DILEMA - Turun Ranjang

DILEMA - Turun Ranjang
Honey Moon 1


__ADS_3

****


Alfiya bergegas menuju kamar mandi setelah tadi ia sempat mengambil peralatan mandinya dari dalam koper. Gadis itu sangat-sangat gugup saat ini. Padahal sebelumnya mereka hampir beberapa kali melakukan. Namun, karena ini bulan madu dan juga yang pertama baginya jadi Alfiya pikir dirinya harus mempersiapkan diri dengan sebaik mungkin.


Ia mengguyur seluruh tubuhnya dengan air hangat, karena jujur saja tadi setelah menghabiskan waktu di pantai selama berjam-jam suhu tubuhnya sangat rendah.


Alfiya memakai sabun wangi sebanyak-banyaknya. Lalu shampo untuk rambutnya yang lurus nan lembut. Gadis itu membersihkan seluruh bagian tubuhnya dengan teliti namun cepat dan buru-buru. Pikirkan saja mungkin Elvan sudah menunggu dengan tidak sabar saat ini.


Selesai mandi Alfiya tak lupa untuk mematut diri dahulu di cermin takut-takut ada bisa yang masih menempel di bagian wajahnya. Setelah memakai handuk dan merasa cukup gadis itu pun kemudian bergegas keluar.


"Mas...." Panggilnya sesaat setelah pintu kamar terbuka.


"Mas, Elvan...." Pandangan Alfiya tertuju pada ranjang.


Elvan tidak ada, kemana dia?


Seketika saat hati itu tengah bertanya-tanya dimanakah gerangan berada. Sosok itu oun terlihat di balik pintu kamar yang terbuka. Seterusnya Alfiya melihat adalah Elvan mempersilahkan pelayan hotel yang membawa nampan yang berisikan makanan dan minuman untuk masuk.


Pegawai hotel itu masuk kedalam kamar dengan menunduk. Ingatkan saja disana ada seorang wanita yang hanya melilit tubuhnya dengan handuk diatas lutut, sementara suaminya sedang berdiri diambang pintu.


Setelah meletakkan makanan dan minuman di atas meja. Kedua pelayan hotel itu pun pamit undur diri.


Elvan segera menutup pintu kamar, setelah memutar tubuh ia lalu berjalan mendekati istrinya. Istrinya yang cantik nan segar dengan wangi khas shampo dan sabun mandi yang menusuk indera penciuman.


Alfiya terdiam berdiri kaku saat Elvan mendekat kearahnya.


"Makan dulu ya...." ujar Elvan sembari merangkul Alfiya yang mengerjap oleh tertegun untuk duduk di sofa.


"Makan mas?" Alfiya memastikan kembali.


"Fi, kamu belum makan dari kita baru sampai tadi, kan?"


Gadis itu mengangguk, terlihat tetesan air mengalir dari rambut basahnya yang terbungkus handuk.


Elvan tersenyum, membuat Alfiya malah termangu bingung. Gadis itu pikir setelah ia mandi Elvan akan segera menyentuhnya dengan segera seperti difilm-film. Padahal ia sudah sangat buru-buru takut Elvan menunggu, tapi laki-laki itu malah menyuruhnya makan.


"Mas nggak makan?" Tanya Alfiya.


Elvan lalu mencubit hidung Alfiya pelan. "Mas kenyang, kamu aja yang makan."

__ADS_1


"Terus mas mau ngapain. Cuma liatin aku aja gitu?"


"Mas mau mandi...." Lalu beranjak dari duduknya sembari membuka satu persatu kancing kemejanya. "Makanannya abisin ya, kamu harus isi tenaga buat nanti." tersenyum penuh arti lalu bergegas meninggalkan Alfiya yang terduduk disofa menuju kamar mandi.


Alfiya tidak terlalu memikirkan kalimat terakhir yang Elvan ucapkan, kini ia malah mengambil piring yang berisi makanan tersebut dan menyuapkan ke dalam mulutnya.


Enak,


Ternyata ia lapar rupanya. Bergegas Alfiya pun kembali melahap makanan tersebut.


****


Jantung Alfiya beregup kencang. Ia tatap dari atas sampai bawah sosok yang baru keluar dari kamar mandi yang berjalan mendekat kearahnya itu. Ia bertelanjang dada dengan tubuh bagian bawah ditutupi handuk.


Senyumnya, rambutnya yang masih basah tak luput dari perhatiannya.


"Udah makannya?" Tanya Elvan lalu duduk berjongkok dihadapan Alfiya sembari menatap piring yang sudah bersih itu.


"Mas bisa lihat sendiri...." jawabnya kemudian.


Elvan kembali mengulas senyum. Ia kemudian sedikit beranjak lalu kedua tangannya pun tergerak untuk mengangkat gadis yang tengah duduk itu.


Ia memandang gadis di bawahnya dengan senyumannya yang terlihat, manis, cantik dan lucu. Kakinya yang masih berpijak dilantai pun ia naikkan, hingga terduduk diatas ranjang. Matanya masih tak lepas memandang sembari tangannya mengelus rambut Alfiya pelan.


Sementara itu dengan segenap rasa gugup yang ada, sembari mendongak Alfiya berusaha membalas senyuman yang terukir indah diatasnya. Terlihat menenangkan, jauh berbeda dari saat mereka berdebat tadi.


Benar-benar menaikkan kakinya keatas ranjang, Elvan kemudian berusaha membaringkan diri dengan posisi miring, menopang tubuh dengan sebelah sikunya untuk menghadap Alfiya.


Ditatapnya Alfiya dalam-dalam. Ia tahu gadis yang ada disampingnya itu tengah gugup setengah mati. Dan, Elvan tak ingin gegabah untuk memulai aksinya.


"Fiya...." ia memanggil dengan merdu.


Mata Alfiya melebar merespon itu. "Iya, mas...."


Sembari meletakkan telapak tangannya yang berada disisi sebelah. Elvan terlihat melepas nafasnya sejenak. "Mas boleh tanya sekali lagi...." tanyanya sembari mengelus pipi Alfiya dengan lembut.


Gadis yang tak melepas tatapan pada sosok itu menjawab kaku dengan deguban jantung yang tiada menentu. "Apa?"


Mengecup kening istrinya sekilas. Lalu menatap sejenak. "Atas dasar apa kamu akhirnya benar-benar mau menerima mas sebagai suami?"

__ADS_1


Alfiya memandang nanar, jantungnya semakin berdegun tak menentu. Ia kemudian juga memiringkan tubuhnya untuk menghadap Elvan.


"Bukannya jawaban aku udah jelas beberapa kali, kalau aku cinta kam-"


Elvan menyambar dengan cepat. "Selain itu?"


Alfiya terdiam sejenak, seolah berpikir. Matanya mengerling kesana kemari mempersiapkan jawaban.


"Mas...." Ujarnya menatap dalam.


"Hem?"


Terdengar helaan nafas sejenak. Lalu Alfiya mulai berkata pelan. "Seiring pernikahan kita berjalan-" Gadis itu mulai mengenang. "Aku yang awalnya menolak perlahan-lahan menyadari bahwa saat pernikahan berarti kita sudah melakukan perjanjian, bukan hanya di hadapan orangtua dan saksi saja, tetapi aku dan juga mas telah berjanji kepada Tuhan untuk membina keluarga."


Kesejukan merasuki relung hati Elvan, ia tertegun mendengar perkataan itu, ada keharuan yang tiba-tiba menguasainya. Matanya berkaca-kaca, ia tidak menyangka bahwa Alfiya bisa berpikir sampai kesana.


"Dimana, mas telah berjanji akan membimbing aku sebagai istri, melindungi dan akan terus memberikan kasih sayang...." Berhenti sejenak dan tersengal, Alfiya tiba-tiba terharu oleh ucapannya sendiri. "Begitu pula sebaliknya dengan aku, sebagai seorang istri aku sudah berjanji untuk mengabdi dan melayani mas sebagai suami...." Alfiya masih tersengal oleh begitu dalam ucapannya saat ini. "Aku sadar kalau pernikahan itu suci dan sakral yang sepatutnya tidak boleh di permainkan, aku takut mempermainkan janji yang telah lakukan dihadapan tuhan, mas."


Elvan sampai memejamkan karena saking merasuknya perkataan itu ke dalam relung hatinya yang paling dalam. Seorang Alfiya yang sempat menolaknya sebagai suami, seorang Alfiya yang dulu berkata masih mencintai kekasihnya, kini telah memandang berbeda dan menerima akan pernikahan yang awalnya karena terpaksa itu.


Laki-laki itu lalu mendekatkan wajah mereka. "Jadi, kamu mau menjalani kehidupan ini berasama mas untuk seterusnya."


Gadis itu mengangguk.


"Kita akan hidup bersama mengarungi biduk rumah tangga sampai hari tua, kamu akan menjadi ibu untuk Gian hingga selamanya, kamu mau?"


Alfiya pun mengangguk kembali.


Elvan benar-benar tak bisa membendung perasaannya. Ia percaya apa yang Afiya katakan , bahkan mata gadis itu terlihat sangat tulus saat menatapnya.


Ya Tuhan,


Elvan kemudian meraih tubuh gadis itu dan memeluknya dengan erat. Tak henti-henti ia mencium puncak kepalanya, keningnya, pipi dan juga bibirnya.


"Mas gak tau lagi mau ngomong apa-" Elvan lalu menghela nafas. "Yang jelas terimakasih Alfiya, mas menyayangi kamu, sangat, sangat menyayangi...."


Ada perasaan lega yang menyelimuti Elvan saat itu.


......................

__ADS_1


...Happy Reading!...


__ADS_2