
****
Keesokan harinya, sore hari Alfiya sudah kembali lagi kerumah mereka sementara Elvan bekerja.
Dan, sore hari itu menjelang malam, Alfiya tengah memasak didapur, menyiapkan menu makan malam.
Gadis itu tengah termenung saat itu, semenjak Alfiya meninggakan Joe di cafe beberapa waktu lalu, sejak hari itu pula laki-laki itu tidak lagi menghubunginya. Bahkan di kampus Joe tidak terlihat sama sekali. Tiba-tiba saja Joe menghilang tanpa kabar. Bahkan teman-temannya pun tidak tahu dimana Joe berada.
Seketika terbesit rasa bersalah yang besar pada Alfiya saat itu. Pada kenyataannya dia sadar, disini memang dirinya yang bersalah. Ia masih belum juga memberi alasan apa pun pada laki-laki tersebut. Jujur, saat ini dia benar-benar bingung. Sementara keinginannya telah berubah, ada hasrat kuat untuk terus bersama Elvan pada dirinya.
Hah, wanita itu menghela nafas berat oleh perasaan bersalah itu. Ia kemudian menoleh ke belakang melihat sosok Anggian yang tengah duduk di kursi meja makan sambil menikmati makanannya.
"Gian, makannya dihabisin ya sayang." Ujar Alfiya sambil mengawasi ayam yang baru saja ia goreng.
Anak yang memang sudah bisa makan sendiri itu pun mengangguk, dengan makanan yang memenuhi mulutnya.
"Enak gak makanannya?" tanya Alfiya lagi.
"Enyak...." Anggian mengangkat kedua jempolnya.
Alfiya tersenyum puas. Hari ini ia memang memasakkan perkedel sayur campur daging dan juga bening bayam untuk Anggian. Senangnya ia karena anak itu memakan masakannya dengan lahap.
Alfiya memandang Anggian yang tengah makan dengan lahap itu dengan gemas. Rasanya ikatan batin antara Alfiya dan Anggian sudah semakin kuat.
Alfiya kemudian berniat meninggalkan ayam gorengnya sejenak. Lalu berjalan menghampiri Anggian.
"Wah pintarnya, makanannya sebentar lagi habis." Lalu mengelus kepala Anggian pelan.
Anggian lagi-lagi tersenyum menanggapi itu masih dengan mengunyah makanannya. Namun, tiba-tiba arah pandang anak menggemaskan itu pun beralih kearah pintu dapur.
"Ayah!!" Serunya.
Deg! Jantung Alfiya seketika berdegub kencang. Elvan pulang, dengan segera Alfiya pun menoleh kebelakang. Melihat sosok yang tengah berdiri di ambang pintu tersebut membuat jantungnya semakin berdegub kencang.
Walau pun telah bekerja seharian, laki-laki tersebut rupanya terlihat masih sangat rapi. Wangi parfum maskulinnya pun masih jelas tercium menembus indera penciuman walau dengan jarak jauh.
"Ayah, yeee ayah puyang...." teriak Anggian.
Entah siapa yang akan terlebih dahulu di hampiri oleh Elvan. Tapi, itu membuat Alfiya gugup. Akankah Elvan akan menghampiri dirinya terlebih dahulu.
Elvan pun semakin mendekat. Karena takut kecewa Elvan akan menghampiri Anggian terlebih dahulu, Alfiya pun dengan salah tingkah menggeser tubuhnya agar Elvan bisa dengan mudah menghampiri Anggian.
"Mas...." sapanya dengan mengulas senyum.
Elvan pun membalas senyum tersebut.
Duh, rasanya jantung Alfiya akan meledak melihat senyum itu.
"Ayah, Gian matan (makan)...." Anggian masih berceloteh, nampaknya anak itu sangat senang melihat kepulangan sanga ayah.
Dan, saat Elvan sudah benar-benar dekat. Alfiya kemudian melangkah. "Mas, aku mau balik ayam goreng dulu ya." Tuh, kan. Alfiya salah tingkah.
Elvan yang melihat Alfiya menjauh pun hanya bisa tersenyum oleh tingkahnya. Lalu kemudian berbalik mendekati sang anak yang tengah asik menikmati makanannya.
Alfiya yang membalik gorengannya dengan kepala yang tidak bisa lagi berpikir jernih. Ah, jantungnya benar-benar tidak bisa berhenti berdegub kencang. Penasaran, ia pun sedikit menoleh kebelakang. Memperhatikan apa yang dilakukan sang ayah kepada anaknya itu.
Ya, Tuhan! Alfiya benar-benar baru sadar kalau laki-laki itu sangat mempesona. Dan, saat Elvan mendongak untuk melihatnya Alfiya kembali mengalihkan pandangan pada ayam gorengnya.
Perlahan Alfiya dapat merasakan sosok yang semakin mendekat. Membuat deguban jantuknya kian tak terkendali.
"Masak apa?" begitulah bisikan merdu Elvan ditelinganya.
__ADS_1
Alfiya mendongak. "Mas, gak lihat? Aku lagi goreng ayam."
Elvan menggeleng. "Dari tadi mas sibuk lihatin kamu." Memperhatikan Alfiya yang tengah memakai celemek dengan rambut yang digulung keatas yang terlihat menawan dimatanya
Mendadak pipi Alfiya pun memanas. "Masak sih, mas?"
Elvan lantas tersenyum melihat gestur salah tingkah itu. Timbul sebuah keinginan untuk menyusup tangannya dibalik celemek berenda tersebut.
"Mas...." desis Alfiya saat tangan Elvan mulai melingkar diperutnya.
"Kenapa?" bisiknya lagi.
Alfiya sedikit meremang saat Elvan berbisik ditelinganya. "Nanti Gian lihat...."
Elvan pun menoleh kebelakang. "Dia gak lihat."
Alfiya ikut menoleh kebelakang. Benar saja, Sebuah box makanan yang cukup besar terlihat menutupi pandangan Anggian.
"Malam ini ya, Fi." Mengecup tengkuk Alfiya pelan.
"Em.... terserah mas. Mas lebih berpengalaman dibanding aku." jawabnya santai. "Jadi mas tahun kapan harus memulai."
Elvan terkekeh mendengar jawaban itu.
"Kalau, mas mau sekarang gimana?" Ia mengecup punggung Alfiya yang sedikit terbuka dengan pelan membuat Alfiya bergidik dibuatnya.
"Ih, ada Gian, mas." ujarnya penuh penekanan.
"Ya udah, kalau gitu kita bener-bener harus nunggu momen yang tepat." Elvan langsung menaikkan kedua alisnya saat Alfiya mendongak kearahnya. Membuat gadis itu mengernyitkan dahinya.
Elvan kemudian melepas lingkar tangannya. "Mas, bawa sesuatu buat kamu." Elvan lantas mengeluarkan sesuatu dari saku celananya.
Cokelat!
Alfiya termangu sejenak. Ini kan, cokelat yang sering Joe berikan padanya. Hampir setiap hari Joe selalu memberikan cokelat itu. Tiba-tiba dadanya berdenyut, ada rasa bersalah yang menelusup dalam hatinya saat itu.
"Kenapa, Fi?" tanya Elvan saat melihat perubahan raut wajah itu. "Kamu gak suka."
Alfiya menggeleng pelan. Ia kemudian berusaha tersenyum dan mengambil coklat tersebut dari tangan Elvan.
"Terimakasih mas." lirih Alfiya, bukan dia tidak suka atas apa yang Elvan berikan. Tapi, benda ini mengingatkannya pada Joe. Ia ingat betapa seringnya Joe memberikan cokelat tersebut padanya selama hampir tujuh tahu hubungan mereka. Joe sangat tahu ia menyukai cokelat ini. Dan, sekarang Elvanlah yang membawakan untuknya.
Sementara itu Elvan seperti menyadari keanehan yang terjadi. Perubahan wajah Alfiya yang lagi-lagi seperti menampakkan raut wajah bersalah.
"Apa ada sesuatu yang ganggu kamu?"
"Em...." Apa ia harus menceritakannya pada Elvan?
"Fi?!"
Dengan ragu-ragu Alfiya pun berusaha menjelaskan. "Mas, besok-besok jangan bawain aku cokelat ini lagi ya."
"Kenapa?" tanya Elvan heran.
"Ini, cokelat yang sering.... Joe bawain buat aku." jelasnya hati-hati.
Elvan terdiam sejenak. Jadi benar, laki-laki itu yang selalu membuat raut wajah Alfiya berubah seperti ini.
"Hubungan kalian sudah berakhir, kan?" tanya Elvan memastikan.
Alfiya terdiam sejenak oleh pertanyaan tiba-tiba itu. "Mungkin bagi Joe hubungan yang kami jalani belum berakhir. Kerana belum ada kata putus buat hubungan kami mas."
__ADS_1
Seketika ada perasan kecewaan yang besar pada menyusup dalam diri Elvan. Bagaimana mungkin, setelah apa yang Alfiya tunjukkan padanya beberapa hari ini, gadis itu belum juga membuat keputusan untuk melepaskan laki-laki tersebut.
Melihat raut wajah Elvan Alfiya kembali merasa bersalah. "Kasih aku waktu mas. Ini gak mudah buat aku."
"Sampai kapan?"
"Aku, aku gak tau...."
"Fi!" nada bicara Elvan terdengar memprotes itu. "Kamu, istri mas, kan?"
Alfiya menunduk dan mengangguk.
"Kamu tahu, sebenarnya gak pantas seorang wanita yang sudah bersuami berhubungan dengan pria lain." Elvan menjelaskan dengan hati-hati dengan nada kecewanya.
Kali ini Alfiya mendongak memberanikan diri untuk menatap Elvan.
"Ini gak mudah mas...." rasanya wanita itu ingin menangis saat mengatakan ini. "Mas tau kan, berapa lama aku dan Joe bersama. Gak bisa semudah itu mas, aku gak bisa bilang ke Joe secara tiba-tiba kalau aku sudah menikah dengan mas Elvan. Aku butuh waktu."
Elvan masih mencoba menahan diri. "Tapi, sekarang kamu istri mas, Fiya." jelasnya.
"Aku tau...."
"Dan...." Elvan memejamkan matanya sejenak. "Itu namanya kamu selingkuh." Elvan memalingkan wajahnya saat mengatakan itu berkacak pinggang dengan tangan satunya lagi mengusap wajah dengan kasar.
Alfiya seketika tersentak kaget mendengar penuturan Elvan barusan. "Selingkuh? Mas!" Alfiya benar- benar tidak menyangka dengan apa yang barus saja Elvan katakan tentangnya.
"Mas, jangan pura-pura gak ngerti keadaan aku. Kita menikah awalnya karena terpaksa. Dimana saat itu aku masih memiliki kekasih yang aku cintai." jelasnya berusaha membela diri.
Deg! Seketika mata Elvan melotot tajam. "Cinta!!?? Jadi, sekarang kamu masih cinta sama laki-laki itu?!" Elvan sedikit menyentak membuat Alfiya tiba-tiba seketika terdiam ketakutan.
"Jawab!!"
"M-mas...." Alfiya memprotes bentakan itu.
"Ayah, bunda...." Suara merdu yang memanggil itu tiba-tiba menyurutkan emosi mereka. Keduanya baru ingat ada Anggian saat itu.
"Ayah...." suara kecil itu kembali mendayu. "Bunda.... Gian udah seyesai matan (selesai makan)"
Elvan dan Alfiya masih saling bersitatap untuk sesaat dengan menahan emosi masing-masing, tidak lantas merespon panggilan Anggian.
"Ayah.... Bunda...." Anggian memanggil kembali setengah berteriak. Membuat keduanya segera berusaha untuk mengendalikan diri.
"Iya, sayang sebentar." Sahut Elvan sembari masih melemparkan tatapan kekecewaannya pada Alfiya. "Ayah kesana sekarang." Lalu segera meninggalkan Alfiya setelah memberi tatapan rasa sakitnya.
Alfiya termangu.Tidak semudah itu ia menjelaskan semua ini pada Joe. Ini terlalu benar-benar menyulitkan. Ya Tuhan, ia harus bagaimana sekarang?
*
*
*
*
...Hai Ges! Gimana menurut kalian ceritanya? Mudah-mudahan suka ya sama cerita Alfiya dan Elvan....
...****************...
...Happy Reading!...
...Jangan lupa untuk Vote, Like and Komen, Ges!...
__ADS_1
...Kasih koin juga boyeh!...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...