
****
Kala itu di kamar Elvan, Alfiya yang tengah duduk di sofa masih menunggu balasan pesan dari pria tersebut. Perutnya sedari tadi sudah berbunyi minta diisi, sementara ia masih menunggu laki-laki itu untuk pulang.
Ia mengernyit sedikit kesal, karena Elvan belum juga membalas pesan terakhirnya. Jadi, sampai kapan perutnya akan menunggu untuk diisi? Sesibuk apa sih, laki-laki itu sekarang?
Sementara itu seorang anak kecil yang berada persih dihadapan Alfiya, tengah sibuk menyusun puzzle. Sedari tadi balita tersebut sesekali tidak luput dari pandangan Alfiya.
"Satu, dua, tiga...." begitulah rangkaian angka yang keluar dari mulut mungil Anggian. Jari jemari mungilnya terus menyusun potongan-potongan puzzle yang terpisah.
"Sepuyuh.... yeee." anak itu bertepuk tangan setelah berhasil meletakkan potongan puzzle terakhirnya dengan benar.
"Yeeee.... Gian pintar." Alfiya ikut bertepuk tangan, membuat anak menggemaskan itu jingkrak-jingkrak kegirangan dibuatnya.
Alfiya lantas tersenyum memandangi.
Hah, ia mendesah. Walau pun hari ini sangat melelahkan, tapi melihat Anggian bisa bermain dengan ceria begitu hatinya merasa sangat tenang. Ia memejamkan mata, pasti mediang Anggita sangat bahagia bukan, melihat anaknya bisa tumbuh dengan baik seperti ini. Hingga dilubuk hatinya yang terdalam Alfiya tiba-tiba berjanji akan menyayangi Anggian dengan tulus dan sepenuh hati.
Lalu, beberapa saat kemudian fokus Alfiya sektika teralihkan saat tiba-tiba ada suara laporan pesan masuk dari ponselnya. Gadis itu pun menyangka kalau itu adalah balasan pesan dari Elvan.
Gadis itu lantas ngedumel. "Balas pesan aja lama banget, sih."
Alfiya pun lantas membuka pesan tersebut. Namun, rupanya Alfiya salah sangka, pesan itu rupanya dari Joe. Isi dari pesannya adalah tak lain dan tak bukan ialah pertanyaan-pertanyaan yang selalu ia dapat seperti sebelum-sebelumnya. Apa lagi kalau bukan tentang lamaran dan pernikahan yang selalu membuat kepala Alfiya nyut-nyutan memikirkannya.
My Joeshua : Fi, ayo dong, sayang. Plis buat keputusan, aku gak mau lamaran ini di undur sampai tahun depan. Itu terlalu lama buat aku.
Alfiya memejamkan matanya kuat-kuat, ia tidak mengerti lagi bagaimana memberi penjelasan kepada Joe. Merangkai kata dalam hati memang mudah, tapi untuk menjelaskan dengan lisan tidak segampang yang ia kira. Nyatanya ia perlu banyak alasan untuk menghindari pertanyaan-pertanyaan yang terus menuntut dari Joeshua.
Lama-lama laki-laki yang masih berstatus 'pacarnya' ini, benar-benar membuatnya jengah. Karen jujur saja semakin lama Alfiya terus-terusan merasa terbebani secara mental.
Gadis itu akhirnya tak ingin lagi meladeni desakkan dari Joe. Hal tersebut hanya akan membuat moodnya semakin memburuk saja. Oleh karena itu Alfiya pun menonaktifkan segera ponselnya. Dari pada dirinya pusing terus-terusnya dicerca pertanyaan yang sama lagi oleh Joeshua.
Hingga akhirnya tak berapa lama, gadis itu menguap merasakan kantuk. Ia pun lantas mengikuti nalurinya untuk berbaring di sofa. Hingga tanpa sadar matanya pun terkatup dan tiba-tiba terlelap.
****
Sementara itu Elvan yang baru saja sampai di rumahnya. Bergegas masuk dan langsung melangkah menuju kamar.
Dari luar kamar yang pintunya sedikit terbuka dan lampu yang masih menyala. Elvan dapat mendengar suara dari Anggian yang tengah heboh bermain. Mendengar suara sang anak membuat Elvan merasa terpanggil, hingga dengan segera ia pun bergegas membuka pintu kamar.
Anggian yang melihat kedatangan sang ayah bergegas menghentikan kegiatan bermainnya. Lalu berusaha berdiri dan menghampiri sosok lekatnya itu.
"Ayaaahhh...." teriak Anggian berlari.
__ADS_1
Melihat sang anak berlari kearahnya Elvan lantas merendahkan tubuhnya untuk menyambut Anggian dengan mengulas senyum diwajah. Hingga akhirnya mereka pun berpelukan melepas rasa rindu.
Elvan memejamkan matanya, rasa penat yang ia rasakan pun seketika hilang saat melihat buah hatinya. Ia masih memeluk tubuh Anggian lama. Sambil sesekali masih merasakan luka oleh kenyataan pahit, bahwa sang anak telah kehilangan ibunya. Oleh karena itu Elvan akan terus memberikan kasih sayang kepada Anggian dengan sepenuh hati.
Setelah beberapa saat Elvan pun melepas pelukannya untuk memberi jarak diantara mereka.
"Ayah...." Elvan memulai ucapannya sembari menatap Anggian penuh ketulusan. "Ayah sayaaaaaang banget sama Gian."
Gian kecil pun memonyongkan bibirnya tergerak untuk mencium sang ayah dengan dengan cepat. "Gian juga sayang ayah." ucapnya kemudian.
Elvan lantas mencubit pipi gembul Anggian gemas. "Gian sudah makan?"
Anak kecil itu lantas mengangguk mantap. "Tadi...." ia berusaha bercerita.
Elvan nampak mengangguk menunggu lanjutan ucapan anaknya.
"Tadi itu, Gian matan disuapi bunda."
Ucapan polos nan lugu Anggian lagi-lagi mampu menbuat Elvan tersenyum, lantas ia pun mengusap kepala anaknya dengan lembut.
Lalu, setelahnya Anggian berputar arah untuk kembali bermain dan meninggalkan sang ayah.
Dulu biasanya Elvan akan menanyai Anggian tentan bundanya sepulang ia bekerja, jika dirinya tidak disambut mendiang sang istri saat pulang. Namun, sekarang ia tidak bisa melakukan itu. Walau pun saat ini sosok yang dianggap bunda oleh Anggian adalah Alfiya. Akan tetapi Elvan terlalu canggung untuk menyebut gadis itu sebagai 'bunda' didepan Anggian, terkecuali anak itu sendiri yang menyebutnya. Bukan ia tidak suka, nyatanya sebutan itu memang tidak biasa ia pakai untuk Alfiya yang sebenarnya adalah bibi dari sang anak.
Sorot matanya lantas beralih pada sosok wanita yang tengah tertidur disofa. Ia nampak tertidur nyenyak dan kelelahan.
Elvan kembali tersenyum, ia mengingat kembali pesan yang dikirimkan Alfiya padanya tadi. Lagi-lagi ia menahan tawa. Jadi, apa gadis ini tertidur karena menunggunya pulang untuk makan malam bersama. Kira-kira menu makan malam apa yang gadis ini suguhkan padanya?
Elvan menghela nafas, meluapkan perasaan aneh yang menyusup dalam dirinya saat mengingat betapa Alfiya menginginkan dirinya pulang hanya untuk mencicipi hasil dari jerih payah gadis itu.
Baiklah, nanti ia akan mencoba masakan perempuan itu setelah ia selesai mandi.
****
Beberapa saat kemudian, aroma segar nan wangi dari sampo dan juga sabun mandi menusuk indera penciuman gadis yang tengah tertidur tersebut. Wanita itu juga sedikit terusik oleh suara-suara berisik disekitarnya. Ia dapat mendengar suara anak kecil yang tengah bermain dan juga pintu lemari yang terbuka lalu kemudian tertutup kembali.
Alfiya yang masih merasakan kantuk pun mengerjap. Kepalanya masih terasa sangat berat, namun ia berusaha untuk mengenali sosok yang tengah bediri didepan lemari pakaian sambil bertelanjang dada itu dengan mendongak diatas kepalanya
Ia tahu dirinya belum betul-betul sadar. Takut ia masih berada di dunia mimpi, Alfiya yang masih terbaring di atas sofa pun mengucek-ngucek matanya. Ia kemudian kembali menatap sosok tersebut.
Mata Alfiya mendadak melebar karena terkejut akan sosok tersebut.
Elvan!
__ADS_1
Sosok yang ia lihat itu adalah Elvan yang tengah berusaha meloloskan baju kaos dari kepalanya. Nampak sekali kalau laki-laki tersebut baru selesai mandi.
Ia tidak menyangka rupanya kalau tubuh seorang laki-laki beranak satu, nyatanya masih sebagus itu.
Namun, tiba-tiba ia terkesiap. Apa yang ia lakukan? Menikmati keindahan tubuh Elvan!
Alfiya, Afiya....
Ia mengutuki dirinya sendiri.
Mesum banget sih, nih pikiran.
Bergegas Alfiya pun beringsut untuk menghadap sandaran sofa. Hingga tanpa ia sadari Elvan dapat mendengar suara pergerakannya.
Elvan menghentikan gerakannya sejenak. Baju kaosnya belum menutup area bawah pusarnya. Ia lantas melirik cermin, dilihatnya Alfiya tengah menutup mata sembari menghadap sisi sofa seperti sedang menghindar untuk menatap kearahnya.
Laki-laki itu pun tersenyum sembari geleng-geleng kepala, kemudian menurunkan baju kaos putih tersebut hingga menutupi tubuh bagian atasnya hingga sempurna. Ia kemudian memutar tubuhnya untuk menghadap gadis yang tengah berada diatas sofa tersebut.
"Fi, udah lama bangunnya?"
Jleb! Alfiya meneguk ludahnya kaku. Matanya pun membulat dan mengerjap. Ia lantas menggigit jari telunjuknya. Mudah-mudahan Elvan tidak sadar kalau ia tadi sedikit menikmati keindahan tubuh laki-laki itu.
Tapi, apa tadi? Menikmati?! Ya, ampun. Ia jadi malu sendiri dengan pikiran mesumnya. Bergegas gadis itu pun langsung beranjak dari sofa.
"Aku kedapur dulu mas, mau siapin makan malam." Alfiya yang tengah menahan malu pun lantas berlalu meninggalkan Elvan dari sana dengan tergesa-gesa.
Ia baru sadar, kalau terus-terusan berada disana, cukup berbahaya bagi kesehatan jantungnya yang mendadak terpompa ini.
Duh, kok lemah banget sih, jantung!
*
*
*
*
Note : Bagi yang penasaran sama visualnya Anggita lihat visual Alfiya aja, Ges! Jadi, ceritane mereka tuh emang digambarkan semirip itu.
Like, Vote, Komen, Ges!
Sumbang koin juga boleh (Author auto kedip-kedip)
__ADS_1