DILEMA - Turun Ranjang

DILEMA - Turun Ranjang
Season 2 [Pengakuan ]


__ADS_3

*


*


*


*


Elvan cemburu itulah yang Alfiya dengar saat itu. Sebuah pengakuan yang belum pernah ia dengar sebelumnya. Membuat mata sembab itu kembali berkaca-kaca.


"Mas cemburu sama Joe." Lirih Alfiya ingin memastikan kembali.


Menundukkan kepalanya, Elvan lalu mengangguk pelan. "Iya, saat itu. Bahkan sampai sekarang." Kini ia coba tatap mata wanita yang ada dihadapannya. "Saat mas tau kalau yang mengantar kamu kerumah sakit adalah dia, jujur mas nggak bisa terima."


"Fi. Mas juga sudah tau kalau kamu menemui dia selama dua minggu ini."


Sudut hati Alfiya berdenyut, ia dapat menangkap rasa sakit hati Elvan dari ucapan tersebut.


"Maaf." Lirih Alfiya kemudian, ia bersalah.


"Mas sudah tau alasannya dari Jenny. Tapi mas ingin dengar dari kamu, apa alasannya?" Tanya Topan hati-hati, walau hatinya bergemuruh seperti diaduk-aduk.


"Aku sudah menolaknya saat mbak Jenny meminta aku buat datang menemui Joe hari itu. Karena aku sudah memutuskan untuk nggak ketemu Joe lagi mas." Dan Alfiya berkata jujur.


Mendengar perkataan tersebut kedua telapak tangan Elvan meraih telapak tangan Alfiya dan menggenggamnya erat, ia ingin menguatkan Alfiya saat mengakui semuanya.


"Tapi waktu itu aku takut kalau terjadi hal yang buruk sama Joe, dan itu karena aku. Kalau Joe kenapa-kenapa aku pasti akan merasa bersalah seumur hidup." Bahkan saat menceritakan ini pun raut wajah Alfiya nampak cemas.


"Jadi apa karena ini kamu jadi kurang istirahat dan tidur, kamu juga jadi gak nafsu makan?"


Untuk pertanyaan itu Alfiya menundukkan kepala dalam-dalam seperti membenarkannya. "Aku merasa bersalah sama mas Elvan, aku juga nggak tenang karena terus menyembunyikannya dari mas. Aku juga sangat takut mas tau semuanya."


"Tapi aku nggak bermaksud untuk kembali sama Joe, aku sudah memutuskan untuk melupakan dia. Aku sudah menikah dengan mas Elvan. Kita sudah menikah dan punya kontrak seumur hidup yang seharusnya nggak aku permainkan. Dan aku ngaku salah mas." Tubuh Alfiya gemetar atas pengakuannya.

__ADS_1


"Maaf karena akhirnya aku jadi orang yang naif. Aku bersikap seolah-olah bisa menjaga perasaan semua orang. Dan pada akhirnya aku lelah sendiri dan merasa takut untuk bertemu semua orang termasuk mas." Alfiya menggenggam telapak tangan Elvan kuat.


"Tapi aku sudah siap kalau mas mau marah. Aku memang salah. Kita akan punya seorang bayi, dan dia pergi karena aku lalai menjaga diri." Kepalanya menunduk semakin dalam.


Untuk setiap kalimat yang keluar dari mulut Alfiya, Elvan pun terenyuh dalam. Masih terdiam sembari mendengar isak tangis dan juga memperhatikan aliran air mata Alfiya yang terus berjatuhan bahkan membasahi punggung telapak tangannya.


"Mas aku minta maaf." Lirih Alfiya kembali.


Untuk saat ini Elvan masih kebingungan dengan apa yang akan ia ucapkan, ia memang kecewa Alfiya masih memperdulikan Joe. namun tubuhnya kemudian tergerak untuk memeluk Alfiya dengan erat. Bahkan beberapa kali ia terus mengecup puncak kepala istrinya itu.


Alfiya mungkin salah karena telah menemui Joe tanpa sepengetahuannya dan Elvan bisa menyalahkan Alfiya saat ini, Elvan juga bahkan bisa saja marah-marah saat itu. Namun perasaan untuk menolak melakukan tersebut jauh lebih besar.


Hingga kemudian, "Maafkan mas karena nggak bisa menjadi suami yang baik buat kamu, membuat kamu merasa berjuang sendiri karena mas nggak membalas perasaan kamu yang akhirnya membuat kamu bimbang dan gamang."


Sementara itu Alfiya masih menunduk dalam peluak Elvan, sampai akhirnya ia kembali mendengar pengakuan tak terduga dari suaminya itu yang langsung membuat kelopak matanya melebar tak menyangka.


"Alfiya, mas sebenanya juga mencintai kamu." Tidak alasan lagi bagi Elvan sekarang. Ia telah menerima Alfiya ada dihidupnya bahkan ingin selamanya.


Mendengar pengakuan Elvan tersebut telapak tangan Alfiya menggenggam erat baju bagian pinggang yang dikenakan Elvan. Dan jantung nya pun langsung bereaksi dengan cepat berdetak.


Alfiya terdiam didalam pelukan Elvan, detak jantung yang terdengar berpacu cepat ditelinganya saat bersandar pada dada lelaki yang adalah suaminya itu. Membuat ia malas bergerak seolah masih betah berteduh disana.


Keduanya kemudian sama-sama terdiam setelah saling mengakui perasaan masing-masing. Agaknya mereka butuh waktu untuk menjeda sebelum melanjutkan apa yang akan mereka lakukan lagi selanjutnya.


Hingga kemudian Elvan menyusupkan tangan melalui potongan bagian bawah baju rumah sakit yang dikenakan Alfiya.


"Perut kamu masih sakit?" Tanya Elvan merasai perut Alfiya dan masih dengan posisi berpelukan.


"Kadang masih nyeri." Sahut Alfiya sembari merasakan tangan Elvan yang menyentuh perutnya yang terasa hangat.


"Gian gimana kabarnya mas?" Tanya Alfiya sembari mengeratkan pelukannya.


"Gian ada dirumah ibuk. Dia rindu sama kamu." Jawab Elvan.

__ADS_1


Atas jawaban tersebut Alfiya tersentak. Entah kenapa ia syok sendiri mendengar hal tersebut.


"Ibuk sudah tau kamu keguguran, malam hari setelah itu ibu juga kerumah sakit." Jelas Elvan. "Ibuk tau kamu nggak mau ditemui siapapun, dan ibuk juga nggak mau memaksa kamu. Ibuk bilang, dia akan kasih kamu waktu sampai kamu siap buat ditemui. Ibuk sangat khawatir Fi, setiap hari nanyain kabar kamu. Bapak juga."


Mendengar penjelasan Elvan hati Alfiya tiba-tiba terenyuh. Ia menjadi tidak enak karena telah melarang orang-orang terdekat untuk bertemu dengannya yang ternyata sangat perduli keadaannya.


"Jangan merasa bersalah lagi. Semuanya jangan di jadikan beban." Tutur Elvan. Pelukan itu pun ia longgar kan. Ia tatap wajahnya Alfiya dengan seksama. "Besok kamu mau bertemu ibuk dan bapak?"


Alfiya mengangguk. "Iya."


Elvan lalu tersenyum. "Malam ini mas temani kamu ya. Mas lihat sofanya cukup luas buat kita berdua."


Mendengar perkataan itu Alfiya tersenyum dan mengangguk kembali, hingga ia tergerak untuk mendekap tubuh Elvan dengan erat.


"Jangan pikirin apa pun lagi, kamu berhak memutuskan sesuatu dalam hidup kamu." Ujar Elvan, ia tidak suka jika Alfiya memikirkan Joe dan terus-menerus merasa bersalah.


Wanita yang ada dipelukan itu adalah istrinya sekarang. Biar bagaimana mana pun Elvan tahu dirinya adalah orang yang lebih berhak atas Alfiya. Ia juga sangat tahu hubungan masa lalu Alfiya dan laki-laki itu, tapi jangan pernah berharap ia akan melepaskan Alfiya untuk pergi darinya.


Sementara itu Alfiya juga sangat paham untuk siapa Elvan mengucapkan kalimat barusan. Benar, ia berhak memutuskan sesuatu dalam hidupnya demi dirinya sendiri. Wanita itu lantas memejamkan mata dalam-dalam untuk melupakan dan melepaskan hal lain dalam hidupnya karena sekarang ia sudah tahu kalau Elvan juga mencintainya.


Alfiya lalu mengangkat kepalanya untuk melihat wajah Elvan. "Mas."


"Kenapa?" Sahut Elvan.


"Bilang sekali lagi kalau mas mencintai aku. Aku mau dengar pengakuan mas sekali lagi." Tatapan matanya terlihat penuh permohonan.


Elvan menarik nafasnya dalam-dalam. Ia lalu mendekatkan wajah mereka, tersenyum lalu mengecup bibir Alfiya dengan lembut.


Hingga setelah itu. "Mas mencintai kamu." Ujarnya tersengal, Alfiya tidak saja jantung Elvan seperti akan meledak karena sadar ia telah mengakui sesuatu yang tidak pernah ia duga. "Setelah ini kamu akan sering dengar mas bilang ini."


"Makasih." Ucap Alfiya sendu. Pengakuan Elvan hari ini telah mengubah sesuatu dari sudut hatinya dan melepas rasa mengganjal disana. "Aku juga mencintai mas Elvan."


...****...

__ADS_1


...Happy Reading!...


__ADS_2