DILEMA - Turun Ranjang

DILEMA - Turun Ranjang
Season 2 [Darah! ]


__ADS_3

*


*


*


*


Sudah dua minggu berlalu sejak Alfiya memutuskan untuk terus mengunjungi Joe, dan itu pun tanpa sepengetahuan Elvan. Namun begitu Alfiya juga tetap menjalankan semua perannya, mengurus Anggian dan juga melaksanakan tugas sebagai istri.


Akan tetapi juga, siam-diam Elvan mulai sadar dan memperhatikan ada yang aneh dari sikap Alfiya beberapa hari belakangan ini. Istrinya tersebut lebih banyak diam, bahkan berbicara dan menjawab perkataan laki-laki itu pun hanya seadanya.


Kecuali kepada Anggian, Alfiya masih selalu memperhatikan anak itu dengan sangat baik seperti biasanya.


"Kamu Kenpa Fi?" Tanya Elvan yang kala itu menunggu di meja makan ketika Alfiya tengah sibuk menyiapkan sarapan pagi.


Tetapi, pertanyaan Elvan tak ada sahutan. Ia perhatikan Alfiya masih sibuk memindahkan lauk dari wajan ke dalam piring.


"Fi!" Seru Elvan kembali.


Namun Alfiya masih tak meresponnya. "Afiya!!" Suara Elvan pun akhirnya meninggi.


Terkejut dengan ucapan Elvan. Alfiya lantas menoleh dengan lemas. Hingga ia pun bertatapan dengan wajah Aang suami.


"Iya mas?" Agaknya wanita itu tidak terlalu fokus.


"Kamu kecapean? Atau ada sesuatu yang ganggu pikiran kamu?" Tanya Elvan cemas.


Dari sorot mata dan raut wajahnya nampak sekali kalau Alfiya tertegun akan pertanyaan suaminya. Ia lalu menggeleng pelan.


"Mas tadi bilang apa?" Ia kembali memastikan pertanyaan Elvan. "Aku lupa."


Hal itu membuat Elvan bingung, ia lalu berdiri dan menghampiri Alfiya. Dan saat tubuhnya sudah berada di dekat sangat istri. "Kamu sakit?" Lalu tangannya merasai kening wanita itu.


Lagi, Alfiya menanggapi ucapan itu dengan gelengan hambar. "Cuma meriang aja kok mas."


"Tapi badan kamu panas." Jelas Elvan sembari tangannya kembali merasa kedua pipi Alfiya.


Elvan perhatikan lagi Alfiya dengan seksama. Apa ada sesuatu yang menganggunya? Ia lalu menarik tangan Alfiya dan membawanya duduk pada kursi.


"Mas...." Tutur Alfiya bingung atas perlakuan suaminya.


"Istirahat dulu ya." Ujar Elvan sembari mengambilkan segelas air. "Nih kamu minum."


Menanggapi perlakuan itu Alfiya pun mengangguk pelan. Ia langsung membuka mulut dan meminum air yang disodorkan sang suami.


Setelahnya Elvan meletakkan kembali gelas tersebut keatas meja. Diperhatikannya lagi raut wajah Alfiya yang berkeringat. Lantas merapikan anak rambut sang istri yang berantakan.


Keringat Alfiya dingin! Elvan merasakan itu ditangan.


"Udah mas, aku gak apa-apa." Tutur Alfiya.


Elvan terdiam. "Kita ke dokter."


Alfiya menggeleng pelan. "Mas nggak usah, paling nanti panasnya juga hilang. Nanti biar aku sendiri yang beli obat di apotek." Ujarnya agar Elvan tenang. Bisa saja dia akan datang bulan, mengingat sejak kemarin Alfiya terus menerus mengeluarkan flek.


Setelah itu Alfiya kemudian mendekatkan piring berisi makanan pada Elvan.


"Mas, makan dulu." Tutur Alfiya pelan. "Nanti mas telat kerjanya."


Elvan memperhatikan Alfiya dengan seksama, sepertinya lelaki itu masih khawatir.


"Bekalnya juga udah aku siapin. Nanti jangan lupa diabisin ya."


Elvan mengangguk penuh arti. Ia pandangi lagi raut wajah Alfiya, rasanya ada sesuatu yang aneh. Tapi apa, Elvan berusaha menyadarinya.


Sementara Alfiya masih diam di tempat duduk, Elvan kemudian meraih sendok untuk menyuap nasi dari piring.


"Mau sarapan sama mas?" Tawar Elvan. "Sepiring berdua?Atau mas suapin." Lalu ucapan itu diakhiri dengan senyum.

__ADS_1


Alfiya juga menanggapinya dengan senyum tipis. "Nggak usah mas. Aku belum laper. Mas makan dulu aja."


"Ya udah kalau gitu. Mas makan ya." Ucapan itu ditanggapi anggukan oleh Alfiya. Dan Elvan pun mulai menyuap makanan.


Dan saat suapan tersebut mulai ia kunyah di dalam mulut Elvan tersentak dan kunyahannya pun terhenti.


Rasanya aneh!


"Enak kan?" Tanya Alfiya memastikan.


Menoleh ke arah Afliya sejenak, Elvan kemudian mengangguk dan tersenyum. "Iya enak."


"Syukurlah kalau enak. Tadi lidah aku pahit, jadi pas nyicip gak tau rasanya enak apa enggak." Jelas Alfiya. "Kalau gitu mas habisin makanannya ya."


Elvan mengangguk kembali, ia sepertinya tidak memperdulikan bagaimana rasa makanan yang masuk ke dalam mulutnya. Makanan itu terus dikunyah dan ia telan sampai makanan pada piring habis. Namun kembali Elvan menyadari sesuatu, karena selama makan ia sesekali menoleh ke arah Alfiya yang kemudian ia perhatikan selalu melamun dengan tatapan kosong.


...****...


Alfiya tidak menghitungnya, sudah berapa kali dirinya datang ke tempat ini hanya untuk mengunjungi seseorang. Benar, Joe masih dirawat karena masih dalam masa pemulihan untuk mentalnya. Cukup lama rupanya. Tapi menurut keterangan dokter keadaan Joe sudah jauh lebih baik.


Bahkan kemungkinan Joe sudah bisa pulang ke rumah.


Mata Alfiya kemudian mencari sosok seseorang sembari menenteng tas berisi kotak makanan.


Kakinya melangkah secara perlahan, menghirup udara yang beraromakan obat-obatan.


Hingga kemudian langkahnya terhenti. Bibirnya menyunggingkan senyum tipis, ia menghela nafas sejenak.


Joe tengah melukis rupanya.


Seperti menyadari kedatangan Alfiya, Joe pun segera meletakkan kuas yang dipegang. Lalu menoleh kebelakang dan menyunggingkan senyum.


"Gambarnya bagus." Puji Alfiya saat Joe melihat kearahnya.


"Cantik, kan." Balas Joe.


Alfiya menggangguk pelan. "Iya cantik." Ia kembali merasakan jantungnya berdenyut nyeri.


Lelaki yang keadaannya sudah lebih baik dari pertama kali Alfiya datang itu kemudian mengambil kain untuk membersihkan tangan.


Setelah sejenak memandangi lukisan Joe, Alfiya kemudian menoleh ke arah Joe yang masih sibuk membersihkan tangan. "Aku bawa makanan buat kamu." lirihnya pelan.


Joe tersenyum memandangi paper bag berisi kotak makanan ditangan Alfiya. Lalu ia perhatikan gadis itu berjalan menuju sofa, mendudukan tubuh dan mengeluarkan kotak makanan dari dalam paper bag.


Sementara Joe tengah mencuci tangan pada wastafel, Alfiya menyiapkan makanan diatas meja. Membuka kotak makanan yang ia bawa satu persatu.


Setelah merasa tangannya bersih Joe kemudian mendekat, mereka lalu duduk berhadapan.


"Ini semua kamu lagi yang masak?" Tanya Joe.


Dan Alfiya hanya mengangguk dalam diam yang tak dimengerti.


"Aku coba ya." Lalu Joe mengambil garpu untuk mencoba perkedel yang tersedia dan memasukkan dalam mulut.


Tiba-tiba saat baru saja mengunyah Joe menghentikan itu dan mengernyit..


"Kenapa?" Tanya Alfiya.


Laki-laki itu mengerutkan kening. "Kamu masak kebanyakan bumbu ya."


Alfiya menganga kaget. "Ha? Nggak, aku udah takar kok bumbunya." Iya, seingat Alfiya begitu.


Joe langsung buru-buru menelan makanan tersebut dengan kelu. Rasanya aneh.


"Coba kamu makan telur gulungnya." Pinta Alfiya lagi.


Masih merasakan rasa yang tidak enak pada lidah Joe pun menuruti. Mungkin dengan makan telur gulung ini lidahnya bisa lebih baik.


Dan, saat telur itu masuk kedalam mulut, kunyahan Joe kembali terhenti. "Fi, kok ini rasanya kemanisan." Laki-laki itu lalu meletakkan garpu dan bergegas menuju wastafel untuk memuntahkan makanan dalam mulutnya.

__ADS_1


Alfiya termangu sembari memperhatikan Joe. "Tadi mas Elvan bilang rasanya enak." Lirihnya pelan.


...****...


Alfiya memejamkan mata dalam saat baru keluar dari ruangan Joe untuk pulang. Kepalanya terasa amat sangat pusing. Bahkan ia beberapa kali menunduk karena tidak bisa menahannya. Badannya meriang dan perutnya pun juga terasa amat sangat nyeri dan sakit.


"Alfiya."


Sembari menunduk dan memegangi perut Alfiya mendongak. Untuk melihat siapa yang memanggil.


"Mbak Jenny." Berusaha tersenyum dibalik wajahnya yang pucat.


"Kamu kenapa?" Jenny menghampiri cemas karena melihat Alfiya terus membungkuk seperti menahan sakit diperut.


Menanggapi itu Alfiya semakin menunduk tak berdaya. "Mbak kepala aku pusing...." Lalu paper bag yang ia pegang disebelah tangannya lagi terjatuh seketika pada lantai.


Jenny menyentuh kening Alfiya sembari manahan bahunya. "Alfiya." Tatapan mata Jenny tak sengaja melihat kearah celana Alfiya. Kelopak matanya melebar.


Astaga, darah!


Alfiya kenapa?


Dan tiba-tiba pintu ruangan Joe kembali terbuka. Lelaki itu tadi rupanya sempat melihat bercak darah pada bekas duduk Alfiya di sofa yang kemudian membuatnya menyusul karena cemas.


"Mbak, Alfiya kenapa?" Joe menghampiri khawatir.


"Joe tolong pegang Alfiya. Mbak harus hubungi Elvan."


Menyambar Alfiya dari Jenny, Joe langsung menggeleng. "Nggak usah, mbak nggak usah hubungi dia."


"Sakit...." Alfiya tiba-tiba kembali merintih. "Perut aku sakit."


"Sabar ya Alfiya, mbak akan hubungi suami kamu." Tutur Jenny sembari mengeluarkan ponselnya.


"Mbak!" Sentak Joe tiba-tiba. "Biar aku yang urus Alfiya.


Jenny lantas melotot dan menggeram. "Joe, kamu harus sadar Alfiya sekarang istri orang." Tuturnya memberi pengertian.


Joe menyunggingkan bibir. "Istri? Jelas-jelas dia merebut Alfiya dari aku."


Jenny tak menggubris ucapan Joe. Ia langsung mencari nomor Elvan pada ponsel. "Kamu jangan ajak mbak berdebat sekarang ini, seharusnya kamu mengerti siapa yang lebih berhak atas Alfiya."


Sementara itu darah yang mengalir semakin jelas terlihat pada celana Alfiya hingga merembes melewati kaki hingga mengalir pada lantai. Alfiya sudah tidak tahan lagi, wanita itu Terus merintih dengan suara kesakitan.


"Fi, aku akan bawa kamu ke dokter." Ujar Joe. "Mbak sini kunci mobil." Tuturnya kemudian pada Jenny yang sedang berusaha menghubungi Elvan.


Sementara itu Jenny tak menghiraukan ucapan sang adik. "Ayo Elvan angkat." Tuturnya cemas.


Dan akhirnya Alfiya pun benar-benar pingsan.


Ya Tuhan, Jenny bertambah takut. Jangan sampai terjadi apa-apa pada gadis ini.


Joe langsung mengangkat tubuh Alfiya dan menggendongnya. "Mbak cepat." Tuturnya sembari berjalan. "Kita harus bawa Alfiya ke rumah sakit."


Merasa tak ada waktu lagi Jenny pun mengiyakan, ia pun berjalan setengah berlari mengikuti sang adik menuju mobil sembari menunggu jawaban seseorang dari ponselnya.


Sampai akhirnya Jenny pun memutuskan mengirim sebuah pesan.


[Elvan: El, Alfiya pingsan. Dia pendarahan.]


Dan pesan pun terkirim.


...****...


...Tim Elvan apa tim Joeshua nih? ...


...Kira-kira nanti pas ending Alfiya baiknya balik lagi sama Joe atau tetap sama Elvan?...


...Tapi kata Najwa Shihab kenapa harus memilih kalau bisa sama dua-duanya😜. [Becanda ✌ jangan dianggap serius amat plis]...

__ADS_1


Follow akun aku buat yang punya ig @riaria_pertiwi. Siapa tau kepo sama cerita aku yang lainnya.


__ADS_2