DILEMA - Turun Ranjang

DILEMA - Turun Ranjang
Season 2 [Ketakutan Elvan]


__ADS_3

*


*


*


*


"Joe!" Jenny memandang kamar berserakan itu dengan hati teriris. Pecahan beling berserakan disekitar lantai. Barang-barang pun rusak karena terlempar.


Matanya sembab dengan tubuh lemas. Ia terduduk pada lantai pada sudut kamar. Tampilannya terlihat acak-acakan. Joe menatap kebawah dengan pikiran kosong.


Kedua orang tua Joe bahkan tak sanggup menghadapi kemarahan sang anak yang terus membabi buta. Hingga akhirnya ayah Joe membawa ibu yang terus ketakutan pergi dari sang anak yang tak terkendali.


"Joe...." Tatap Jenny dengan iba. Ia dapat merasakan kepedihan sang adik rupanya.


"Mbak, Alfiya pasti tersiksa nikah sama dia." Lirih laki-laki itu dengan tatapan kosong.


Jenny terdiam dengan tatapan pilu. Sedikit tidaknya ia dapat mengerti apa yang dirasakan oleh Joe saat ini.


Lalu, seketika Joe menoleh. "Mbak, aku harus temui Alfiya sekarang."


Jenny menangkup kedua sisi wajah adiknya sembari menggeleng pelan. "Enggak Joe."


Menyentuh kedua telapak tangan sang kakak pada wajahnya. "Kamu harus terima kenyataan sekarang kalau Fiya sudah menikah. Dia adalah istrinya Elvan saat ini." Tatap nya memberi pengertian.


Mata Joe kembali berkaca-kaca. Ia tidak bisa-dirinya tidak sanggup menerima kenyataan pahit ini.


"Mbak juga gak ngertiin aku." Sorot mata Joe semakin sendu.


"Mbak ngertiin kamu Joe sayang." Lalu Jenny menghela nafas panjang. "Mulai sekarang kamu berusaha lupain dia ya. Lupain tentang apa pun soal Fiya, kenangan apa pun yang pernah singgah dihidup kamu."


...--------...


Sekitar empat tahun lalu,


"Aku udah putusin." Laki-laki itu berkata sembari terus memetik gitar dihadapan gadisnya.


"Hem." Mata Alfiya membulat, sembari memperhatikan jari jemari Joe yang masih sibuk membentuk irama.


Joe menghentikan permainan gitarnya. Meletakkan benda itu pada sisi meja. Ia kemudian turun dari duduknya pada meja tersebut. Menghampiri Alfiya yang tengah menatapnya.


"Kamu geser dulu duduknya."

__ADS_1


Alfiya menurut lantas menggeser duduknya. Sementara itu Joe langsung menurunkan diri disampingnya.


"Aku mau kuliah ditempat kamu." Lalu ucapan itu terhenti sejenak. Joe sibuk merapikan anak rambut Alfiya. "Pokonya aku ikut kamu, ngambil jurusan dan kelas yang sama."


"Tapi, kamu kan lebih suka olahraga Joe. Aku kan ngambilnya jurusan administrasi."


"Olahraga cuma sebatas hobi buat aku, tapi kamu lebih dari itu." Lalu tatapan keduanya saling berpadu. Joe meraih telapak tangan Alfiya dan menggenggamnya erat. "Kamu itu separuh hidup aku-"


Alfiya sudah berusaha menahan senyumnya.


"Separuh nafasku dan separuh jiwa aku."


Dan diakhir kalimat itu Alfiya segera melepaskan telapak tangannya dari genggaman Joe.


"Udah ah, kamu tuh lebay banget." Memalingkan wajah. Dengan mengayunkan kedua kakinya dengan dada yang berdebar.


"Enggak lebay Fi, aku cuma ngungkapin apa yang aku rasain sama kamu."


Alfiya pura-pura mengedarkan pandangannya kesegala arah. "Hem...." Joe mungkin tidak tahu betapa merahnya wajah Alfiya saat itu.


"Sampai saat ini aku belum bisa bayangin tanpa kamu ada didalam hidup aku."


Dan ucapan itu membuat Alfiya menoleh kearah Joe kembali.


"Apa?" Sahut Alfiya.


"Kamu yang nantinya akan menjadi ibu dari anak-anak aku."


Alfiya terpaku sejenak lalu terkekeh pelan. Kemudian. "Ih kamu bayangannya udah sampai sana."


"Karena hidup itu harus punya mimpi Fi, dan mimpi aku ya itu hidup menua bersama kamu." Kemudian Joe mendekatkan wajahnya perlahan, sembari Alfiya refleks memejamkan mata ia kecup pelan kening gadis itu.


Hingga kemudian bel sekolah berbunyi, tanda istirahat pun berakhir. Terdengar gemuruh para siswa-siswi mulai memasuki kelas kembali. Dan kedua insan itu segera menghentikan kegiatan mereka dengan wajah memerah.


...-----...


Di kediaman Aliya dan Elvan.


Alfiya terbaring miring diatas ranjang, termangu saat itu didalam kamar. Kilasan-kilasan kekecewaan wajah Joe melintas dan suara laki-laki itu kalau meneriaki namanaya terus terngiang di telinga. Bagaimana Joe menyebut namanya, menumpahkan segenap tanda tanya yang belum sempat ia sendiri yang menjelaskan.


Sedari tadi jantungnya terus berdenyut ngilu. Ia merasa bersalah, dan rasa bersalah itu membuat Alfiya terus berpikir tentang Joe.


Hingga ia mungkin tidak sadar sudah melupakan seseorang yang tengah menaruh perasaan penuh khawatir padanya.

__ADS_1


Laki-laki itu terus berdiri dengan perasaan ragu didepan pintu. Hingga akhirnya ia kemudian meyakinkan diri untuk menghampiri istrinya.


Sementara Anggian tengah dibawa bermain diluar oleh Rian sore hari itu. Elvan dengan hati-hati membuka pintu kamar dan mendapati istrinya tengah termenung disana dengan tatapan penuh kesedihan.


Perlahan Elvan mendudukan dirinya disisi ranjang.


"Fi."


Dengan tubuh lemas Alfiya berusaha untuk melihat kearah Elvan. "Mas." Tutur dengan suara sengau.


Kamu menyesal? Seperti itu sorot mata laki-laki tersebut seharusnya mengeluarkan pertanyaan.


"Kamu butuh sesuatu? Bilang sama mas." Tanya Elvan dengan menahan gemuruh dihatinya.


Alfiya menggeleng pelan. Gadis itu kemudian beranjak untuk mendudukan diri.


"Gian mana mas?" Suaranya tertahan semakin bergetar.


"Diajak main sama Rian." Kenapa? Kenapa Alfiya seperti itu? Masih memikirkan lelaki itu kah. Masih memikirkan lelaki itu bahkan untuk saat ini.


Takut-takut Alfiya lalu menggeser tubuhnya. "Mas, aku boleh minta peluk?"


Elvan mengangguk. "Mas suami kamu sekarang, kenapa kamu harus minta izin."


Alfiya paham dan mengangguk pelan. "Mas, marah?" Tanya wanita itu kembali.


Elvan tercekat sejenak. "Kenapa kamu tanya begitu?" Lalu tanganya terangkat pelan untuk mengusap sisa-sisa air mata dari sudut mata sang istri.


"Mas mau kan kasih aku waktu buat semua ini? Aku belum sanggup mas untuk bersikap biasa aja saat ini." Lalu tangis itu pecah kembali. Ia masih merasa bersalah. Dan rasa bersalah itu sungguh menekan perasaannya. Menggoncang hati Alfiya, membuat hari-harinya selalu diteror kecemasan.


Alfiya merasakan Elvan meraih tubuhnya perlahan. Memeluk dan mendekapnya dengan erat. Mengelus dirinya dengan sayang, nyaman setidaknya itu mampu menenangkan kegelisahannya.


Elvan akhirnya membiarkan Alfiya kembali untuk menangis di pelukannya. Membuat perasaan asing tiba-tiba timbul kembali dalam hati laki-laki itu.


Entah kenapa Elvan kembali merasakannya.


Ia takut, Elvan takut perasaan Alfiya berubah kembali.


...----...


Drama Alfiya, Elvan dan Joe akan dimulai kembali.


#Tidak up setiap hari, penulis cerita hanya menuangkan ide-ide cerita ini yang sudah terpendam lama dan harus dikeluarkan.

__ADS_1


...Happy Reading! ...


__ADS_2