DILEMA - Turun Ranjang

DILEMA - Turun Ranjang
Mulai Ragu


__ADS_3

Like, Vote, Komen Ges!


****


Keesokan harinya di pagi hari itu. Benar saja sudah berapa kali Alfiya berpapasan dengan Elvan dan laki-laki itu benar-benar mendiamkannya. Tidak berbicara sepatah kata pun. Bahkan saat mereka bertemu di dapur Elvan hanya berlalu dari Alfiya dan tidak menatapnya sama sekali.


Alfiya yang tengah duduk dimeja makan dengan memegang segelas susu ditangannya juga ikut diam melihat Elvan yang sibuk mondar-mandir menyiapkan susu untuk Anggian.


Hening terasa diantara mereka. Hanya terdengar suara Elvan yang mengocok susu di dalam botol untuk sang anak. Hingga akhirnya bi Mina yang tengah mengikuti Anggian yang berlari masuk kedalam dapur memecahkan keheningan mereka.


"Hati-hati Gian!" ujar bi Mina mengikuti langkah kaki Anggian dari belakang. "Awas jatuh nak!"


Anggian kecil tak bergeming oleh suara bi Mina, ia malah tertawa cekikikan sembari berlari seolah sedang main kejar-kejaran.


"Bunda...."


Alfiya tersentak kaget saat tiba-tiba Anggian menghampiri dan memeluk kedua kakinya.


"Gian, capek ya?" tanya Alfiya yang melihat Anggian ngos-ngosan.


"Gendong...." pinta batita tersebut seraya merentangkan tangannya kepada Alfiya.


Alfiya termangu. Ya Tuhan, dia sebenarnya sangat menyayangi Anggian. Dia benar-benar sangat menyayangi makhluk mungil ini.


"Sini bunda gendong." Ia pun mengangkat Anggian di pangkuannya.


Dipangkuan Alfiya Anggian terlihat sangat bahagia, ia lantas tertawa kegirangan. Anak kecil itu asik memainkan rambut panjang Alfiya yang menjuntai.


"Bunda.... bunda.... e, e." ucap Anggian terbata-bata.


"Iya, kenapa sayang?" sahut Alfiya.


"Tadi malam bobok sama Gian, kan?" tanya anak polos itu.


Mendengar pertanyaan polos Anggian, raut wajah berubah pias. Namun Alfiya berusaha untuk tersenyum. "Iya, tapi Gian udah duluan tidurnya." Lagi-lagi Alfiya berbohong karena pada dasarnya ia tidak tidur bersama Anggian semalam dan ucapannya tersebut terdengar di telinga Elvan.


Lagaknya Elvan juga rasanya tidak mau terus berbohong seperti ini. Lantas ia pun langsung menghela nafas kuat oleh itu. Dia lalu menoleh kebelakang menatap sang anak yang tengah duduk di pangkuan Alfiya. Pemandangan yang sangat manis sebenarnya. Akan tetapi Elvan rupanya ingat agar terus menjaga jarak dengan gadis itu.


"Gian...." Elvan yang baru saja selesai membuatkan susu Anggian memanggil sang anak. "Ini minum susunya, sini sama ayah." Ajak Elvan.

__ADS_1


Alfiya membulatkan matanya kepada anak kecil itu, pertanda bahwa Anggian harus menuruti ayahnya. Entah kenapa rasanya tidak enak sebenarnya diam-diaman dengan Elvan begini. Alfiya juga tidak menyangka kalau Elvan akan benar-benar mendiamkannya.


"Ayo ke depan sama ayah...." panggil Elvan lagi.


Anggian kecil pun bergegas turun dari pangkuan Alfiya lalu menghampiri ayahnya.


"Ayah...." Anggian memeluk sang ayah erat.


Setelah meraih Anggian dalam gendongannya Elvan lantas berlalu keluar dari dapur dan lagi tanpa menegur sapa Alfiya sedikit pun.


Nyes! Alfiya seperti merasa tidak enak. Kenapa ya? Padahal menjaga jarak dengan Elvan adalah keinginannya sendiri. Tapi rasanya sangat aneh tat kala mereka tidak bertegur sapa sedikit pun.


Huh, gadis itu lalu menghela nafas. Apa sih maunya dia ini.


Lalu kemudian ia sadar masih ada sosok yang memperhatikannya disana.


"Bibi kenapa ngelihatin aku gitu?"


Bi Mina yang memberi tatap tak di mengerti lantas berlalu pergi. Lagaknya wanita paruh baya itu mengerti akan situasi yang terjadi antara Elvan dan Alfiya.


"Baik-baik mbak sama suami, karena ridho suami itu surga untuk istrinya." Setelah mengucapkan kalimat tersebut bi Mina lalu keluar.


Alfiya tercengang oleh ucapan bi Mina barusan. Jantungnya seketika berdenyut seolah tertampar oleh ucapan itu.


****


Sore itu di cafe tempat biasa langganannya, sepulang kuliah Alfiya dan juga Joe berjanji untuk membahas perihal tentang hubungan mereka disana. Kedua muda mudi itu tengah duduk berdua dan bersitegang dengan mempertahankan ego masing-masing.


Pertanyaan Joe yang terus menuntut membuat Alfiya semakin jengan dan tertekan.


Lalu lama kedua anak muda itu terdiam seribu bahasa, hingga suasana hening diantara mereka. Sesekali Alfiya mendengar helaan nafas berat Joe ditelinganya.


Alfiya masih menunduk dengan memainkan sedotan jus melon dihadapannya, melamun dan merenung dengan pikirannya. Terus merangkai kata dikepalanya untuk menjawab pertanyaan laki-laki dihadapannya ini. Rasanya sangat sulit, hubungan mereka sepertinya akan semakin sulit untuk kedepannya.


"Fi, jadi gimana? Jawab. Gimana tentang rencana aku buat melamar kamu, bisa kan kita lakuin ini bulan depan." Tanya Joe dengan tatapan penuh harap.


Alfiya mendongak. Ia tatap dalam-dalam raut pacarnya itu, lalu menunduk kembali karena perasaannya yang semakin berat. Sendainya dia tidak mempunyai ikatan apa pun dengan Elvan. Pasti hal ini tidak akan begitu rumit. Ia bisa menyetujui permintaan Joe saat itu juga tanpa perlu banyak berpikir.


"Joe, tolong ngertiin aku...." lirih Alfiya pelan. "Bukannya aku menolak...."

__ADS_1


"Sayang, aku nggak ngerti kenapa kamu jadi begini. Tolong, nggak mungkin aku nunggu kamu satu tahun lagi. Sementara kita sudah lama saling mengenal." Joe terus memperotes di dalam perasaannya yang semakin membuncah hebat. "Alasan kamu nggak masuk akal, ibuk dan bapak kamu sudah mengenal aku lama, Fi. Kenapa mereka nggak bisa percaya sama aku? Aku bisa Fi buat menghidupi kamu setelah menikah."


Alfiya menghentikan kegiatannya mengaduk-aduk jus melon. Lalu gadis itu membenahi duduknya sejenak. Ia raih tas ranselnya kemudian meletakkanya diatas kedua pahanya. Setiap Joe menanyakan hal ini, ia terus saja merasa tertekan.


"Fi--"


"Joe, aku bener-bener gak bisa kalau kamu mau melamar aku secepat itu." Alfiya memberi penekanan.


"Nggak bisa gimana Fi?!" Suara Joe tiba-tiba meninggi. "Sampai kapan aku harus menunggu?! Satu tahun!? Itu terlalu lama!" Joe menghentak pelan meja dengan telapak tangannya membuat Alfiya seketika oleh itu.


"Joe, aku benar-benar gak bisa buat terima lamaran kamu untuk waktu dekat ini. Aku mohon kasih aku waktu, sampai tahun depan, ya." lirih Alfiya, nafasnya kembali berhrmbus karena perasaan menyesakkan itu. Karena tidak mungkin bukan kalau dia mengatakan hal sebenarnya kepada Joe tentang keadaannya saat ini.


Mendengar hal tersebut Joeshua memejamkan mata frustasi. Laki-laki itu menjenggut rambutnya kasar.


"Aku benar-benar nggak ngerti sama kamu! Kenapa harus mengulur-ulur waktu begini sih, Fi?!"


"Joe, ada alasan kenapa aku gak bisa buat nerima lamaran kamu secepatnya. Kamu tau kan, keluarga kami baru kehilangan mbak Gita. Dan, semua masih merasa kehilangan Joe. Aku mohon kamu ngerti ya." Ujar Alfiya memberi pengertian.


Lagi-lagi Joe mendengus kasar. Nampaknya laki-laki itu masih belum menerima apa pun alasan yang dilontarkan oleh Alfiya. Ia masih tidak menyangka setelah hubungan yang mereka jalani selama itu, dia harus menunggu satu tahun lagi agar Alfiya siap dilamar olenya.


"Joe...." Alfiya meraih kedua telapak tangan Joe. "Ngertiin aku ya, aku mohon. Kamu mau kan?" Ia mengelus telapak tangan Joe pelan, berharap laki-laki itu dapat memberikan pengertian padanya.


Joe yang masih bungkam oleh ucapan kekasihnya itu lalu mencoba untuk menguasai emosinya. Terlihat sekali ia sangat sulit menerima alasan Alfiya.


"Baiklah, untuk saat ini aku berusaha buat ngertiin kamu. Tapi aku masih akan tetap menunggu Fi, kalau bisa secepatnya kamu buat keputusan. Dan...." Joe menjeda ucapannya sejenak. "Hari minggu seperti biasa. Aku akan jemput kamu. Dan kamu harus mau aku jemput, aku mau ajak kamu pergi sperti biasa."


Alfiya mengangguk pelan. "Hm...." Ia rasa hanya ini cara agar Joe mau memaafkannya. Alfiya menyunggingkan senyum tipis saat Joe menatapnya.


"Aku gak mau kamu menolak permintaan aku, hari minggu turutin apa yang aku mau! Ngerti!" Ujar Joe seperti menggertak.


Alfiya tersentak, Joe seperti melakukan pemaksaan padanya.Lalu yang ia rasakan adalah sebuah perasaan aneh merasuk kedalam relung hatinya. Perasaan aneh yang sungguh tidak ia mengerti. Kemana perasaan indahnya pada laki-laki ini? Kenapa yang ia rasakan adalah sebuah kebingungan dan tanpa sadar tiba-tiba ragu pada laki-laki ini.


Ia merasa akhir-akhir ini Joe semakin keras dan sering membentaknya.


*


*


*

__ADS_1


*


Like, Vote, Komen Ges!


__ADS_2