DILEMA - Turun Ranjang

DILEMA - Turun Ranjang
Flashback 4 [Alfiya Memperkenalkan Pacar]


__ADS_3

...FLASHBACK 4 ...


...ALFIYA MEMPERKENALKAN PACAR...


*


*


Mulai hari itu, akhirnya Alfiya benar-benar berpacaran dengan Joe. Bahkan satu sekolah pun tahu kalau mereka sudah menjadi pasangan baru di sekolah. 


Akan tetapi, di dalam hati gadis itu tidak mengerti dengan apa yang ia rasakan. Ia hanya berusaha tersenyum tidak nyaman ketika itu Joe menawarkan diri untuk mengantarnya pulang ke rumah. 


Bersama Joe tak ada rasa berdebar atau pun berbunga-bunga seperti yang orang-orang rasakan ketika baru berpacaran. Namun kembali lagi, ia sangat terpaksa melakukan hal itu. Berpura-pura bahagia menjadi pacar seorang Joshua karena emosinya dituduh sebagai perebut Elvan dari Anggita. 


Namun lain halnya dengan Joe, lelaki itu sangat bangga bisa berpacaran dengan Alfiya. Bahkan ia dengan sengaja memamerkan hubungan dengan gadis itu kepada setiap temannya.


Hingga tadi Alfiya sempat merasa tak nyaman saat Joshua terus membawanya berkeliling kelas seperti tengah mempertontonkan dirinya pada orang, dan merasa sangat risih saat teman-teman Joe tertawa-tawa sembari memberikan selamat. 


"Joe bisa kita pergi sekarang?" Ujar Alfiya menunduk malu karena saat itu ia tengah berdiri di depan kelas dengan banyak orang menggoda karena tidak menyangka ia mau berpacaran dengan seorang Joeshua. "Atau aku aja yang pulang duluan?"


Joe lantas memandangi gadis itu dengan seksama. Paham bahwa dirinya sudah keterlaluan telah membuat gadis itu terus berjalan berpindah-pindah kelas sedari tadi hanya karena ingin menunjukkan bahwa sekarang gadis itu adalah miliknya. 


"Aku nggak nyaman begini." Akhirnya gadis itu pun mengungkapkan apa yang dirinya rasakan sebenarnya. "Kayaknya aku nggak cocok sama temen-temen kamu." Dan kembali ia berkata jujur. 


Mendengar perkataan itu Joe terdiam lama, dan entah kenapa demi seorang Alfiya ia pun lalu nurut membawa gadis itu pergi dari sana. 


Begitulah hingga akhirnya kini Alfiya berada di atas boncengan motor laki-laki itu, kala mereka sudah pulang sekolah di sore hari ini. Gadis itu terdiam melamun, tidak mengerti akan dirinya sendiri. Haruskah ia melakukan ini, menerima Joe menjadi pacarnya hanya agar terhindar dari kecurigaan Anggita dan tuduhan ibu. Karena jujur saja sebenarnya Alfiya tidak memiliki perasaan dengan Joe sama sekali. 


Namun tanpa Alfiya sadari rupanya cowok itu menangkap bayangan Alfiya yang tengah menangis dari balik kaca spion motornya. Hal itu akhirnya membuat Joe menghentikan motor di sebuah jalanan sepi di bawah pohon yang rindang. 


Merasakan motor mendadak berhenti akhirnya membuat Alfiya bingung tiba-tiba. Sadar air matanya sedari tadi menetes gadis itu lantas mengusapnya cepat tidak ingin Joe melihatnya. 


Perlahan Joe kemudian turun dari motor sementara itu Alfiya masih di duduk pada jok motor bagian belakang. 


"Joe?" Tutur Alfiya panik.


"Nggak apa-apa." Ujar Joe tiba-tiba, lalu sebelah tangannya mengusap sisa-sisa air mata Alfiya pada pipi. Seperti paham gadis itu tengah ada masalah, namun Joe tidak ingin mencari tahu apa penyebabnya.


"Aku janji akan jadi pacar yang baik buat kamu." Lirih Joe pelan, yang kemudian membuat Alfiya mencoba untuk yakin kalau keputusannya saat ini adalah keputusan yang tepat.


...****...

__ADS_1


Sementara itu di sisi lain, Elvan yang baru saja  pulang dari kuliah dan kebetulan juga lelaki itu berboncengan dengan Anggita yang memang mereka satu tempat kuliah sehingga membuat mereka akhirnya pulang bersama. 


Mungkin sudah beberapa bulan ini bapak khususnya ibu meminta Elvan untuk lebih perhatian terhadap Anggita. 


Bapak meminta Elvan untuk menikah dengan putri pertamanya. Awalnya mendengar permintaan itu Elvan hanya bisa terdiam kaku. Lelaki itu jelas tak menyangka bahwa hal ini akan terjadi. 


Namun, baru-baru ini lelaki itu tahu kalau Anggita yang menginginkan Elvan menjadi untuk suaminya. Bapak dan ibu pun setuju dengan rencana itu.


Namun, tidak dengan Elvan ia masih belum siap sebenarnya. Akan tetapi selain itu juga lelaki tersebut tentu saja  tidak bisa menolak. Ia memiliki hutang budi terhadap keluarga bapak sehingga mengharuskan dirinya mau tidak mau menuruti permintaan mereka. 


Saat itu, Anggita memeluk erat pinggang Elvan saat motor melaju dengan kecepatan yang tidak terlalu tinggi. Kepala gadis itu pun bersender pada punggung Elvan. Bunga-bunga cinta bermekaran di hatinya. Karena tentu saja Elvan adalah lelaki yang sangat ia cintai. 


Hingga gadis itu mendadak bingung saat Elvan tiba-tiba menghentikan motor di sebuah jalanan yang cukup sepi. 


"Kenapa mas" Tanya Anggita. 


Elvan tak lantas menjawab pertanyaan tersebut. Karena kini matanya tengah berfokus pada dua pasangan anak SMA di tepi jalan tepatnya di bawah sebuah pohon yang rindang yang cukup ia kenal. 


"Alfiya?" Celetuk Anggita tiba-tiba seolah tidak menyangka dengan pemandangan yang ia lihat. 


Benar,  itu Alfiya tengah duduk di atas motor sementara remaja laki-laki itu sedang menyelipkan rambut Alfiya pada telinga. Lalu yang mereka lihat Alfiya tengah di pakai kan helm oleh remaja tersebut. Sepertinya mereka akan melanjutkan perjalanan kembali. 


Sementara itu Elvan masih terdiam. Ia mengerjapkan mata beberapa kali, masih tak percaya, dalam pikirnya cepat sekali gadis itu bertumbuh dewasa. Cepat sekali perempuan yang sering merengek padanya itu mengenal laki-laki lain. Belum pernah Elvan melihat Alfiya sedekat ini dengan lelaki asing. 


 


Tak ingin berlama-lama di sana Elvan kemudian melajukan motor kembali. Sepertinya jalan yang Alfiya lalui bersama laki-laki itu sama dengan mereka. 


Dan benar saja mereka ternyata melewati jalan yang sama yaitu menuju rumah. 


Beberapa saat kemudian, terlihat saat itu motor yang di kendarai Joe berhenti di depan pagar rumah. Setelah itu Alfiya pun turun perlahan dari sana. 


Namun tak lama, tiba-tiba saja Elvan dan Anggita muncul dari arah  belakang mereka lalu motor yang di kendarai pun berhenti di depan motor milik Joe. 


"Siapa?" Tanya Joe saat itu berbisik pada Alea.


Alfiya belum menjawab. 


Sementara itu Anggita kemudian juga turun dari boncengan Elvan. 


"Fiya." Sapa Anggita pada sang adik. 

__ADS_1


Dengan wajah yang di usahakan terlihat baik Alfiya memaksakan senyum. "Mbak." Sapa Alfiya. Namun jujur saja ia masih sangat kecewa dengan kakaknya itu karena telah menganggap dirinya akan merebut Elvan. 


"Dia siapa?" Tanya Anggita. Sembari memandang Joe yang masih di atas motor. 


"Dia pacar aku." Jawab Alfiya tanpa ragu. 


"Pacar?" Anggita rasanya tak percaya. Namun seperti nya ia merasa senang dalam hati. 


"Pacar kamu?" Kini Elvan yang bertanya seakan tak percaya.


"Iya." Sahut Alfiya. Lalu ia menoleh ke arah Joe. "Kenalin Joe, ini mbak Gita kakak aku, dan ini mas Elvan calon suaminya."


Menanggapi ucapan Alfiya Anggita tersenyum, ia senang adiknya itu memperkenalkan Elvan sebagai calon suaminya. 


Sementara itu Elvan terdiam, ia menatap Alfiya dalam-dalam masih dengan rasa heran yang tak bisa disembunyikan dari raut wajahnya.


"Halo mbak Gita, mas Elvan." Sapa Joe ramah. 


"Hai Joe." Sapa Anggita balik sama ramahnya.


Sementara itu sama seperti tadi saat di sapa oleh Joe, Elvan malah semakin terdiam dengan raut wajah menegang. 


"Mas, kok diam." Protes Anggita pada Elvan yang tidak membalas sapaan Joe. 


"Aku mau ke dalam dulu." Elvan menghidupkan mesin motor kembali laku melajukannya melalui pintu pagar rumah membuat Anggita bingung di buatnya. 


"Mbak boleh kasih tau ibuk kalau aku sudah punya pacar sekarang." Ucap Alfiya sembari menatap Anggita penuh arti. 


Namun, sepertinya Anggita paham kalau Alfiya berkata seperti itu karena semalam ia telah mengadukan adiknya itu kepada ibu karena telah di liputi perasaan cemburu. 


Dan kini ada rasa bersalah di hatinya. 


Namun apakah kemudian Anggita meminta maaf? 


Tidak! 


Kata maaf itu tidak pernah ia ucapkan pada adik lugunya tersebut. 


Anggita bahkan tidak pernah tahu kalau adiknya terpaksa menjalani asmara dengan lelaki yang tidak di sukai sama sekali demi tidak di curigai dan di tuduh lagi.


...****...

__ADS_1


__ADS_2