DILEMA - Turun Ranjang

DILEMA - Turun Ranjang
Kenapa Gadis Ini Menciumku?!


__ADS_3

****


Benar-benar di luar bayangan, Alfiya tidak berpikir bahwa Elvan akan pulang dikala dirinya tengah tertidur. Dan, dengan santainya berganti pakaian sementara ada dirinya dikamar itu. Kenapa sebelum itu Elvan tidak membangunkan dirinya terlebih dahulu coba, agar dia bisa menunggu saja diluar kamar.


Alfiya merasa dirinya sangat kelelahan. Ia telah menghabiskan waktunya untuk kuliah, kemudian sepulangnya ia langsung memasak, memandikan Anggian dan juga menyuapi anak itu makan.


Ternyata, mejalankan peran sebagai seorang ibu melelahkan juga rupanya.


Sesampainya di ruang makan, Alfiya pun bergegas untuk segera menyiapkan makan malam. Disusunnya beberapa menu yang ia masak tadi ke atas dengan rapi. Ia juga menyiapkan piring untuk mereka berdua.


Alfiya tersenyum memandang hidangan yang ia siapkan dengan penuh harap. Semoga saja Elvan suka dengan masakannya.


Namun, tiba-tiba Alfiya termangu. Apa yang terjadi dengan dirinya? Kenapa dia jadi sepenuh hati begini menyiapkan makan malam untuk Elvan. Kenapa dia sangat berharap Elvan akan menyukai masakannya. Apa yang membuatnya tiba-tiba jadi begini?


Pada awalnya dia hanya berniat menjadi ibu yang baik bagi Anggian sampai mereka berpisah. Tapi, kenapa akhirnya sampai kesini? Kenapa dia jadi melakukannya secara berlebihan. Gadis itu kemudian menunduk sembari menyentuh dada oleh perasaan asing yang merasuk kedalam hatinya.


Tak berapa lama, ia seperti mendengar suara-suara berisik dari luar ruang makan.


"Hai, mbak!" Rian yang tengah menggendong Anggian tiba-tiba nongol.


Alfiya lantas memutar tubuhnya setelah menoleh. "Rian, kapan kamu disini?" tanyanya terkejut sekaligus heran.


"Aku baru sampai mbak, mau ajak Gian jalan-jalan sebentar."


Alfiya lantas melirik Anggian yang tengah menarik-narik baju Rian karena tidak sabar untuk pergi.


"Ayo, om, ayo...." paksanya Anggian.


Rian pun tersenyum. "Iya, bentar ya kita pergi sebentar lagi." Lalu Rian beralih menatap Alfiya. "Mbak aku dan Gian pergi dulu ya."


Alfiya lalu berjalan menghampiri. "Nggak makan dulu?" tanya Alfiya.


"Nggak usah mbak, tadi udah makan dirumah."


Alfiya mengangguk paham. Lalu beralih menatap Anggian yang sudah tidak sabaran. "Gian, jangan nakal ya sama om, Rian."


Anggian kecil pun mengangguk mantap. Setelah itu akhirnya mereka pun pergi meninggalkan Alfiya sendirian disana.


Alfiya kembali menatap hidangan diatas meja. Ia menarik nafas dalam-dalam. Baiklah dia akan makan malam dengan Elvan setelah ini.


Tak berapa lama sosok yang ditunggu pun akhirnya datang. Melihat Elvan Alfiya mengerjap. Ia tiba-tiba teringat ia sempat melakukan hal terlarang tadi.


Sementara itu dengan santai Elvan melangkah dengan mendekat. Kemudian mendudukan tubuhnya dikursi. Sejenak ia pandangi hidangan yang berada diatas meja. Lalu beralih menatap gadis yang masih bediri disampingnya.


Alfiya tercekat, untuk beberapa saat tatapan mereka pun bertemu. Hingga keheningan diantara mereka pun terjadi. Ia pandangi wajah laki-laki tersebut. Raut wajah Elvan terlihat menenangkan saat ini.


Tenang, dan semakin lama semakin enak dipandang. Alfiya sepertinya baru menyadari itu. Sosok laki-laki dewasa memiliki daya tarik sendiri rupanya. Seperti sosok yang bisa mengayomi dan.... Alfiya belum pernah melihat hal seperti ini pada diri Joe.


Tiba-tiba, Alfiya jadi tersadar, kenapa dia jadi membandingkan Elvan dan Joe begini. Gadis itu menggeleng cepat. Tidak! Tidak mereka berdua adalah orang yang berbeda jelas saja banyak perbedaan.


Gadis itu lantas memejamkan mata dalam.


Duh, mikir apa sih, Alfiya?


Elvan yang melihat tingkah Alfiya pun hanya bisa tersenyum. Ia lantas memanggil pelan. "Fi! Fiya."

__ADS_1


Ha? Gadis itu lantas tersadar dari lamunannya.


"I-iya, mas." Alfiya mengerjap sadar.


Elvan mengernyitkan keningnya. "Kamu, melamun?"


Gadia itu terkekeh pelan. "Oh, e-enggak."


Duh, Alfiya merasa sepertinya otaknya mulai konslet. Kenapa dia jadi membanding-bandingkan Elvan dan Joe. Ada apa sih dengan jalan pikirannya.


Gadis itu menarik nafas dalam-dalam. Ingat Alfiya jangan terbawa perasaan soal Elvan. Ingat tujuan awal menikah dengan laki-laki ini adalah demi ibu dan bapak.


"Mas, mau coba dulu gak makanannya." ujar Alfiya berusaha menghilangkan kecanggungan yang ia rasakan.


Elvan pun lantas mengangguk. "Boleh."


"Ya udah, mas cobain."


Elvan pun lantas mengabil sendok dan mencoba sepotong ayam asam manis yang dimasak Alfiya. Laki-laki itu mengunyahnya sesaat.


Sementara itu Alfiya harap-harap cemas menunggu. "Gimana mas?"


Elvan tidak menjawab apa-apa, laki-laki itu lantas meletakkan sendoknya kembali ke piring. Raut wajahnya pun terlihat biasa saja. Tidak jelas reaksi apa yang ia tampakkan.


"Mas?" Alfiya menautkan sebelah alisnya. "Gimana?"


"Coba kamu deh yang suapi." pinta Elvan akhirnya. Masih dengan mulut yang mengunyah sedikit makanan dengan senyuman yang mengulas wajahnya. "Kok, ada seperti ada yang kurang ya waktu mas coba."


Ha?


"Ada yang kurang, perasaan tadi minta tolong bi Mina buat cicipin dan rasanya udah pas."


Saat Elvan mengunyah gadis itu menunggu.


"Ternyata benar ya." Ujar Elvan setelah menelan makanannya.


"Benar apanya mas?"


"Kalau makan dari tangan orang itu rasanya lebih enak."


Astaga,


Gadis itu memalingkan wajah tidak menyangka. Laki-laki ini kenapa sih? Ia seperti merasa kalau Elvan sedang menggombal atau apa sebenarnya.


"Mas, Elvan ngomongnya udah kayak cowok-cowok di film india tau." Jelas Alfiya.


Elvan terkekeh pelan. Ia tersenyum kemudian dengan santai kembali menikmati makanannya. Tidak perduli akan gadis yang masih kebingungan oleh sikapnya barusan. Ia menggeleng pelan, dia tadi kenapa ya?


Alfiya masih menatap Elvan yang tengah menyuap masakannya. Terlihat sangat lahap dan menikmati. Apa Elvan menyukai masakan ini karena sering dimasak oleh Anggita dahulu, ia tidak tahu. Tapi yang jelas ia senang dan terharu, Elvan menyukai apa yang ia hidangkan.


Elvan yang menyadari Alfiya tengah memperhatikannya lantas menoleh. Kenapa? Elvan mengerjap, apa ada yang salah dengan dirinya? Laki-laki itu lalu meletakkan sendok yang ia pakai ke atas piring. Mengambil dan meminum segelas air yang sudah disiapkan oleh Alfiya. Setelah meminum air tersebut ia berdehem sejenak.


"Kenapa, Fi?" tanyanya heran oleh gadis yang terus termangu itu.


Alfiya mengerap sadar. "Em?!"

__ADS_1


"Kenapa kamu dari tadi selalu merhatiin mas?"


Alfiya masih bungkam. Rupanya Elvan sadar akan gerak geriknya sedari tadi. Gadis itu menghelas nafas, ia juga tidak mengerti kenapa sedari tadi terus memperhatikan Elvan seperti ini. Rasanya ia tidak bisa melepas pandangan dari laki-laki ini.


Alfiya kemudian mendekati Elvan. Membuat laki-laki itu semakin heran akan tingkahnya.


"Mas...." Alfiya menatap Elvan dalam-dalam. "Kenapa mas, nggak benci aku."


Elvan mengernyit bingung. "Maksud kamu?"


"Maksud aku, ibuk membenci aku karena menganggap kepergian mbak Gita adalah kesalahan aku." jelasnya pelan.


Hening sejenak!


Elvan masih menunggu kelanjutan ucapan Alfiya yanh semakin tidak ia mengerti ini.


"Tapi, mas Elvan.... kenapa mas Elvan tidak menyalahkan aku atas kejadian ini. Bahkan di saat masih berduka pun, mas setuju buat nikah sama aku."


"Fi...."


"Mas.... jujur sebenarnya aku juga merasa bersalah sama mas Elvan dan Gian. Karena aku mas Elvan kehilangan istri dan Gian kehilangan bundanya."


Elvan menundukkan kepalanya. Ia paham apa maksud Alfiya. "Itu.... karena kecelakaan Fi." ujarnya pilu sembari mendongak untuk menatap gadis yang tengah berdiri dihadapannya.


Alfiya menunduk atas jawaban Elvan. Tapi hatinya seolah belum merasa puas. Lagi, entah apa yang ia inginkan keluar dari mulut laki-laki ini. Seperti ada sesuatu yang ia harapkan.


"Ya, sudah mas mau lanjut makan lagi." Ujarnya, karena seperti tidak ada hal lagi yang ingin dikatakan oleh Afiya.


Namun, belum sempat Elvan melanjutkan makanannya. Seperti kehilangan sebuah kesadaran gadis itu lantas mendekat dan ia raih kedua sisi pipi Elvan dengan kedua telapak tangannya.


Elvan terkesiap. Ia kemudian mendongak menatap gadis itu dengan heran.


"Fi?!" seru Elvan bingung. "Kamu kenapa?"


Alfiya semakin kehilangan kesadaran, ia memejamkan mata dalam-dalam. Hingga akhirnya perlahan namun pasti bibir mungil itu menempel dengan lembut di bibir Elvan.


Astaga,


Elvan mengerjap. Matanya masih melebar, terlihat jelas Alfiya tengah memejamkan matanya disaat melakukan itu.


Ini dia tidak mimpi bukan?! Alfiya, apa yang sedang gadis ini lakukan?


Namun tiba-tiba, seketika juga Alfiya sadar. Gadis itu lantas melepaskan ciuman mereka. Untuk beberapa saat mereka saling bersitatap. Keduanya pun kebingungan sendiri oleh apa yang baru saja terjadi.


Ya Tuhan, Alfiya menutup mulutnya cepat, ia mendadak histeris dan gelagapan sendiri. Apa yang sudah ia lakukan. Bisa-bisanya tanpa sadar dirinya mencium Elvan.


Alfiya menggigit bibir bawahnya kaku. Perlahan ia pun berjalan mundur kebelakang. Lantas berlari cepat untuk keluar dari ruangan tersebut. Meninggalkan Elvan yang masih terpaku duduk oleh perbuatannya.


Elvan jadi berpikir, apa mungkin gadis itu tengah terguncang jiwanya?


*


*


*

__ADS_1


*



__ADS_2