
*
*
*
*
Alfiya sebenarnya tak ingin banyak memikirkan sesuatu saat itu. Ia ingin tenang, tanpa ada beban dikepalanya. Dan itu cukup bekerja setelah dua hari ini ia dirawat, cukup lama Alfiya tidak merasakan hatinya lapang. Wanita yang baru saja mengalami keguguran itu sebenarnya baru sadar kalau ia sudah lama tidak memikirkan dirinya sendiri, bagaimana perasannya dan juga dan apa yang ia inginkan.
Keguguran yang dialami membuat Alfiya sangat syok sebenarnya. Dimana ia baru tahu kalau dirinya hamil setelah janin itu tidak lagi tumbuh di perutnya. Kata dokter itu terjadi ia terlalu lelah, terlalu banyak pikiran dan juga janin kekurangan nutrisi. Iya, Alfiya memang sering terbangun di malam hari dan juga tidak ada nafsu makan beberapa minggu terkahir.
Jadi, begini rasanya kehilangan calon buah hati bahkan sebelum ia sempat menyadari kehadirannya.
Ia ingat beberapa waktu lalu ibu sakit karena kehilangan Anggita dan bapak juga terpukul. Serta Elvan dan juga Jio, semua orang kehilangan sosok Anggita. Termasuk dirinya sendiri, Alfiya juga sangat terpukul kehilangan sangat kakak.
Tapi, semenjak hari itu pula semua orang seolah marah padanya terutama ibu Ernika. Dan itu sangat menyakitkan.
Pada ranjang rumah sakit dengan nuansa ruangan berwarna putih. Ia terbaring lemas sembari menatap sebuah bunga segar yang diletakkan dalam sebuah pas bunga bening berisi air yang jernih. Kata seorang perawat yang selalu merawat nya bunga itu dari Elvan.
"Suami kamu terlihat sangat khawatir."
Jantung Alfiya akan selalu berdebar kencang tatkala bidan tersebut memberitahu hal itu padanya.
"Dia cemas sekali. Sepertinya dia sangat mencintai kamu sebagai istrinya."
Untuk kalimat satu itu entah kenapa Alfiya tidak yakin, ada denyut nyeri pada hatinya. Suatu rasa yang ingin Alfiya hindari adalah merasakan hatinya sakit lagi.
__ADS_1
Apa kah mungkin Elvan mencintainya? Alfiya tidak tahu. Karena ia belum pernah sekali pun mendengar kalimat itu dari mulut Elvan.
Yang Alfiya tahu mereka sudah hidup bersama sebagai suami istri, ia juga sudah menyerahkan diri seutuhnya kepada Elvan. Berusaha menjadi istri yang baik dan juga selalu mengurus Jio.
Alfiya menarik nafas sesak. Ia arahkan sebelah telapak tangannya pada perut lalu mengelus lembut. Sempat ada buah hatinya bersama Elvan bertumbuh disana, walau Alfiya tidak tahu, tapi ia dan Elvan hampir saja memiliki anak.
Kejadian ini membuat Alfiya kembali memikirkan kejadian waktu itu.
Semuanya berlalu begitu cepat, sejak hari dimana mereka memulai semua. Bagaimana saat itu Alfiya kebingungan dengan semua keputusan yang ia ambil. Dimana akhirnya ia terpaksa berani mengambil resiko untuk setuju menikah dengan Elvan atas permintaan kedua orangtuanya, yang mana saat itu ia sebenarnya masih menjalan hubungan dengan Joe.
Ia yang akhirnya terjebak dalam pilihan yang sulit, terpaksa harus membuat keputusan. Antara bertahan dengan Elvan untuk membahagiakan kedua orang tuanya serta merawat dan menjadi ibu bagi Anggian, atau memilih untuk bercerai dan memutuskan untuk terus bersama Joe.
Dimana saat itu dengan sekuat tenaga Alfiya melepaskan seluruh perasaan yang ia milik pada lelaki bernama Joshua Mahendrata dan berusaha untuk melupakan semuanya tentang mereka. Dan dengan sekuat tenaga pula ia berusaha untuk mengalihkan dan menumbuhkan perasaan cintanya pada Elvan.
Telah mengenal Elvan dari kecil membuat Alfiya tak ragu memutuskan untuk berusaha terus bersama laki-laki itu. Elvan adalah sosok pekerja keras yang sangat dibanggakan bapak dan ibu, sosok kebanggaan karena ia juga sangat baik dalam pendidikannya. Dan terkhir kali menjadi lulusan S2 dari sebuah universitas ternama, terkadang hal tersebut membuat ibu Ernika dan bapak Imran membandingkan Alfiya dan Elvan juga selain pada Anggita.
Alfiya sudah lama sadar akan hal itu, ia memang jarang atau bahkan tidak pernah dibanggakan oleh orang tuanya dalam hal apa pun yang ia kerjakan. Atau dirinya yang terlalu berlebihan?
"Kamu mana? Nggak pernah tuh ibu lihat di raport masuk ranking lima besar sekali pun."
Biasanya Alfiya akan langsung tertunduk diam atau pergi saja jika ibu sudah mulai membandingkan dirinya seperti itu. Ibu tidak tahu saja kalau ia sebenarnya sudah berusaha dengan keras, masuk 10 besar saja sebenarnya Alfiya sudah sangat senang. Tapi ternyata hasil yang ia dapat tidak sesuai dengan ekspetasi ibu. Bukan tanpa alasan, pelajaran yang disukai oleh Anggita biasanya tidak disukai oleh Alfiya.
Sementara itu setelah memutuskan untuk memilih Elvan, Alfiya mulai tidak mengingat lagi kenangan dirinya dan Joe. Ia mulai terbiasa menjalani peran sebagai ibu dan juga istri. Lelaki itu, Joe pasti akan mendapatkan seseorang yang lebih baiknya, Alfiya meyakininya.
Namun, hal itu nyatanya tidak mudah. Bayang-bayang Joe selalu ada. Setiap rangkai kata yang sudah Alfiya susun dikepalanya bahkan lembar demi lembar surat yang ia tulis hanya untuk mengatakan hubungan mereka harus berakhir tak pernah tersampaikan. Sekali lagi, setiap Alfiya hendak memberitahu mereka harus putus maka akan berakhir dengan perasaan tidak tega, Iya Alfiya belum memiliki kekuatan untuk melakukan itu.
Di dalam kebingungan itu akhirnya Alfiya memutuskan untuk memblock semua aksesnya pada Joe. Karena jujur hatinya tidak berani untuk menghadapi laki-laki itu.
__ADS_1
Sampai suatu ketika, semuanya terbongkar saat Joe datang bersama kedua orang tuanya dan Jenny untuk melamar. Alfiya seperti dihantam saat itu juga, ia merasa tertangkap basah melakukan kesalahan besar. Bagaimana Joe sangat terpukul dan kecewa, bahkan sebuah amarah yang belum pernah Alfiya lihat sebelumnya.
"Aku kesini bawa keluarga aku buat melamar kamu, Fi...."
Saat ingatan itu ada lagi, Alfiya tersentak. Ia segera menggeleng kuat. Kenapa ia harus memikirkan semua itu lagi.
Alfiya tanpa sadar terlalu berusaha mengeluarkan segenap tenaganya untuk menjaga perasaan beberapa orang. Dan tanpa wanita itu sadari pula hal tersebut sangat melelahkan, dan Alfiya akhirnya menyadari kalau ia tidak sanggup jika harus melakukan itu lagi.
Ditengah pikirannya yang masih melayang-layang, sepasang mata Alfiya menangkap seseorang seperti tengah berdebat dengan perawat dari kaca pintu ruangannya.
...****...
"Saya suaminya, saya tahu bagaimana istri saya." Jelas Elvan pada perawat tersebut. "Saya hanya ingin bertemu dia bu. Tolong saya belum melihat keadaannya sama sekali selama dua hari ini."
Perawat tersebut nampak menelisik. Menatap seksama lelaki yang tengah memohon dihadapannya. "Kalau kamu tahu bagaimana istrimu, lalu kenapa dia bisa tidak ingin bertemu semua orang bahkan suaminya sendiri."
Elvan menggeram dalam hati. Tidak mungkin ia harus menceritakan semuanya kepada perawat yang ia anggap kepo ini. "Tolong ada hal yang harus kami bicarakan." Ujar Elvan lagi. "Saya menyayanginya, tidak mungkin saya akan menyakiti istri saya sendiri."
Perawat wanita tersebut nampak berpikir sejenak. Hingga kemudian ia setuju. "Baik, tapi kalau nanti ada sesuatu yang buruk terjadi—"
"Saya pastikan tidak akan ada hal buruk terjadi." Sahut Elvan cepat berusaha meyakinkan dengan dada naik turun.
Perawat itu pun paham. Ia yang awalnya ragu bahkan tidak mengizinkan Elvan sama sekali untuk bertemu Alfiya akhirnya luluh juga.
Hingga kemudian pintu ruangan pun dibuka.
Elvan masuk dengan langkah perlahan kedalam ruangan, memperhatikan Alfiya yang saat itu juga tengah melihat kearahnya dengan kebingungan.
__ADS_1
Jantung laki-laki itu seketika berdenyut, ia merindukan istrinya.
...****...