DILEMA - Turun Ranjang

DILEMA - Turun Ranjang
Jelaskan, Menurut Kamu Aku Harus Bagaimana?


__ADS_3

****


Kaki Alfiya melangkah menyusuri jalan setapak sempit yang mungkin hanya bisa dilalui oleh motor. Suara bercak hujan mengikuti langkah kakinya yang bergetar. Ia terus menelusuri jalan walau tubuhnya semakin merasakan dingin. Matanya memandang nanar, pikirannya kosong.


Sesekali gadis itu mengerjap oleh terpaan air hujan. Hingga matanya berhasil menatap pada hamparan nisan, gundukan tanah yang berjejer rapi disana.


Pada salah satu gundukan tanah yang masih baru, mata Alfiya menangkap sosok laki-laki berpayung baru saja meletakkan satu buket bunga diatas sana. Sepertinya laki-laki itu selalu mengganti bunga-bunga tersebut setiap hari.


Saat laki-laki itu mulai melangkah menuju jalan yang ia pijaki. Gadis itu bersembunyi sejenak dibalik bangunan tua disampingnya.


Suara langkah kaki laki-laki itu terdengar bersama air yang sedikit memercik dari langkah sepatunya. Sepertinya Alfiya baru tahu, kalau Elvan setiap hari masih sering mengunjungi makam mendiang sang istri.


Setelah merasa Elvan melangkah lumayan jauh. Alfiya pun keluar dari persembunyiannya. Melangkah menuju tempat terbaringnya sosok kakak tercinta.


Alfiya bersimpuh dengan bertumpu pada lututnya. Dipandanginya bunga segar yang tertimpa air hujan itu. Lantas ia pun menengadah keatas menikmati air hujan yang jatuh diwajah. Setelah beberapa saat ia kembali menunduk menatap pusara dihadapannya.


Ingin mengadu, tapi untuk apa? Apa yang akan di adukan kepada sebuah kuburan yang telah menjadi tempat peristirahatan sang kakak tersebut.


Hanya satu kata yang terlintas dikepalanya saat ini 'rindu'.


Seketika Alfiya meneteskan air matanya yang kemudian mengalir bercampur berasamaan air hujan jatuh diatas tanah tersebut.


Mbak, aku rindu.


Ia mengelus batu nisan dengan nama 'Anggita Majarani' itu dengan pelan kemudian menyandarkan kepalanya disana.


Lama, sangat lama ia tersedu-sedu. Hingga gadis itu tak menyadari, kalau hari, sudah semakin gelap.


****


Sementara itu dirumah, Elvan tengah berdiri didepan pintu dengan harap-harap cemas. Hujan masih sama derasnya semenjak tadi sore. Sebuah nomor yang ia hubungi berkali-kali sedari tadi tidak ada jawaban. Pesan yang ia kirim pun tidak ada balasan.


Pikirannya gamang dan kalut. Alfiya belum juga pulang sementara hari sudah sangat gelap saat ini. Terbersit curiga dipikirannya, apa jangan-jangan Alfiya tersinggung akan ucapannya tadi pagi. Sehingga mungkin gadis itu enggan untuk pulang.


Apa itu artinya kamu ada keinginan untuk tidak melakukan perceraian?


Ah, rasanya Elvan menyesal menanyakan hal tersebut. Bahkan gadis itu tidak menjawab sama sekali pertanyaan yang ia lontarkan tanpa pikir panjang tersebut.


Lagi, Elvan berusahan untuk menghubungi Alfiya melalui ponselnya dengan penuh harap. Sembari menunggu, laki-laki itu mendesah karena saking khawatirnya.


Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif....


Lagi ia hubungi kembali nomor tersebut, dan hasilnya tetap sama.


Ck, laki-laki itu berdecak kesal. Dimana Alfiya sekarang? Kenapa gadis itu belum juga pulang. Ia lantas mengusap wajahnya kasar.


Tiba-tiba ia ingat akan seseorang, jangan-jangan Alfiya sedang bersama laki-laki itu. Laki-laki yang entah kenapa ia tidak ingin menyebutkan namanya sekarang.


Menurut Elvan, laki-laki tersebut seharusnya sudah menjadi sosok orang lain dalam kehidupan Alfiya saat ini. Membayangkan Alfiya yang masih saja berhubungan dengan sosok tersebut membuat Elvan merasa dirinya benar-benar direndahkan. Ia merasa seakan dirinyalah seolah-olah yang menjadi sosok lain dikehidupan Alfiya.

__ADS_1


Akhirnya tanpa berpikir panjang Elvan pun bergegas hendak menelepon Rian untuk menyuruh adiknya itu untuk menjaga Anggian dirumah sementara dirinya berencana untuk mencari Alfiya.


Namun, belum sempat ia menghubungi sang adik. Seketika ia menoleh kearah pintu saat sebuah bayangan tiba-tiba melintas dihadapannya.


Pemilik bayangan itu nampak basah kuyup oleh guyuran air hujan. Terlihat pucat dan kedinginan.


Elvan lantas menurunkan ponselnya keatas meja. Laki-laki itu lalu bergegas menghampiri Alfiya.


Ia menatap Alfiya penuh keterkejutan. "Fi, kamu dari mana?"


Alfiya masih diam dengan tubuh yang menggigil. "Aku, masuk dulu mas." Setelah itu ia lantas berlalu bahkan tanpa menatap Elvan sedikit pun.


****


Beberapa saat kemudian, Elvan yang tengah membawa segelas teh hangat bergegas menghampiri Alfiya didalam kamarnya. Ia rasa gadis itu sudah selesai membersihkan diri sekarang.


"Fi...." panggilnya dari luar kamar.


"Fiya.... mas bisa masuk?"


Menunggu sesaat, tak berapa lama pintu kamar Alfiya pun terbuka. Dilihatnya gadis itu masih menampakkan raut wajah yang sama seperti saat ia baru sampai rumah tadi. Rambut basahnya tergerai menjuntai.


"Mas, bawa teh buat kamu."


"Iya. Terimakasih mas." Lirihnya pelan, mengambil teh tersebut, kemudian berjalan menuju ranjang.


Alfiya yang tengah berjalan terlihat berhenti sejenak seolah berpikir, kemudian mengangguk. Ia meletakkan teh diatas nakas kemudian duduk disisi ranjang.


Elvan mengikuti Alfiya, ia perhatikan gadis yang terlihat lesu tersebut. Wajahnya sayu dan pucat, menatap kebawah seperti tidak menghiraukan Elvan yang berdiri disana.


"Fi, makan dulu ya." tawar Elvan. "Kamu baru pulang dengan keadaan bahas karena hujan."


Alfiya menggeleng pelan. "Aku mau tidur." perlahan ia mulai berbaring sementara Elvan masih memperhatikannya.


Untuk sesaat suara derasnya hujan masih mengambil alih keheningan disana.


Alfiya berbaring sembari membelakangi Elvan dengan tubuh yang terbalut selimut. Ia masih bungkam, walau tahu Elvan masih berdiri disana dengan kebingungan serta pertanyaan-pertanyaan yang mengisi kepala.


Melihat Alfiya yang seperti tidak ingin diganggu, laki-laki itu lantas memutar tubuhnya hendak keluar dari ruangan tersebut.


"Kamu istirahat dulu, nanti kalau ada apa-apa bisa panggil mas." ujar Elvan. Kemudian memulai langkahnya.


"Mas...."


Suara Alfiya yang tiba-tiba memanggilnya dengan sengau menghentikan langkah Elvan dengan mendadak. Membuat jantungnya berdenyut seketika oleh suara itu.


"Hmmm...." ujarnya kemudian menoleh menatap Alfiya yang masih membelakanginya.


"Jadi, kalau kita berpisah. Mas, akan benar-benar membawa Gian pergi jauh."

__ADS_1


"Hmm...." jawab Elvan singkat. Agaknya ia kurang suka dengan pembahasan tersebut. Ucapan itu mulai ia hubungkan dengan pertanyaan ia pada gadis itu tadi pagi. Tentang apakah Alfiya memang tersinggung akan ucapan itu.


"Terus...." suara sengau Alfiya kembali terdengar, sangat jelas sekali kalau gadis itu tengah menahan tangisnya.


Dan, Elvan menunggu kelanjutan ucapan selanjutnya. Hingga langkah kakinya tergerak untuk mendekat. Ia dapat melihat tubuh Alfiya yang semakin bergetar.


"Fi, kalau pertanyaan mas tadi pagi menganggu kamu. Mas.... minta maaf."


Alfiya lantas menggeleng pelan. Seolah ia memang tidak ada masalah dengan pertanyaan Elvan tadi pagi.


"Mas, tadi cuma...." Entahlah Elvan juga tidak mengerti kenapa ia tiba-tiba menanyakan hal tersebut.


"Mas...." gadis itu kembali terisak memanggil Elvan dengan sendu. Membuat laki-laki itu semakin terpanggil untuk mendekatinya hingga mendudukan diri diatas ranjang.


"Kalau mas pergi jauh, nanti siapa yang membawakan mbak Gita bunga?"


Kali ini ucapan Alfiya tersebut mampu membuat Elvan termangu. Kenapa? Maksudnya kenapa sekarang Alfiya menghubungkan itu dengan Anggita.


"Mas, mau bikin mbak Gita sedih?" kini ia berbicara dengan suara terisak dan tertahan.


Pada kenyataanya Elvan merasa kalau gadis itu yang terlihat lebih sedih saat ini. Ada apa? Elvan semakin tidak mengerti dengan perubahan sikap Alfiya. Untuk apa dia memikirkan perasaan seseorang yang telah tiada.


Hingga oleh kebingungan itu, tiba-tiba ada keinginan dalam dirinya untuk merengkuh Alfiya dalam pelukannya saat ini.


Pelan, namun pasti. Oleh perasaan yang semakin ingin itu, Elvan pun menaikkan kakinya dan mendekati Alfiya. Maka, tanpa ragu lagi ia masukkan tangannya kebawah leher lalu berusaha untuk menghadapkan Alfiya kearahnya dengan cepat.


"Mas!" ujarnya nampak terkejut. Dengan kedua tangan berada didepan dadanya seolah tengah menahan dirinya untuk lebih dekat dengan Elvan.


Raut wajah Elvan tampak tidak bisa dijelaskan saat itu. Namun, sorot matanya tengah menatap dalam wajah gadis yang ada dihadapannya itu.


"Jadi mas harus bagaimana?" lirih Elvan kemudian. "Mas, harus bagaimana Alfiya?" ujarnya menekan.


Ha?


Alfiya termangu untuk beberapa saat. Namun, seketika ia gelagapan oleh tatapan Elvan yang semakin menuntut.


"M-maksudnya?" Ujar Alfiya refleks.


"Jadi menurut kamu, mas, harus bagaimana, Alfiya?" kembali Elvan melontarkan pertanyaan berulang, matanya menaruh tatapan menuntut pada gadis itu. "Jelaskan, mas harus bagaimana menurut kamu sekarang?"


*


*


*


*


Happy Reading! Semoga kalian suka! Jangan lupa Like, Vote komen untuk Author!! 😘

__ADS_1


__ADS_2