
****
Alfiya tentunya tidak pernah menyangka. Seorang Elvan ternyata mampu membuat dirinya bisa terdiam mematung seperti ini dinawah kungkungannya. Ada dorongan dalam hatinya untuk menggapai laki-laki ini. Ha, entahlah rasanya dia ingin menangis oleh keinginan itu. Sebenarnya apa yang terjadi dengan dirinya saat ini. Bisa-bisa ia mengharap pada Elvan.
"Mas...." lirihnya sembari masih saling menatap. "Em...." berde-em seperti sedang menahan tangis. Kenapa sepertinya malah ia yang lepas kendali disini. Nyatanya ia sendiri yang tidak bisa mengendalikan diri.
Alfiya akhirnya sadar akan satu hal, bagaimana dengan Joe. Laki-laki itu tidak tahu apa-apa. Joe juga tidak tahu kalau saat ia tengah berada satu kamar dengan Elvan.
Sementara itu Elvan rupanya dapat menangkap raut wajah asing pada Alfiya. Raut wajah yang menunjukkan seperti sebuah rasa bersalah, tapi pada siapa? Apakah pada laki-laki itu, Joe?!
"Fi...." Elvan kemudian beranjak dari atas tubuh itu.
"Coba kamu pikirin lagi, tentang semua ini. Perubahan sikap kamu akhir-akhir ini." ujarnya kemudian, lalu mendesah pelan. Ini memang tidak mudah ternyata. Walau bagaimana pun alasan kenapa mereka bisa menikah adalah karena perjanjian akan perceraian itu. Mereka menikah karena terpaksa, bukan karena cinta. Harusnya Elvan sadar, mendiang istrinya bahkan belum lama pergi. Bagaimana mungkin ia langsung bisa berpindah ke lain hati.
Melihat Elvan beranjak, Alfiya mencoba menahan. "Mas.... jangan pergi." ia mencekal tangan Elvan pelan.
"Kenapa tiba-tiba sikap kamu berubah akhir-akhir ini?" sepertinya Elvan butuh sebuah penjelasan.
"Em.... aku juga gak tau. Aku gak ngerti...." Dada Alfiya rasanya sesak, karena tidak menemukan sebuah alasan kenapa sikapnya bisa berubah terhadap Elvan.
Tidak tahu dan tidak mengerti? Elvan lantas menelisik curiga. Apa gadis ini juga menciumnya tanpa sebuah alasan?
Sementara itu, lagi-lagi dada Alfiya rasanya sesak, seperti ada hal yang harus ia lepaskan dari perasaannya itu. Tapi, apa dia tidak mengerti. Akhirnya dengan memejamkan matanya dalam-dalam, gadis itu pun mengeluarkan kalimat yang benar-benar diluar dugaan.
"Mas...." Alfiya lalu memanggil dengan lembut. "Kapan mas akan menjalankan kewajiban sebagai suami...."
Elvan mengerjap kaget oleh ucapan itu. "Kewajiban sebagai seorang suami? Maksud kamu?"
"Em...." Alfiya terlihat ragu-ragu. "Aku...." Ia kemudian menggigit bibirnya pelan. "Aku mau nafkah batin dari mas Elvan."
Sektika Elvan merasa dunia berhenti berputar. Ia hanya bisa bergeming oleh kalimat luar biasa itu. Sebegitu mudahnya Alfiya melontarkan kalimat itu padanya. Anggita saja saat meminta bunga padanya bahkan memasang wajah malu-malu.
Sementara itu selesai menyatakan kalimat tersebut, rasanya Alfiya masih merasa ada yang kurang. Namun tadi itu sudah seperti mengurangi rasa mengganjal dihatinya.
Dan, Elvan sebenarnya merasa ini sangat indah. "Alfiya, mas nggak tau harus ngomong apa. Tapi, kamu berkali-kali selalu membuat mas terkejut oleh sikap kamu."
Tiba-tiba rasanya Alfiya ingin menangis. Dia ingin menangis seolah masih belum puas dengan apa yang ia katakan tadi. Seperti masih ada sesuatu yang mengganjal di hatinya. "Mas.... aku mau nangis."
"Kenapa? Kamu malu oleh perkataan kamu tadi."
Alfiya lantas menggeleng. "Bukan, bukan karena itu."
__ADS_1
"Terus?"
"Nggak tau...." Ah, rasanya Alfiya benar-benar ingin menangis. Tapi, dia tidak tahu apa alasannya. "Mas, Elvan...." Gadis itu akhirnya merengek. "Aku mau nangis, tapi gak bisa nangis."
Elvan yang entah kenapa tiba-tiba menjadi gemas dengan gadis ini, akhirnya mendekat kembali. Ia terus menelisik dan menerka dengan apa gerangan yang terjadi. Akhirnya dengan pelan ia pun memutuskan untuk merengkuh gadis itu dalam pelukannya.
"Mas...." Alfiya kembali merengek didalam pelukan itu. "Aku kenapa sih?"
Elvan tersenyum, gadis ini mungkin tidak mengerti. Bahwasanya bisa jadi Alfiya saat ini tengah merasa haru, oleh perkataannya sendiri.
Elvan kemudian melepas pelukan itu sejenak untuk mempertemukan tatapan mereka. Elvan kemudian berusaha tersenyum oleh wajah yang sangat ingin menangis itu.
Pikirannya pun lantas menerka, mungkin saja saat ini Alfiya sedang terharu. Tapi, mungkin juga dia tidak sadar. Dia tidak sadar, kalau sebenarnya mungkin sudah mencintai Elvan. Dia mencintai Elvan, tapi tidak bisa terungkapkan oleh ketidak sadarannya. Jadinya Alfiya ingin menangis karena saking mengganjalnya perasaan itu. Nyatanya cinta memang berat dan sulit diungkapkkan dengan kata-kata. Mungkin karena itulah akhir-akhir ini sikap Alfiya berlebihan pada Elvan. Rasanya Elvan jadi ingin tahu pasti tentang perasaan Alfiya yang sebenarnya.
Apa mungkin seharusnya Alfiya melontarkan kata 'Aku mencintaimu' kepada dirinya. Agar perasaan gadis itu lebih lega.
Rasanya kali ini Elvan sepertinya yang ingin memangis. Benarkah apa yang ia pikirkan kalau Alfiya mencintainya? Kalau benar begitu, mungkin lebih baik ia menunggu sampai gadis ini sendiri yang menyadarinya.
Elvan kemudian mengecup puncak kepala Alfiya pelan karena merasa terharu. "Masih, mau nangis?" tanyanya kemudian.
"Em...." lirih Alfiya.
"Mas.... jangan cium disitu." protesnya pelan.
"Terus dimana?"
"Mas, bisa ngelakuin seperti yang biasa aku lakuin ke mas Elvan."
Lagi-lagi Elvan tersenyum sembari mengernyitkan dahi. Namun, akhirnya ia pun menuruti permintaan itu. Sebuah kecupan ia daratkan dibibir Alfiya yang merona.
Sementara itu Alfiya lantas melingkarkan tangannya dileher Elvan, menarik laki-laki itu untuk lebih dekat dengannya.
Setelah itu tatapan mata Elvan beralih kebagian leher. Terdorong keinginan untuk mulai menyusuri dibagian itu saat ini. Hingga akhirnya ia pun mulai menyesap disana, merasai dengan lidahnya berkali-kali. Membuat gadis itu menggelinjang oleh perbuatannya.
"Mas.... emh." Gadis itu melenguh.
Elvan tak berhenti sampai disitu. Perlahan ia kembali membaringkan Alfiya diatas ranjang. Melakukan hal yang sama menyusuri lehernya kembali. Tangannya pun tak luput untu menyentuh bagian tubuh gadis itu. Tangan kiri Elvan mulai bergerak untuk membelai dan memijat bagian paha Alfiya. Sementara tangan satunya lagi berusaha menopang tubuhnya agar tidak menimpa tubuh gadis dibawahnya itu.
Sebuah ciuman dibibir kembali Elvan daratkan. Memaut bibir gadis itu dengan lembut. Hingga akhirnya ciuman itu semakin dalam mempertemukan indera pengecap mereka. Mereka saling memilin dan membelai didalam sana.
Hasrat Elvan pun semakin timbul. Sepertinya ia akan mengabulkan permintaan Alfiya tadi saat ini juga. Tangan kirinya pun mulai bergriliya, menyusuri tubuh Alfiya, dari paha hingga masuk kedalam baju gadis itu. Elvan membelai perut itu dengan lembut. Hingga keinginan untuk menarik baju itu pun timbul. Saat Elvan mulai mengangkat baju kaos Alfiya, gadis itu tiba-tiba mengaduh sakit.
__ADS_1
Alfiya mendorong Elvan, hingga ciuman mereka terlepas seketika dan laki-laki itu terkejut seketika. Gadis itu terengah sesaat.
"Mas Elvan pukul kepala aku ya?" protesnya sembari mengelus kepala pelan.
Elvan yang masih terkejut pun hanya bisa termangu dan bingung.
Namun, seketika Alfiya mengaduh kembali oleh pukulan dikepalanya. Ia pun mendongak dan merasai sesuatu.
Kaki Anggian menendang kepalanya! Anak ini tahu saja mereka sedang melakukan apa.
Mungkin karena merasa kakinya dipegang, Anggian pun melenguh dan terbangun kemudian dengan keadaan setengah sadar merangkak dan beralih menelungkupkan diri diatas tubuh Alfiya menggantikan posisi Elvan sebelumnya, sembari mendorong-dorong Elvan dengan tangannya untuk menjauh seolah berkata hanya dia yang boleh berada didekat bundanya.
Alfiya dan Elvan pun memilih diam. Hingga tak lama Anggian pun tertidur kembali. Mereka pun sadar tidak bisa melakukan apa pun sementara Anggian ada bersama mereka.
"Fi, kayaknya malam ini mas belum bisa ngabulin permintaan kamu." Ia berbisik pelan ditelinga Alfiya. Lalu kemudian mengecup kening gadis itu pelan. "Nanti kita cari waktunya, oke." bisiknya lagi.
"Em...." Alfiya mengangguk. "Iya mas." Mau bagaimana lagi, ini bukan waktu yang tepat.
"Sekarang mungkin belum waktunya, nanti biar mas cari waktu untuk kita berdua, Fi." Elvan lalu turun dari ranjang. "Mas mau keluar sebentar." Iya, lebih baik Elvan keluar dari kamar. Otaknya benar-benar bleng saat ini. Takutnya dia benar-benar tidak bisa mengendalikan diri berada didekat Alfiya.
Sementara itu Alfiya pun memeluk Anggian erat setelah pintu kamar tertutup. Jantungnya masih bedegub-degub kencang setelah apa yang ia lakukan dengan Elvan tadi.
Ia lalu memandang sosok kecil Anggian. Sepertinya ia dan Elvan tidak bisa leluasa untuk melakukan apa yang mereka mau sementara ada Anggian bersama mereka seperti saat ini. Mungkin waktunya memang belum tepat.
*
*
*
*
Hai! Gimana menurut kalian ceritanya? Mudah-mudahan suka ya sama cerita Alfiya dan Elvan.
...Happy Reading!...
...Jangan lupa untuk Vote, Like and Komen, Ges!...
...Kasih koin juga boyeh!...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1