DILEMA - Turun Ranjang

DILEMA - Turun Ranjang
Terbongkar (End)


__ADS_3

****


Alfiya dan Elvan benar-benar menikmati bulan madu mereka. Menghabiskan banyak waktu berdua di pantai, mengunjungi tempat-tempat terkenal seolah tak kenal waktu.


Hingga sore hari itu, Elvan tengah memeluk tubuh istrinya dari belakang. Menikmati semilir angin ditepian pantai yang menerpa keduanya. Menyusupkan wajah diceruk leher Alfiya.


"Fi...." bisiknya.


"Iya mas...." sahutnya sembari menyentuh kedua tangan Elvan yang melingkar erat dipinggang


"Pulang nanti biar mas yang kasih tahu dia tentang pernikahan kita."


Alfiya sedikit terhenyak, tentu saja ia tahu siapa yang Elvan maksud dengan 'dia'. Entah kenapa selalu ada perasaan yang mengganjal kala Elvan membahas tentang Joe padanya.


"Dia harus segera tahu, agar gak gangguin kamu kamu lagi."


"Mas, biar aku aja yang kasih tau." ucap Alfiya ragu-ragu. "Ini urusan aku dan dia." lirihnya pelan.


"Urusan kamu, urasan mas juga sekarang." tekan Elvan.


****


Keesokan harinya, pada sore hari itu, Alfiya dan Elvan telah kembali dari bulan madu mereka. Keduanya agak terkejut saat melihat dua buah mobil yang terpakir rapi di depan rumah.


Keduanya pun tak terlalu memperdulikan, mungkin saja tamu bapak dan ibu yang datang.


Kedua pasangan yang baru berbulan madu itu, terlihat nampak sumringah. Elvan merangkul Alfiya menuju pintu masuk.


Dan saat memasuki rumah, Alfiya terkesiap penuh keterkejutan tak ubahnya dengan Elvan saat melihat siapa sebenarnya yang datang.


Joe membawa keluarga besarnya ke rumah. Ada ayah, ibu dan juga kakaknya, Jenny. Nampak laki-laki itu menatap Alfiya dengan tatapan yang sulit diartikan.


Ada apa ini? Kenapa Joe membawa keluarganya?


Apa jangan-jangan Joe datang melamarnya.


Joe kemudian berdiri dan berjalan mendekat, menatap wanita yang masih sangat ia cintai itu dalam-dalam.


Lalu dengan bibir bergetar Joe berucap. "Fi...." wajahnya nampak sedih.


Tak ubahnya Alfiya, tubuh gadis itu melemas saat itu juga. Tak perlu banyak menerka ia yakin Joe sudah tau tentang pernikahanannya dan Elvan, dilihat dari raut wajah bapak dan ibu yang berpaling darinya.


"Kenapa kamu gak bilang, kenapa kamu menutupi semua ini...." rasanya Joe benar-benar tidak sanggup untuk berdiri.


Seketika suasana menegang, semua orang membisu, Joe seakan mendominasi suasana.


"Kamu, jahat!" tekan Joe. "Kamu hianati aku, kamu bohongi aku." suara itu semakin meninggi.


Lantas semuanya sektika berdiri.


Jantung Alfiya tersentak, rasanya seperti tertusuk tajam mendengar perkataan itu. Ia lantas mengatup mulutnya yang tak bisa berkata-kata. Ada rasa bersalah yang begitu besar pada dirinya saat itu.


Lalu pandangan Joe pun berbalik pada Elvan yang terlihat menegang. Menggenggam erat tangannya, lantas laki-laki tersebut mengayunkan kepalan tangan itu dengan cepat.

__ADS_1


Bugh!


Wajah Elvan seketika tertoleh kesamping oleh tinju yang super keras itu. Anggota keluarga pun histeris.


"Joe!" Seorang laki-laki paruh baya yang merupakan ayah Joe pun mendekat.


Ibu Ernika dan bapak mendekat. "Elvan, kamu gak apa-apa?" tanya keduanya khawatir.


Elvan terdiam sembari meringis, matanya berkaca-kaca mungkin karena menahan sakit.


"Joe.... lebih baik kita pulang." ajak Jenny sembari memegangi bahu adiknya cemas.


Joe tak perduli, seolah tak puas, oleh emosi yang terus menggunung Joe kembali ingin memukul bagian wajah Elvan dengan kuat. Namun, dengan sigap Elvan kemudian menahannya dengan sekuat tenaga.


"Dasar bajing*an!!" teriak Joe sembari mendorong kepalan tangannya yang ditahan Elvan semakin kuat. "Kenapa lo ambil pacar gue!"


Lalu Alfiya berteriak mencoba menghentikan. "Joe, udah." sembari menitikkan air mata.


"Lebih baik kita pulang sekarang." sang ayah mencoba menarik anaknya.


Namun, Joe berontak rasanya ia belum puas untuk menyakiti Elvan. "Alfiya pasti menderita dinikahkan paksa sama lo! Dia itu cuma cinta sama gue!" ia menunjuk-nunjuk didepan wajah Elvan.


"Joe! Ayo kita pulang nak. Sudah." sang ibu pun membujuk.


Sembari menahan ringisan diwajahnya, Elvan kemudian berusah untuk berucap. "Alfiya...." menatap Joe dalam-dalam. "Dia istri saya sekarang."


"Argghh, bangs*t!!"Joe lantas menyerbu Elvan, mencekik lehernya dengan cepat dan kuat kemudian mendorongnya. Hingga tubuh laki-laki itu terseret kebelakang.


Namun, segera Elvan melawan. Ia lantas mendorong Joe dan membantingnya dengan kuat dilantai.


Alfiya menggeleng pelan sembari menatap Joe dengan perasaan bersalah. "Joe...." lirihnya.


Joe sudah gelap mata, emosinya sudah tidak terkendali. Ia bahkan memelototi semua orang yang hendak menghentikannya. Perasaan tak puas untuk menghabisi Elvan pun semakin menggebu-gebu.


"Fi...." Elvan menarik tangan Alfiya dan menyuruhnya minggir.


"Mas...." tatapnya cemas.


"Biar mas yang selesaikan." ujar Elvan tersengal, karena jujur saja ia mengeluarkan banyak tenaga untuk menghindar dari Joe tadi.


Dan, saat Joe hendak menghampiri Elvan kembali. Bapak Malik seger mendekatinya. "Berhenti kamu!!" sentak bapak. Tatap tajam ia tunjukkan kepada Joe. "Kamu apa tidak paham?! Anak saya sudah punya suami...." bapak tersengal menahan emosi. "Lebih baik kamu pulang sekarang!" bapak menunjuk ke pintu keluar.


Joe seketika menciut, tatapan penuh kekecewaan ia lontarkan bapak saat itu juga. Hatinya sakit oleh semua ini.


"Ayo nak, kita pulang...." ibunda Joe memegang pundak anaknya dengan tatapan sedih.


"Dia sudah punya suami, tidak baik kamu mengharapkan wanita yang bersuami." ayah Joe memberi penjelasan dengan sangat hati-hati. "Ayo kita pulang."


"Tapi ayah, ayah tau kan hubungan kami...." suara Joe bergetar hebat.


Ayah Joe menghela nafas. "Nak, pulang, ya."


Joe memejamkan mata dalam-dalam, kemudian tertunduk masih tak percaya. Ia lalu mendongak, kembali menatap Alfiya yang berdiri menangis di samping Elvan. Sorot matanya penuh tanya, kecewa yang mendalam, terhenyak, sakit hingga ke ulu hatinya melihat sebuah kenyataan yang tidak pernah ia sangka.

__ADS_1


Sebuah hal yang tak pernah terbersit dipikirannya, seorang wanita yang ia cinta kini telah menjadi istri orang lain.


"Jadi, karena ini kamu tiba-tiba berubah...." lirih Joe, sementara sang ibunda sudah menggandengnya untuk pulang.


Joe pun meneteskan air mata rasa sakitnya. "Karena ini kamu menjauh, mengabaikan telepon aku, gak cariin aku selama aku menghilang selama lebih satu minggu ini?"


"Joe...." sang ayah mengingatkan bahwa mereka harus pergi.


"Aku kesini bawa keluarga aku buat melamar kamu, Fi...." Ya Tuhan,


"Maaf Joe...." Iya, hanya kata maaflah yang bisa Alfiya lontarkan saat itu. "Maaf...."


Namun Joe tetap ingin meluapkan rasa kecewanya. "Jadi karena ini juga kamu memblock semua akses aku ke kamu, Fi?" Joe semakin sesak tak tertahankan.


"Ayo kita pulang, nak...." ajak ibu Joe kembali dengan hati perih.


Sementara itu, disudut sana Alfiya masih menangis terisak. "Maafin aku...." ujarnya tersendat. "Maaf Joe...."


"Kenapa, Fiya...." lirih Joe terisak dengan suara bergetar hebat.


"Kenapa kamu lakuin ini sama aku? Aku salah apa? Hubungan kita sudah tujuh tahun. Jadi karena ini kamu menolak untuk dilamar...."


"Joe..." Alfiya menimpali itu dengan tatapan bersalah.


"Kenapa Alfiya!!??" Teriak Joe kemudian membuat semua orang disana tersentak olehnya.


"Kenapa!?"


"Kenapa?!"


Raungan Joe sekan mampu menyayat hati semunya, tubuhnya pun melemas, hampir terjatuh. Hingga sang ayah pun menanggkapnya dengan sigap lalu menggiringnya keluar dengan segera diriingi oleh sang ibunda.


Joe tak henti melepas tatapannya dari Alfiya yang hanya berdiri disana tanpa mengejar. Hingga kemudian ia benar-benar keluar dari rumah itu.


Suara hak sepatu pun mendekat. Jenny yang sedari tadi berdiri memantung menatap Elvan dan Alfiya bergantian. Ia hanya bungkam, sepertinya tidak tahu harus berbicara apa oleh keadaan ini. Hingga kemudian ia mendongak dengan rasa sedih, seolah tak percaya dengan kejadian ini. Lalu pergi dengan menutup mulut, menggeleng tak percaya, dan menampakkan kekecewaan.


Suasana kemudian tampak hening. Hanya terdengar isakan tangis yang keluar dari mulut Alfiya. Jujur gadis itu masih syok, ia tak menyangka apa yang ditakutnya selama ini akhirnya terjadi juga. Joe akhirnya mengetahui pernikahannya dengan Elvan.


Salah!


Ia salah!


Alfiya benar-benar merasa bersalah, dia telah menghancurkan hati Joe oleh keadaan ini.


Saat suara sesenggukannya semakin keras, Elvan segera memeluknya erat. Membiarkan wanita itu menangis dipelukannya. Mengecup puncak kepalanya pelan, berusaha membuatnya jadi lebih baik.


"Kamu istri mas sekarang, biarin dia pergi."


Alfiya hanya bisa tidak tahu harus berkata apa, dirinya sungguh tidak menyangka akan semua ini, karena pada akhirnya, ia benar-benar telah menyakiti hati seseorang.


Mau bagaimana lagi, inilah takdir. Manusia hanya bisa berencana, namun tuhanlah yang menentukan.


Alfiya hanya tidak menyangka bahwa, dulu ia yang memiliki impian menikah dengan Joe, memiliki rumah masa depan bersama. Namun, akhirnya terjebak menikah dengan sang kakak ipar dan berakhir dengan mencintainya untuk hidup bersama.

__ADS_1


...----------------...


...End...


__ADS_2