
*
*
*
*
Kerinduannya pada sang Bunda tak dapat terbendung saat pertama kali terbukanya pintu ruangan tempat Alfiya dirawat, tentu saja Anggian yang saat itu masih digendong oleh Rian langsung meminta untuk turun dari om-nya tersebut.
“Om tuyun.” Ujar Anggian sedikit memberontak pada sang paman.
Paham akan hal tersebut Rian pun langsung menurunkan Anggian dan kaki mungil itu menapak lantai hingga kemudian batita itu berlari menghambur menghampiri Alfiya.
"Bunda...." Panggilnya girang.
Melihat Anggian yang berlari kearahnya membuat Alfiya tersenyum sumringah. Ia yang baru saja menyisir rambut langsung merentangkan tangan untuk memberikan sambutan hangat.
Hingga saat Anggian sudah menghambur padanya wanita itu langsung mendekap anak lelakinya dengan erat. Rindu sekali, Alfiya peluk tubuh mungil itu dengan sayang lalu selanjutnya diciumi setiap setiap sisi bagian wajah Anggian dengan gemas.
"Bunda rindu sekali sama Gian.” Tutur Alfiya dengan mata berbinar memberikan tatapan hangatnya diikuti oleh Anggian yang tertawa sembari memperlihatkan giginya yang mungil.
Kemudian batita itu pun bertanya polos. "Bunda udah cembuh?" Matanya membulat jernih.
Mendengar hal itu Alfiya langsung memeluk Anggian lagi. "Iya sayang, Bunda udah sembuh."
"Belalti bunda udah bisa puyang?" Menggenggam erat bagian belakang baju sang bunda saat Alfiya mendekapnya.
"Iya besok bunda pulang." Jelas Alfiya, karena tentu saja dokter Revina menyarankan agar ia menginap satu hari lagi untuk pemulihan tubuhnya. Dan Elvan juga sangat setuju akan hal tersebut.
Lalu pelukan keduanya pun terlepas.
"Kok besok bunda?" Tanya Gian polos dengan matanya jernih yang berkaca-kaca.
Alfiya hampir langsung menjawab pertanyaan itu saat Elvan mendekat dan langsung meraih tubuh Anggian untuk didudukan pada atas ranjang tepat disamping Alfiya duduk.
"Bunda pulangnya besok, karena dokter yang nyuruh. Jadi bunda harus nurut apa kata dokter." Begitulah Alfiya memberikan penjelasan hati-hati pada Gian.
"Nggak apa-apa kan sayang?" Sembari mengelus kepala sang anak pelan.
Dan ucapan itu langsung Gian anggukkan cepat. “Iya, ga apa-apa.”
Tak berapa lama, ekor mata Alfiya langsung menangkap kedatangan ibuk dan bapak. Jantungnya pun langsung berdegup kencang tak menentu, sesuatu yang tidak begitu Alfiya mengerti kenapa hal ini bisa terjadi. Namun walau begitu wanita tersebut lantas berusaha untuk tersenyum sumringah.
"Nenek...." Anggian berteriak kembali dengan senyum cerah seolah menunjukkan keberadaan dirinya yang sedang bersama sang bunda.
__ADS_1
Lalu celotehan Anggian pun berlanjut. "Nenek, doktel ee.... bayu suyuh bunda puyang ke lumah....nyaaa ee....becok." Karena berbicara terlalu terburu-buru, ucapan Anggian yang masih cadel itu pun terdengar tersendat dengat artikulasi yang semakin kurang jelas.
Menanggapi hal itu ibu Ernika dan juga bapak Imran pun tersenyum pada sang cucu. Walaupun begitu mereka sangat mengerti setiap kata yang diucapkan Anggian.
Sementara itu Alfiya pun langsung berdiri untuk menyambut ibu yang langsung memeluknya erat. Wanita itu berdesir, pelukan ibuk sangat lembut dan juga elusan tangan yang ibuk berikan pada punggungnya juga Alfiya rasakan sangat halus.
"Sudah enakkan nak?" Tanya ibuk.
"Fiya udah lebih baik buk."
Ibuk lalu melepas pelukan mereka. Menatap wajah Alfiya dengan seksama, ada tatapan penuh arti di sana dan hal langsung membuat dadanya berdesir.
Pelukan beralih pada bapak yang kali ini memeluk lebih erat sembari memejamkan mata. "Bapak khawatir sama kamu nak."
Hati Alfiya tentu saja terenyuh. Merasa bersalah sekali ia telah membuat bapak merasa sangat khawatir. "Fiya udah baikan pak." Dan setelah ucapan itu pelukan bapak pun semakin erat.
...****...
"Enak bubur ayamnya?" Begitulah pertanyaan ibuk saat hanya dirinya dan Alfiya saja di ruang rawat tersebut. Tadi ibu memperhatikan Alfiya makan bubur ayam yang ia bawakan dengan sangat lahap.
Kini ibu Ernika memang menginginkan waktu berdua saja dengan Alfiya. Dan ingin berbicara secara pribadi. Ada hal penting yang ingin dibicarakan dan menurut ibu lebih baik dibicarakan secepat mungkin.
Alfiya lantas mengangguk. "Enak, Fiya suka. Itu kan makanan kesukaan aku." Jawabnya jujur. "Ibuk masak sendiri?" Tanya Alfiya kemudian.
Menatap Alfiya yang duduk dihapannya dengan seksama pada sofa. Aliran infus yang mengalir menuju nadi sang anak pun tak luput dari perhatiannya. Ibu sudah tahu tentang kenapa Alfiya bisa keguguran. Bahkan ketika Alfiya menolak untuk ditemui siapa pun beberapa hari yang lalu pun membuat ibu sangat syok. Iya, saat itu ibu juga dilanda kecemasan. Ibu Ernika takut Alfiya kenapa-kenapa dan terjadi hal buruk pada anak kandungnya itu.
"Fi." Lanjut ibu Ernika lagi setelah menghela nafas berat.
"Iya buk?" Dan Alfiya dapat menyadari kalau suasana mulai menjadi sangat serius.
"Maafin ibuk ya karena selama ini terlalu keras sama kamu." Tatapan yang ibu Ernika berikan menunjukkan kalau ucapan itu keluar dari lubuk hatinya yang sangat dalam.
Dada Alfiya terhenyak.
"Ibuk...." Tiba-tiba Alfiya menjadi sedih, tentu saja karena ucapan ibu barusan sangat menancap di hatinya. Tidak pernah ia melihat ibu seperti ini, rasanya sangat asing tapi mampu membuatnya terenyuh.
Tarikan nafas berat pun kembali ibu Ernika lakukan. "Kamu itu terlalu jauh berbeda dengan Anggita." Ibu pun mulai mengenang. "Kakak kamu sangat penurut. Gampang dibimbing waktu belajar, nilai sekolahnya juga selalu bagus-bagus."
Alfiya tersengal baru saja ia terharu, namun ucapan yang sangat ia tidak suka malah keluar kembali dari mulut ibuk yaitu membandingkan dirinya dengan mendiang sang kakak.
"Dulu waktu kecil kamu itu orangnya nggak bisa diam. Malam hari saat belajar kamu selalu cepat bosan dan mengantuk, maunya main terus. Ibuk juga tahu kamu nggak suka belajar matematika, dan waktu SMP guru matematika kamu selalu cerita kamu lebih sering tidur waktu di kelas disaat pelajaran." Dan saat itu pasti berakhir dengan kemarahan ibu dan itu selalu dilakukan ketika Alfiya pulang sekolah.
"Tapi, ibuk juga ingat kalau Anggita sering cerita tentang kamu yang selalu menang lomba puisi, menang lomba pentas tari dan juga kamu juga diam-diam kerja jadi MC untuk acara ulang tahun saat kelas tiga SMA." Ibuk juga ingat pernah memarahi Alfiya karena bekerja menjadi MC padahal saat itu Alfiya akan ujian kelulusan.
"Jurusan kuliah pun kamu harus menuruti permintaan bapak dan ibuk." Jelas ibuk kembali dan itu pertama kalinya Alfiya berani menyuarakan keinginannya hingga berlanjut pada perdebatan diantara mereka. Lagi-lagi saat itu ketika ibu sudah pada pendiriannya pasti tidak ada lagi yang bisa Alfiya lakukan selain menuruti.
__ADS_1
"Saat baru lulus SMA kamu sempat tidak ingin berbicara dengan ibuk, dan lebih sering mengurung diri dikamar." Hati ibu terhenyak ngilu saat mengingat hal tersebut. Iya, Alfiya mendiamkannya setelah sempat dilarang keras untuk mengambil jurusan yang anaknya itu inginkan. “Ibu bersikap bahwa melakukan semua itu adalah bentuk dari kasih sayang kepada kamu padahal kamu tersakiti.” Dan ibu sadar jika rasa sayang tidak dilakukan tidak benar makan akan salah.
Namun dulu Alfiya memilih diam bukan karena ingin melawan atau menentang, ia takut salah jika bersuara dan juga takut juga jika ibu berbicara akan terus melukai hatinya. Maka dari itu saat itu ia lebih memilih menghindar dari ibu.
“Niat ibu sebenarnya ingin agar kamu menjadi anak yang berhasil, bukan ingin membandingkan kamu dengan Anggita. Tapi, cara yang ibu lakukan malah melukai hati kamu.Walaupun ibu sudah menyadarinya namu tetap ibu lakukan.” Lanjut ibu yang kembali menghela nafas berat.
Mendengar setiap kalimat yang diucapkan ibunya, Alfiya hanya bisa terdiam menunduk dengan air mata bercucuran.
"Ibuk sadar sifat kamu lama-lama akhirnya menjadi keras karena ibuk juga tidak mau mengerti apa yang kamu inginkan dari dulu." Bahkan Alfiya seperti membangkang karena terlalu sering menghindari saat ditegur oleh ibu yang lebih kepada memarahi. Sampai akhirnya ibu pun sadar kalau sifat Alfiya yang seperti itu akibat ketidaknyamanan karena dirinya terlalu berlebihan memarahi.
"Ibuk terlihat membedakan kamu dan Anggita. Ibuk salah karena terlalu berlebihan memuji mbakmu sementara apa pun yang kamu lakukan selalu sering ibuk anggap salah." Ibuk terus menyampaikan maksud hatinya pada sang anak ditemani isak tangis Alfiya yang sedari tadi terus terdengar.
"Kamu pasti sangat marah sama ibuk?"
Menanggapi itu Alfiya menggeleng pelan. "Fiya nggak mau marah dan juga nggak mau benci sama ibuk. Fiya cuma ingin bisa berhubungan baik sama ibuk, seperti hubungan ibuk dan mbak Gita."
Mendengar ucapan itu ibu lantas berdiri, berjalan menghampiri Alfiya dan duduk disamping putrinya itu. Dadanya sedari tadi membuncah, lalu didekatnya sang anak dan memeluk erat.
“Fiya cuma mau ibu juga mendukung apa yang Fiya lakukan.” Ia balas pelukan ibuk sama eratnya.
Ibu mengelus punggung Alfiya, kejadian pasca keguguran yang Alfiya alami telah memberikan tamparan keras padanya.
“Maafkan ibuk nak.” Dan andai waktu bisa diulang, ibu ingin Alfiya mendapatkan apa yang tidak dapatkan saat itu yakni hak yang sama seperti yang Anggita dapatkan. “Ibu salah karena tidak membuat kamu bahagia.”
“Enggak. Fiya nggak apa-apa. Fiya sudah bisa terima semuanya dan nggak ingin menyalahkan ibuk, semuanya sudah berlalu.” Sahutnya tulus pada sang ibu.
"Selain itu, ibuk juga meminta kamu untuk menikah dengan Elvan." Ibu lalu menarik nafas kembali, entah kenapa dadanya semakin sesak. " Walaupun ibu juga nggak ingin kehilangan Elvan sebagai menantu. Alasannya lain adalah ibuk yakin kamu akan bahagia jika menikah dengan Elvan. Bukan hanya karena ingin menjadikan kamu ibu untuk Anggian, tapi ibuk yakin Elvan akan bertanggungjawab sama kamu. Demi masa depan kamu.”
“Aku mencintai mas Elvan buk. Walaupun awalnya terpaksa.” Ucap Alfiya jujur.
Ibu lalu melepas pelukan mereka. “Dan Elvan juga mencintai kamu.” Lalu tersenyum sumringah. Elvan lah yang bercerita pada ibu kalau sudah mencintai Alfiya. Karena saat Alfiya tidak ingin ditemui beberapa waktu lalu mereka sempat membahas banyak hal, khususnya perasaan Elvan terhadap Alfiya.
Anggukan Alfiya berikan. “Itu yang akhirnya membuat Fiya menjadi kuat.”
Tawa ibu pun mengembang. “Maafkan ibu ya nak. Ibu sebenarnya sangat menyayangi kamu.”
Kepala Alfiya mengangguk kembali. “ Fiya juga minta maaf.Fiya juga sangat menyanyangi ibuk.”
Keduanya pun berpelukan kembali. Melepaskan segala rasa, saling memaafkan dan juga mengungkapkan cinta yang jarang tersampaikan, karena bagaimana pun mereka memiliki ikatan yang begitu kuat dan tidak dapat diputuskan oleh apa pun sebagai ibu dan anak.
...****...
...Happy Reading!...
...Semoga kalian semua menikmati cerita ini....
__ADS_1