DILEMA - Turun Ranjang

DILEMA - Turun Ranjang
Season 2 [ Alfiya: Mas, kamu mencintai aku kan? ]


__ADS_3

*


*


*


*


Di sebuah ruangan dengan cat dominan putih disana, Alfiya melihat bayangan tubuh dari sosok yang tengah duduk pada sisi ranjang. Ia nampak kaku, terdiam dengan pandangan nanar lurus melihat keluar jendela.


Menurut yang Jenny ceritakan, Joe menjadi semakin tidak terkendali setelah mengetahui pernikahan Alfiya dan Elvan. Adik laki-lakinya itu mengalami stress berat, Joe menjadi sosok yang sangat menakutkan. Ia tidak segan membanting barang apa pun yang ada di dekatnya. Bahkan laki-laki itu juga sempat beberapa hari tidak makan ataupun minum, Joe benar-benar juga kehilangan gairah untuk menjalani hidup. Kemarahan karena mengetahui Alfiya sudah menikah tidak bisa Joe kendalikan.


Untuk itulah kerena sudah kewalahan kedua orang tuanya sepakat membawa Joe ke rumah sakit agar segera mendapat perawatan serta penanganan dari tenaga medis.


Langkah Alfiya pun terhenti, tepat saat bayangan tubuhnya menyentuh dinding tepat dihadapan Joe.


Alfiya menatap punggung yang masih mematung itu dengan dada bergemuruh. Ia tersengal saat hendak mengucap satu kata dari mulut, hanya untuk menyebut nama laki-laki itu.


Hingga beberapa saat kemudian, perlahan Joe memutar sedikit tubuh dan kepalanya pun menoleh menyadari seseorang ada dibelakangnya.


Melihat itu, Alfiya seperti tak bisa mengusai diri. Wajah itu terlihat pucat dan sayu.


Alfiya tercekat saat melihat sosok laki-laki yang pernah mengisi hari-harinya itu. Bahkan ia juga dapat melihat beberapa memar di bagian kulit terbuka laki-laki tersebut.


Sadar siapa yang ada dihadapan Joe pun berusaha berdiri dengan tubuhnya yang lemas. Tenaga yang hilang beberapa hari ini pun seolah terisi kembali.


"Fi...." Kakinya perlahan melangkah untuk mendekat. Mendekati seseorang yang sama sekali tidak bisa lepas dari pikirannya. "Sayang...."


Alfiya semamin tercekat, saat Joe terus mendekat kearahnya.


"Kamu disini? Ini beneran kamu kan, Fi?" Dengan cepat Joe menarik jarum infus dari pergelangannya karena tertarik saat ia melangkah. Tatapan mata Joe nampak penuh keharuan. Lalu tatapan mereka pun saling mengunci untuk sesaat.


"Aku kangen banget sama kamu." Tutur Joe kembali.


Seketika itu juga tubuh kaku Alfiya hanya bisa terdiam saat Joe tiba-tiba memeluknya dengan sangat erat. Pikirannya kosong seketika, dunianya seperti berhenti berputar. Tapi, ia dapat merasakannya tubuh Joe terasa sangat kurus. Laki-laki ini terlihat lebih mengecil dari terakhir mereka bertemu.


"Apa kabar kamu sayang?"


Deg! Oleh pertanyaan tersebut Alfiya tersentak kembali. Sayang?


Lalu perlahan pelukan itu terpisah sejenak.


"Aku rindu kamu." Joe ingat ia sering mengucap kalimat ini. Kalimat yang selalu ia ucapankan pada seorang kekasih, orang yang ada dihadapannya saat ini.


Senyuman pun kembali mengembang dibalik wajah Joe yang semakin tirus, hingga kembali mendekap Alfiya yang masih mematung seakan tak berdaya kedalam pelukannya.


"Jangan pergi sayang aku mohon, jangan tinggalin aku. Aku cinta sama kamu." Lirih laki-laki itu.


Perkataan itu kembali mengosongkan pikiran Alfiya. Wajah datarnya menatap lurus kedepan, nanar. Hingga kemudian Alfiya berusaha menyandarkan diri. Menyadarkan bagaimana keadaan dirinya saat ini.


Tangan Alfiya lalu berusaha mendorong tubuh yang memeluknya itu. "Joe aku—".


"Kita dulu pernah saling berjanji Fi, kita pernah janji untuk terus bersama selamanya." Potong Joe cepat.


Desiran aneh pun terasa. Iya, Alfiya ingat mereka memang pernah berjanji untuk selalu bersama.


Dan mereka meyakini bahwa tidak mungkin ada diantara mereka yang akan melanggar janji. Itu bukan kemauan dari salah satunya, dan apa pun janji yang mereka langgar mereka harus tetap kembali.

__ADS_1


Tentu saja Alfiya sangat mengingatnya!


Janji itu.


...****...


"Please, aku benar cinta kamu." Genggaman tangan erat tersebut perlahan Alfiya lepas dengan raga seperti tak bernyawa.


"Joe. Alfiya harus pulang." Elusan lembut Jenny berikan pada pundak sang adik saat itu.


"Aku ingin hidup sama kamu."


"Aku sayang kamu."


"Fi...."


Alfiya terus melangkah, ia terus berjalan menuju pintu keluar tanpa menoleh kebelakang. Walau pun suara penuh permohonan, serak dan parau tersebut terus terdengar ditelinganya.


"Kamu mikirin apa?" Alfiya mendongak saat Elvan berdiri di depannya. "Melamun?" Lalu duduk di samping sang istri pada sisi ranjang.


Wanita itu mengerjap sesaat. Lalu, "Mas." Ia miringkan wajahnya untuk bisa menatap raut wajah sang suami lebih jelas.


"Mas, kamu mencintai aku kan?" Tanya Alfiya tiba-tiba yang langsung membuat Elvan terdiam.


Ah, kenapa hati Alfiya melemah saat mengatakan itu. Apalagi saat melihat raut wajah mendadak kaku Elvan saat ini.


Bahkan Elvan pun tak lantas menjawab.


Alfiya menundukkan wajah. Kenapa, padahal ia sudah mengorbankan sesuatu yang besar. Respon Elvan tersebut malah.embuat sesuatu di dalam hatinya tiba-tiba menjadi bimbang saja.


Hingga hati kecil Alfiya bertanya. Apakah ia telah salah mengambil sebuah keputusan?


"Bunda." Ada suara mungil yang memanggil rupanya.


Alfiya menoleh. "Iya." Menyambut Anggian yang seketika menghambur padanya..


"Kenapa belum tidur?" Elusan lembut Alfiya berikan di kepala Anggian.


"Mau tidul cama bunda." Tuturnya mulut mungil itu dengan mata berbinar.


"Tidur sama bunda?" Alfiya bertanya kembali.


Anggian mengangguk cepat.


Senyum mengembang pun Alfiya ulaskan. "Ya udah." Alfiya kemudian beranjak. "Bunda tidur di kamar Anggian aja ya malam ini."


Dan, Anggian mengangguk setuju. "Ayah gak itut?" Tuturnya menoleh kebelakang sementara Alfiya sudah memapahnya berjalan. "Ayah." panggil Anggian pada sang ayah yang seperti melamun.


Langkah Alfiya terpaku sejenak. Lalu merendahkan tubuhnya sejajar pada Anggian. "Ayah mau tidur sendiri." tuturnya seperti sengaja. "Nanti kasurnya gak muat kalau ayah tidur sama kita. Tidurnya sama Bunda aja ya." Lalu kembali berdiri, melangkah keluar dari kamar bersama Anggian.


Tatapan sendu Elvan mengikuti langkah kaki yang sudah menghilang. Ia menghela nafas panjang dengan raut wajah yang sulit diartikan.


Sementara itu saat dikamar Anggian. Entah kenapa perasaan Alfiya terus tidak karu-karuan. Apalagi saat Elvan tidak menjawab pertanyaannya dengan respon yang membuat perasaannya tak menentu.


Bahkan ia semakin kesal kala Elvan tak menyusulnya kesini. Apa lagi yang diragukan Elvan sebenarnya.


Perilaku suaminya tersebut akhinya membuat Alfiya teringat bayang-bayang raut wajah Joe juga terus-menerus terngiang di kepalanya. Bagaimana ia melihat tubuh laki-laki itu semakin kurus juga beberapa sayatan di pergelangan laki-laki itu yang membuat semakin merasa bersalah. Ia belum pernah melihat Joe seperti itu sebelumnya. Dan, itu berhasil membuat perasaannya semakin sesak.

__ADS_1


Hingga beberapa saat kemudian, terdengar dering ponselnya dari dalam saku piyama yang ia pakai. Di rogoh nya ponsel tersebut. Melihat ke layar Alfiya tahu siapa yang menghubungi. Keraguan tiba-tiba timbul dalam hatinya, apakah ia harus menjawab panggilan itu.


Namun ponsel tak berhenti berdering.


"Bunda?" Anggian yang sudah terbaring dengan selimut menutupi tubuh memanggil.


Alfiya menurunkan pandangan. "Sebentar ya Gian. Bunda angkat telepon dulu ya." Tuturnya sembari mengelus kening mungil itu lembut.


Bergegas Alfiya keluar dari kamar. Menuju ruangan kamar kosong yang tidak di tempati dan menutup pintunya rapat.


Ia keluarkan ponsel yang bercahaya itu dari dalam saku Lalu menggeser layarnya untuk menjawab panggilan.


"Halo!" Suara dari seberang terdengar.


Alfiya tercekat sejenak saat mendengar suara tersebut.


"Fi."


"Iya." Sahut Alfiya akhirnya.


"Kamu dengar aku kan?"


"Em. Aku dengar."


Lalu terdengar helaan nafas lega. "Aku gak ganggu kan? Malam-malam begini menghubungi kamu."


Untuk pertanyaan itu Alfiya menunduk dalam penuh arti. Hingga percakapan mereka terjeda sejenak oleh keheningan yang tercipta.


"Kamu- udah minum obat?" Lirih Alfiya dengan jantung berdenyut.


"Hem. Iya udah. Tadi ibuk kesini dan dia yang ngurusin aku."


Alfiya mengangguk. "Syukurlah."


"Kamu gimana?" Pertanyaan itu terdengar seperti keraguan. "Kamu baik-baik aja kan disana?"


Alfiya mengangguk pelan. "Iya."


Hingga seketika sebuah suara menggemaskan pun memecah suasana.


"Bunda." Bertepatan dengan pintu kamar yang terbuka lebar oleh tangan mungil Anggian yang sengaja mendorongnya kuat. "Bunda ayo tidul."


Alfiya yang tadinya terkejut akan kehadiran anak itu lalu mengangguk pelan kearah Gian.


"Joe aku-"


"Aku udah tau." Sahut suara dari seberang. "Aku dengar."


"Aku tutup ya." Ujar Alfiya.


"Iya." Namun sebelum itu. "Fi."


"Em."


"Good night. I miss you."


Dengan bibir bergetar Alfiya lagi-lagi hanya ber-deem pelan. Dan, panggilan itu pun terputus.

__ADS_1


...****...


__ADS_2