
*
*
*
*
"Mas." Alfiya yang baru keluar dari kamar mandi melenggang menghampiri Elvan yang saat itu tengah merapikan baju yang dikenakan setelah baru saja berganti pakaian.
Tubuh basah Alfiya hanya terbalut handuk yang ujungnya mengait rendah pada dada. Sementara itu kepalanya pun juga terbalut handuk karena tadi ia sempat membasahi rambut setelah mengurung diri cukup lama dikamar mandi.
Alfiya sebenanya sudah tiga hari keluar dari rumah sakit. Keadaan fisiknya pun sedih semakin membaik, yang jelas ia lebih tenang dan lapang, karena banyak hal sudah tidak lagi dipendam.
"Mas mau kemana?" Tanya Alfiya yang saat itu melihat Elvan tengah buru-buru.
Seperti baru menyadari kalau Alfiya baru keluar dari kamar mandi Elvan pun menoleh kebelakang setelah merapikan tatanan rambut yang berantakan.
"Mas mau pergi sebentar." Sahut Elvan.
"Pergi?" Kedua alis Alfiya bahkan saling bertaut dengan kening mengernyit bingung. "Pergi kemana? Terus sama siapa."
Namun laki-laki itu masih diam.
"Mas." Tanya Alfiya lagi yang terus memburu jawaban dari sang suami.
Elvan pun lantas menoleh kebelakang menatap Alfiya yang tengah menunggu jawabannya. Ada tarikan nafas tertahan dari Elvan saat itu.
"Mas mau ketemu teman bisnis." Lalu disertai dengan senyum untuk menutupi sesuatu yang ia sembunyikan.
"Sore-sore begini? Kenapa nggak tadi, pagi-pagi." Jelas saja ia heran, menurut Alfiya mana ada orang akan membicarakan urusan bisnis ketika hari sudah pukul 4. Atau mungkin dirinya saja yang memang kurang tahu.
"Teman Mas itu jadwalnya padat, jadi baru sore ini dia ada waktu buat membahas soal pekerjaan." Jelas Elvan kemudian dimana langsung membuat Alfiya yang masih nampak bingung akhirnya mengangguk paham.
"Perginya sekarang?" Pertanyaan untuk memastikan masih keluar dari mulut Alfiya.
"Iya." Elvan mengangguk. Lalu mengambil kunci mobil pada laci lemari. Setelah itu Elvan kemudian berjalan mendekati Alfiya yang tengah berdiri memperhatikannya.
Ia pegang pipi Alfiya dengan lembut, lelaki itu lalu mengecup kening serta bibir lembab istri sebelum benar-benar pergi.
Alfiya terkekeh pelan, karena elusan tangan Elvan pada tengkuknya yang disengaja membuat ia berdesir geli. "Mas." Protesnya.
Menanggapi itu Elvan tersenyum penuh arti. Hingga kemudian, "Mas pergi ya." Izinnya. "Nanti mas pastiin pulang cepat."
__ADS_1
Ragu-ragu Alfiya menyahut. "Mas hati-hati ya." Walaupun masih kebingungan tentang Elvan yang akan menemui rekan bisnisnya sore itu. Sehingga kini ia tinggal sendiri dikamar karena Anggian juga sedari tadi dibawa Rian untuk bermain dihalaman.
...****...
Sementara itu ada sebuah kebisingan di sana. Disebuah cafe yang bernuansa klasik. Petikan gitar, pukulan bas, serta beberapa alat musik lainnya terdengar dimainkan secara berirama.
Lebih tepatnya disana sebenarnya adalah tempat berkumpul para anak-anak muda.
Pada sebuah meja ada seorang lelaki yang tengah menunggu seseorang sembari menghisap rokok pada selipan jarinya. Matanya nampak sering mengalihkan pandangan, tapi lebih banyak tertuju pada pintu masuk cafe. Gerak-gerik tubuhnya terlihat tak tenang. Hatinya pun sudah tak sabaran, karena menunggu.
Joe, lelaki itu lantas menghembuskan asap rokok dari mulutnya kasar saat dua orang wanita tengah duduk mengerumuninya pada meja tersebut. Ia nampak tak perduli, namun dua wanita yang merupakan teman satu jurusannya di perkuliahan tersebut seolah masih tertarik untuk menarik perhatiannya.
"Joe, ngeliat kamu galau begini bikin aku jadi pengen ngehibur kamu deh." Salah seorang wanita berambut ikal se punggung yang bernama Dewi memangku dagu dengan sebelah tangan sembari tak lepas menatap Joe saat itu.
Namun perkataan itu malah ditanggapi tawa mencibir oleh wanita satunya. "Pede banget pengen ngehibur, yang ada elo bakalan bikin Joe tambah pusing." Anita namanya, padahal ia dan Dewi berteman akrab namun kalau soal lelaki mereka berdua rela untuk bersaing.
Dewi mengangkat kedua alisnya, tak terusik oleh perkataan Anita. Lalu setelahnya, "Belum dicoba, satu kali aja kamu jalan sama aku yakin deh beban dikepala kamu langsung hilang." Lalu tersenyum percaya diri. "Gimana Joe." Kedipan pun berikan pada lelaki yang nampak jengah oleh ucapannya dan sepertinya tidak begitu disadari.
Anita menghela nafas. "Kalau bisa nandingin si Fiya oke aja elo kepedean." Berusaha membuat Dewi merasa rendah.
Mendengar nama Alfiya disebut, Dewi langsung memalingkan wajah mengerling geli. "Cewek kayak gitu mau nandingin gue. Ih, ngapain coba." Ia makin menampakkan raut wajah tak suka. "Cari yang lain gitu, yang sepadan." Tekannya nyolot pada Dewi.
Mendengar perkataan Dewi baru saja Joe lantas menoleh tidak suka. Raut wajahnya pun datar dengan tatapan menusuk.
"Gue gak suka elo ngerendahin dia." Tekan Joe dingin.
Dewi lantas menarik nafas tak mau kalah. "Elo gak inget ya. Apa udah lupa ingatan, dia udah ninggalin elo dan nikah secara diam-diam. Masih aja elo belain cewek mur*han begitu—"
"Diam!!" Bentak Joe akhirnya. Keduanya matanya terlalu berapi-api dengan dada memanas. "Sikap elo bikin gue muak!"
Sementara itu Anita lantas berdecak kasar. "Yang beg* itu kayaknya elo deh wi. Ngapain coba elo ngerendahin orang lain buat ngedapetin perhatiannya Joe. Biar ngerasa tinggi gitu? Dan berharap kalau Joe nganggap elo lebih baik?"
"Ya senggaknya gue bukan penghianat, kesel aja sama tuh cewek. Cuma model dikelonin om-om tiap malam aja langsung berpindah hati." Kesekian kalinya Dewi membuat hati seseorang yang sedari tadi diam-diam duduk di meja samping dan mendengar percakapan mereka memanas dan terluka.
Dewi terus berkata dan pendapat yang dilontarkan dari wanita itu lebih terdengar kepada rasa benci pada Alfiya yang tidak dimengerti didasari oleh apa. "Udah sok laku, sok cantik, terus murah gampangan."
"Bukannya itu elo ya." Timpal Anita.
Namun suasana seketika hening saat tatapan mata Joe langsung beralih dan terpaku pada seseorang. Sementara itu dua orang wanita yang duduk disamping langsung mengikuti arah pandang Joe.
Iya, Joe terpaku sejenak dan terkejut saat melihat ada Elvan dihadapannya saat itu.
"Siapa Joe?" Tanya Dewi dengan tatapan rasa kagum yang tidak bisa disembunyikan. "Kenalan kamu ya? Saudara, atau sepupu?" Matanya berbinar melihat betapa Elvan telah membuatnya terpesona saat itu. "Ih, ini baru tipe gue banget." Gumamnya, apalagi postur tubuh tinggi, tegap dan wajah yang tegas dihadapannya itu dapat membuat tatapannya terus terkunci.
__ADS_1
Anita langsung menarik sudut bibirnya mencibir akan tingkah Dewi. "Bisanya ngomongin orang lain mur*han, dianya sendiri gampang jelalatan." Gumamnya, dan entah apa yang mendasari kedua wanita itu bisa saling berteman sebenarnya padahal mereka sering mengolok satu sama lain.
"Saya butuh waktu berbicara." Ucapan Elvan tersebut tentu saja ditujukan pada Joe.
Walaupun tengah menahan tegang Joe menyetujui permintaan tersebut. "Tentu." Ujarnya lalu menegakkan tubuh seolah tengah menerima tantangan dari Elvan.
"Elo berdua bisa pergi." Pintar Joe pada dua wanita yang sedari tadi terus membuat kepalanya pusing.
"Ayo!" Anita menepuk bahu Dewi yang cengar-cengir pada Elvan saat itu.
"Bentar gue mau kenalan dulu." Tutur Dewi pada Anita. Ia lalu mengulurkan tangannya pada Elvan dengan percaya diri. "Hai kak, aku Dewi." Masih mengembangkan senyum. "Kakak siapanya Joe?" Masih mengulurkan tangan sementara tatapannya tak berpaling. "Boleh minta nomor hape."
Elvan termangu sejenak. Nampaknya ia tidak sulit menilai seperti apa wanita yang ada dihadapannya tersebut.
"Saya suami Alfiya." Mata Elvan memandang dingin. "Saya cukup sakit hati karena mendengar kamu telah merendahkan istri saya tadi." Terus menatap Dewi yang langsung tersentak atas pengakuannya. "Tapi saya memaklumi karena kamu sepertinya punya masalah dalam kepribadian—sehingga mempengaruhi pola pikir dan juga perilaku kamu."
Sial! Dewi langsung menarik tangannya dan wanita itu pun perlahan berjalan mundur untuk menjauh pergi. Sementara Anita yang melihat terus mengutuki sahabatnya itu b*doh sedari tadi.
Setelah itu Elvan lantas menarik kursi untuk duduk, memperhatikan Joe dihadapannya yang memalingkan wajah karena juga tersentak dengan ucapan Elvan saat memperkenalkan diri sebagai suami Alfiya pada Dewi.
Lama keduanya terdiam sesaat, sampai akhirnya Joe tiba-tiba berdiri setelah membuang puntung rokoknya dan menginjak kasar pada lantai. Lalu, tanpa di duga refleks ia mengarahkan tinju pada Elvan dengan cepat.
Elvan sontak terkejut, padahal hal itu sudah ia tebak akan terjadi saat ia memutuskan untuk menemui Joe.
Jantungnya berdegup kencang, Elvan masih termangu syok atas perilaku Joe yang tiba-tiba itu, untung saja kepalanya berhasil menghindar dari kepalan keras tangan lelaki dihadapannya.
Melihat Elvan yang syok Joe lantas tersenyum sinis. Nafasnya masih menderu kencang karena emosi. Joe lantas menggebrak meja kuat, membuat suasana cafe menjadi tegang.
"Kenapa malah lo yang kesini sialan!" Iya, Joe yakin Elvan kesini karena telah membaca pesan dari buket bunga yang ia titipkan pada seorang perawat hari itu, buket bunga yang memang di tujukan kepada Alfiya.
...****...
...Happy Reading!...
...Semoga kalian semua menikmati cerita ini....
`
`
`
`
__ADS_1