DILEMA - Turun Ranjang

DILEMA - Turun Ranjang
Aku Mau Liburan


__ADS_3

****


Malam hari itu, tat kala Anggian tengah bermain bersama Rian di ruang tamu. Elvan dan Alfiya menyempatkan diri untuk berduaan sejenak di sofa kamar. Memang sudah satu hari semenjak pernyataan cinta Alfiya pada Elvan, gadis itu semakin tidak lagi merasa canggung untuk melakukan apa pun terhadap laki-laki itu.


Awalnya Alfiya memperhatikan Elvan yang kala itu tengah sibuk membaca pesan dari ponselnya. Dan, tanpa ragu lagi ia menyusup dicelah tubuh Elvan yang sedang memainkan ponsel itu lalu merebahkan dirinya di pangkuan sang suami.


Cie suami,


Elvan sedikit terperanjat dengan perlakukan itu, ia lantas menatap kebawah persis dimana kepala Alfiya berada. Dilihatnya dengan sumringah gadis itu menyunggingkan senyum yang terulas indah.


"Mas...." Alfiya sedikit memiringkan tubuhnya dengan melingkarkan sebelah tangannya di pinggang Elvan dengan manja.


Ah suami,


Rupanya enak juga ya punya suami, kapan pun ia bisa memeluknya seperti ini. Ternyata begini rasanya punya pasangan yang sudah halal, tidak perlu takut lagi untuk nempel sana sini.


Melihat tingkah manja Alfiya, Elvan pun lantas segera mematikan ponsel yang ia pegang. Lelaki itu sedikit membenarkan duduknya sembari mulai mengusap-usap kepala Alfiya pelan.


"Mas...."


"Em...." Elvan menyahut pelan tanpa melepaskan elusan tanganya dari kepala Alfiya.


"Itu...." Gadis itu nampak ragu. Ia lalu menggigit bibirnya sejenak. "Kita, liburan yuk."


"Liburan?"


Alfiya mengangguk. "Hari jum'at ini sama sabtu kan aku gak ada lagi jadwal kuliah, hari senin tanggal merah. Jadi, kita bisa liburan selama tiga hari." Jelas Alfiya dengan masih mendongak menatap Elvan.


Elvan masih menyimak.


"Sekalian...." Alfiya menghentikan ucapan itu sejenak, sepertinya ia butuh keberanian lebih untuk mengungkapkan sesuatu yang ada dibenaknya. "Sekalian kita pergi bulan madu, ya...." Ucapnya malu-malu. "Mas, ya?"


Elvan tersenyum menatap raut wajah itu, fokusnya malah beralih pada wajah Alfiya yang ternyata bisa juga menampakkan raut wajah malu-malu padanya.


"Liburan kemana?"


"Em, yang deket aja. Di bali misalnya." seraya tersenyum penuh harap.


Elvan nampak berpikir. Lagaknya laki-laki itu memliki keraguan atas ajakan Alfiya saat ini. Tapi, benar juga biar bagaimana pun mereka belum melakukan malam pertama, melaksanakan kewajibannya untuk memberi nafkah biologis pada Alfiya. Inginnya dia memperlakukan gadis ini secara istimewa.


"Maas.... mau ya." Alfiya melebarkan mata indahnya. "Kapan lagi kita biasa berduaan sebagai suami istri." Duh, lagaknya menyebutkan suami istri untuk status mereka masih membuat Alfiya tidak menyangka.


Elvan tertegun sejenak. Ia sangat paham maksud Alfiya. Mereka memang butuh waktu lebih untuk berdua saja tanpa siapa pun.


"Mas, lihat jadwal dulu ya. Soalnya pekerjaan mas lagi padat." Elvan meminta pengertian.


Alfiya pun lantas mendongak. "Emang mas gak bisa ambil cuti beberapa hari?" Alfiya semakin mengeratkan pelukannya pada pinggang Elvan sembari menyusupkan wajahnya diperut laki-laki itu.


"Bisa kan, mas?" Ia masih berusaha merayu suami tercintanya. Gadis itu nampaknya sangat berharap Elvan akan mengiyakan permintaannya.


Elvan nampak menghela nafas sejenak. "Tunggu kamu libur panjang gimana?"


Raut wajah Alfiya pun lantas berubah. Terlihat sebuah kekecewaan disana. Ia kemudian terdiam seolah merajuk. Sepertinya dia memang tidak bisa memaksa. Ia baru saja berdebat dengan Elvan satu hari yang lalu, dan tidak ingin mengulang itu lagi.


Perlahan Alfiya pun beranjak dari pangkuan Elvan.


Ia lalu berkata pelan. "Aku, mau balik ke kamar. Mau ngerjain revisi tugas akhir."

__ADS_1


"Kerjain disini aja Fi, tugasnya." tahan Elvan.


"Gak apa-apa, aku kerjain dikamar aku aja." ujarnya membuat alasan, padahal nyatanya ia tengah memendam kecewa saat itu.


Berlalu dari hadapan Elvan, Alfiya pun keluar dari kamar.


Elvan menatap kepergian Alfiya dengan terkekeh pelan.


Ngambek rupanya,


Tapi ini dia tidak mimipi bukan, Alfiya seketika mengajaknya berbulan madu. Gadis itu selalu yang terlebih dahulu berinisiatif. Benar-benar sebuah anugerah akhirnya Alfiya mencintainya seperti ini dan, akhirnya meninggalkan Joe.


Nampaknya, Elvan masih harus berhati-hati soal anak itu. Biar bagaimana pun status Joe dan Alfiya masih jelas dimata orang banyak. Tidak seperti status pernikahan mereka yang masih disembunyikan hingga sekarang.


Sepertinya ia harus lekas bertindak cepat.


****


Lalu, lain halnya dikamar Alfiya. Gadis itu tengah berbaring dengan memeluk guling sembari memandangi ponselnya yang ramai oleh grup chat kampusnya. Sepertinya harapan untuk liburan bersama sang suami tidak akan tercapai. Mau bagaimana lagi Elvan sibuk dengan pekerjaannya dan dia sepertinya bisa akan memaksa.


Seketika, perhatian Alfiya pun teralihkan oleh sebuah pesan baru di ponselnya. Pesan dari teman Joe!


Fi, kamu lagi sama Joe gak? Gue udah hubungi dia tapi nomornya gak aktif.


Alfiya termangu, ada apa sebenarnya dengan Joe? Kenapa laki-laki itu beberapa hari ini tidak ada kabar? Memang semenjak hari di mana ia meninggalkannya di cafe saat itu Joe benar-benar seperti menghilang.


Kemana?


Apa laki-laki itu menghilang gara-gara dia?


Alfiya mendasak cemas. Kalau dipikir-pikir Joe tidak pernah seperti ini sebelumnya. Laki-laki itu tidak pernah menghilang seperti ini.


"Katanya mau ngerjain tugas?"


Alfiya menoleh seraya menekan off pada ponselnya.


Elvan!


Pikiran Alfiya tiba-tiba teralihkan kembali pada ajakan liburannya yang tak mungkin sampai.


"Kenapa mas kesini?" ujarnya tanpa menatap Elvan.


"Mau temuin istri kesayangan mas." Elvan mendudukan dirinya disisi ranjang Alfiya.


"Bilangnya sayang, tapi ngambil cuti aja gak mau." Nah, akhrinya ia meminta hal itu lagi. Padahal tadi dirinya tidak mau bedebat.


Menaikan kedua kakinya ke atas ranjang, Elvan pun lantas membaringkan diri di sisi Alfiya yang membelakanginya.


"Bulan madunya dirumah dulu aja ya?" Ujarnya sembari melingkarkan tangan di pinggang sang istri. "Hem?"


"Iya?" Lalu Elvan mengecup ceruk leher Alfiya pelan, membuat gadis itu meringis dibuatnya. "Kalau mas ada waktu, nanti kita pergi liburan."


"Kapan?" Tanya Alfiya masih setengah merajuk.


Elvan lantas menyusupkan tangannya pada bagian bawah leher Alfiya kemudia menarik gadis itu untuk menghadapnya. Elvan menyusuri setiap inci wajah gadis itu dengan sorot matanya. Tiba-tiba perasaannya pun jadi menggelora. Ada sebuah hasrat yang timbul pada dirinya saat itu.


Dengan pelan ia turunkan wajahnya, lalu mencium pipi mulus gadisnya pelan. Tangannya pun mulai menyusup kedalam perut mulus Alfiya.

__ADS_1


"Mas?" Alfiya menatap heran. Apa sekarang waktunya? Ia benar-benar akan menjadi milik Elvan seutuhnya.


Elvan tersenyum melihat raut wajah itu, kemudian menaikkan tubuhnya, hingga hampir menindih gadis dibawahnya kalau ia tidak menopang tubuhnya dengan siku. Tangannya pun perlahan meraba belakang tubuh Alfiya mencari pengait dibawah sana, hingga berhasil terlepas. Bagi Elvan melakukan hal ini bukan hal yang sulit.


Penutup kain pun terlepas sempurnya dari tubuh Alfiya. Tak lama, ia mulai merasakan telapak tangan Elvan terasa panas saat memijatnya. Hawa tubuhnya pun semakin panas. Ia memejamkan mata sembari pijatan itu terus terasa memberikan rangsangan.


"Hhhh...." Nafas Alfiya mulai berat. "Mas...." desahnya saat Elvan berhasil meloloskan kaos yang ia kenakan.


Alfiya semakin memejamkan mata saat Elvan mulai menyesap dada sebelah kiri sembari memainkan indera pengecapnya disana. Sementara yang satunya lagi Elvan masih memijat-mijatnya dengan sensual.


Baiklah, malam ini rasanya akan benar-benar menjadi malam pertama mereka.


Namun, tiba-tiba....


Bak!


Terdengar suara pintu kamar yang memang sedikit terbuka di dorong kuat hingga membentur dinding. Bersamaan dengan itu suara teriakan anak kecil pun menggema.


"Ayah! Bunda!"


Mata Alfiya membelalak kaget! "Gian?" Ia dengan cepat mendorong Elvan dari atas tubuhnya dan menarik selimut untuk menutupi bagian atas tubuh yang memang sudah tanpa busana itu.


"Mas Elvan gak tutup pintu ya?" Gerutu Alfiya sebal.


Elvan mengerutkan dahi sembari memijatnya kuat. "Mas lupa, Fi."


"Mas Elvaaaan...." Alfiya mendengus kesal. Untung saja mereka belum melakukannya terlalu jauh.


Lalu suara seorang remaja laki-laki pun menyusul "Ini dia ya! Sini om kamu tang-" Rian menganga oleh pemandangan yang terpampang dihadapannya. "-kap."


Lagaknya remaja itu tidak perlu berpikir panjang tentang apa yang sedang terjadi.


"Kamu kenapa sih, ajak Gian kesini!?" Alfiya langsung menggerutu sebal pada Rian sembari masih menutupi tubuhya sampai leher dengan selimut.


Rian lantas berbalik memutar tubuhnya kaku. "Kenapa coba gak kunci pintu..." cicitnya pelan.


"Ayah, bunda...." Dengan wajah polosnya Anggian tersenyum, seolah memberikan ejekan bahwa ia berhasil mengganggu keduanya.


"Gian main dulu sama om Rian ya sayang." Elvan membujuk sang anak. Ayolah, dia sedang ada misi penting saat ini.


Sementara itu Alfiya hanya bisa terdiam. Ia tidak tahu lagi harus bagaimana. Ternyata begini ya rasanya kalau sudah punya anak. Tidak bisa bebas berduaan.


Ini sudah kesekian kalinya mereka gagal. Kapan coba mereka punya waktu. Siang hari Elvan akan bekerja sampai sore bahkan malam, sementara ia kuliah. Malam harinya mereka harus menunggui Anggian tertidur dulu, di tambah biasanya salah satu diantara mereka akan tertidur cepat jika kelelahan.


Adanya Rian malam ini sebenarnya membuat mereka beruntung karena bisa berduaan. Tapi lihatlah tadi, mereka juga terganggu oleh anak itu.


"Gian mau main sama ayah bunda...."


Seketika Elvan melemas, dengan bagian tubuhnya masih terasa ngilu. Benar apa kata Alfiya. Mereka benar-benar butuh waktu berdua.


Lalu.... "Fi, tadi kamu mau liburan kemana?" tanyanya kemudian seketika.


Alfiya lantas menyambar cepat. "Aku mau ke bali...."


...Happy Reading!...


...Elvan sama Alfiya mau kebali, Ges!...

__ADS_1


...Kasih, Like, Vote and Komen dongse!...


...----------------...


__ADS_2