DILEMA - Turun Ranjang

DILEMA - Turun Ranjang
Belanja Untuk Honey Moon


__ADS_3

*****


Sebelum pulang, Elvan dan Alfiya menyempatkan diri untuk berbelanja ke sebuah mall di pusat ibu kota. Sesuai perkataan Elvan tadi, mereka akan berangkat bulan madu besok lusa karena Elvan berhasil mendapatkan cuti selama tiga hari. Dan, tentunya mereka butuh membeli beberapa barang untuk disana nanti, bukan.


Lalu, saat itu mereka tengah berada pada lorong bahan kebersihan habis pakai.


Sementara Elvan sibuk mendorong troli sembari memeriksa ponselnya, Alfiya tengah sibuk memilih perawatan tubuhnya. Lulur, sabun mandi, sikat gigi, shampo, semuanya telah masuk kedalam keranjang. Benar tidak sih, ini yang dibutuhkan orang-orang untuk honey moon? Alfiya mengigit jarinya, lalu dia melirik Elvan sejenak. Kenapa dia jadi gugup begini ya.


Ini dia berlebihan tidak sih, membeli semua ini? Huh, ini benar-benar pengalaman pertamanya. Belum apa-apa hatinya sudah berdebar-debar. Padahal sebenarnya sudah beberapa kali mereka hampir menyatu. Akan tetapi jika di persiapkan seperti ini malah membuat perasaannya jadi tak menentu.


Semoga saja nanti dia tidak jantungan saat di bali bersama Elvan.


"Mas...." panggil Alfiya dan Elvan langsung mendongak menatapnya.


"Mas, ada yang mau dibeli lagi gak?"


Elvan mengarahkan matanya pada keseluruhan belanjaan Alfiya. "Ini nanti mau kita bawa semua?"


Alfiya mengangguk. "Mending kita beli disini kan, mas. Jadi disana nanti kita gak perlu repot-repot buat belanja."


Elvan tertegun, ia masih memandang belanjaan tersebut. "Kamu mau bawa itu juga." menunjuk pembalut yang dibeli Alfiya.


"Oh ini buat persiapan aja mas, gak bakalan aku bawa kok."


Sepertinya sebelum itu Elvan masih perlu memastikan sesuatu. "Kapan terakhir kamu datang bulan?"


"Sekitar empat hari yang lalu."


Elvan termangu. Berarti Alfiya masih pada masa subur. Rasanya wajar jika gadis ini terlihat lebih berani padanya akhir-akhir ini. Baiklah, kalau begini rasanya Elvan yakin apa yang ia inginkan akan berhasil.


"Kenapa mas?"


Elvan menggeleng pelan. "Mas cuma tanya, takutnya kamu lagi datang bulan." Lalu menyunggingkan senyum. " Nantinya rencana bulan madu kita bisa gagal dong."


"Yang penting aku bisa liburan." lalu ia menjulurkan lidah sengaja meledek.


"Jadi niatnya bukan mau berduaan sama mas, kamu maunya liburan aja gitu."


"Iya dong, kapan lagi coba aku bisa seneng-seneng." Alfiya semakin memancing reaksi Elvan dengan ucapannya, rupanya menggoda Elvan menjadi hobi barunya saat ini.


"Suka ya ngisengin mas...." Elvan lantas mencubit pinggang Alfiya. Cubitan ala-ala manja.


Alfiya menjauhkan jari yang mencapit pinggangnya itu. "Ih, mas Elvan sakiit...."


"Gitu aja udah sakit, gimana malam pertama nanti." cicit Elvan.


"Mas bilang apa tadi?" Kali ini Alfiya yang mendaratkan cubitannya pada lengan Elvan.


"Gak ada...." Elak Elvan. "Mas cuma lagi mikir malam pertama nanti enaknya indoor apat outdoor." ujarnya asal.


"Ih, ya dikamar dong mas masak diluar. Ada-ada aja." Alfiya bersungut. "Emang mas mau jadi tontonan orang-orang!?"


Pftt, Elvan menahan tawanya menanggapi itu. Ternyata seru juga berdebat dengan Alfiya.


Lalu perdebatan kedua pasangan itu terhenti, tatkala seseorang mendekati mereka.

__ADS_1


"Elvan!" seru wanita tersebut.


Alfiya dan Elvan pun lantas menoleh.


"Hai, Van. Tadi buru-buru pulang ternyata cuma buat belanja."


Elvan tersentak.


Delia!


Elvan lantas mengusap tengkuknya kaku. Kenapa juga ia bisa ketemu perempuan ini disini.


"Kamu sama siapa?" Delia lalu beralih menatap Alfiya penasaran. Ia kemudian menelisik mencoba mengenali perempuan imut yang juga menatapnya heran itu.


"Lah! Ini Alfiya." Delia ternganga. "Jadi lo buru-buru pulang karena mau belanja sama Alfiya, Van." perempuan itu memberi tatapan aneh. "Jangan-jangan lo nurutin saran kita waktu itu ya." serunya heboh.


Alfiya tertegun, saran?!


Elvan berbisik menggeram. "Shhht, lo berisik amat sih, Del."


Ia kemudian menepuk bahu Elvan pelan. "Ya, gapapa dong." melirik Alfiya.


"Hai, Fiya!" sapa Delia telat..


"Hai mbak!" Alfiya membalas sapaan itu.


"Kamu baik juga ya mau temenin Elvan belanja." lalu tersenyum kearah Elvan yang membuat lelaki itu sebal. "Sering-sering deh kamu temenin Elvan begini, siapa tau nyangkut."


Elvan menghela nafas sebal. "Del, udah dong. Jangan gini deh."


"Siapa yang kencan?" Kembali suara wanita yang baru mendekat menimpali.


Elvan seketika mendongak kearah sumber suara.


Jenny! Angga! Antoni! Duh, kenapa mereka pada kompak begini.


Elvan terhenyak saat tiba-tiba Antoni si pecicilan merangkulnya erat. Terlihat laki-laki itu mesam-mesem menatapnya.


"Gila, Alfiya ternyata emang unyu ya." bisik Antoni pada Elvan.


Elvan lantas menyikut Antoni. "Apaan sih lu?" ia menggeram sebal.


"Fiya? Kamu belanja bareng Elvan?" Jenny yang sedari tadi memang memperhatikan gadis itu, menelisik.


Alfiya hanya bisa terdiam kaku saat Jenny beralih menatapnya. Bagaimana ini?


"Oh, iya. Joe akhir-akhir ini gak bisa dihubungi. Kamu tau dia kenapa?" tutur Jenny lagi.


"Ha?" Alfiya lantas mendongak.


Jenny bersidekap. "Mbak tanya begini karena kamu pacarnya. Kalian kan selalu berdua setiap hari."


Hening sesaat!


Seketika semua orang yang ada disana berubah tegang, kecuali Delia yang menyadari suasana berubah lantas kebingungan.

__ADS_1


"Itu, em...." Alfiya tampak kikuk untuk menjawab.


Jenny kembali bertanya. "Itu apa? Dikampus dia baik-baik aja kan?"


"Jen...." Antoni berusaha mengalihkan pembicaraan.


"Kok kalian tegang semua sih?" Delia yang semakin aneh oleh perubahan suasana menatap orang-orang yang ada disana satu persatu.


"Em...." Antoni berdehem sejenak. "Mending kita makan sekarang aja yuk. Gue udah laper banget nih." lalu mendekati Jenny. "Yuk Jen...." merangkul gadis itu untuk pergi dari sana.


"Bentar gue belum selesai ngomong." Jenny berusa menolak ajakan Antoni.


Angga yang dari tadi memperhatikan situasi, menghela nafas sejenak. "Udah, ayuk...." masih menatap Elvan yang sedari tadi memberi isyarat mata padanya.


"Gimana kalau Elvan dan Alfiya kita ajak aja." Delia memberi usul tiba-tiba.


Angga menggeleng pelan pada Delia.


"Kenapa?" Delia memprotes.


"Nggak usah." Angga menggertak mendorong Delia menjauh yang masih dalam keadaan bingung. Ia lalu menatap Elvan sejenak menyunggingkan senyuman paham.


Huh, Alfiya bernafas lega. Akhirnya Jenny pergi juga dari hadapannya. Dia benar-benar tidak tahu harus bagaiman.


"Mas, gimana?" Alfiya mengigit bibirnya kaku.


"Tenang aja, jangan panik. Nggak usah terlalu dipikirin apa pun nanti yang akan terjadi saat semua orang tau tentang pernikahan kita. Mas akan berusaha lindungi kamu dari kemungkinan terburuk."


Mood Alfiya benar-benar berubah sejak bertemu Jenny tadi. Bagaimana tidak, wanita itu masih menganggap ia berpacaran dengan Joe, sementara Elvan ada di sampingnya. Gadis itu lalu mengusap kepalanya pelan. Perasaan bersalah itu tiba-tiba merasuk kembali, membuat jantungnya bedenyut.


Elvan nampak ya paham apa yang dirasakan Alfiya saat itu. "Fi...." ia lalu menggeser keranjang yang menghadang, lalu mendekati Alfiya.


"Jangan terlalu dipikirin." Menyentuh kedua bahu gadis itu. "Kita kan mau bulan madu, harus bahagia dong."


Huh, Alfiya berusah mengendalikan perasaannya saat itu. Ia lalu mendongak menghadapkan wajahnya pada Elvan.


"Iya, aku bakalan berusah buat gak mikirin itu.


"Termasuk memutuskan laki-laki itu."


Sesaat Alfiya menatap nanar. "Iya, aku juga akan berusaha...." Berusaha untuk memutuskan Joe, tentunya.


Tapi, apa bisa secepat itu?


*


*


*


*


Happy Reading, Ges!


Like, Vote, Komen plis!

__ADS_1


__ADS_2