelah kata itu terlontar, suasana hening sejenak mengintrupsi mereka berdua.

__ADS_1


Alfiya sedikit menunduk. Untuk saat ini itu bukan hal muda yang bisa ia katakan kepada Elvan. Ia memang menjaga jarak dengan Joe, tapi menjauhi seperti apa yang Elvan maksud.


"Maksud mas, aku harus menjauh bagaimana?" Menjauh untuk selamanya atau sampai mereka kemungkinan 'berpisah'.


"Kamu benar, gak ngerti apa yang mas katakan?"


"Iya." jawabnya memancing reaksi Elvan. "Aku gak terlalu paham maksudnya."


"Fi, sikap kamu tadi malam...."


Oh,


Alfiya ingat tadi malam, mereka melakukan hal yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya.


"Sikap aku semalam.... em, mungkin lebih baik jangan langsung mas ambil hati. Aku sendiri bingung kenapa aku bersikap begitu. Aku seperti gak kenal siapa aku. Jadi, mungkin...." Haruskah Alfiya mengatakan ini. Hah, ternyata benar Alfiya merasa ia gadis yang tidak berpendirian.


"Fiya...."


"Lupain aja mas, anggap saja aku sedang mabuk sama seperti mas saat malam itu. Anggap saja aku sedang hilang akal."


Elvan bungkam sejenak. Namun, tangannya tergerak untuk menyentuh tangan Alfiya yang berada disisi kirinya.


Sementara itu Alfiya masih mematung, entah apa yang ia tunggu. Seharusnya ia bisa turun sekarang bukan. Seperti ada sesuatu yang ia harapkan dari Elvan.


"Mas, akan kasih kamu waktu. Untuk memahami perasaan kamu saat ini."


Tidak, bukan itu yang ia inginkan. "Mas, aku...."


Elvan dapat melihat kalau Alfiya tengah merasa gundah. Gadis itu terlalu sering berkata setengah-setengah mungkin karena ragu. Yang jelas Alfiya seperti orang yang menyimpan kegalauan dalam hatinya.


Hingga tanpa ragu lagi, Elvan kemudian menarik tangan Alfiya pelan dan mendekatkan tubuhnya.


"Apa benar, disaat semalam kita hampir...." Elvan rasa ia tidak perlu melanjutkan karena ia yakin Alfiya paham maksudnya.


Alfiya menggeleng pelan ingin agar Elvan tidak melanjutkan ucapan itu. Ia tidak ingin mendengarnya karena terlalu malu. Jelas saja awal dari kejadian itu akibat ulahnya sendiri.


Lantas tanpa ragu Elvan pun melanjutkan pertanyaannya. "Tadi malam, apa kamu gak ada keraguan sedikit pun?"


"Mas, bisa kan kasih aku waktu untuk menjawab semua ini."


Nyatanya mereka berdua seperti mempunyai harapan dan keinginan masing-masing.


Elvan lalu menelisik, menatap seksama eaut wajah Alfiya. "Apa itu artinya kamu ada keinginan buat gak bercerai dari mas, Fiya?" Mungkin lebih tepatnya, Elvan sedang menguji Alfiya saat itu.


Hingga akhirnya, Alfiya yang tersentak oleh pertanyaan tersebut, beralih untuk menatap Elvan dalam-dalam seolah mencari keyakinan atas pertanyaan barusan.


...****...

__ADS_1


...Happy Reading!!...


...Silahkan Vote jika kalian punya poin, silahkan kasih tip untuk yang punya koin. Jangan lupa like and komen juga, ya!...


__ADS_2