DILEMA - Turun Ranjang

DILEMA - Turun Ranjang
Izinkan Aku Menjadi Ibu Yang Baik


__ADS_3

Hai semua! Setelah satu bulan lebih hiatus. Aku pun memutuskan untuk melanjutkan cerita ini kembali.


Akan tetapi ada perubahan pada judul dan juga mungkin kalian bisa baca dari awal lagi karena di beberapa bab ada yang aku revisi, sekalian juga kalian bisa lihat visual para tokoh di bagian pertama cerita ini. Berikut aku juga merubah nama tokoh utama laki-lakinya dari Alvian menjadi Elvan.


Selamat membaca kembali!


****


Alfiya menjinjit kakinya, ia dapat merasakan perih yang teramat sangat. Keadaan itu membuat ia mematung sejenak di tempatnya. Jantungnya tak henti-hentinya berdegub kencang atas apa yang baru saja terjadi.


Alfiya dapat merasakan aliran darah dibawah sana sudah mengalir. Kepalanya pun mendadak pusing. Pada dasaenya gadis itu sebenarnya sangat fobia dengan darah.


"Duh..."Alfiya mengeluh sampai kapan listrik akan padam.


Akhirnya tidak berapa lama kemudian, sebuah cahaya memancar dari arah kamar Elvan. Perlahan cahaya itu semakin dekat hingga Alfiya dapat merasakan silaunya.


"Kamu kenapa?" Begitulah suara yang keluar dari laki-laki yang tengah khawatir itu. "Fi kamu nggak apa-apa?" Elvan terlihat mengarahkan senter ke arah wajah Alfiya yang terlihat berkeringat.


Elvan mengerjap, ia ingat mereka sedang menjaga jarak. Pantas saja Alfiya tidak menjawab pertanyaannya. Namun laki-laki itu seperti tidak perduli ia lantas menuntun Alfiya untuk masuk kedalam kamarnya.


Alfiya yang masih menahan sakit di kakinya pun berjalan memgikuti Elvan yang sedang memapahnya. Kepalanya benar-benar pusing, ia merasa lemas karena luka di kakinya.


Sesampainya didalam kamar, Elvan pun meraih Anggian dari Alfiya untuk menidurkannya di atas ranjang. Setelah itu ia kembali menghadap Alfiya yang masih berdiri mematung.


Ragu-ragu Elvan pun kembali mendekat. "Fi, aku keluar dulu ya. Mau periksa meteran listrik. Kamu jagain Anggian sebentar."


Masih dalam diamnya Alfiya pun mengangguk dan di tanggapi senyuman oleh Elvan. Bagus, berarti gadis ini sidah bisa di ajaknya berbicara.


Setelah itu Elvan pun bergegas keluar rumah. Untuk memeriksa keadaan meteran listrik rumahnya. Laki-laki itu agak heran karena listrik disekitar rumah tidak ada yang padam. Dan, benar saja saklar listrik rumahnya turun. Elvan jadi bingung apakah ini ulah seseorang? Apakah ada orang yang menurunkan saklar listrik ini? Tapi siapa? Benar-benar kurang kerjaan orang yang melakukan ini.


Setelah selesai menyalakan listrik rumahnya kembali. Elvan pun kembali masuk kedalam rumah.


****


Sementara itu di dalam kamar Elvan, saat itu Alfiya tengah terduduk di lantai sambil sesekali memperhatikan telapak kakinya yang masih tertancap pecahan guci. Tubuhnya semakin lemas melihat aliran darah tersebut.


Alfiya sebenarnya memiliki gangguan hemophobia, yaitu kondisi dimana takut saat melihat darah. Tidak hanya lemas bahkan orang dengan gangguan tersebut bisa sampai pingsan. Selain tidak bisa melihat darah, Alfiya juga tidak bisa melihat luka atau pun kegiatan menyuntik.


Tiba-tiba suara panik terdengar.


"Kita ke rumah sakit...."


Alfiya mendongak saat mendengar suara tersebut. Ia lihat Elvan berjalan mendekatinya.


Elvan memperhatikan luka di kaki Alfiya dengan tatapan ngilu. "Fi, kita kerumah sakit ya." raut wajah Elvan semakin khawatir.


Alfiya menggeleng pelan pertanda dirinya tidak mau.


"Luka di telapak kaki kamu parah Fi, kita kerumah sakit sekarang, nanti kaki kamu infeksi kalau nggak segera di obati. Biar mas gendong kamu." Elvan kemudian mendekati tubuh Alfiya untuk mengangkat tubuh gadis itu.


"Nggak usah mas." sahut Alfiya. "Panggilin bidan aja, kasihan Gian nggak ada yang nungguin." ujar gadis itu memberi pengertian sembari menatap Anggian yang tengah tertidur pulas di atas ranjang.

__ADS_1


Elvan menunduk sejenak seolah berpikir, hingga akhirnya ia mengangguk mengiyakan permintaan gadis yang tengah meringis sakit itu.


"Baiklah, kalau kamu tidak mau ke rumah sakit. Mas akan panggilkan bidan."


****


Beberapa saat kemudian, saat itu masih di kamar Elvan. Luka dikaki Alfiya sudah selesai di perban. Bidan yang mengobati kakinya pun sudah pulang.


Elvan yang baru saja dari luar kamar sehabis mengunci pintu setelah mengantar sang bidan untuk keluar rumah masuk kembali ke dalam. Ia pandangi Alfiya yang terlihat termangu dengan tatapan nanar.


"Masih sakit?" Tanya Elvan pada Alfiya yang sedang duduk di sofa.


Gadis itu mengangguk pelan. "Sedikit." jujur saja Alfiya masih syok saat ini oleh kejadian yang baru saja ia alami.


"Hm...." Elvan mengangguk paham. Pembicaraan mereka masih sepatah kata.


Lalu tiba-tiba suasana diantara mereka menjadi canggung. Masing-masing dari mereka memilih bungkam untuk beberapa saat.


Hingga karena terlalu lama keheningan itu terjadi Elvan pun membuka suara. "Ya sudah, mas akan keluar. Kamu bisa tidur disini." ujar Elvan akhinya.


"Nggak mas...." Sambar Alfiya cepat. "Biar aku balik ke kamar aku." sahut Alfiya. "Ini kan kamar mas."


Elvan menghela nafas sejenak. "Malam ini kalau bisa kamu temani Anggian tidur. Mas takut nanti saat dia bangun dia mencari kamu, dan di saat kamu tidak ada mas takut dia tiba-tiba mengamuk."


Alfiya termangu sejenak. Ada benarnya juga apa yang di katakan oleh Elvan. Bagaimana kalau Anggian terbangun dan mencari dirinya.


"Akhir-akhir ini Gian jadi lebih rewel...." Elvan mulai bercerita. "Mas tidak tahu harus bagaimana lagi. Dia.... dia...." Elvan tiba-tiba jadi terbata-bata. "Dia maunya sama kamu terus Fi." tambah Elvan dengan suara bergetar.


"Kalau ibunya masih ada, pasti keadaannya tidak akan seperti ini." lirih Elvan dengan suara semakin merendah.


Melihat hal tersebut Alfiya pun seketika beranjak. Ia pun melangkah walau dengan langkah hati-hati oleh kakinya yang masih di perban.


"Mas...." Gadis itu mendekati Elvan.


"Fi...." Elvan mendadak terkejut saat melihat Alfiya tiba-tiba mendekatinya. "Fi luka kamu...." ucapnya khawatir.


"Mas...." Alfiya pun mendudukan dirinya di samping Elvan. Alfiya menatap Elvan dalam-dalam, melihat guratan di wajah Elvan gadia itu paham akan kesedihan Elvan.


Elvan membalas tatapan Alfiya denga tatapan yang sama. Sorot mata gadis itu terlihat tengah menyapu wajahnya, seolah paham akan kesedihan yang ia rasakan saat ini.


"Mas...." Alfiya membuka suara pelan. "Aku tidak repot soal Gian. Aku sayang sama dia." ujarnya tulus.


"Alfiya." Masih dengan tatapan yang sama. "Tolong lupakan perkataan mas kemarin malam. Mas minta maaf karena telah melukai perasaan kamu." Elvan terlihat merasa berasalah.


"Seharusnya mas tidak berkata seperti itu." ia menjeda ucapannya sejenak. "Lalu, untuk perbuatan mas malam itu...."


"Iya?" Alfiya menunggu lanjutan perkataan Elvan.


"Mas benar-benar tidak sadar, saat itu mas benar-benar mabuk. Jadi, kamu bisa melupakan semuanya. Itu adalah kebodohan mas sendiri."


Kemudian keadaan kembali hening.

__ADS_1


Sementara itu Alfiya masih diam terpaku setelah mendengar segala yang Elvan ucapkan barusan. Ia merasa bukan itu yang ia inginkan dari laki-laki ini. Alfiya tidak tertarik untuk mendengarkan penjelasan atau permintaan maafnya tentang malam itu.


Jadi apa yang ia inginkan dari laki-laki ini sekarang?


"Fi, mulai saat ini...." Elvan terdiam dan menghela nafas sejenak. "Mulai saat ini sampai kita benar-benar berpisah nanti, Gian akan terus mengenal kamu sebagai sosok ibunya. Dan, bila hari perpisahan itu tiba, mungkin mas akan membawa Gian pergi jauh dari kalian. Jauh dari bapak dan juga ibuk...." ucapan itu terhenti sejenak.


Mata Alfiya mengerjap, ia tidak menyangka kalau Elvan akan berkata seperti ini. Membuatnya tiba-tiba merasa sangat sedih.


"Mas...." Alfiya menggeleng pelan tak percaya.


Elvan berusaha untuk tersenyum walau peraasaan pedih merasuki dirinya saat ini.


"Mas harus memisahkan kamu dengan Gian, Fi. Setidaknya sampai dia benar-benar paham kalau ibu kandungnya ternyata sudah pergi meninggalkannya." Mata Elvan semakin berkaca-kaca. Mengingat kepergian Anggita adalah hal paling menyakitkan baginya.


Mendengar hal tersebut Alfiya sontak menutup mulutnya pelan dengan tangan, rasanya ia semakin tak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar.


"Mas...." Lirih Alfiya pelan. "Mas Elvan nggak harus melakukan itu."


Elvan menggeleng pelan. "Mas harus melakukan ini Fi, mas akan membawa Gian ke tempat yang jauh. Mas harus melakukannya. Jika Gian terus bertemu dengan kamu maka dia akan terus menganggap kamu sebagai ibunya, Fi. Mas tidak mungkin membiarkan itu terjadi sementara nanti kita benar-benar berpisah dan kamu akan menjadi istri orang lain."


Hati Alfiya terenyuh, semua yang dikatakan Elvan benar. Anggian akan terus menganggap ia sebagai ibunya jika mereka terus bertemu. Benar, mereka harus berpisah sampai Anggian benar-benar paham dengan apa yang terjadi.


Tapi, kenapa hatinya menjadi sesakit ini? Kenapa hatinya seperti tidak menerima apa yang barusa dikatakan oleh Elvan tadi.


"Mas...." Alfiya mendadak terisak dan air matanya pun mengalir di pipinya yang mulus.


"Alfiya...." Elvan menyeka air mata Alfiya dengan jarinya. Laki-laki itu kemudian tersenyum. "Mari kita jalani hubungan ini dengan baik sampai nanti waktunya tiba." Setelah itu Elvan pun berdiri, ia memalingkan wajahnya sejenak.


Sementara itu Alfiya masih terisak dalam tangisnya. Gadis itu kemudian ikut berdiri lalu mendekati Elvan.


"Mas Elvan...." Ucapnya sembari menatap punggung sosok dihadapannya itu. "Selama hubungan ini masih berjalan izinkan aku untuk menjadi ibu yang baik buat Gian...." ujarnya dengan suara bergetar.


Mendengar perkataan tersebut Elvan mendongak dan memejamkan mata, entah kenapa kesedihan kembali merasuk dalam hatinya. Menjadi ibu yang baik? Laki-laki itu semakin sedih. Jadi Alfiya hanya ingin memberikan kenang-kenangan untuk Anggian.


"Mas...." panggil Alfiya. "Aku akan melakukan itu hingga hari itu tiba."


Elvan hanya bisa mengangguk menanggapi, mengangguk hanya untuk mengiyakan. Karena dia sendiri tidak tahu bagaimana harus membalas ucapan Alfiya saat itu.


Tapi, untuk apa? Untuk apa Alfiya melakukan hal tersebut kalau nanti hanya akan meninggalkan kenangan yang menjadi luka untuk anaknya.


*


*


*


*


Alfiya-nya lagi nih melamun ges!


__ADS_1


Like, Vote Komen Ges! Like, Vote Komen Ges! Like, Vote Komen Ges! Like, Vote Komen Ges! Like, Vote Komen Ges! Like, Vote Komen Ges!


__ADS_2