DILEMA - Turun Ranjang

DILEMA - Turun Ranjang
Wanita Paling Sempurna Dimatanya


__ADS_3

****


Saat itu, Alfiya hanya bisa berdiri kaku ketika Joe terus-terusan memohon padanya di ruangan kelas kampus yang sudah kosong setelah jam kuliah terakhir mereka berakhir. Suasana semakin lengan, hanya mereka berdua dengan ketegangan yang ada.


Joe terus menahan Alfiya yang hendak buru-buru pulang.


Namun, kembali lagi Alfita ingat tugas dan janjinya kepada untuk mengurus Anggian yang mungkin sudah menunggunya pulang.


Bukan itu saja, seperti ada dorongan pada dirinya untuk segera kembali saat ini. Ada rasa cemas dan gelisah. Seperti ia benar-benar merasakan kewajiban seorang ibu yang tengah dinantikan oleh anaknya yang menunggu di rumah.


Tatapan meminta pengertian terus Alfiya lontarkan pada sosok yang terus memohon tersebut.


"Aku mau kasih kejutan buat kamu, jadi nanti dulu ya pulangnya." Begitulah serangkaian bujukan Joe yang dilontarkan Alfiya.


Jika dulu Alfiya akan langsung mengiyakan apa pun permintaan Joe tanpa perduli akan hal lain. Berbeda dengan sekarang, ketika Joe meminta, maka pikirannya akan langsung bercabang pada hal lain, bukan fokus pada hal yang diminta oleh Joe.


Alfiya tahu hari sudah semakin sore, dan dia sedang mendalami peran barunya saat ini sehingga menimbulkan kecemasan tersendiri jika dirinya terlambat pulang. Ingatkan saja dirinya sedang berusaha untuk menjadi ibu yang baik bagi Anggian.


"Ini sudah sore, Joe. Aku harus pulang sekarang." Begitulah Alfiya memberikan penjelasan kepada laki-laki dihadapannya.


Laki-laki tersebut terlihat nampak sangat kecewa dengan penolakan Alfiya. Sikap Alfiya semakin hati semakin tidak ia mengerti. Kemana kekasihnya yang dulu. Kekasih yang pernah berkata agar ia tidak pergi meninggalkan dirinya. Tapi sekarang, lihatlah Alfiya malah seperti mengacuhkannya.


Joe semakin hari menyadari kalau Alfiya perlahan mulai berubah, seolah ada yang salah pada dirinya.


Sementara itu disaat Alfiya melangkahkan kakinya untuk keluar dari kelas dan memutuskan meninggalkan Joe.


Laki-laki itu lantas menyusul, lalu mengambil motor ya diparkiran dengan cepat, ia kemudian menyusul Alfiya yang hampir keluar gerbang.


Joe, yang berada diatas motor dengan helm dikepalanya itu terlihat berusaha untuk mengendalikan diri.


"Sebentar aja, Fi. Kita udah lama nggak ngabisin waktu berdua. Aku mohon...." ujarnya dengan wajah memelas.


"Joe...." Alfiya kembali menampakkan raut wajah meminta pengertian. "Kamu bisa ngertiin aku, kan? Semenjak hari itu, hari dimana keluarga kami berduka, aku udah gak bisa kayak dulu lagi " Kali ini bukan alasan, Alfiya tidak berbohong. Nyatanya ada hal yang membuat ia menolak permintaan Joe saat ini.


Melihat hal itu, Joe pun dengan cepat meraih kedua telapak tangan Alfiya dengan cepat.


"Plis, sayang. Jangan begini, aku kebingungan, Fi sama sikap kamu yang mendadak berubah."


"Aku cuma gak mau menghabiskan waktu, Joe. Ingat saja ibuk menganggap salah satu penyebab mbak Gita pergi, karena waktu itu aku mau-mau aja diajak pergi sama kamu, saat keluarga aku sedang sibuk." jelasnya dengan sedikit menunduk, merasa tidak enak saat mengatakan itu sekaligus ia tidak percaya dengan apa yang ia lontarkan dari mulutnya.


Mendengar ucapan Alfiya, seketika Joe tersentak. Dada laki-laki itu memanas dengan wajah yang menegang. "Jadi, kamu nyalahin aku!"


Alfiya masih bungkam tanpa melihat Joe sedikit pun. Ia sangat tidak ingin berdebat saat ini.


"Fi! Kamu nyalahin aku??!!"


"Joe, udah. Aku mau pulang sekarang." menarik tangannya pelan dari genggaman Joe.


Namun, sebelum Alfiya benar-benar melangkah. Joe seketika turun dari motornya sembari masih menahan tangan gadis tersebut.


"Ikut aku sekarang!" pinta Joe.

__ADS_1


Alfiya yang hendak pergi pun, berusaha menolak. "Joe, aku mau pulang. Ini udah sore." Dan, dia harus mengurus Anggian.


"Ikut!" Sentak Joe, akhirnya.


"Nggak mau!" jawab Alfiya spontan. "Aku nggak mau, kamu jangan paksa aku."


"Tapi, kamu yang bikin aku harus maksa kamu!"


Alfiya merasakan pergelangan tangannya terasa sakit saat Joe terus memaksa dirinya untuk menaiki motor. Laki-laki itu menarik dan mengangkatnya hingga kemudian dirinya pun berhasil berada diatas motor tersebut. Tak lupa Joe memakaikan helm untuknya. Helm yang memang selalu dipersiapkan oleh Joe untuk dirinya.


Tak berapa lama, Joe pun ikut menaiki motor tersebut dengan cepat. Tidak ingin berlama-lama dan takutnya Alfiya kabur, Joe menghidupkan mesin motor dan mereka pun mulai melaju.


****


Setelah beberapa menit melaju dengan kecepatan tinggi, mereka berdua pun sampai disebuah cafe yang nampak sepi. Alfiya melepaskan pegangan eratnya pada Joe. Laki-laki tersebut cukup membuatnya takut saat berada diatas motor tadi karena mengendarai motor tanpa perduli dengan jalanan yang ramai.


Setelah itu Alfiya lantas turun. Ia terdiam, menggerutu menahan kesal dan amarah.


Setelah selesai memarkirkan motor dan melepaskan helm mereka berdua. Joe kemudian kembali menarik tangan Alfiya. Namun, Alfiya menahannya. Ia masih mengeraskan diri untuk tetap berdiri ditempat.


Joeshua pun mengalah, ia lantas berusaha mengajak Alfiya dengan penuh kelembutan.


"Ayo sayang...." rayunya "Hem...."


Alfiya masih enggan untuk berjalan, nampaknya ia masih sangat marah pada Joe.


"Fi, aku mohon. Tolong turutin dulu apa maunya aku, setelah ini terserah, kamu mau apa."


Saat pintu terbuka, suasana benar-benar gelap. Membuat Alfiya bingung sekaligus heran.


"Joe, kita mau ngapain?"


Joe, tidak lantas menjawab hal tersebut. Laki-laki tersebut seperti tengah berbisik-bisik pada seseorang.


"Aku mau nunjukki sesuatu ke kamu, Fi." ujar Joe setelah itu. "Sebentar ya."


Alfiya pun menunggu didalam kegelapan itu. Hingga akhirnya beberapa saat kemudian sebuah cahaya nampak memancar disebuah dinding berwaran putih yang masih kosong.


Seketika fokus Alfiya pun beralih pada layar infocus tersebut.


Sebuah poto ia bersama Joe diiringi lagu mengawali video yang diputar. Kata-kata indah yang keluar dari mulut Joe pun terdengar melalui audio.


...Joe dan Alfiya...


Hai, sayang! Nggak terasa sudah lama ya, kita bersama.


Rasanya baru kemarin aku menyatakan cinta saat kita masih sama-sama duduk dibangku kelas x SMA. Tidak terlalu lama buat aku akhirnya memberanikan diri untuk meminta kamu menjadi pacar aku. Walau pun awalnya kamu menolak, namun aku tetap berusaha untuk mendapatkan kamu.


Mungkin video ini terlihat berlebihan.


Tapi, hal ini harus aku lakukan, sebagai bukti betapa aku sangat sayang sama kamu.

__ADS_1


Akhir-akhir ini, hubungan kita tidak seperti biasanya. Kita jarang bertemu. Aku udah jarang antar jemput kamu. Karena, kamu pun tidak meminta seperti dulu dan kamu juga menolak saat aku memintanya.


Aku gak akan minta banyak dari kamu. Aku hanya berharap, tolong jangan tinggalkan aku. Aku selalu ingin bersama kamu.


^^^laki-laki yang penuh kekurangan^^^


^^^untuk wanita paling sempurna dimatanya^^^


^^^Joeshua,^^^


Alfiya memandangi video dengan kata-kata indah dengan background poto-poto kenanganya bersama Joe. Matanya berkaca-kaca, ia terenyuh dan terharu.


Seketika, kedua telapak tangannya diraih oleh Joe.


"Aku bikin video itu semalam, mendadak, saat kamu tiba-tiba memutus telpon dari aku." Walau pun suasana sedang remang-remang. Alfiya dapat melihat raut kesedihan dari wajah Joe.


"Joe!"


"Setelah, perubahan sikap kamu akhir-akhir ini. Aku semakin takut, Fi. Aku takut karena kamu terus menghindar, aku takut kehilangan kamu. Kamu nggak pernah seperti ini sebelumnya." Joe tersengal oleh perasaannya yang membuncah.


Denyutan jantung Alfya semakin kuat tak menentu. Melihat Joe yang menunjukkan perasaannya seperti ini membuat ia semakin takut. Ia takut, tidak bisa mengabulkan harapan Joe.


"Aku mohon, jangan tinggalin aku, tetaplah bersama aku, Fi. Aku janji gak akan paksa kamu lagi sayang."


Alfiya tersentuh, Iya tentu.


Mereka saling bersitatap untuk beberapa saat. Mencoba menyelami perasaan masing-masing. Hingga kemudian Joe mendekatkan wajahnya pada Alfiya dengan sedikit menunduk.


Alfiya bukan tidak tahu apa yang ingin dilakukan Joe. Hingga ketika ia memejamkan mata untuk itu. Namun, seketika dirinya tersadar dan refleks mendorong tubuh Joe hingga menjauh darinya.


Mendadak raut wajah Joe nampak terkejut.


"Fi?!" Serunya protes.


Alfiya lantas menggelengkan kepalanya. "Maafin aku Joe, aku minta maaf. Aku nggak bisa." Bergegas Alfiya memutar tubuhnya kemudian melangkah cepat untuk pergi.


"Alfiya!!" teriakan Joe masih terdengar saat Alfiya membuka pintu cafe dengan cepat.


Maafin aku Joe, maaf!


Alfiya terus berjalan secepat mungkin, menuju jalan raya dengan air hujan yang mengguyur tubuhnya deras.


*


*


*


*


Silahkan Vote, Like and komen Jika suka.

__ADS_1


__ADS_2