DILEMA - Turun Ranjang

DILEMA - Turun Ranjang
Season 2 [Tidak Akan Melepaskan]


__ADS_3

*


*


*


*


Sebotol minuman dingin terletak diatas meja kaca dengan dua gelas bening disisinya. Sebuah laptop yang masih menyala pun disingkirkan agak menjauh.


Elvan masih duduk diam menunggu sembari memperhatikan Angga yang tengah menyimpan file-file penting pekerjaan pada laptop. Setelahnya Angga berdiri untuk meletakkan media kerjanya itu pada lemari di dekat sofa tempat mereka duduk.


Alfiya benar-benar tidak ingin ditemui oleh siapapun. Bahkan ketika Elvan sudah memohon pada petugas medis agar dipersilahkan masuk kedalam ruangan.


"Maaf pak, ini bukan larangan dari kami. Tapi ibu Alfiya benar-benar tidak mau. Dia ingin diberikan waktu untuk sendiri. Mohon dimaklumi dulu ya pak, demi kebaikan istri anda."


Begitulah penjelasan dokter tatkala setiap kali Elvan ingin menemui Alfiya.


Setelah selesai, Angga pun kembali pada tempat duduknya. Ia perhatikan seksama Elvan yang terlihat memasang raut wajah kusut.


"Kenapa lagi lo?" Tanya Angga, jika Elvan sudah mendatanginya pasti ada sesuatu yang rumit tengah dialami sosok yang sangat di kenalnya itu. "Soal Alfiya lagi?"


Elvan masih terdiam, yang pada akhirnya membuat Angga membiarkan itu. Menunggu Elvan sampai membuka suara.


Sampai pada akhirnya Angga sendiri tidak tahan lagi dengan sosok lelaki yang ada dihapannya tersebut.


"Woi ngomong." Tutur Angga akhirnya. "Kalau gak ada yang mau lo omongin mending pulang sana. Kerjaan gue banyak."


Dan benar saja, Elvan yang sedari tadi termenung kaku. Dengan banyak hal yang tertampung dikepalanya dan perasaan yang menyesak di dada akhinya mengangkat kepala.


"Kemarin Alfiya habis keguguran."


Mata Angga membelalak terkejut. "Dia udah hamil?"


"Iya. Gue juga baru tau."


"Elo tau Alfiya hamil saat dia udah keguguran?"


Elvan mengangguk. "Tapi bukan itu masalahnya." Tarikan nafasnya panjang. "Ternyata selama ini diam-diam dia masih menemui anak itu."


Angga menyimak dengan seksama. Terlihat sangat jelas kalau Elvan tengah penuh tekanan dengan raut wajah khawatir.


"Jenny yang meminta Alfiya untuk nemuin dia."


"Terus si Alfiya mau?" Tanya Angga.


Elvan mengangguk lagi. "Anak itu sakit." Tutur Elvan. "Dan Alfiya merawatnya selama dua minggu belakangan ini." Ia menghela nafas kembali.

__ADS_1


"Dia sakit karena patah hati?" Angga kembali memastikan. "Dan dia patah hati karena Alfiya lebih milih lo ketimbang dia."


Elvan sontak menoleh pada Angga, tercengang akan ucapan laki-laki itu.


"Terus Jenny mendatangi Fiya karena adiknya." Ujar Angga. "Dan Alfiya setuju— karena...." Ucapan itu sengaja ia gantung untuk memancing Elvan menjawabnya sendiri.


Dalam diam Elvan termangu mendengarkan ucapan Angga. Iya, apa penyebab Alfiya menemui anak itu kembali? Apa karena Alfiya masih mencintai Joe, namun yang Elvan ingat Alfiya sudah beberapa kali mengatakan kalau istrinya itu telah mencintainya.


"Alfiya udah bilang kalau dia cinta sama gue." ujar Elvan menjelaskan.


"Dan elo sendiri gimana?" Tanya Angga dengan penasaran. Karena Elvan belum pernah bercerita soal ini sebelumnya. "Lo udah bilang cinta sama dia?"


Setelah pertanyaan itu, Elvan kembali terdiam. Entah kenapa pertanyaan itu seolah menyentak nya. Karena ia sadar kalau sekali pun tidak pernah dirinya berkata cinta sama Alfiya.


Melihat raut wajah Elvan, Angga lantas menyunggingkan bibir seolah paham. "Oh, jadi Alfiya berjuang sendiri." Tarikan bibirnya semakin tinggi, Angga menegakkan tubuh karena lekaki itu seperti mulai paham. "Pantesan."


"Apa maksud lo?" Nampaknya Elvan tidak suka dengan respon yang diberikan oleh Angga.


Hembusan nafas kasar oleh Angga. "Van, van.... Alfiya itu nikah sama lo karena dijodohin. Dia sama tuh anak waktu itu juga masih pacaran." Ujarnya dengan penuh penekanan.


"Apa salahnya elo balas bilang cinta juga sama dia walau cuma satu kali. Biar dia yakin sama elo, dan dia juga nggak berusaha sendiri buat ngelupain masa lalunya."


"Ngga...." Elvan nampak memprotes karena lekaki itu seperti menyudutkan nya.


"Sekarang gue tanya, kapan pertama kali Alfiya bilang itu?" Ujar Angga kembali.


Angga yang mendengarkan cerita Elvan pun mangut. "Terus kenapa akhirnya Alfiya tiba-tiba bilang cinta ke elo?"


Sebenarnya Elvan juga tidak mengerti kenapa Alfiya yang bersikeras ingin bercerai tiba-tiba berubah seketika. Bahkan saat itu ketika mereka tengah makan malam Alfiya dengan berani menciumnya, membuat dirinya terpancing untuk melakukan hal yang sama bahkan lebih dari itu.


Mendengar setiap penjelasan Elvan seperti Angga mulai paham apa yang terjadi. Bagaimana Alfiya yang masih menjalani hubungan dengan Joe yang sudah lama berpacaran dengannya tiba-tiba berubah, itu adalah sesuatu yang mengganjal.


"Lo gak pernah tanya soal ini ke Alfiya?" Tanya Angga lagi.


Elvan berusaha mengingatnya. Ia memang sempat menanyakan ke anehan kenapa Alfiya bisa berkata mencintainya secepat itu. Dimana sebelumnya padahal Alfiya bersikeras mengatakan kalau ia masih sangat mencintai Joe.


Bahkan saat bulan madu pun mereka sempat bertengkar karena masalah itu.


"Dan elo nggak nyadar, kalau sebenarnya saat itu Alfiya sedang berusaha melepaskan masa lalunya."


"Jadi dia terpaksa mencintai gue." Lirih Elvan.


"Bukan terpaksa, tapi berusaha. Alfiya saat itu sedang berusaha menerima dan mencintai elo." Ujar Angga dengan nada meninggi.


"Kenapa?" Ujar Elvan.


"Karena bisa aja kalau saat itu Alfiya benar-benar bercerai sama elo, dia bakalan menentang banyak hal. Yang pasti membuat kedua orang tuanya kecewa dan bisa juga dia gak tega ninggalin anak lo yang nggak lain adalah keponakannya sendiri. Dan akhirnya karena hal itu ia harus mengambil keputusan yang beresiko. Yaitu ninggalin pacarnya yang udah berhubungan tujuh tahun dan bertahan buat jadi istri lo van."

__ADS_1


Penjelasan Angga seperti menyadarkan Elvan akan banyak hal.


"Terus keadaan Alfiya gimana sekarang." Tanya Angga lagi semakin penasaran. "Elo marah sama dia gara-gara masih nemuin anak itu?"


Elvan menggeleng. "Alfiya masih dirawat dirumah sakit dan dia gak mau ketemu siapapun. Termasuk gue."


Mendengar hal itu Angga lantas memejamkan mata dalam-dalam. "Istri lo tertekan." Tutur Angga kemudian setelah membuka matanya kembali. "Sadar gak si lo kalau selama ini Alfiya itu serba salah."


Tubuh Elvan bergetar mendengar perkataan tersebut.


"Anggita meninggal dia yang di salahin sama mertua lo. Dia nikah sama lo juga salah karena dia masih pacaran sama Joe. Dan gue yakin lo juga pernah kan nyalahin Alfiya karena masih ngejalin hubungan sama Joe." Ujar Angga, dan entah kenapa laki-laki itu sangat menggebu-gebu.


Elvan benar-benar terdiam seribu bahasa seolah membenarkan setiap perkataan Angga.


"Si Fiya itu terlalu banyak dituntut van. Jadi wajar kalau pada akhirnya dia harus memutuskan buat bertahan sama lo dan mencintai elo, karena dengan pilihan itu dia gak akan menyakiti orang-orang yang ada disekeliling dia. Tapi ya itu tadi resikonya, Alfiya terpaksa harus putus dari Joe. Bahkan Joe pun tau pernikahan kalian bukan dari cerita Alfiya."


Tak puas dengan segala pendapatnya yang menurut Angga memang apa yang dia katakan benar. Lelaki itu lantas menambahi kembali.


"Dan kalau sekarang dia akhirnya gak mau ketemu siapapun itu wajar. Mungkin setelah keguguran ini dia mikir kalau akan disalahin lagi."


"Gue gak nyalahin dia soal itu." Ujar Elvan akhirnya.


Kedua mata Angga masih terbuka lebar. "Lo emang gak nyalahin dia. Tapi pikirannya Van." Angga menunjuk kepalanya sendiri. "Dengan kondisi yang udah dia alami selama ini, bisa aja Alfiya selalu merasa ada dalam posisi salah dan dipojokan."


Elvan mengusap wajahnya, lelaki nampak amat sangat frustasi.


Hal itu belum pernah terpikir dalam benak Elvan sebelumnya. Alfiya sebenarnya selalu terlihat baik-baik saja selama ini. Hanya saja wanita yang telah menjadi istrinya itu akan langsung berubah kecewa ketika tidak ada jawab atas sebuah pertanyaan, apakah Elvan mencintai Alfiya?


"Jadi menurut lo gue harus biarin Alfiya ketemu anak itu terus-menerus dan ngelepasin dia." Ada geraman tertahan dari nada bicara Elvan saat itu. "Supaya Alfiya bahagia, begitu." nampak Elvan mulai terpancing amarah.


"Elo mau ngelepasin Alfiya?" Tanya Angga dengan tawa mengejek. "Yakin?"


Elvan menggeleng cepat. "Nggak."


"Ya udah, sana lo kerumah sakit. Ngapain lo disini."Ujar Angga. "Alfiya itu perlu dimengerti van." Nada bicara Angga pun melembut. "Gue juga yakin dia gak bakalan mau lepas dari lo, semuanya udah dia kasih." Angga seperti nya benar-benar senang memberikan segala pendapatnya pada Elvan saat ini. Maka lelaki itu pun mengeluarkan segala yang ada di dalam kepalanya.


"Mungkin lo masih dalam bayang-bayang Anggita. Tapi lo juga harus sadar kalau yang ada di dalam hidup lo sekarang itu Alfiya." Suara Angga semakin merendah. "Anggita udah pergi Van, dia itu masa lalu. Gue gak nyaranin lo buat lupain segalanya tentang Anggita. Tapi lo harus kerima kenyataan."


Dan entah kenapa masih ada satu hal yang membuat Angga sangat geram. Suara lelaki itu pun kembali meninggi semakin menghentak dan menyadarkan Elvan lebih banyak. Sifatnya yang seperti inilah yang membuat Elvan sering mendatanginya dikala ada masalah.


"Apa susahnya si lo, tinggi bilang cinta!" Sentak Angga. "Woi, kasian Alfiya! Cuma ditidurin tapi gak dikasih kepastian tentang perasaan lo sama dia. Elo pikir cewek digituin itu enak!"


Setelah setiap perkataan yang keluar dari mulut Angga, sepertinya Elvan sudah tau apa yang harus ia lakukan. Lelaki itu lantas berdiri dari duduknya dan menarik nafas dan menghembuskannya merasa plong.


"Gue mau kerumah sakit." Ujar Elvan. "Makasih atas saran lo."


Mendengar perkataan itu Angga menyunggingkan bibir kembali sembari menaikkan kedua alisnya yang tebal. Sangat terlihat sekali kalau sekarang Elvan sudah lebih baik dari saat baru mendatanginya tadi.

__ADS_1


...****...


__ADS_2