
****
Saat itu pukul lima sore. Disebuah ruangan khusus manager pemasaran. Seorang pria terlihat melepas kacamatanya sejenak, matanya terasa lelah karena seharian berada di depan komputer. Elvan meluruskan tubuhnya yang terasa kaku. Laki-laki itu mendongak sebentar, menggantung lehernya yang terasa sangat pegal di sandaran kursi yang empuk tersebut.
Tak berapa lama, pintu ruanganya tiba-tiba terbuka. Seulas senyum diwajah dari seorang perempuan berkulit mulus nan kecoklatan terlihat dari pandangannya yang sedikit buram.
Suara hak sepatu terdengar beraturan. Wanita tersebut mendekat, lalu duduk dihadapannya dengan Anggun.
"El...." ujarnya lembut.
Elvan beranjak membenahi posisi duduknya, kemudian memakai kacamatanya kembali untuk melihat dengan jelas wanita dihadapannya.
"El, yuk berangkat temen-temen udah nungguin tuh. Ikut ya!" pintanya.
Elvan mengerjapkan matanya tampak berpikir sejenak.
"Ayolah El...." Jenny memakaa Elvan yang tampak ragu.
"Aku harus pulang Jen, Gian menunggu dirumah." jelas Elvan lagi.
Namun, nampaknya Jenny tak menyerah untuk membujuk Elvan. "Cuman sebentar kok, habis makan-makan kita pulang. Lagian anak kamu kan ada yang jagain, si bi Mina."
"Jen, tolong ngertiin keadaan aku sekarang."
"El, aku ngerti keadaan kamu." Jenny tersenyum, sembari mengatur nafasnya. "Tapi, Ayolah. Kamu udah jarang kumpul semenjak dulu menikah. Kali ini aja El. Ikut ya." Jenny terus memohon.
Elvan pun mendesah, akhirnya dengan terpaksa dia pun mengiyakan permintaan Jenny.
Beberapa saat kemudian sampailah mereka pada sebuah restoran yang dituju. Mereka pun memasuki restoran bintang lima tersebut dan menemui dus orang laki-laki dan seorang perempuan di salah satu meja ruangan VIP.
Jenny pun menarik Elvan untuk duduk berdampingannya dengannya.
"Makin nempel aja Jen, usaha terus nih ceritanya." Celetuk Delia.
"Lagi usaha mengambil hati duda muda." Anton menyahuti ucapan Delia.
Jenny hanya menanggapi dengan senyuman tipis, takut kalau Elvan tidak nyaman jika dia bereaksi berlebihan.
Sementara itu Elvan terlihat hanya terdiam menanggapi candaan teman-temannya.
"Van, lo kenapa diam terus."
"Gue kepikiran anak gue, Ton."
"Lo gak mau nikah lagi?" Celetuk Angga, orang yang paling tua diantara mereka.
Merasa ucapannya tidak ditanggapi oleh Elvan, Angga kembali berujar. "Maksud gue gini, Van. Lo masih muda dan anak lo masih kecil. Setidaknya kalau lo nikah lagi, kalian berdua bakal ada yang ngurus." Angga rasa hampir satu bulan setelah kejadian tersebut, Elvan sudah bisa untuk di ajak ngobrol seperti ini. Tidak ada lagi rasa canggung bagi mereka untuk bercanda dengan Elvan, karena gurat wajah Elvan tidak sesuram sebelumnya.
"Apa perlu gue cariin jodoh buat lo, Van?" Celetuk Antoni.
Elvan menyunggingkan bibirnya. "Semua itu, gak segampang yang kalian pikirin."
"Why?!" Seru Delia. "So, lo mau cewek yang gimana? Gue bisa kenalin temen-temen gue ke lo. Mereka cantik-cantik, sukses dan berpendidikan tinggi."
__ADS_1
"Bukan itu yang gue cari, Del." sahut Elvan datar seolah tidak tertarik.
"Lo, mau cari yang gimana? Yang mirip sama mendiangnya Anggita?! Susah, Van." Angga kembali menanggapi.
"Ya, kalau lo mau yang kayak Anggita. Kenapa nggak lo nikahin aja adeknya." Ucapan yang keluar dari mulut Antoni mampu membuat semua orang yang ada disana terdiam sejenak seraya melongo.
Elvan tahu teman-temannya hanya ingin membuat suasana hatinya lebih baik saat ini. Maka, ia pun tidak menanggapi serius apa yang mereka katakan. Walau pun sebenarnya candaan tersebut sengaja dibuat-buat dan sedikit keterlaluan.
Mau bagaimana lagi, memang nasibnya memiliki teman-teman yang mulutnya tidak bisa di rem. Untung saja dia orangnya santai.
"Lah, bener! Kenapa lo gak turun ranjang aja!?" Seru Delia dengan mata membulat.
"Betul tu Van, seenggaknya kalau lo nikah sama adeknya Anggita, lo gak bakalan khawatir soal anak lo. Dia bakal sayang banget sama anak lo nantinya, secara anak lo kan keponakannya." Jelas Antoni panjang lebar.
"Alfiya sudah punya pacar!" sentak Jenny tiba-tiba. "Dan pacarnya itu adek gue, gak mungkin kan Elvan bisa nikah sama dia. Lo pada gila apa?!"
Serentak ketiga teman Elvan pun melongo sejenak, kemudian saling pandang lantas tertawa lebar.
"Jenny, Jenny! Selama janur kuning belum melengkung, Alfiya belum sepenuhnya milik adek lo!" Delia menjelaskan sembari tersenyum lebar.
"Adek gue, sama Fiya udah pacaran lama, lo semua tau kan." jelas Jenny lagi.
Delia kembali tertawa lebar diikuti oleh kedua laki-laki konyol yang duduk disampingnya.
"Pacaran lama, gak jamin adek lo dan Fiya bakalan nikah, Jen. Buktinya banyak tuh, orang yang pacaran lama tapi jodohnya malah orang lain, ups." Delia menutup mulutnya pura-pura keceplosan.
"Bener banget! Elvan masih ada kesempatan buat nikahin adik iparnya." Antoni menanggapi dengan penuh semangat, lalu ia menatap Elvan sumringah. "Nih, ya Van. Gue setuju banget, gue dukung lo seratus persen sama adeknya mendiang istri lo, dari pada lo cari cewek lain yang belum tentu sayang sama anak lo."
Jenny yang mendengar perkataan Antoni, melirik Elvan sejenak. "Pasti ada kok Van, cewek lain yang bakalan sayang tulus sama Gian." ujarnya angkuh. Namun, sepertinya ucapan gadis itu tidak ada yang menggubris. Malah teman-teman Elvan semakin semangat membahas tentang Alfiya.
"Betul, betul." sahut Angga sembari mengacung-acungkan jari telunjuknya. "Gue pernah lihat anaknya ceria banget, lucu, imut. Beda banget sama Anggita yang cenderung kalem."
Tak berapa lama terdengar suara meja yang di gebrak dengan kuat. "Kalian itu bener-bener gak tau diri ya." Ujar Jenny menggebu-gebu. Baru tadi mereka menggoda tentang kedekatan hungungannya dan Elvan. Tapi sekarang? "Lo semua gak mikirin perasaan adek gue! Kalian juga gak mikirin perasaan Elvan sebagai orang yang baru ditinggal oleh istrinya."
"Mikirin perasaan adek lo dan Elvan atau...." Delia menelisik. "Mikirin perasaan lo sendiri?" lanjutnya sambil berpura-pura melihat layar ponsel.
Mendengar perkataan Delia, Jenny terlihat semakin emosi. Seolah apa yang dikatakan wanita itu adalah benar, maka emosinya semakin tak karuan.
Sementara ketiga pria yang ada disana, terlihat santai melihat perdebatan kedua wanita tersebut.
"Udah, udah. Lo berdua gak usah berantem. Kita kan cuma kasih saran ke Elvan, gak usah dianggap serius." Angga berusaha menenangkan.
"Dianggap serius juga it's okey. Iya nggak, Van?" tambah Antoni sengaja memancing reaksi Elvan.
Angga langsung menyahuti ucapan tersebut. "Dasar kompor, lo!" Ia melirik Jenny sejenak. "Liat tuh, Jenny kasian."
Elvan hanya menanggapi ucapan kedua sahabatnya dengan senyuman yang sulit diartikan. Tidak tahu saja mereka, kalau hal yang sedang mereka perdebatkan saat ini adalah sebuah kenyataan. Kenyataan yang mungkin tidak akan berlangsung lama oleh sebuah perceraian yang menanti.
Tapi, sepertinya Elvan terlalu asik mendengar obrolan teman-temannya. Sampai ia lupa mengabari Alfiya untuk pulang terlambat malam ini.
Laki-laki itu pun lantas merogoh tas kerja miliknya, kemudian mengambil ponsel. Saat Elvan membuka layar ponselnya, laki-laki itu dapat melihat banyak panggilan tak terjawab dan laporan pesan masuk. Ia sadar bahwa dirinya memang tidak mengaktifkan mode dering pada ponselnya disaat bekerja.
Ia mendadak cemas, sangat jarang Alfiya menghubunginya sebanyak ini. Ingatkan saja beberapa saat yang lalu dirinya ditelpon tiba-tiba disaat bekerja dan mendapatkan kabar yang sangat menyakitkan.
__ADS_1
Lantas Elvan pun segera, membuka pesan-pesan tersebut dengan panik!
Alfiya : Mas, hari ini pulang seperti biasa kan jam 5 sore?
Hah, syukurlah. Elvan bernafas lega. Cuma menanyakan jam pulang rupanya.
Elvan pun semakin penasaran membaca pesan-pesan tersebut. Tumben Alfiya menanyakan kepulangannya dan mengirim pesan sebanyak ini.
Alfiya : Mas, jangan makan di luar ya. Aku mau masak hari ini. Mas harus cobain masakan aku.
Apa....
Kening laki-laki itu mendadak mengkerut. Ini Elvan tidak salah baca kan. Alfiya masak? Dan gadis itu menghujaninya banyak pesan hanya agar ia mencicipi masakannya.
Alfiya : Mas, balas dong pesannya.
Alfiya : Mas, Elvan pulangnya jam berapa, sih? Dari tadi gak balas2 pesan.
Alfiya : Mas....
Alfiya : Mas....
Alfiya : Mas, Elvan....
Alfiya : Mas, biar pun aku bukan orang penting, balas dong pesannya jangan sombong, deh.
Pfft....
Rasanya kalau tidak ada orang disana, Elvan ingin sekali tertawa sekeras mungkin.
Lucu! Ya ampun lucu sekali gadis ini. Elvan lantas menepuk jidatnya tidak habis pikir sembari masih menahan tawa. Ia jadi membayangkan bagaimana kalau Alfiya berbicara secara langsung seperti ini padanya. Dasar gadis cerewet, mendiang Anggita saja tidak pernah seperti ini padanya.
Maka Elvan pun kemudian membalas pesan tersebut.
Elvan : Fi, kamu masih nungguin mas pulang?
Elvan mengirim balasan pesan tersebut dengan perasaan yang tidak karuan. Perasaan membuncah tiba-tiba merasuk ke dalam lubuk hatinya. Ia menarik nafas sejenak, dirinya seperti dejavu. Perasaan yang pernah yang pernah ia rasakan saat bersama mendiang Anggita dahulu.
Hingga akhirnya tak perlu waktu lama Elvan pun mendapat pesan balasan kembali.
Alfiya : Maaaaaas:'( aku belum makan karena nunggu mas pulang.
Ya, ampun! Kenapa gadis ini seperti sengaja membuat perasaannya tidak karuan begini.
Setelah membaca pesan tersebut, Elvan lantas menatap teman-temannya satu persatu. Hingga terucap sebuah kalimat yang membuat semuanya mengernyit.
"Gue, pulang duluan ya."
*
*
*
__ADS_1
*
Like, Vote, Komen Ges!