DILEMA - Turun Ranjang

DILEMA - Turun Ranjang
Dia Adalah Istrinya


__ADS_3

****


Saat itu Elvan tengah berada di sebuah pusat hiburan ibu kota. Pada awalnya tadi dia hanya berniat untuk pergi ke tempat Antoni. Karena Antoni adalah salah satu sahabatnya yang masih membujang.


Akan tetapi, Antoni malah membawanya ke sebuah club dengan penuh pemaksaan. Entahlah laki-laki itu akhirnya kembali lagi ke tempat seperti ini. Pikirannya sedang kalut, jadi dia setuju saja dengan ajakan sang sahabat.


Dan, saat itu Elvan tengah duduk berhadapan dengan Antoni, serta ada juga Angga yang mereka hubungi untuk datang kesana bersama mereka.


Elvan berharap, pergi ke tempat seperti ini setidaknya bisa menghilangkan stres yang ia rasa. Dimana dirinya bisa bebas melepas gundah gulananya tanpa ada yang melarang. Hanya saja ia menahan diri untuk meminum minuman memabukkan yang ada disana.


Angga dan Antoni tak perlu heran jika Elvan sudah ingin bertemu mereka seperti ini. Sepertinya mereka dapat menebak, jika Elvan tengah mempunyai masalah.


Dan, benar saja. Oleh karena pertanyaan yang terus mencercanya, Elvan akhirnya menceritakan hal yang tengah mengganggu pikirannya saat ini.


Sementara itu Angga dan Antoni sedang memandangi sahabatnya itu mencoba memahami. Elvan adalah sosok yang mereka kenal berperilaku baik itu, tapi terkadang bisa lepas kendali jika sedang gundah seperti ini.


"Jadi, intinya lo udah nikah sama Alfiya seminggu setelah kepergian Anggita!?" Tanya Angga langsung menangkap hal yang baru saja diceritakan Elvan. Rasa tak percaya menelusup dalam diri laki-laki itu.


"Secepat itu lo ngikhlasin Anggita?" Antoni menambahi ucapan Angga dengan raut wajah yang sama.


Menanggapi itu, Elvan hanya terdiam. Ia sudah mewanti kedua sahabatnya akan berkata seperti ini.


Angga dan Antoni pun saling pandang satu sama lain. Nampak sekali kedua laki-laki itu masih tidak menyangka akan cerita yang mereka dengar dari mulut Elvan.


"Jadi waktu itu saat kita kasih saran lo buat turun ranjang, lo udah nikah beneran sama Alfiya?" Tambah Angga lagi.


Elvan memejamkan mata dan menundukkan kepala dalam, seolah mengiyakan.


Antoni tampak tertegun. Belum lama sahabatnya itu ditinggal pergi sang istri. Kini sudah ada penggantinya lagi. "pantas, lo selalu buru-buru pulang cepat akhir-akhir ini. Ternyata lo udah punya bidadari lagi yang nungguin lo dirumah."


Elvan lalu terlihat kembali menghela nafas berat. "Tapi, gue takut kehilangan lagi." ujarnya dengan wajah lemas.


"Kehilangan lagi? Maksdunya?" tanya Antoni.


Elvan mendongakkan kepalanya. Laki-laki itu memejamkan dalam seolah perasaannya benar-benar sesak saat itu. Berkali-kali ia menghela nafas seakan tengah menahan kesedihan yang mendalam.

__ADS_1


Lalu Elvan berucap. "Untuk sementara, tolong soal ini dirahasiakan dulu dari siapa pun." Wajahnya terlihat amat sangat takut dan cemas.


"Van?" Angga mendekat dan menyentuh pundak sahabatnya yang terlihat sangat amat gelisah. "Lo kenapa?"


"Iya, lo kenapa Van?" Antoni ikut menyahuti.


Elvan masih bungkam. Nampaknya masih sukit menjelaskan semua ini kepada kedua temannya itu.


Elvan lantas berujar. "Hubungan Alfiya dan anak itu belum berakhir."


"Siapa?" Sambar Angga dan Antoni serentak.


Elvan meneguk ludahnya kaku. "Alfiya dan adiknya Jenny...." bibirnya nampak bergetar. "Si Joeshua."


"Apa? Gimana-gimana maksudnya?!" Antoni mengernyit kaget tak percaya.


"Bentar-bentar, jadi, lo nikah sama Fiya sementara dia masih pacaran dengan Joe? Terus?! Terus sekarang lo sama Fiya gimana?" cerca Antoni alkhirnya.


"Sumpah gue gak ngerti, Van. Tolong jelasin semua ini gak masuk akal." Angga tak kalah penasarannya.


Akhirnya, Elvan pun berusaha menjelaskan semuanya kepada kedua sahabat karibnya itu. Menceritakan bagaimana awal mula semua ini bisa terjadi. Angga dan Antoni pun mendengarkan dengan seksama. Mencoba memahami setiap kata dan kalimat yang meluncur dari mulut Elvan.


"Kalau gue lihat dari cerita lo, kayaknya lo berdua udah sama-sama cinta." tutur Angga.


"Gue, sebenarnya belum yakin dengan perasaan gue ke Fiya." lirih Elvan. Biar bagaimana pun menumbuhkan perasan cinta tidaklah mudah.


"Tapi, lo gak suka kalau Fiya masih berhubungan sama Joe?" pancing Angga.


Elvan terdiam dengan kepala sedikit menunduk, seolah mengiyakan itu.


"Dan, lo kesini gara-gara Fiya jujur, kalau dia masih berhubungan dengan anak itu." tambah Angga. Laki-laki itu lalu menghela nafas berat. "Gini Van, gue ngerti perasaan lo. Tapi, setidaknya elo coba pahami perasaannya Fiya. Dia mau jujur sama lo aja itu udah bagus."


Lali Antoni menambahi. "Benar apa kata Angga, mungkin benar sebaiknya lo kasih waktu buat dia putus sama anak itu. Yang terpenting Fiya udah nyimpan rasa sama lo, Van. Status lo sama Alfiya itu jelas dan mendasar. Atau mungkin lo bisa bujuk Alfiya pelan-pelan." tutur Antoni dengan jelas.


"Dan, soal Jenny. Menurut gue ini gak bakalan mudah. Apalagi menyangkut soal Joe. Gue gak yakin kakak beradik itu bakal bisa langsung nerima ini, Van. Jadi mending bener apa kata Fiya, kasih dia waktu." Angga menekankan kembali.

__ADS_1


"Gue malah kasihan sama Fiya, gue rasa ini beban buat dia. Van, lo suaminya sekarang. Setidaknya lo bisa menjaga perasaan dia saat ini. Dan, mengambil sikap untuk permasalahan dia sama Joe, karena sekarang permasalah ini merupakan urusan lo juga." Ucapan Angga terhenti sejenak.


Elvan tertegun. "Maksudnya, gue yang harus bilang ke anak itu langsung kalau Alfiya sekarang istri sah gue?"


Angga mengangguk. "Biar bagaimana pun yang berhak sepenuhnya atas Alfiya saat ini adalah lo, Van. Elo berhak atas apa pun soal dia. Selama apa pun mereka berpacaran, sedalam apa pun perasaan mereka, anak itu gak ada hak atas Alfiya. Dari ujung kepala sampai kaki, dia itu punya lo sepenuhnya, istri sah lo!" tuturnya dengan raut wajah serius.


Deg! Seketika Elvan tersadar atas ucapan itu. Semua yang dikatakan Angga benar. Seharusnya ia menyadari hal itu, bukan. Alfiya sekarang adalah istrinya, jiwa dan raga gadis itu adalah miliknya. Seketika jantungnya berdegub mendengar ucapan Angga barusan.


"Dan, satu lagi. Jangan sampai dia lepas hanya karena rasa cemburu lo saat ini." tambah Antoni.


"Gue gak cemburu." Elvan mengelak tanpa sadar. Padahal nyatanya serasa panas saat itu.


Lalu Angga menyambar cepat."Kalau lo gak cemburu terus apa namanya?! Kalau lo gak cemburu seharunya lo gak perduli soal hubungan Alfiya dan adiknya Jenny."


Elvan hanya bisa bungkam, seolah perkataan itu adalah benar.


"Dan, yang jelas gue bisa lihat, dari cerita lo tadi, kalau Alfiya benar-benar tulus merawat Gian, anak elo dan Anggita, keponakannya sendiri." Ujar Angga telak.


Keheningan terjadi diantara mereka setelah kalimat terakhir yang Angga ucapkan. Lagi, Elvan nampak bungkam. Seperti ada sesuatu yang menyusup dalam hatinya. Membuatnya berdenyut oleh sebuah rasa yang tertahan.


"Van, gue mau kasih saran lagi, mending lo ungkapin deh perasaan lo sama Fiya. Apa pun itu, apa pun yang lo rasain ungkapin, dari pada lo galau kayak gini." Nyatanya Angga memang benar-benar sahabat yang dapat memahami perasaan seseorang dengan jelas. Tidak ada salahnya Elvan bercerita pada laki-laki ini.


Peraasaan Elvan semakin sesak. Sepertinya ia akan segera pulang ke rumah sekarang. Nampaknya, ada sebuah hal yang harus dia selesaikan malam ini juga.


*


*


*


*


...Happy Reading!...


...Jangan lupa untuk Vote, Like and Komen, Ges!...

__ADS_1


...Kasih koin juga boyeh!...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2