DILEMA - Turun Ranjang

DILEMA - Turun Ranjang
Jangan Melihatku Seperti Itu


__ADS_3

****


Alfiya sebenarnya bukan tipe wanita yang pemalu. Pada dasarnya dia memang gadis yang memang banyak bicara dan cepat bereaksi. Ia mudah sekali melakukan sesuatu yang ia inginkan tanpa pikir panjang.


Dan, inilah yang menjadi pembeda gadis itu dengan mendiang sang kakak. Anggita adalah gadis yang pemalu. Dulu saja, saat ingin mendekati Elvan, kakak dari Alfiya itu meminta tolong kepada sang ayah agar bisa mendapatkan lekaki pujaannya. Hingga akhirnya ia dan Elvan bisa menikah.


Jika dulu biasanya Elvan selalu berhadapan dengan wanita yang mendayu-dayu dan sedikit pemalu, yakni istrinya. Kini laki-laki itu agak sedikit terkejut. Sikap Alfiya yang lebih reaktif membuatnya tidak habis pikir. Bukan ia menganggap sikap gadis itu buruk, hanya saja itu lebih seperti sebuah kejutan baginya.


Setelah beberapa waktu yang lalu, Alfiya dengan telak menolak permintannya untuk memutus hubungan dengan lelaki itu, garis bawahi saja siapa yang ia dimaksud dari 'laki-laki itu'.


Kini lihatlah sikap Alfiya berbanding terbalik 180° dari sebelumnya. Sedikit tidaknya Elvan malah merasa bingung oleh perubahan drastis tersebut.


"Sudah makannya, Fi?" Elvan yang berhasil menidurkan Anggian setelah sang anak sempat terbangut sesaat tadi kembali menghampiri Alfiya di meja makan.


"Aku nungguin mas." ujarnya yang terlihat oleh Elvan seolah tidak terjadi apa-apa setelah apa yang mereka lakukan tadi. "Gak enak makan sendirian." lanjutnya lagi.


Lagaknya dalam hati Elvan sedikit berdetak. Sangat luar biasa, ia pikir gadis itu akan menampakkan wajah malu-malu terhadapnya.


"Em, ya udah kita makan sekarang." Elvan kemudian menarik kursi, lalu duduk berhadapan dengan gadis itu.


"Mas...." Alfiya memanggil dengan suara lemah.


Elvan mendongak berdesar, seketika suara itu terdengar merdu ditelinga saat memanggilnya.


"Iya Fi." sahut Alfiya.


"Aku minta tolong ambilin makan! Boleh?" Kini suaranya berubah gemetar. "Aku gak punya tenaga." ia lalu terkekeh pelan merasa tidak enak.


Elvan mengangguk paham, tadi Alfiya baru saja kehujanan hebat. Gadis itu juga belum makan sama sekali dan ditambah lagi, tadi mereka baru saja melakukan kegiatan tak terduga yang menguras kalori. Jelas saja oleh itu mungkin saja energi Alfiya tersedot habis. Lihat saja wajah gadis itu sudah semakin sayu saja.


Elvan pun pantas menuruti permintaan gadis tersebut. Menyendok nasi untuk Alfiya. Sekalian terbesit pikirannya untuk membantu gadis itu makan.


"Mas, suapin mau?" tawar Elvan seketika.


Dan, seperti tanpa pikir panjang, Alfiya pun mengangguk setuju.


Suap demi suap makanan yang masuk ke dalam mulut Alfiya, begitu juga tatapan matanya tak bisa lepas dari sosok yang mengarahkan sendok padanya itu.


Hingga kemudian mereka akhirnya saling bersitatap dengan siratan yang berbeda. Seolah berkata....


Jangan lihat mas kayak gitu, Fi.


*K*enapa?


Jangan melakukan sesuatu yang membuat mas salah mengerti.


Mas, Mas Elvan gak bisa larang aku, untuk sesuatu yang aku sendiri gak bisa mengendalikannya. Nyantanya mataku tergerak sendiri untuk menatap kamu. Yang mana aku sendiri, gak tahu apa penyebabnya.


Melihat sorot mata yang semakin mendalam, Elvan akhirnya melepas tatapannya, ia tiba-tiba ingat soal perceraian kembali. Ingin bertanya, tapi ingatkah saja waktu itu Alfiya bahkan tidak menjawab pertanyaannya.


Akhirnya sembari menahan sesak di dadanya, laki-laki itu kembali menyendok makanan untuk Alfiya. Pada kenyataannya jika mungkin ia akan kembali ditinggalkan, dirinya sudah terbiasa, bukan. Lagi pula pun dia tidak bisa memaksakan kehendak terhadap orang lain.

__ADS_1


Ia hanya harus menjaga hati, jangan sampai dirinya terlalu berharap. Kepergian Anggita saja masih berbekas sangat menyakitkan saat ini. Kehilangan orang tersayang berkali-kali merupakan sebuah trauma besar baginya. Ia masih belum sesiap itu jika harus ditinggalkan lagi. Untuk itulah dia harus menjaga hatinya agar tidak terlalu dalam menanggapi ini.


****


Keesokan harinya, pemandangan itu kembali Elvan lihat. Alfiya yang tengah membuat Anggian susu. Membuatkan sarapan untuk mereka, terlihat sekali perempuan itu semakin cekatan karena mulai terbiasa.


Sadar Elvan sudah berada di dapur Alfiya lantas menoleh.


"Mas, kita disuruh bapak sama ibuk kerumah." ujar Alfiya seraya laki-laki itu berjalan mendekat.


Elvan mengangguk mengiyakan.


"Bapak sama ibuk minta kita buat nginap." jelas wanita itu lagi.


Elvan kembali mengangguk pelan sembari tersenyum. Untuk pertama kalinya setelah mereka pindah kesini, mereka kembali lagi kerumah itu.


****


Sore harinya, Alfiya dan Elvan sampai dirumah disambut oleh bapak dan ibu. Kedua lansia itu nampak sangat merindukan cucu semata wayang mereka. Keduanya menyambut Gian dengan penuh sumringah.


Alfiya pikir ibu akan ketus seperti dulu saat melihatnya. Namun, rupanya ia salah berpikir. Kini ibu malah menyambutnya dengan ramah.


Ia perhatikan wajah ibu terlihat sayu. Menurut yang Alfiya dengar dari Rian, ibu memang sering melamun sekarang. Sesekali Rian bahkan melihat ibu dengan mata bengkak seperti habis menangis. Tentunya Alfiya tidak perlu menebak apa penyebabnya. Ia yakin ibu masih belum bisa melepaskan Anggita dan terus menerus mengingat mendiang kakaknya itu.


"Ibuk sehat?" Tanya Alfiya dengan suara gemetar tidak tega, karena melihat mata sang ibu berkaca-kaca kala menatapnya.


"Iya...." jawab ibu dengan suara lemah.


"Ibuk kangen." lirih ibu saat membalas pelukan Alfiya.


"Iya, Fiya juga." uh, Alfiya sangat terharut saat mendengar ucapan itu. Terakhir kali mereka bertemu, ibu terlihat sangat menakutkan baginya. Baru sekarang ia mendapatkan kehangatan itu kembali.


Bapak yang melihat pemandangan tersebut tersenyum penuh haru. Tidak menyangka sang akhirnya sang istri bisa bersikap luwes pada Alfiya.


"Ya, sudah ayo kita masuk." ucap bapak akhirnya memecah suasana haru itu.


****


Malam harinya, setelah selesai makan malam. Semuanya masih duduk di kursi meja makan dikarenakan oleh suatu hal, karena ibu tiba-tiba saja bersuara yang membuat semua mata langsung tertuju padanya.


"Fiya, Elvan...." ujar ibu dengan mata menatap keduanya satu persatu.


"Iya buk...." sahut Alfiya yang memang duduk disamping ibu Ernika.


Sementara itu Elvan memberikan tanggapan dengan tatapan penuh tanya serta menunggu apa yang akan diucapkan ibu selanjutnya.


"Kalau bisa, kalian berdua jangan sampai pisah." Lanjut ibu, dan ucapannya kali ini mampu membuat Alfiya dan Elvan tersentak. Seolah ibu tahu rahasia besar yang mereka sembunyikan.


"Ibu tau, kalian menikah karen terpaksa...." ibu menghela nafas sejenak. "Walau pun kalian nggak bilang tentang perasaan kalian yang sebenarnya, tapi.... ibu berharap kalian tetap bersama." ujar ibu sendu. "Maafkan ibu karena memaksa, tapi...." ibu menghentikan ucapannya sejenak, lalu beralih menatap Alfiya. "Tapi Alfiya, kamu harus tahu Elvan itu laki-laki yang baik. Jangan pernah membantah ya, jadilah istri yang baik untuk Elvan."


Mata Alfiya berkaca-kaca mendengar ucapan ibu yang penuh harap itu. Lantas dia berdemem pelan seolah mengiyakan ucapan itu. "Em...." Dadanya terasa ngilu seketika itu juga mendengar apa yang ibu minta barusan.

__ADS_1


Ibu lalu membelai rambut putrinya itu pelan. "Maafkan ibu ya...."


Alfiya menggeleng pelan, seolah mengatakan ibu tidak bersalah padanya.


"Waktu itu kamu pasti sangat tertekan bukan?" masih membelai rambut putrinya.


Alfiya menggeleng kembali. "Nggak...."


"Ibu salah, waktu itu terlalu melampiaskan amarah karena kehilangan Anggita kepada kamu. Ibu juga memaksa kamu untuk menikah dengan Elvan, tanpa memikirkan perasan kaliam sedikit pun."


Semua yang duduk dimeja makan terdiam mendengar ucapan itu. Ternyata benar kata maaf bisa meluluhkan hati seseorang.


Hingga akhirnya Rian yang merasa suasana sangat serius segera menggendong Anggian dan membawa keponakannya itu pergi dengan hati-hati. Ia rasa percakapan itu tidak perlu dirinya dengarkan.


Alfiya yang mencoba menahan tangisnya pun mencoba bersuara. "Nggak, ibu gak salah. Fiya tau keadaan ibu saat itu."


Ibu Ernika tersenyum menatap putrinya. "Kamu, masak kan buat Elvan dan Gian?"


Alfiya mengangguk pelan.


"Kamu, pernah membantah suami kamu?" ibu menelisik.


Untuk pertanyaan satu itu Alfiya lantas menunduk. Ia tidak mungkin menjawab, kalau dirinya bahkan pernah tidak berbicara satu hari dengan Elvan.


Melihat itu, lagi-lagi ibu tersenyum. Kemudian melempar sorot matanya pada Elvan. "Elvan kamu bimbing dia ya, Alfiya pastinya masih terkejut dengan pernikahan. Tolong agak sabar dengan anak ini. Bukannya ibu ingin membandingkan, dia memang sangat berbeda dengan mendiang Anggita yang orangnya lebih kalem." lalu ibu menatap Alfiya.


Elvan tersenyum dan mengangguk pelan.


"Kamu gak benci sama Alfiya kan karena dijodohkan?"


Elvan tersenyum kembali lalu menggeleng


pelan. "Nggak buk, buat apa aku benci sama Alfiya." ia menunduk sejenak, lalu terkekeh pelan. Kali ini Elvan sedikit tertawa karena mengingat tingkah Alfiya beberapa hari ini padanya. Cukup ia yang tahu tentang tingkah gadis itu beberapa hari ini. Jika bapak dan ibu tahu pasti, ia tidak tahu apa yang akan mereka pikirkan.


"Ibuk jadi gak sabar, Fi...." ucap ibu pada Alfiya. "Ibu ingin kamu cepat-cepat wisuda, biar bisa ngerayain pernikahan kalian." mengakhiri ucapannya dengan mata berbinar.


Sementara itu Alfiya dan Elvan pun lantas saling pandang. Tak luput juga dengan bapak, laki-laki yang memilih diam membiarkan sang istri berbicara sedari tadi itu hanya bisa menunduk dalam. Tentu saja, ada sebuah rahasia besar yang ia simpan saat ini. Sebuah rahasia tentang pernikahan sandiwara sang anak yang ia juga terlibat di dalamnya.


*


*


*


*


...Happy Reading!...


...Jangan lupa untuk Vote, Like and Komen, Ges!...


...Kasih koin juga boyeh!...

__ADS_1


...****************...


__ADS_2