
...FLASHBACK 2...
...ADUAN ANGGITA...
*
*
Pagi harinya, Alfiya kalau itu sudah siap untuk berangkat ke sekolah. Wanita itu telah memakai seragam putih abu-abu dengan rapi. Hari ini ia sangat senang, karena tentu saja tugas-tugas sekolahnya sudah aman berkat pertolongan Elvan semalam.
Setelah meletakkan sisir sehabis menyisir rambut panjangnya yang lurus sepunggung, Alfiya lantas mengambil tas ransel miliknya yang sudah berisi lengkap buku-buku pelajaran dan peralatan sekolah.
Gadis itu kemudian berjalan menuju pintu kamar, lalu setelah ia keluar pintu kamar pun ditutup kembali.
Alfiya kemudian bergegas ke dapur untuk sarapan pagi, dia harus mengisi perut agar bertenaga menjalani hari-harinya disekolah, dimana hal tersebut adalah rutinitasnya setiap pagi sebelum sekolah.
Namun, belum sampai gadis itu pada dapur tiba-tiba saja ia berpapasan dengan ibu di ruang tengah. Nampak memperhatikan Alfiya dengan seksama. Wajah ibu pun terlihat datar, berdiri dengan dasternya sembari bersedekap kedua tangan seseorang tengah menangkap basah seseorang.
"Ibuk." Sapa Alfiya tersenyum.
"Buk Fiya ke dapur dulu ya." Ujarnya berucap hati-hati takut-takut ibu memasang raut wajah seperti itu siapa tahu suasana hatinya sedang tidak bagus.
Namun ibu tak lantas menjawab, ibu kandung Alfiya itu malah membuat putrinya heran karena masih diam dengan tatapan tak di mengerti namun langkah kakinya lebih mendekati Alfiya.
"Alfiya." Tutur ibu suara dengan nada datar.
Baru selangkah kaki gadis itu bergerak kemudian terhenti oleh panggilan ibu.
"Iya buk." Sahut Alfiya, sembari menatap ibu dengan seksama.
"Jangan dekat-dekat sama Elvan."
"Ha!!?" Alfiya kaget. "Kenapa memangnya buk? " ujarnya lugu.
__ADS_1
"Jangan buat mbak kamu sakit hati, kamu lupa ya kalau Elvan itu sudah ibu dan bapak jodohkan dengan Anggita." Raut wajah ibu bahkan sangat serius saat itu.
Ekspresi yang masih kebingungan Alfiya saat itu cukup untuk menjelaskan keterkejutaannya atas ucapan sang ibu barusan.
Membuat Anggita sakit hati? Kapan dia melakukan hal itu?
"Maksud ibu apa? Fiya nggak ngerti."
"Semalaman Anggita menangis di kamar ibuk. Dia cerita kalau melihat kamu berduaan dengan Elvan cukup lama di teras." Ucapan ibu terjeda sejenak. "Anggita takut kalau kamu akan merebut Elvan darinya."
Merebut? Astaga, Alfiya tak percaya ibu akan berkata seperti itu padanya.
"Tapi semalam Fiya cuma minta tolong sama mas Elvan buat ngerjain tugas. Nggak ada maksud apa-apa ibuk." Ujarnya dengan perasaan yang mulai tidak enak. Biar bagaimana mana pun Alfiya mana mengerti hal-hal seperti itu, yakni akan merebut Elvan dari Anggita. Terlintas dipikirannya sedikit pun tidak. Kalau tahu perbuatannya semalam salah pasti dia tidak akan melakukan itu dan lebih memilih untuk berdiri di tengah lapangan karena tidak bisa mengerjakan tugas dari gurunya.
"Mbak Gita apa-apaan sih?" Ia menggerutu sebal dalam hati.
"Begini Alfiya walau pun kamu cuma minta tolong tapi tetap harus ada batasannya. Biar bagaimana pun kamu harus paham kalau Elvan itu sudah dijodohkan dengan Anggita, jadi wajar kalau mbak kamu cemburu. Kamu itu perempuan, udah mulai dewasa lagi." Rupanya ibu masih belum perduli dengan tetes bening yang mulai keluar dari mata putri bungsunya tersebut.
"Kamu nggak mau kan dibilang jadi perebut calon kakak ipar kamu sendiri."
"Ibu kan bisa tanya baik-baik. Nggak usah ngomong begini." Ujarnya mulai terisak-isak.
Jelas saja gadis itu masih berusia 16 tahun. Pacar pun tidak punya, bahkan ketika akhir-akhir ini ada seorang anak lelaki di sekolah yang berusaha menjadikannya pacar, Alfiya bahkan tidak tahu harus berbuat apa. Ia terlalu polos untuk hal-hal romansa seperti itu.
"Ya sudah kalau begitu." Ujar ibu. "Lain kali jangan diulangi lagi ya. Kasian mbak kamu kan jadi cemburu. Sudah seharusnya kamu bisa menghargai perasaan kakak kamu Alfiya. Penting sekali untuk menjaga jarak dengan Elvan mulai sekarang, mengerti. "
Lagi-lagi ibu hanya memikirkan perasaan Anggita padahal dirinya juga sakit hati saat ini dan merasa dipermalukan, bisa-bisanya Anggita menganggapnya seorang perebut, benar-benar mmemalukan dan melukai harga dirinya.
Sembari Alfiya mengelap air mata dengan punggung tanganku, di iringi perasaan kecewa ia kemudian bergegas melangkah cepat berlalu dari ibu tanpa berpamitan. Tebtu saja gadis itu merasa sakit hati karena merasa tidak melakukan hal yang baru saja ibu tuduhkan.
Sampai di depan halaman rumah, Alfiya tiba-tiba berpapasan dengan Elvan yang saat itu baru saja memanaskan mesin motor besarnya yang biasa di pakai saat ke kampus dan bekerja. Awalnya lelaki itu memasang senyum sumringah, namun melihat raut wajah Alfiya yang sedang tidak bagus ditambah lagi dengan mata yang sembab membuat lelaki itu bergegas menghampiri dengan cemas.
"Fi." Panggil Elvan sembari mendekat.
__ADS_1
Gadis tersebut tak menyahut, ia melengos dari Elvan tak ingin memperdulikan laki-laki itu.
Melihat itu Elvan lantas bergerak cepat untuk meraih tangan Alfiya hingga ia pun berhasil menggenggam pergelangan tangan gadis itu.
"Kamu kenapa nangis?" Tanya Elvan bingung.
Menyadari saat ini ada Elvan yang tengah mencekal pergelangan tangannya Alfiya kemudian berusaha menjauh, ditarik kuat tangannya hingga genggaman Elvan terlepas. Jika ibu atau Anggita melihat mereka seperti ini lagi pasti mereka kembali akan menuduh yang bukan-bukan. Dan Alfiya sangat tidak menyukai hal itu.
Sementara itu Elvan semakin tidak mengerti kenapa Alfiya menyentak tangannya kuat. Apa mungkin Alfiya benar-benar tidak bisa diganggu.
"Fi kamu kenapa?" Elvan masih mengejar rupanya. "Kenapa nangis, ada apa?" Lelaki itu jelas sangat khawatir.
Sebal, kesal, dan marah itu lah yang Alfiya rasakan saat itu. Bahkan melihat Elvan semakin menyulut rasa kesalnya. Biar bagaimana pun lelaki ini adalah salah satu penyebab Anggita salah paham pada dirinya dan akhirnya mengadukan pada ibu.
"Nggak usah dekat-dekat." Sentak Alfiya saat Elvan masih berusaha menghampiri.
Oleh Ucapan itu Elvan akhirnya terdiam bingung tidak mengerti. Namun dia memaklumi karena bisa jadi suasana hati Alfiya benar-benar buruk.
"Mau mas antar sekolah?" Tawar Elvan akhinya dengan nada suara hati-hati.
"Mas Elvan!!!!" Sentak Alfiya dengan tatapan mata penuh amarah. Tentu saja melihat Elvan membuat perasaannya semakin buruk, apalagi salah satu penyebab ia begitu juga adalah berkaitan dengan laki-laki tersebut.
Elvan mendadak terkejut dan heran, bertanya-tanya ada apa gerangan kenapa Alfiya bisa seperti ini
Tak berkata banyak lagi, gadis itu akhirnya melangkahkan kakinya kembali dengan cepat. Bahkan sedikit berlari karena Alfiya ingin menghindar dari sana. Di dalam pikirannya gadis itu akan berangkat sekolah dengan menggunakan kendaraan umum.
Ia benci, sangat benci.
Ia benci dituduh merebut Elvan dari Anggita. Berencana pun ia tidak pernah. Bisa-bisanya Anggita diam-diam berkata begitu pada ibu tentang dirinya.
Diperjalanan menuju sekolah Alfiya tak henti-hentinya menangis, ia bahkan terus menunduk di dalam angkot karena tak ingin ada orang yang memperhatikannya.
Bersambung....
__ADS_1
...****...