DILEMA - Turun Ranjang

DILEMA - Turun Ranjang
FLASHBACK SELESAI


__ADS_3

*


*


*


*


Elvan cukup lama duduk melamun pada sofa, berbicara dengan Joe tadi rupanya membuat ia mengulang ingatan di masa lalu. Lelaki itu sangat ingat, ketika Alfiya berpacaran dengan Joe, mulai saat itu pula istrinya itu menjauh tanpa alasan. Alfiya hanya berbicara seadanya itu pun kalau ia yang mengajak berbicara. Bahkan saat berpapasan pun gadis itu lbih banyak menghindar.


Alfiya tidak pernah lagi meminta bantuannya untuk mengerjakan tugas sekolah. Dan hal itu terus berlanjut lama, sampai suatu ketika Elvan baru saja pulang kuliah dan kebetulan melewati tempat Alfiya bersekolah. Tanpa sengaja ia melihat gadis tersebut duduk sendirian pada halte bus sementara hari sudah sore, hampir gelap dan sangat sepi di sertai rintik hujan yang mulai turun.


Sementara itu, di sisi sana pada halte bus sekolah. Dimana tempat Alea duduk hanya di temani sepi.


Sebenarnya, ada alasan kenapa Alfiya belum juga pulang saat itu. Dimana dirinya hanya bisa terdiam saat membaca sebuah pesan singkat dari ponsel.


“Fi, aku nggak bisa pulang sama kamu. Ada urusan mendadak.”


Tadi Alfiya ingat seorang teman sekelas Joe memberitahu dirinya bahwa lelaki itu pergi dengan wanita lain, yang artinya Joe masih belum bisa setia dengan satu wanita. Hal itu membuat Alfiya meragukan kenapa dirinya harus bertahan dengan lelaki seperti Joe. Untuk apa? Dia tidak sakit hati Joe masih berhubungan dengan wanita lain ketika sudah menjadi pacarnya. Lagi pula dia tidak ada perasaan terhadap lelaki itu. 


Alfiya tidak pernah berharap untuk berpacaran dengan cara seperti ini.


Tapi, kalau ia memilih putus dengan Joe, khawatir Anggita akan memfitnah dirinya kembali. Alfiya masih sangat ingat kejadian waktu Anggita bercerita diam-diam pada ibu, rasa sakit hatinya masih begitu terasa.


Setetes air hujan menimpa pipi Alfiya, gadis itu kemudian mendongak ke langit sembari memejamkan mata.


Hingga tiba-tiba telinganya mendengar seseorang memanggil.


“Alfiya.”


Mata gadis itu pun terbuka. Ia coba menoleh ke arah sumber suara. Melihat siapa yang menghampirinya saat itu, ia sontak terkejut. Karena saat itu Elvan tengah berada tepat di depan matanya.


“Kenapa kamu belum pulang?” Tanya Elvan sembari maju satu langkah agar ia lebih dekat. “Ayo pulang sama mas.” Ajak Elvan.


Alfiya masih terdiam dengan raut wajah yang tegang. Elvan memang belum tahu apa penyebab dirinya enggan untuk mengakrabkan diri kembali dengan laki-laki itu. Akan tetapi jika ia katakan apa yang sebenarnya, Alfiya takut kemungkinan masalahnya akan semakin rumit. Dan memang mungkin lebih baik ia terus menjauhi Elvan.


“Aku lagi nungguin pacar aku.” Ujar Alfiya berbohong sembari memalingkan wajah dari Elvan.


“Sampai kapan kamu mau menunggu, ini sudah sore. Dia mungkin saja nggak akan datang.” Jelas Elvan, dan dirinya yakin itu. “Mana ada lelaki yang membiarkan wanita menunggu saat hari sudah hampir malam seperti ini.”


“Aku akan tetap nungguin Joe.” Gadis itu masih bersikeras di balik suaranya yang tertahan. “Mending mas pulang sekarang."

__ADS_1


Mendengar jawaban itu Elvan lantas menarik nafas ppanjang, karena Alea sangat keras kepala.


“Mas salah apa sama kamu?”


Mendengar pertanyaan itu membuat Alfiya semakin memalingkan wajahnya. Entah kenapa matanya berkaca-kaca bahkan giginya sampai gemertak pelan karena gemetar.


“Apa mas pernah menyakiti hati kamu, sampai kamu terus menjauh?” Tanya Elvan kembali.


Alea seperti ingin berteriak untuk meluapkan apa yang sebenarnya di rasakan dan memberitahu apa yang terjadi. Tapi, sudahlah nanti dirinya malah membuat masalah lagi dan Alfiya tidak ingin jika hal itu sampai terjadi.


Gadis itu lalu berdiri dari duduknya dan kemudian melangkah untuk pergi meninggalkan Elvan dari sana dengan melewati jalan trotoar.


“Fi.” Elvan berusaha mengejar berjalan cepat mengikuti dari belakang. “Jangan begini, tolong jelaskan sama mas. Ada apa sebenanya?” 


Tidak usah diperdulikan, begitulah yang Alfiya pikirkan saat itu. Karena jika ia memperdulikan lelaki itu sedikit saja makan kata-kata menyakitkan itu pasti akan ia dengar kembali. 


Perebut calon kakak ipar. 


Membuat Anggita sakit hati. 


Ia buka orang yang seperti itu, itu hanya penilaian Anggita dan ibunya saja. Ia bukan perebut, Alfiya tidak ingin membuat Anggita sakit hati. 


Bukan. 


Bukan. 


"Aku nggak mau pulang sama mas!" Tutur Alfiya tanpa sadar saat menoleh kearah Elvan cepat. 


"Kenapa Alfiya?" Lirih Elvan tak mengerti. 


Hingga tak berapa lama sebuah taksi tengah menuju ke arah mereka. Melihat hal tersebut Alfiya lantas menghadang taksi itu dengan melambaikan satu tangannya lagi. 


"Mas lepasin tangan aku. Aku mau pulang."


Perkataan itu pun akhirnya memaksa Elvan untuk melonggarkan genggamannya pada pergelangan tangan Alfiya. 


Begitulah, hingga hari-hari pun berlalu begitu cepat. Sikap Alfiya tetap sama saja. Masih menjaga jarak dan akhirnya benar-benar terasa jauh. Seperti orang yang tidak saling mengenal sampai akhirnya Elvan menikah dengan Anggita sikap Alfiya tak kunjung berubah walau Elvan terkadang sudah berusaha untuk mencairkan suasana di antara mereka. 


Barulah saat Alfiya dan Elvan menikah keduanya bisa banyak berbicara. Namun tidak seperti dulu, karena yang banyak mereka bahas adalah masalah-masalah yang terjadi selama pernikahan bukan tentang kisah mereka dahulu.


...****...

__ADS_1


Kini setelah mengingat kenangan lama itu Elvan berusaha menghampiri Alfiya yang tertidur di kamar mereka bersama Anggian. 


Tidur wanita itu sangat pulas sepertinya, namun Elvan melihat sebelah telapak tangan Alfiya seperti memijat kepala seolah wanita itu tengah merasa sangat pusing. 


Perlahan ia naik ke tas kasur tepat di samping istrinya. Karena saat itu Alfiya tengah berhadapan dengan Anggian, maka jelas saja posisinya membelakangi Elvan. 


Perlahan Elvan turunkan tangan Alfiya yang tengah menutupi kening itu. 


"Fi." Ujar Elvan. "Mas pulang." Ia pandangi wajah cantik itu dalam-dalam. 


Dan disaat Elvan sudah menurunkan wajahnya untuk mencium wajah wanita itu, tiba-tiba saja mata Alfiya terbuka. 


"Mas." Lirih nya seketika. Lalu menghadapkan tubuhnya ke arah Elvan. Kedua tangan Alfiya kemudian terangkat untuk meraih tubuh Elvan, ia butuh pelukan. 


Hingga waktu malam itu mereka isi dengan bercerita banyak hal. Termasuk pengakuan Alfiya yang membuat Elvan rasanya tidak pernah menyangka sekaligus sangat terkejut,  tentang kejadian di masa lalu, dimana ketika itu Alfiya mengaku kalau alasan dirinya menjauhi Elvan demi menjaga perasaan Anggita dan akhirnya terpaksa berpacaran dengan Joe agar Anggita tidak mencurigainya kembali. 


Alfiya juga mengakui kalau hubungannya dan Joe baru benar-benar serius satu tahun sebelum ia dan Elvan menikah. 


Alfiya selalu memberi maaf dan sabar kala Joe ketahuan selingkuh beberap kali selama mereka berpacaran. Hingga kemudian Joe sadar dan berusaha berubah ketika Alfiya benar-benar ingin mengakhiri hubungan mereka satu tahun belakang itu. 


Namun rencana hanya rencana, siapa tahu tentang masa depan kalau Alfiya yang dulunya berusaha menjauhi Elvan malah menikah dengan lelaki itu. 


"Mas mencintaiku?"


"Tentu saja." Elvan lalu mengecup kening Alfiya dengan lembut. Lalu berbisik lembut. "Aku mencintaimu Afiya."


*


*


*


*


Terimakasih ☺😊


...****...


Jangan lupa baca dan mampir di cerita terbaru ku.


__ADS_1


__ADS_2