
...FLASHBACK 3...
...ALFIYA : JOE AKU MAU JADI PACAR KAMU...
*
*
Sesampainya di sekolah keadaan hati Alfiya masih juga belum membaik. Bahkan diam-diam gadis itu masih sesekali mengusap air matanya yang tak sengaja jatuh saat dirinya mengingat perkataan ibu tadi pagi. Suasan hatinya benar-benar tidak baik selama kelas berlangsung.
Namun begitu ia tetap berusaha memperhatikan pelajaran saat guru menjelaskan walau pikirannya saat itu tidak fokus dan malah melayang kemana-mana. Ditambah lagi tadi pagi ia mengurungkan niat untuk sarapan karena sudah terlanjur kecewa dengan perkataan ibu dan hal tersebut membuat kepalanya bertambah pusing serta perutnya mulai nyeri minta di isi.
Perebut calok kakak ipar.
Membuat Anggita sakit hati.
Membuat Anggita cemburu.
Kata-kata ibu tadi pagi terus menerus terngiang-ngiang ditelinga Alfiya.
Setiap Alfiya ingat akan kata-kata itu air matanya pasti akan kembali menetes. Sebenarnya kalau boleh jujur Alfiya sangat butuh waktu sendiri saat ini, ia butuh waktu untuk meluapkan rasa sedihnya tanpa tertahan seperti sekarang.
Beberapa saat kemudian jam pelajaran pertama pun berakhir, di lanjutkan dengan waktu istirahat sekolah.
Tadi Alfiya sudah mendapakan nilai dari tugas kimia yang semalam ia kerjakan bersama Elvan. Gadis itu juga mendapat nilai yang sempurna. Seharusnya Alfiya merasa bahagia dengan nilai yang ia dapatkan tersebut, namun rasa sedih di hatinya masih sangat terasa. Apa lagi karena nilai yang bagus itu lah Anggita menjadi salah paham dan cemburu dan juga ibu jadi menudhnya dengan kata-kata yang menyakitkan hati.
Saat itu, kalau biasanya pada jam istirahat Alfiya pergi ke kantin bersama teman-temannya, namun tidak kali ini. Gadis itu malah memilih untuk tetap di dalam kelas karena ia tidak mempunyai semangat untuk ke kantin.
Gadis itu sandarkan kepalanya di atas meja, menghadapkan kepalanya ke luar jendela dimana cahaya matahari langsung terpancar menerpa wajahnya yang mulus.
Tak berapa lama, tiba-tiba kesendirian Alfiya terusik oleh suara gaduh beberapa anak lelaki yang sepertinya masuk ke dalam kelas. Dari suara tersebut Alfiya sepertinya cukup mengenali suara ocehan salah seorang di antara mereka. Nampaknya suara itu berasal dari anak laki-laki yang beberapa hari ini berusaha untuk mendekati dirinya.
__ADS_1
Alfiya masih merebahkan kepalanya pada meja saat beberapa anak laki-laki itu sudah berhenti tepat di dekatnya.
“Ehem.” Salah seorang remaja lelaki mendudukkan diri tepat pada kursi kosong di damping Alfiya, sembari teman-teman lainnya langsung di suruh keluar oleh remaja laki-laki itu.
Deheman itu cukup keras terdengar di telinga Alfiya yang masih enggan memperlihatkan wajahnya, karena masih ia hadapkan pada jendela.
“Hai Alfiya.” Sapanya. “Ini aku Joeshua.” Ia mengintip di balik wajah Alfiya yang masih tersembunyi.
“Kamu kenapa? Hari ini kok nggak kayak biasanya?” jelas saja Joe bertanya seperti itu karena biasanya saat Alfiya di dekati gadis itu akan langsung berubah menjadi sangat galak padanya. Namun hari ini dilihatnya perempuan itu sepertinya sangat lesu.
"Tadi aku ke kantin nyariin kamu, eh taunya masih ada di kelas."
Melihat Alfiya yang masih terdiam seperti Joeshua paham sepertinya gadis itu memang sedang tidak bisa di ganggu saat ini.
“Ya udah kalu kamu nggak bisa di ganggu.” Ujarnya. “Mungkin lain kali aja aku temuin kamu lagi.” Joe kemudian berdiri, sesekali masih menoleh di balik langkah kakinya yang memang belum terlalu jauh. Hingga kemudian laki-laki itu memutuskan untuk benar-benar keluar dari kelas.
"Joe."
Suara Alfiya menghentikan langkah Joeshua seketika.
“Aku mau jadi pacar kamu.”
"Ha??" Joe pun memutar suaranya perlahan. Ia tidak salah dengar kan. “Apa tadi kamu bilang?” masih berusaha memastikan karena ia takut kalau itu cuma halusinasinya saja.
Alfiya yang masih merebahkan kepalanya pada meja kembali bersuara. “Iya, aku mau jadi pacar kamu.”
Apa? Tunggu-tunggu, jadi Joe benar-benar tidak salah dengar. Astaga ia tidak mimpi bukan. Lelaki itu kemudian berjalan kembali melangkahkan kakinya mendekati Alfiya.
“Kamu serius?” tanya Joe sembari mendudukan dirinya pada kursi di samping Alfiya."Fi kamu serius mau jadi pacar aku?"
“Iya.” Jawab gadis itu. Kepalanya kemudian terangkat perlahan lalu ia hadapkan wajahnya pada Joe. “Aku terima kamu jadi pacar aku.”
__ADS_1
Joeshua dapat melihat jelas raut wajah Alfiya saat itu, matanya sembab dan juga terlihat lesu dan lemas. Tunggu apa jangan-jangan gadis ini terpaksa menerminanya karena sudah muak ia kejar-kejar beberapa hari ini.
“Kamu habis nangis?” Tanya Joe. “Gara-gara aku ya. Kalau memang iya aku nggak maksa kamu kok.” Iya, lelaki itu rupanya lumayan cemas kalau Alfiya menerimanya karena tertekan, apalagi Joe terkenal playboy sangat sering gonta ganti pacar. Di terima menjadi pacar oleh Alfiya seperti ini sebernanya lelaki itu juga tak menyangka.
“Aku serius, Joe aku mau jadi pacar kamu.” Lirih Alfiya dengan yakin.
Joeshua terdiam sejenak, kalau sudah begini ia tidak mungkin menghindar. Alfiya sangt dulit ia dapatkan dan sekarang ia tidak mungkin menyia-nyiakan kesempatan. Tidak perduli karena alasan apa Alfiya akhinya menerima dirinya, tapi yang Joe tahu sekarang gadis itu mau padanya dan ia bisa membuktikan kepada teman-temannya kalau seorang Joeshua mampu menaklukan Alfiya.
“Berarti sekarang kita jadian ya.” Tutur Joe sembari tersenyum.
Alfiya yang berwajah lesu pun megangguk. Karena kepalanya pusing gadis itu terlihat oleng sesekali.
“Kamu sakit?”
Alfiya menggeleng menanggapi itu namun ia menekan perutnya yang nyeri.
“Datang bulan?” tebak Joe.
“Nggak. Bukan.” Jawab Alfiya.
“Laper? Aku beliin makanan mau?" Tawar Joe.
Alfiya terdiam sejenak, lalu mengangguk. Kebetulan ia belum sarapan tadi pagi dan tubuhnya sekarang sudah gemetar.
“Ya udah aku beliin makanan ya. Tunggu disini.” Ujar joe.
Kembali Alfiya menganggukan kepala, sementara itu Joe mulai berdiri dari duduknya.
“Jangan kemana-mana. Tunggu aku disini."
Jie kemudian berjalan sedikit berlari kecil. "Harus nurut sama pacar.” Senyuman pun kembali Joe ulaskan sembari memberikan kedipan sebelah mata, lalu berlari cepat melangkah keluar dari kelas.
__ADS_1
Kini Alfiya sendirian kembali di dalam kelas. Dalam hati ia merasa bersalah, karena jujur saja gadis itu terpaksa menerima Joe menjadi pacarnya. Karena hanya dengan begini Alfiya yakin Anggita tidak akan salah paham lagi dan ibu juga tidak akan menuduhnya sebagai perebut Elvan dari Anggita.
...****...