DILEMA - Turun Ranjang

DILEMA - Turun Ranjang
Kamu Tidak Berhak Atas Aku!


__ADS_3

****


Alfiya bergegas melangkah ke kelasnya di kampus. Ia terus saja menyusuri jalanan setapak demi setapak untuk sampai. Hari ini perasaannya benar-benar campur aduk. Ia tidak yakin tentang perasaanya saat ini setelah kejadian tadi malam.


Namun, yang pasti sedari tadi ada sebuah nomor ponsel yang sangat ia kenal tidak henti-henti menghubunginya terus menerus. Dia harus bergegas, Joe tengah menunggunya dikelas.


Mengingat soal Joe, entah kenapa perasaannya benar-benar tidak karuan. Ia terus ketakutan jika pacarnya itu tahu akan akan semua hal yang ia tutupi. Ingatkan saja sudah berapa kali ia menolak Joe untuk menjemputnya berangkat kuliah. Untung saja pacarnya itu akhrinya mau mengerti berbagai alasan yang ia terima.


Alfiya menghela nafas panjang. Ciuman tadi malam itu, benar-benar terjadi. Kalau dipikir-pikir, saat ini dia punya pacar dan 'juga suami'. Lebih tepatnya suami bohongan. Walau pun ia bersikeras menganggap Elvan adalah kakak iparnya, namun pernikahan mereka pada dasarnya sah secara agama. Jadi, seberapa keras ia menolak menepis itu, nyatanya Elvan memang suaminya.


Saat itu belum sampai kakinya melangkah didepan kelasnya. Joe sudah berdiri dan menunggunya didepan pintu sembari melambaikan tangan.


"Fi...." Joe menghampiri Alfiya hendak meraih tangan gadisnya.


"Nggak usah pegang-pegang." Ujar Alfiya refleks. Dan ia pun kaget kenapa bisa melakukan itu terhadap Joe.


"Kenapa?" Tanya Joe tak kalah terkejut. Tidak pernah Alfiya berperilaku seperi ini. "Sikap kamu semakin hari tambah aneh Fi."


Alfiya lantas memasang raut wajah bersalah. "Bukannya gitu. Nggak enak dilihatin." sahut Alfiya.


Joe lantas mengernyit oleh sikap Alfiya. "Semua orang juga tau kalau kita itu pacaran Fi, lagian bukannya udah biasa ya kalau kita gandengan didepan orang banyak."


"Bukan begitu tapi, nggak enak aja Joe. Kalau bisa mulai sekarang kita nggak usah mengumbar kemesraan didepan orang banyak."


Raut wajah Joe tiba-tiba berubah. "Serius, kamu akhir-akhir ini banyak Berubah. Kamu udah gak mau aku jemput, jarang jawab telepon, pesan aku juga lama dibalas. Kenapa sih Fi? Apa aku punya salah? Apa kamu udah bosan sama aku." Ujar laki-laki itu dengan dada naik turun menahan perasaan. "Ini udah tahun ketujuh kita pacaran, biasanya kalau ada apa-apa kamu selalu cerita, nggak kayak gini."


"Joe, bukan begitu...." sahut Alfiya menggigit lalu sudut bibirnya


"Bukan begitu gimana!" Nada bicara Joe tiba-tiba meninggi. "Kamu seolah nggak nganggap aku lagi sebagai pacar kamu! Tingkah kamu tadi membuat aku serasa jadi orang asing!"


Jelas saja Alfiya langsung kaget mendengar ucapan itu. "Kamu ngebentak aku?"


Joe terdiam. Lagaknya laki-laki itu sadar apa yang dilakukannya salah.


"Joe..."


Joe tersadar dan segera mengendalikan diri. "A-aku gak ngebentak Fiya, aku cuma...." Sadar para anak-anak disekitar mulai memperhatikan pertengkaran mereka Joe pun lantas berhenti berbicara.


"Cuma apa?!" Tak pelak Alfiya rupanya telah tersulit emosi, tidak perduli dengan beberapa pasang mata yang memperhatikannya.


"Fi, udah anak-anak lihatin kita berdua." Joe mendekat dan memegang telapak tangan Alfiya erat, kemudian mengecupnya pelan.


Alfiya memelankan suaranya. "Kamu yang mulai semua ini." ia menarik tangannya dari Joe.


Joe menunduk merasa bersalah. Ia kembali meraih dan memegang tangan Alfiya. "Maafin aku." lirihnya. "Aku begini karena sayang sama kamu."


Alfiya membuang muka dari Joe, jujur saja ia juga tidak ingin seperti ini terhadap Joe. Tapu, mau bagaimana lagi ia benar-benar dilema akhir-akhir ini.


"Tapi kamu nyakitin aku Joe."


"Aku minta maaf.... aku sayang sama kamu. Maafin aku Fi." ujar Joe lembut. "Maaf ya, aku tadi cuma terbawa emosi, aku gak bermaksud nyakitin kamu."


Setelah Joe mengatakan hal tersebut Alfiya lantas berusaha untuk menatap wajah pacarnya itu walau dengan hati yang masih dongkol.

__ADS_1


Joe perlahan tersenyum, lalu kembali menggenggam erat tangan Alfiya. "Fi, aku mau. Agar pernikahan kita dilaksanakan secepatnya. Minggu depan, aku berencana buat cepat-cepat melamar kamu."


Deg! Jantung Alfiya lantas berdegup dua kali lebih cepat.


Alfiya menelan ludah sejenak, ia mengerjap beberapa kali. "Joe, aku nggak mau buru-buru menikah dulu." Ujarnya gelagapan. "Maksudnya, aku udah bilang sama bapak dan...." ucapan itu terjeda sejenak.


"Bapak belum setuju aku nikah cepet. Kita tunggu sampai satu tahun lagi ya, setidaknya sampai kita sama-sama kerja." ujarnya dengan suara yang semakin merendah.


Karena jelas saja Alfiya sedang menyembunyikan alasan terbesarnya saat itu. Suatu kebohongan yang tidak mungkin ia jelaskan kepada Joeshua.


Joe menatap protes. "Fi, kalau masalah pekerjaan, aku kan udah mulai nerusin usaha Ayah."


Belum sempat Alfiya menjawab perkataan Joe tiba-tiba dosen pada jam pelajaran pertama tiba dikelas.


"Ya udah, nanti masalah ini kita bahas lagi." Ujar Joe yang akhirnya ditanggapi anggukan ragu-ragu dari Alfiya. Namun dalam diam, Joe sepertinya dapat membaca keraguan itu.


****


Sore harinya sesuai dengan janji mereka pagi tadi. Elvan dan Alfiya pergi belanja disebuah mall dengan membawa serta Anggian dan juga bi Mina.


Sedari tadi Alfiya sengaja berjalan menjauh dari Elvan. Fokusnya kini hanya pada ponsel yang ia pegang. Setelah pertengkaran di kampus tadi. Gadis itu kini sibuk untuk membalas pesan-pesan dari sang pacar yang terus menuntut penjelasan.


Namun terus terang saja Alfiya juga belum memberikan penjelasan sebenarnya kepada Joe tentang apa yang sebenarnya terjadi. Meski begitu yang jelas hanya dia yang tahu tentang alasan pasti dari hal tersebut, yakni pernikahan sandiwaranya bersama Elvan. Hidupnya benar-benar penuh dengan sandiwara sekarang.


Beberapa saat kemudian Alfiya menghentikan langkahnya dilorong tempat rak-rak berisi makanan secara tiba-tiba karena saking pusingnya. Hingga tanpa sadar Elvan yang berada dibelakang tidak sengaja menabrak.


Alfiya terpaku dan menoleh kebelakang.


"Kamu kenapa sih Fi? Melamun lagi? Kamu mikirin apa?" Ia mendekatkan wajahnya kepada perempuan dihadapannya itu.


Alfiya tidak menjawab itu. Namun dipikirannya saat ini terus terbayang bagaimana cara agar dia bisa terlepas ikatan pernikahan dengan Elvan secara cepat tanpa suatu hambatan.


Apa dia kabur saja? Jujur ini terlalu rumit. Apa dia harus mengajak Joe kabur? Atau apa dia bilang saja kepada bapak kalau Joe ingin melamarnya dan mengakhiri semua ini.


Sementara Elvan menunggu jawaban Alfiya tak menggubris hal itu dan langsung kabur meninggalkan Alvian. Hah, benar-benar memusingkan.


Laki-laki itu mendesah. Rasanya dia juga sulit untuk melakukan permintaan bapak jika terus begini. Rasanya ia tidak sanggup untuk membalas budi kepada bapak kali ini, hal ini terlalu berat ia lakukan. Elvan tentunya paham dengan perasaan Alfiya. Lihat saja gadia itu akhir-akhir ini lebih sering melamun. Walau Elvan tidak bisa membaca isi pikiran Alfiya, akan tetapi ia tahu penyebabnya adalah pernikahan sandiwara ini.


"Ayah...."


Suara Anggian yang memanggil tiba-tiba saja membuyarkan lamunan Elvan.


"Iya sayang...."


Saat berbalik yang Elvan lihat adalah Alfiya yang tengah menggendong Anggian. Gadis itu terlihat memasang raut wajah datar terhadapnya.


"Tadi Gian panggil aku dan katanya dia mau main mobil-mobilan. Dia merengek mau main sama kita berdua." ujar Alfiya.


"Ya, udah. Ayo kita main...." sahut Elvan pelan. Sungguh raut wajah datar Alfiya benar-benar tidak bisa ia mengerti saat ini.


Sembari memperhatikan Anggian yang tengah menaikki mobil-mobilan ditempat bermain. Alfiya sedari tadi terus terduduk dengan sibuk oleh pikirannya. Matanya terus memperhatikan Anggian yang tengah tertawa bermain bersama ayahnya.


"Bunda.... bunda sini...." Panggilan Anggian dari kejauhan tiba-tiba membuyarkan lamunan Alfiya.

__ADS_1


Ada banyak pertanyaan yang bermunculan dikepalanya saat ini. Sampai kapan sandiwara ini terus berlangsung? Jujur dia rasanya mulai lelah terus berpura-pura kepada banyak orang, khususnya kepada ibu dan juga Joe.


••••


Saat itu dirumah. Elvan yang tengah berada didapur dikejutkan oleh kedatang Alfiya yang langsung menatapnya dengan tatapan serius. Elvan yang tengah meminum susu kotak ditangannya segera menghentikan kegiatan itu.


"Aku mau bicara serius sama mas...." ujar Alfiya sembari mengepal kedua tangan.


"Soal apa?" tanya Elvan.


Alfiya menunduk sejenak. "Soal semalam, tolong jangan lakuin hal itu lagi sama aku. Tolong mas jangan melewati batas. Dari awal aku sudah bilang kalau kita hanya sebatas adik dan kakak." Alfiya berkata dengan menggebu-gebu.


Elvan yang mendengar perkataan itu langsung terdiam. Matanya menyoroti Alfiya dengan serius.


"Fi, semalam itu aku...."


Dari cara Elvan menjawab Alfiya yakin kalau laki-laki ini ingat tentang apa yang mereka lakukan.


"Jadi mas ingat kan, kejadian semalam." wajah gadis itu tiba-tiba memerah sekaligus menahan emosi. "Aku sudah punya Joe mas, mas ingatkan kalau pernikahan kita cuma pura-pura. Tapi mas malah ngelakuin hal itu semalam. Walau pun dalam mabuk, seharusnya mas nggak melakukan itu sama aku." Gadis itu terus berbicara cepat tanpa jeda.


"Alfiya...."


"Mas, jujur semua ini membingungkan buat aku. Aku nggak ngerti kenapa semuanya jadi seperti ini? Aku mulai capek mas. Sejak mbak Gita ninggalin kita, semua hidup aku berubah." ujarnya dengan bibir bergetar.


Elvan terhenyak oleh ucapan itu. "Jadi disini kamu nyalahin Anggita." dada Elvan tiba-tiba tersengal kalau kenyataan itu benar adanya. "Kamu pikir mas nggak menderita Alfiya, kamu pikir mas juga nggak...." Elvan bergegas menghentikan ucapannya, ia takut dapat masalah jika nantinya salah berucap. Ia ingat dirinya melakukan ini karena suatu hal yanh besar.


Sembari mengatur deru nafasnya Elvan kemudian mendekati Alfiya hingga gadis itu berjalan mundur kebelakang. "Alfiya, kita suami istri bukan."


Didekati seperti itu jujur saja membuat Alfiya merasa gugup. "H-hanya pura-pura...." jawab Alfiya cepat. "Kita suami istri hanya pura-pura dan tidak akan lama. Jadi aku mohon agar mas tidak melewati batas seperti semalam...." Setelah mengucapkan hal tersebut Alfiya segera berbalik hendak pergi dari sana, dan tiba-tiba ia terkejut saat tangannnya dicekal cepat oleh Elvan. Tubuhnya kini sudah tertarik hingga berada didekapan laki-laki itu.


Alfiya mengerjap kaget. "Mas Elvan mau apa?! Kan tadi aku sudah bilang jangan melewati batas...."


"Jangan berhubungan lagi dengan laki-laki itu." Ujar Elvan tiba-tiba.


Memdengar ucapan tersebut dengan cepat Alfiya menepis tangan Elvan darinya. "Mas melarang aku berhubungan sama Joe?" tanya Alfiya dengan mata membulat. "Mas gak berhak buat ngelarang aku, mas gak ada hak untuk itu!"


"Tapi secara agama dan hukum mas adalah suami kamu yang sah, dan mas berhak untuk itu." sahut Elvan, lagaknya ucapan Alfiya barusan telah menguji ego dan harga dirinya sebagai laki-laki.


"Mas?!" seru Alfiya protes.


"Mas cuma minta kamu hargai selama kita menikah." rahang laki-laki itu terlihat menegang.


"Aku bisa menghargai mas dengan cara lain, tapi tidak dengan memutuskan hubungan aku dengan Joe!"


*


*


*


*


Happy Reading! Dukung terus jika kalian suka.

__ADS_1


__ADS_2