DILEMA - Turun Ranjang

DILEMA - Turun Ranjang
Merasa Dirinya Gila


__ADS_3

****


Jantung Alfiya tak hentinya berdegub-degub melihat tatapan Elvan. Ia mengerjap beberapa kali oleh rasa gugup, karena laki-laki itu jelas sekali lebih mendominasinya. Perlahan ia berusaha memundurkan tubuhnya kebelakang.


Ia ingat-ingat kembali apa yang baru saja dirinya katakan tadi.


Alfiya sadar, bodohnya dia mengatakan sebuah pertanyaan yang tidak penting itu. Memangnya kenapa kalau Elvan tidak membawakan bunga ke makam Anggita setiap hari. Apa coba, maksud dirinya menanyakan hal tersebut. Kenapa malah dirinya yang sedih, kalau Elvan tidak membawa bunga ketempat peristirahatan Anggita.


Sementara itu Elvan terlihat menghembuskan nafas berat. "Coba jelaskan apa maksud kamu? Memangnya kenapa kalau mas tidak lagi membawakan bunga untuk diletakkan diatas makam Anggita setiap hari?"


Lagi, Alfiya tidak bisa berkutik. Ia merendahkan tatapannya tidak berani untuk melihat sorot mata Elvan yang jelas saja semakin membuatnya menciut itu.


Untuk beberapa saat mereka terdiam. Hingga akhirnya Alfiya berusaha untuk bersuara.


"Em...." ia berdemem pelan masih tanpa berani melihat sorot mata Elvan. "Ya udah, lupain aja. Mas lebih baik keluar, aku mau tidur." Alfiya kemudian dengan perlahan dan hati-hati memutar tubuhnya kembali membelakangi Elvan.


Gadis itu lantas menarik dan meremas selimutnya dengan kuat. Beberapa hari ini ia benar-benar merasa gundah. Ia juga tidak mengerti kenapa dirinya bisa begini.


Sayup-sayup matanya yang lelah pun mulai terpejam. Ia merasa tubuhnya lelah dan sedikit panas, namun entah kenapa rasanya Alfiya tidak bisa tidur. Gadis itu grasak-grusuk karena merasa tidak nyaman. Perutnya pun terasa melilit, sakit.


Akhirnya karena tidak kunjung terpejam, ia kemudian membuka matanya kembali. Ia mengerjap-ngerjap, mungkin dirinya harus makan sesuatu dulu sebelum tidur.


"Kenapa bangun?"


Alfiya tersentak lantas langsung menoleh kearah pemilik suara. Dilihatnya Elvan tengah berbaring miring dengan satu siku tangan menopangnya.


"Mas, nggak balik kekamar?"


"Mas tanya, kenapa gak jadi tidur?"


"Aku mau kedapur." Alfiya menyibak selimutnya. "Mau makan dulu."


"Biar mas panasin makanan buat kamu." ujar Elvan sembari beranjak dari berbaring.


Lalu Alfiya menyahut lagi. "Nggak usah, biar aku aja."


Elvan menghela nafas, ia tidak perduli akan penolakan Alfiya. Laki-laki itu lantas turun dari ranjang. Lalu berjalan menuju pintu keluar kamar.


"Kan, aku bilang nggak usah." Alfiya menggerutu sebal.


Namun nampaknya Elvan malah semakin tidak perduli. Sembari menyungging senyum tipis, laki-laki itu akhirnya benar-benar keluar dari kamar.


****


Saat itu di dapur, Elvan tengah memanaskan sayur sop yang baru dimasak tadi sore. Terlihat laki-laki itu tengah mengaduk dengan pelan. Lagaknya, karena sudah mandiri sedari kecil memasak bukanlah sebuah masalah baginya.


"Itu siapa yang masak?"


Suara yang tiba-tiba menerpa ditelinganya membuat Elvan menoleh kebelakang. Dilihatnya gadis yang terlihat sayu itu tengah mendekat kearahnya.


"Bi Mina." jawab Elvan pelan.


"Em...." sahut Alfiya, lalu duduk dikursi.


"Iya, soalnya orang yang pernah berjanji buat menjadi ibu yang baik, nggak pulang-pulang. Jadinya mas suruh bi Mina buat masak." perkataan itu pelan, tapi berhasil membuat Alfiya memanyunkan bibirnya merasa tersindir.


"Mas ngomongin aku ya!" serunya.

__ADS_1


Elvan kemudian berbalik, laku tersenyum tipis menyunggingkan bibirnya. "Memang siapa lagi." ledeknya.


"Ish...." Alfiya mendesisi kesal melihat raut wajah meledek itu.


"Lalu...." Elvan pura-pura berdehem. "Saat dia pulang, orang itu malah nangis-nangis. Nangis karena sesuatu yang nggak jelas. Dia takut kalau mas pergi jauh, nanti mendiang istri mas akan sedih kalau tidak dibawakan bunga." Elvan kembali mengakhiri ucapannya dengan senyum meledek, agaknya dia memang sengaja membuat Alfiya kesal.


"Biarin terserah aku. Yang nangis aku, aku yang punya air mata." jawabnya ketus.


Elvan lantas terkekeh pelan melihat itu. "Jadi, kamu nangis karena apa?" ujar Elvan, lebih tepatnya untuk memancing reaksi Alfiya.


Raut wajah salah tingkah Alfiya lantas tak bisa disembunyikan. "Mas Elvan apaan sih?" gerutunya sebal.


Terkekeh kembali, laki-laki itu lantas kembali memutar tubuhnya untuk mengaduk sop ayam yang sedang dipanaskan.


"Kamu...." masih sambil mengaduk. "Sedih karena Gian, Gita, atau sedih karena...."


"Karena apa?!" Sambar Alfiya.


Elvan rupanya enggan melanjutkan ucapan yang ia gantung barusan. Sepertinya ia sengaja membuat Alfiya penasaran.


"Mas!?" seru Alfiya yang benar dirinya merasa penasaran saat itu Kemudian karena geram Alfiya lantas berdiri. Mengepalkan tangan kesal . "Apaan sih, mas Elvan gak jelas ngomongnya."


Karena Elvan masih terdiam, Alfiya akhirnya memberanikan diri untuk mendekat masih dengan mengepal tangannya kuat dan dengan sengaja mengarahkan kepalan tangan itu kearah Elvan, seolah hendak meninjunya.


Hingga, saat ini berada tepat dibelakang Elvan langkahnya pun terhenti, tangannya yang tadi mengepal ia turunkan. Alfiya tatap laki-laki bertubuh jangkung itu. Yang selanjutnya ia tidak tahu kenapa, tanpa sadar tangannya malah tergerak untuk memeluk tubuh Elvan dari belakang. Perlahan namun pasti, tangan mulus itu berhasil melingkar sempurna dipinggang Elvan.


Tak lama, Alfiya tersadar dengan apa yang baru saja ia lakukan, apalagi melihat Elvan yang tidak bereaksi atas ulahnya, gadis itu kemudian menarik tangannya karena merasa malu.


Apa sih yang dia lakukan sebenarnya.


"Mas...." Alfiya kembali berusaha menarik tangannya salah tingkah.


Setelah berhasi mengecilkan api kompor, Elvan kemudian beringsut beralih posisi untuk menghadap gadis dibelakangnya. Laki-laki itu masih mempertahankan tangan Alfiya melingkar dipinggangnya.


Elvan benar-benar tidak mengerti, Alfiya benar-benar berhasil menarik perhatiannya setiap hari. Ia lantas melakukan hal yang sama. Menarik tubuh gadis itu dengan melingkarkan tangannya di pinggang Alfiya, hingga akhirnya tubuh mereka benar-benar rapat.


"Kamu kenapa sih!" tanya Elvan ketus.


Alfiya berdecak. "Mas yang kenapa!" menjawab dengan sama ketusnya. "Nyebelin." Entah apa alasannya Alfiya mendasak menyebut Elvan menyebalkan.


"Kenapa mas nyebelin." Elvan bertanya tidak kalah congkaknya.


Gadis itu lantas mendongak. "Ya, pokonya nyebelin. Bikin aku kesel."


Elvan kembali menyunggingkan bibir. "Kamu gak jelas, Fi."


"Sama mas juga."


"Bisa gak, kalau masa ngomong kamu gak usah ngejawab."


"Nggak! Aku kan orangnya memang begini."


Benar-benar, Elvan tidak tahu lagi harus bagaimana dengan gadis ini. Nyatanya itu malah semakin menarik dirinya. Dan, lagi kenapa mereka harus berbicara beradu congkak begini, seperti ABG yang masih labil saja.


"Jadi, kalau mas benar-benar pergi jauh sama Gian, kamu yang bakal sedih?" Dan, pertanyaan itu berhasil membuat Alfiya bereaksi langsung memalingkan wajahnya.


Tak berbeda dari Alfiya, melihat reaksi dari gadis itu Elvan lantas mendongakkan kepalanya menengadah keatas sejenak. Lalu kembali menatap kebawah sembari menghembuskan nafas yang berhasil menerpa kepala Alfiya.

__ADS_1


"Alfiya...." panggilnya pelan.


"Hmm...."


"Lihat aku!"


Alfiya kemudian mendongak. Bersitatap dengan netra pekat yang menusuknya. Tatapan itu lumayan lama, sangat lama hingga membuat Alfiya kemudian bereaksi sendiri. Gadis itu menjinjitkan kaki sembari mengangkat tangannya untuk melingkar dileher Elvan.


Matanya terpejam, hingga ia berhasil mendaratkan sebuah kecupan dibibir Elvan. Tak lama, setelah ya ia kembali menarik diri melepaskan kecupan itu, namun masih dengan posisi Elvan memeluk pingganganya


Alfiya tersengal, ia tidak menyangka. Sekarang ia sadar, dirinya memang sudah gila. Dia sedang tidak waras, atau jangan-jangan ini karma. Karena telah menolak permintaan Elvan waktu itu.


Kalau Elvan bertanya Alfiya akan menjawab, tidak tahu dan tidak mengerti dengan apa yang terjadi dengan dirinya saat ini. Atau ia bilang saja kalau dirinya memang sedang tidak gila. Ia sadar, ini sudah kedua kali dirinya yang lebih dulu memulai menyentuh Elvan.


Gadis itu lantas memejamkan mata dalam-dalam. Perlahan menurunkan tangannya dari leher Elvan setelah beberapa saat.


Namun, seperti sebuah keajaiban, bak gayung bersambut. Pelukan yang begitu erat seketika Alfiya terima dari laki-laki itu. Matanya seketika terbuka lebar. Dan, betapa terkejutnya ia saat melihat wajah Elvan sudah sangat dekat dengan wajahnya.


Jantung yang memang sudah berdegub keras itu terus berpacu.


Alfiya kembali memejamkan mata saat pagutan kecil mendarat dibibirnya. Mengigit-gigit pelan hingga memaksa mulutnya untuk terbuka.


Hingga akhirnya mereka saling membalas satu sama lain, Alfiya kembali menggerakan tangannya untuk menggantung dileher laki-laki itu dengan erat.


Elvan berjalan menuntun Alfiya untuk menuju kursi tanpa melepas ciuman mereka. Hingga laki-laki itu berhasil duduk dan menarik Alfiya untuk berada di pangkuannya dengan kaki yang terbuka lebar.


Namun, sebuah teriakan dari arah kamar seketika menghentikan kegiatan mereka.


Nafas keduanya menderu menerpa wajah.


"Gian bangun." ujar Elvan tersengal.


Alfiya lantas menjauhkan dirinya dari laki-laki tersebut. "Biar aku yang temui."


"Biar mas saja, kamu tunggu disini."


Alfiya mengangguk pelan kemudian segera turun dari pangkuan Elvan.


Dan, saat Elvan benar-benar sudah keluar dari dapur. Rasanya gadis itu ingin menjerit. Ini benar-benar gila. Ia mengingat kata-kata itu kembali.


Mas gak berhak buat ngelarang aku, mas gak ada hak untuk itu!


Mulai sekarang jaga jarak sama aku mas, tolong aku mohon.... Kita memiliki kehidupan masing-masing. Dan juga, maaf.... jangan pernah lagi meminta aku buat berpisah dari Joe. Karena aku sangat mencintai Joe mas, jadi jangan menekan aku!


Gila, dirinya gila karena telah mencium Elvan dua kali. Rasanya dia benar-benar terkena karma.


Lalu, bagaimana hubungannya dengan Joe?


*


*


*


*


Happy Reading, jangan lupa Like, Komen, dan Vote!

__ADS_1


__ADS_2