DILEMA - Turun Ranjang

DILEMA - Turun Ranjang
Season 2 [ Joe: Beri aku alasan]


__ADS_3

*


*


*


*


Alfiya yang baru saja mengerikan rambutnya terkejut saat membaca sebuah pesan dari kartu ucapan yang berada diatas meja. Awalnya wanita itu hanya iseng membaca, tapi pesan itu untuknya. Dan seperti ada keanehan dia mulai paham tentang apa penyebab Elvan pergi sore hari itu.


Benarkah apa yang ada di dalam pikirannya saat ini kalau Elvan tengah menemui Joe.


Dalam pesan itu Alfiya membaca dengan jelas kalau dirinya diminta menemui seseorang yang menulis kartu ucapan itu pada hari minggu sore, berarti hari ini. Benar pesan itu adalah ditujukan padanya dan Joe menginginkan bertemu untuk hari ini.


Alfiya cemas, ia khawatir apa yang akan terjadi jika Elvan dan Joe bertemu.


Maka dengan segera wanita yang baru selesai berganti pakaian itu pun bergegas keluar dari kamar. Namun ia bingung harus menuju kesana dengan menggunakan kendaraan apa.


Alfiya tidak mungkin memesan taksi online karena hal itu akan membutuhkan waktu yang cukup lama.


"Kenapa mbak?"


Suara tersebut membuat Alfiya menoleh ke belakang.


"Gian mana?" Tanya Alfiya.


"Ada di dalam mbak, lagi main." Ucapan Rian terjeda sejenak. "Mbak mau kemana? Kok kayak cemas begitu."


"Rian, mana kunci motor kamu? Mbak mau pinjam" Alfiya nampak sangat terburu-buru.


Kedua alis Rian bertaut. "Mbak mau naik motor aku?"


"Iya Rian." Alfiya mengangguk cepat. Ia tidak ingin berlama-lama dengan ditanya banyak pertanyaan saat itu.


"Mbak itu motor gede." Tutur Rian, jelas saja ia tidak bisa mempercayai Alfiya akan membawa motornya. "Mbak mau kemana biar aku antar."


"Mbak Fiya mau pergi sendiri." Ujar Alfiya.


"Cepet mau kemana?" Jelas saja Rian dapat menangkap kekhawatiran yang amat sangat dari Alfiya. Lelaki itu lantas menelisik dengan seksama. Ia lalu melihat Alfiya tengah yang menggenggam potong kertas kecil. Tak banyak pikir diraihnya kertas tersebut dari tangan Alfiya cepat.


"Rian...." Alfiya refleks terkejut karena adik iparnya itu mengambil kartu pesan dari tangannya tanpa diduga.

__ADS_1


"Rian." Alfiya mencoba meraih kertas itu kembali namun Rian berusaha menjauh untuk bisa membacanya.


Tak butuh waktu lama untuk Rian memahami apa yang ada di dalam kartu ucapan itu. Seperti tengah mencari sebuah cara ia kemudian menarik tangan Alfiya dan mengajak wanita itu berlari keluar rumahnya. Sementara itu untuk sementara tidak apa-apa menurutnya Anggian ditinggal sebentar dikamar.


"Aw Rian sakit...." Bagaimana tidak saat itu Alfiya tengah ditarik paksa berlari melewati jalan pada gang menuju Jalan Raya. "Pelan-pelan, jangan ditarik-tarik Rian."


Hingga beberapa saat kemudian, pada pinggir jalan Raya celingak celinguk Rian mencari kendaraan yang lewat. Tak berapa lama saat sebuah kendaraan ojek lewat ia hadang untuk berhenti.


"Berhenti pak." Ujar Rian itu tersengal karena berlari.


Sementara itu tangan Alfiya yang masih dipegang oleh Rian kembali ditarik oleh adik iparnya itu untuk mendekat pada ojek yang sudah berhenti.


"Cafe pelangi." Masih dengan nafas putus-putus Rian berucap. "Antar mbak saya ke cafe pelangi."


Lalu ia menoleh pada Alfiya. "Mbak ayo naik. Mau nyusul mas Elvan kan."


Karena diburu ucapan Rian sekaligus memang ia tengah terburu-buru, maka Alfiya pun segera menaikan kakinya pada motor tersebut.


Sementara itu Rian segera mengambil helm yang diberikan sang sopir dan memakaikannya pada Alfiya cepat.


...****...


Alfiya berlari menuju pintu masuk. Gawat, jangan sampai ia terlambat. Tapi, apa yang sudah terjadi disana? Alfiya kesulitan untuk melihat karena tentu saja para kerumunan menghadang pandangannya.


"Tolong, jangan seperti ini. Saya hanya mau bicara baik-baik." Elvan berusaha berucap santai walaupun suasana disekitar sudah tegang dengan banyaknya orang-orang berkerumun.


Joe seperti tak perduli, ia tendang kuat kursi yang ia duduki tadi sehingga menimbulkan suara jatuh yang keras.


"Gue gak perduli elo mau ngomong baik-baik atau apa pun." Ia berdecih geli.


Lelaki itu lalu mendekati Elvan yang masih duduk dan bersikap tenang.


Namun kembali, tiba-tiba tangan Joe menarik kerah baju Elvan. Namun kali itu hal itu tidak membua Elvan syok, ia tentu saja sudah menerka-nerka hal tersebut. Apalagi Joe seperti tidak bisa tenang sedari tadi.


"Lo mau apa kesini." Ujar Joe menggeram. "Mau apa!"


Elvan yang saat itu sudah berdiri lantas menyahut. "Saya ingin bicara baik-baik. Bisa kita tidak perlu seperti ini." Dilihat banyaknya orang dan menurut Elvan ini buka bukan hal baik.


"Gak bisa, gue mau elo babak belur ditangan gue hari ini!" Sentakkan Joe kembali terdengar.


Benar, Joe ternyata memang sulit untuk diajak tenang. Elvan menghela nafas panjang. Dan saat ia sadar Joe akan memukulnya kembali dengan cepat ia menghindar dan mendorong Joe kuat hingga genggaman tangan laki-laki itu pada kerahnya pun terlepas.

__ADS_1


Amarah, masih ada berapi-api. Itulah yang dirasakan Joe, maka seolah tak puas ia kembali berusaha menghampiri Elvan untuk melepaskan hasratnya yang ingin membuat Elvan babak belur saat ini.


"Jangan sakiti mas Elvan."


Suara wanita yang tak bergitu nyaring, namun terdengar jelas pada telinga membuat Joe menghentikan diri sejenak.


Sementara itu Elvan tentu saja terkejut dengan keberadaan Alfiya saat itu. Wanita itu bahkan tengah berjalan dan berdiri tepat didepannya.


"Fi." Elvan memanggilnya tak menyangka sekaligus cemas.


"Joe, please berhenti." Alfiya memohon. "Udah. berhenti, tolong."


Joe terdiam datar dengan apa yang Alfiya ucapkan. Ia masih belum menerima, ia tidak bisa terima dengan semua yang terjadi.


"Hubungan kita sudah berakhir." Akhirnya kata yang sudah Alfiya pendam lama itu pun terucap juga. "Hubungan kita sudah berakhir Joe." Ia tersengal tertahan. "Aku bukan siapa-siapa kamu lagi." Lirihnya pelan.


Suasana hening, semua mata tertuju pada Alfiya yang saat itu tengah menahan gejolak di dada.


"Aku belum bisa Terima Fiya." Ujar Joe, langkahnya semakin mendekat.


"Tolong mengerti." Pinta Alfiya kemudian.


Langkah kakinya terhenti. "Tolong mengerti?" Joe menarik sudut bibirnya geli.


Ia lalu berjalan mendekati untuk menghampiri Alfiya yang berdiri.


Sementara itu Elvan yang ada dibelakang pun berusaha untuk menarik lengan Alfiya menjauh. "Fi, sudah. Tolong." Elvan memohon, apalagi orang-orang seperti semakin penasaran dengan apa yang terjadi diantara mereka. "Mas mohon Fi. Biar mas yang urus soal ini."


"Nggak mas." Sahut wanita itu.


"Fiya." Tekan Elvan pelan.


Alfiya yang telah menoleh kebelakang kembali menolak pelan. "Tolong beri aku waktu sebentar mas."


Tiba-tiba, "Beri aku alasannya, kenapa aku akhirnya harus melepaskan kamu?"


Alfiya yang tadi menoleh kebelakang, kembali menghadapkan wajahnya pada Joe. Mereka lalu saling bertatap, tegang.


"Kenapa Fiya? Beri aku alasan sekarang."


...****...

__ADS_1


__ADS_2