
****
Benar saja Alfiya semakin membuat harga diri Elvan terlukai. Laki-laki itu semakin menatapnya dalam-dalam dengan sorot mata yang mampu membuat setiap orang tidak sanggup untuk melihatnya, terlihat ada amarah disana.
"Putuskan dia, atau mas akan benar-benar melakukan kewajiban sebagi seorang suami terhadap kamu."
Deg! Alfiya tercengang oleh ucapan itu.
Namun sepertinya ucapan Elvan belum cukup sampai disitu. "Mas akan menjalankan kewajiban dan memberikan kamu nafkah batin jika kamu tidak segera memutuskan lelaki itu."
Alfiya mendadak ketakutan, ia lantas menggeleng dengan cepat. Suara Elvan mungkin tidak terlalu menggelegar akan tetapi sepertinya mampu membuat wanita yang ada dihadapannya itu berkeringat.
Tidak mungkin! Tidak! Alfiya lantas terus memundurkan tubuhnya. Kenapa Elvan mendadak menjadi seperti ini. Elvan tidak akan mungkin melakukan hal tersebut, bukan. Bukankah mereka sudah berjanji. Tapi, kenapa jadi begini. Apa dia sudah berbuat dan mengatkan hal yang salah?
Bisa-bisanya Elvan mengatakan itu pada dirinya. Elvan benar-benar membuatnya merasa hina. Mana yang katanya Elvan akan terus menganggapnya seorang adik. Elvan benar-benar telah melukai harga dirinya.
Setelah terdiam cukup lama, dengan menggenggam tangan cukup erat Alfiya lantas memberanikan diri untuk menatap Elvan.
"Mas Elvan, aku gak nyangka mas akan bilang hal itu sama aku." ujarnya tersengal. "Mas berjanji akan terus menganggap aku sebagai adik, aku kira mas akan terus seperti itu. Tapi hari ini mas benar-benar membuat aku malu." Wajah Alfiya menegang kaku.
Mata Elvan membulat, raut wajahnya pun berubah. Ia lantas tersadar sepertinya paham apa yang dimaksu oleh Alfiya. Benar kenapa ia jadi seperti ini. Apa yang telah diucapkannya tadi. Kenapa tiba-tiba ia bisa mengatakan hal itu kepada Alfiya.
"Aku kecewa, aku benar-benar kecewa sama mas Elvan. Mas telah menodai aku dengan kata-kata itu." Air mata Alfiya lantas menetes. "Aku kecewa sama mas."
Elvan mendadak merasa bersalah. Ya Tuhan, ia sadar telah mengucapkan kata yang menjijikan. Bisa-bisa ia mengucapkan hal tersebut.
"Fi...." lirih Elvan dengan tatapan menyesal.
Alfiya menggeleng. "Mas, aku benci sama kamu!"
"Alfiya...." Elvan tersengal cemas oleh ulahnya sendiri. "Mas, minta maaf. Tadi mas cuma...." Oh Tuhan, Elvan benar-benar merasa berasalah. Ia tidak menyangka telah meluap-luapkan emosinya pada Alfiya.
Gadis itu masih terisak, ia membuang muka dari Elvan. "Mulai sekarang aku nggak mau berbicara lagi sama mas. Jangan penah mas menegur aku. Jangan pernah berbicara untuk hal apa pun." Gadis itu benar-benar tidak habis pikir, bisa-bisanya Elvan menganggapnya seperti itu.
"Mulai sekarang jaga jarak sama aku mas, tolong aku mohon.... Kita memiliki kehidupan masing-masing. Dan juga, maaf.... jangan pernah lagi meminta aku buat berpisah dari Joe. Karena aku sangat mencintai Joe mas, jadi jangan menekan aku!" Setelah melontarkan kata-kata tersebut Alfiya lantas berlalu pergi dari sana. "Selamat malam...." ujarnya sembari berlalu.
__ADS_1
Elvan termangu setelah kepergian Alfiya, lantas laki-laki itu pun mendudukan dirinya diatas kursi. Ada apa sebenarnya dengan dirinya. Bisa-bisanya ia mengucapkan hal tersebut kepada Alfiya. Elvan juga tidak mengerti kenapa ia bisa terbawa emosi.
Dia benar-benar dilema saat ini. Andaikan istrinya masih ada disisinya saat ini. Andaikan mereka masih bersama. Pasti semuanya tidak akan serumit ini.
Ingatan kembali pada hari-hari yang lalu. Hari dimana ia masih bersama sang istri. Masih teringat dibenaknya senyum manis itu.
...----------------...
Empat tahun yang lalu. Elvan yang kala itu baru pulang bekerja disambut ceria oleh sosok cantik yang menyembunyikan kedua tangannya dibelakang. Laki laki itu pun menatap heran.
"Aku punya sesuatu buat kamu." ujar sosok anggun itu.
Mata Elvan membulat penuh tanya. "Apa? Sesuatu apa?" ujarnya penasaran.
"Tapi tutup mata dulu." pinta perempuan tersebut.
Elvan lantas tersenyum, baiklah dia akan menutup mata sekarang. Ia pun menunggu beberapa saat. "
"Kok lama sih sayang...."
"Sabar." Ia nampak mengeluarkan sesuatu yang ia sembunyikan dibelakanganya. "Sekarang kamu boleh buka mata."
"Kamu.... hamil?" tanya Elvan akhirnya.
Wanita yang tengah menggigit bibir bawahnya karena terlalu bahagia itu mengangguk mantap dua kali.
Elvan rasanya masih tak percaya. "Sayang? Ini serius?"
Anggita lantas tertawa dan kembali mengangguk. Rasanya kebahagiaan ini tidak bisa diungkapan dengan kata-kata. Ia sangat bahagia karena telah memberikan hadiah terindah untuk suaminya.
Elvan memejamkan mata dengan helaan nafas oleh deguban jantungnya yang tidak menentu. "Terimakasih sayang...." Ia lantas memeluk sang istri dengan erat. "Terimakasih." Sungguh Elvan merasakan keharuan yang luar biasa menyusup kedalam relung hatinya.
"Kamu akan segera menjadi ayah...." sahut Anggita.
Elvan mengangguk didalam pelukan itu.
__ADS_1
"Kamu bahagia kan?" Tanya Anggita tak kalah haru.
"Aku bahagia, sangat-sangat bahagia. Terimakasih sayang. Aku bahagia karena kita akan segera menjadi orang tua."
...----------------...
Elvan mengingat itu dengan mata yang berkaca-kaca. Perlahan ia bangkit dari duduknya, keluar dari dapur lalu berjalan menuju kamar.
Sesampainya dikamar ia membuka laci yang terletak disisi ranjang. Sebuah album yang terlihat masih baru karena terawat dengan baik. Elvan beranjak lalu kemudian duduk di sofa yang menghadap ranjang.
Ia buka perlahan lembaran album itu, membuka kenangan lamanya bersama Anggita. Ia elus gambar-gambar tersebut pelan. Album tersebut berisi kenangan lamanya bersama Anghita. Melihat gambar di album tersebut seketika air mata Elvan menetes. Laki-laki itu mendadak menjadi rapuh.
Sekarang ia tahu, perilakunya terhadap Alfiya tadi adalah pelampiasannya karena terlalu merindukan Anggita. Rasanya ia masih belum bisa menerima kepergian Anggita sampai saat ini.
Ia lantas terisak. Perasannya benar-benar terasa sangat sesak itu saat ini.
"Sakit Git.... sakit." ujarnya berbicara pada poto istrinya. "Hati aku sakit sayang, kenapa kamu ninggalin aku dan Gian secepat ini? Kenapa?" Air mata Elvan terus bercucuran menetes membasahi lembaran album di tangannya.
"Aku takut Git, aku takut buat terus menjalani ini. Aku takut menjalani kehidupanku untuk selanjutnya. Rasanya aku nggak bisa membesarkan Gian seorang diri tanpa kamu disamping aku, sayang."
Elvan menunduk semakin dalam hingga wajahnya menyentuh album poto tersebut. Ia semakin terisak tak karuan, menumpahkan segala kesedihannya saat ini. Menumpahkan rasa sakit dari sudut jantungnya yang terus berdenyut.
Tidak ada seorang yang tahu betapa hampa hidupnya saat ini. Rasanya Elvan tidak sanggup untuk menghadapi masa depan. Laki-laki itu terus meratapi masa lalu. Rasa penyesalan yang terus menggebu.
Akhirnya perlahan ia mengangkat kepalanya, menatap Anggian yang sedang tertidur dengan sangat pulas. Mungkin kalau bukan karena Anggian dia tidak akan bisa sekuat ini. Anggian yang polos, masih belum paham dengan apa yang terjadi pada bundanya.
Elvan merasa, anak laki-lakinya itu menganggap Alfiya sebagai bundanya hanya untuk mencari sosok pengganti. Sosok yang tiba-tiba hilang dalam hidupnya, yaitu sosok lekat dari seorang ibu.
*
*
*
__ADS_1
*
Mohon dukungannya dengan cara Like, Vote dan Komen Ges!