DILEMA - Turun Ranjang

DILEMA - Turun Ranjang
Perasaan Yang Tak Sama


__ADS_3

****


Malam itu, Alfiya mempacking barang-barang yang akan dibawanya bersama Elvan ke dalam koper. Nampaknya gadis itu begitu semangat untuk keberangkatan mereka besok siang. Rencananya mereka memang akan berangkat siang hari, pada pukul dua.


Alfiya memang berkeinginan untuk menikmati pantai disore hari dengan matahari yang menguning.


"Cie yang mau liburan." Goda Elvan yang kala itu baru memasuki kamar.


Alfiya mendongak sejenak, menatap suaminya yang tampan. Ah, rasanya masih tidak menyangka kalau laki-laki ini sekarang adalah suaminya.


"Mas, nanti aku beli baju renang disana aja ya." tutur Alfiya.


"Kenapa gak beli kemarin?"


"Aku mau baju renang yang kayak model-model itu loh mas. Ya mirip punya kylie Jenner itu." Alfiya mengigit bibirnya geli, lalu ia memperhatikan raut wajah Elvan. Uh, senang sekali ia mengerjai laki-laki itu.


"Boleh ya?" kedip-kedip manja.


Astaga, Elvan hanya bisa geleng-geleng kepala akan ucapan konyol Alfiya. Lalu mendudukan dirinya disisi ranjang.


Gak lagi habis obat kan?


"Berarti boleh ya, mas?" ujarnya seolah menyimpulkan diamnya Elvan adalah mengiyakan.


Elvan menggelengkan kepalanya pertanda tidak setuju. "Gak boleh...."


"Ih mas Elvan kok gitu. Cantik lo mas, apalagi kalau pakai yang warna kuning. Nanti kulit aku kelihatannya bagus, secerah sinar matahari, kayak bule-bule gitu." Alfiya kembali memperhatikan raut wajah Elvan, rasanya ia tidak tahan untuk berkata semakin konyol lagi.


"Gak boleh! Pakai baju biasa aja, jangan yang terlalu seksi. Mas gak suka." tegas Elvan. Dia saja masih belum sepenuhnya buka segel. Ini mau diumbar-umbar.


"Aku pakai itu buat kamu, mas Elvan, biar mas terpesona." Lalu Alfiya pun mencari sesuatu dari ponselnya. Ia kemudian beranjak dan menghampiri Elvan yang duduk disisi ranjang.


Berhenti sejenak, lalu gadis itu mulai memiringkan tubuhnya dan duduk dipangkuan Elvan. "Mas...." bisiknya sambil melingkarkan tangannya dileher laki-laki itu dengan sempurna, dengan satu tangan masih memegang ponselnya.


Elvan menatap dengan senyuman pada sosok cantik dihadapan. Duh, meski terkadang konyol ia tidak bisa menapik kalau gadis yang sedang ada dipangkuannya ini terlihat sangat menggemaskan. Rasanya ia ingin menerkam saat itu juga.


"Lihat deh poto ini...." memperlihatkan layar ponselnya pada Elvan sembari mendekatkan kepala mereka.


Elvan lantas memperhatikan layar ponsel tersebut.


"Ih ganjen!" menarik ponselnya cepat dari tatapan Elvan. "Mas suka kan liat cewek-cewek pakai bikini." lalu Alfiya memanyunkan bibirnya seolah meledek.


Alfiya lantas menghela nafas. "Fiya...." menegur pelan.


"Mas...." mengikuti cara bicara Elvan sembari mengerjap-ngerjapkan matanya lalu terkekeh pelan.

__ADS_1


"Jangan aneh-aneh. Gak pakai baju begitu pun, kamu cantik." membenahi anak rambut Alfiya yang berantakan.


"Kalau sama bule-bule dipantai nanti, mas terpesona gak?"


Elvan lalu mencubit hidung Alfiya. "Kok bisa sih, mas punya istri seperti kamu?"


Alfiya seketika termangu mendengar ucapan itu. Seketika itu membuat jantungnya berdenyut.


Kok bisa?


"Mungkin karena takdir...." Lirih Alfiya pelan. Kali ini alasannya bukan lagi karena terpaksa. "Aku percaya kita disatukan oleh takdir."


"Kamu percaya itu?"


Alfiya mengangguk pelan. Lalu, mereka saling menatap untuk beberapa saat, hingga keheningan mengambil alih suasana.


Sejurus kemudian Alfiya membuka suara. "Mas, apa mas masih mencintai mbak Gita?"


Elvan terdiam sejenak. Ia lalu menghindari tatapan Alfiya sesaat. "Kenapa kalau misalnya mas masih mencintai Anggita?"


Alfiya terdiam, terbersit kekecewaan dalam hatinya. Raut wajahnya pun lantas berubah.


"Mas sudah bilang, mas juga butuh waktu untuk mencintai kamu. Nanti akan ada waktunya, Fi. Mas bisa seperti kamu yang sekarang mungkin telah mencintai mas."


Entah kenapa tiba-tiba dada Alfiya terhenyak oleh ucapan itu. Jadi Elvan masih meragukan perasaannya.


Alfiya kemudian melepas tatapan matanya dari Elvan, menundukkan kepalanya dalam. Setelah beberapa saat ia mendongak kembali.


"Aku benar-benar mencintai kamu, mas." ujarnya penuh ketulusan. "Aku mencintai kamu, rasanya perasaan aku sesak jika menolak perasaan ini."


Untuk itu lah Alfiya meyakinkan diri bahwa ia percaya takdir. Ia tidak bisa menolak perasaan yang ia miliki untuk Elvan saat ini. Perasaan yang entah kapan merasuki dirinya, perasaan yang datang begitu cepat secara tiba-tiba tanpa ia duga. Rasanya ia juga tidak percaya, bahkan perasaan itu tumbuh setiap harinya.


Sementara itu Elvan masih terdiam. Andaikan ia memiliki perasaan yang sama kuatnya. Dan bisa menumpahkannya pada Alfiya saat itu. Namun, perasaan yang ia miliki belum sebesar itu. Mungkin ia sudah memiliki rasa, tapi bukan cinta. Atau ini hanya perasaan ingin memiliki saja. Mungkin juga ia butuh Alfiya untuk Anggian, hingga ia tidak ingin melepaskan.


Elvan termenung sesaat oleh sebuah kenyataan bahwa ia tidak bisa membohongi Alfiya atas perasaannya. Lantas ia tatap dalam-dalam wanita yang ada dipangkuannya, dimana oleh tatapan itu Alfiya kemudian memeluknya dengan erat. Entah oleh apa, nyatanya Alfiya bisa menerima kalau Elvan belum memiliki perasaan yang sama seperti dirinya.


Elvan membalas pelukan tersebut, menyusupkan wajahnya pada ceruk leher Alfiya. Mencium kulit halusnya yang harum dengan lembut.


Maafkan, maafkan mas.... Rasa bersalahnya cukup kuat kala ia tidak dapat memberikan perasaan yang sama.


Hingga beberapa saat kemudian pelukan itu pun terlepas.


"Ya udah, aku mau packing lagi." Alfiya kemudian turun dari pangkuan Elvan.


"Baju mas?" tanya gadis itu.

__ADS_1


"Tolong kamu ambilin dilemari."


Alfiya pun mangut. Gadis itu kemudian keluar dari sana untuk menuju kamar Elvan. Walau pun beberapa hari ini Alfiya telah tidur satu kamar dengan Elvan, akan tetapi ia belum juga memindahkan barang-barangnya kekamar itu.


Elvan duduk memperhatikan barang yang akan meraka bawa. Sejurus kemudian sebuah panggilan dari ponsel Alfiya yang terletak disamping duduknya mengalihkan perhatian. Penasaran ia ambil ponsel tersebut dan melihat sebuah nama yang tertera disana.


My Joeshua!


Elvan terdiam sejenak. Tentunya ia tahu siapa yang tengah menghubungi. Dengan pelan ia pun menggeser layar ponsel tersebut. Dan, mendekatkan ke telinganya.


Hallo!


Suara dari seberang terdengar.


Fi, sayang!


Hening sejenak. Sementara Elvan masih mendengarkan.


Aku kangen kamu, Fi.... maaf ya kalau beberapa hari ini aku gak ngabarin.


Lagi-lagi hening, lumayan lama, seperti seseorang disana menunggu sebuah jawaban. Terdengar helaan nafas berat setelahnya.


Kamu, bener-bener marah ya sama aku.


Sayang!


Alfiya!


Aku minta maaf, aku kangen kamu. Aku mau ketemu, ayo kita bicara....


Tut! Seketika Elvan mengakhiri panggilan tersebut saat tiba-tiba Alfiya masuk ke dalam kamar.


"Mas...." Alfiya datang dengan membawa tumpukkan baju yang telah ia pilihkan untuk Elvan. "Bajunya yang ini ya?"


Elvan berusaha tersenyum dan mengangguk dengan tatapan yang tidak bisa dipahami.


*


*


*


*


Happy Reading!

__ADS_1


__ADS_2