DILEMA - Turun Ranjang

DILEMA - Turun Ranjang
Season 2 [Jenny: Tolong temui Joe! ]


__ADS_3

*


*


*


*


Dua minggu berlalu,


Alfiya benar-benar melakukan aktivitasnya seperti biasa. Seperti tidak ada beban dan masalah. Ia bahkan semakin aktif menjalani perannya sebagai seorang ibu dan juga istri bagi Elvan.


Masalah Joe mulai berangsur-angsur wanita itu lupakan. Hal tersebut tak luput juga dari bantuan Elvan, lelaki yang membuat dirinya sadar kalau ia sekarang adalah seorang istri dan juga ibu.


"Mas, besok aku sidang. Doain ya, supaya lancar." Wanita itu kemudian meletakkan cream malamnya ke dalam laci.


Elvan yang baru saja duduk di atas ranjang setelah tadi ia sempat menemani Anggian tidur di kamar barunya. Memang, sudah satu minggu ini Anggian tidur dikamar yang terpisah dengan mereka. Walaupun awalnya susah, namun agaknya sang anak mulai terbiasa.


Laki-laki itu tersenyum, menyambut sang istri yang datang menghampiri sembari merentangkan tangan. Meraih tubuh wanita yang semakin hari bertambah cantik tersebut ke dalam pelukannya.


Alfiya membenamkan wajahnya pada dada sang suami. Menghirup aroma tubuh laki-laki itu dalam-dalam, sangat menyenangkan.


"Kamu capek?" Tanya Elvan sembari mengelus kepala Alfiya pelan.


Pertanyaan itu membuat Alfiya semakin mengeratkan pelukannya, melingkar kan tangannya erat pada perut sang suami.


"Sedikit." Jawab wanita itu dengan sedikit manyun. Ternyata memang benar, menyelesaikan tugas skripsi tidak semudah yang dibayangkan. Melakukan hal tersebut ternyata cukup banyak menguras tenaga.


"Fi." Panggil laki-laki itu pagi sembari membenahi posisi tubuh. Membuat tubuh Alfiya berpindah pada lengannya yang berotot.


"Kamu kenapa mas?"


"Tentang rencana ibu dan bapak, soal resepsi pernikahan kita."


Untuk sesaat raut wajah Alfiya nampak berubah. Ada gurat aneh pada wajah gadis itu. Namun, segera ia berusaha menguasai diri dan menyembunyikannya.


Lalu, "Aku terserah ibuk dan bapak saja. " Ujar Alfiya berusaha tersenyum tipis.


Elvan terpaku sejenak. Melihat dengan seksama wajah cantik tersebut, mencoba mencari arti tersembunyi dari raut wajahnya. "Kamu yakin?"


Alfiya kembali mengulas senyum yang sama. "Iya." Kemudian gadis itu kembali memeluk Elvan. Melingkarkan kedua tangannya dengan erat di leher sang suami.


Namun, Elvan seperti dapat merasakannya. Ada yang aneh dari Alfiya. Dan hal itu membuatnya takut.


Fi, kamu nggak akan goyah kan?


Joe! Apa ini karena laki-laki itu. Ia merasa kalau Alfiya seperti masih kurang yakin. Gadis itu terlihat masih bimbang.

__ADS_1


Hingga kemudian. "Mas, aku menyayangi kamu. " Lirih Alfiya dalam pelukan itu.


Seperti kurang yakin. Elvan hanya berde-em pelan menyahuti.


Dan, itu membuat Alfiya melepaskan pelukannya untuk melihat wajah sang suami. Matanya terlihat memandang nanar. Untuk sesaat hanya hening yang mengambil alih. Mereka sama-sama terpaku, saling menatap dengan siratan yang berbeda.


"Aku juga sayang Anggian."


Tambahan ucapan itu kini malah membuat Elvan yang menatap nanar. Laki-laki itu terenyuh entah oleh apa.


"Mas juga sangat sayang Gian, Fi." Lirih Elvan. "Sangat."


"Aku gak pernah nyangka akhirnya bisa menjadi ibu buat Gian."


"Mas juga." Suara Elvan semakin merendah. "Mas nggak pernah nyangka kalau semua ini akan terjadi."


Menghindari tatapan Elvan sejenak, wanita itu nampak berpikir. "Aku masih merasa bersalah." Ucapan itu terjeda sejenak.


"Mas, merindukan mbak Gita?" Kepala gadis itu mendongak.


Menanggapi itu, Elvan hanya tersenyum hambar. Bahkan sorot matanya yang redup tak dapat dijelaskan saat itu.


"Biar bagaimana pun, aku sadar kalau kenyataannya aku dan mbak Gita berbeda." Alfiya terdiam sesaat, menciptakan keheningan sementara diantara mereka.


Hingga kemudian, "Maaf ya mas, kalau aku gak bisa ngasih kamu sesuatu yang pernah mbak Gita kasih sebelumnya." Alfiya menarik nafasnya yang terasa sesak sejenak. "Ada banyak hal di dalam diri mbak Gita, yang gak ada di aku."


"Mas, memang gak melihat diri Gita sedikit pun di dalam diri kamu."


Wajah perempuan itu semakin menegang.


"Jadi, berhentilah beranggapan kalau mas ingin kamu jadi seperti dia." Namun ada hal lain, dipikiran Elvan saat ini yang sangat sulit ia ungkapan yaitu menanyakan soal perasaan Alfiya pada Joe.


"Tapi-" Ucapan itu terhenti, saat sebuah kecupan mendarat di lehernya.


Alfiya memejamkan mata kuat saat Elvan mulai mencumbunya. Menyingkap dress tidur tipis yang ia kenakan saat itu, menariknya perlahan hingga berhasil melewati kepala.


Hingga akhirnya beberapa saat kemudian, desahan dan erangan pun menggema di seluruh ruangan saat mereka bersama berbagi keringat dalam gairah yang ssama


...****...


Keesokan harinya,


Pada sore hari itu, Alfiya akan pergi berbelanja dengan ditemani Anggian. Ia melangkah melewati jalan setapak untuk menuju Jalan raya sembari menggendong Anggian.


Wanita itu juga tampak sangat bahagia, karena akhirnya tadi ia berhasil menjalankan sidang dan akan segera wisuda. Yang itu artinya sebentar lagi resepsi pernikahannya pun akan dilakukan. Dan Alfiya tengah berusaha menyiapkan diri untuk hal tersebut.


Pada sisi jalan Alfiya dan Gian menunggu. Gadis itu memang sudah memesan taksi online, namun sepertinya ia bosan menunggu terlalu lama. Hingga Alfiya pun memutuskan untuk menunggu sembari menyusuri jalan sejenak, sementara Anggian terus mengoceh dengan seru oleh setiap benda yang ia lihat.

__ADS_1


"Bunda lihat ada katak." tunjuk tangan mungil Anggaran saat melihat seekor katak kecil yang melompat.


Alfiya lantas mengikuti arah pandang Anggian, ia lalu tersenyum. "Kok Gian tau itu katak?" Tanya Alfiya. "Emang Gian udah pernah lihat sebelumnya?"


Anggukan cepat pun Gian berikan menanggapi pertanyaan Alfiya.


Obrolan soal katak pun berlanjut. Hingga kemudian setibanya ia pada sebuah warung kecil. Tempat ini membuatnya dejavu. Kejadian beberapa waktu lalu tiba-tiba terlintas di kepalanya, di depan warung ini adalah tempat sang kakak meregang nyawa.


Bergegas Alfiya menepis ingatan itu, ini terlalu menyedihkan.


Tiba-tiba ada sebuah mobil dengan warna merah menyala berhenti tepat di depan warung tersebut.


Awalnya Alfiya tidak menghiraukan hal tersebut, namun saat pintu jendela mobil perlahan turun dan terbuka wanita itu mendadak terkejut.


Dia-


Jenny!


Setelah saling bertatapan tanpa sapaan, Jenny kemudian membuka pintu mobil. Menapakkan sepatu hak tingginya.


"Mbak." Tegur Alfiya, berusaha tersenyum kaku.


Jenny melirik Anggian sejenak. Lalu, "Kayaknya kalian mau pergi."


"Kita mau ke mall. Mau belanja." Kembali gadis itu menjawab dengan canggung. Bahkan Alfiya merasakan hatinya seperti menciut.


Menarik sudut bibir, Jenny melangkah lebih dekat. "Bisa, saya minta kamu ikut saya sekarang."


Walau permintaan itu nampak ragu-ragu namun mampu membuat Alfiya tertegun. Ikut kemana dan juga, Jenny berbicara seformal itu padanya? Ini benar-benar terasa asing.


"Kamu dengar saya?" Tutur wanita bertubuh tinggi semampai itu memastikan sembari memiringkan kepala.


"Ikut kemana ya mbak?" Sambil mengeratkan pelukan pada Anggian yang menyenderkan kepala di pundaknya, nampaknya batita itu mulai bosan.


"Ini soal Joe." Tambah Jenny.


Mendengar nama Joe, Alfiya langsung menghindar tatapan Jenny. Ada perasaan aneh yang tiba-tiba timbul dalam hatinya. Perasaan yang entah kenapa belum bisa hilang hingga sekarang.


"Maaf mbak, aku gak bisa." Tolak Alfiya hati-hati, ia sudah memutuskan untuk menjauhi Joe.


Untuk sesaat tidak ada jawaban, hingga kemudian Jenny melepas kacamata hitam yang ia pakai.


Alfiya memperhatikan itu, mata wanita tersebut terlihat sembab. Ia terkejut dan merasa heran. Kenapa? Dan ini membuat perasaan tiba-tiba tidak enak.


Suara Jenny lalu terdengar menahan getaran tertahan. "Tolong Alfiya, sebentar saja tolong temui Joe. Mbak mohon sama kamu Fi."


...****...

__ADS_1


__ADS_2