DILEMA - Turun Ranjang

DILEMA - Turun Ranjang
Season 2 [Alfiya: Aku Seorang Ibu Joe]


__ADS_3

...BAB 71...


...ALFIYA: AKU SEORANG IBU JOE...


*


*


*


*


Alfiya masih terdiam, menatap Joe yang saat itu tengah memberikan sorot mata menuntut serta ada penekanan kuat disana. Wanita itu benar-benar cemas karena tentu saja Joe bisa melakukan apa pun saat ini termasuk membuat kegaduhan yang lebih besar, itu yang Alfiya takutkan.


Sementara itu Elvan masih berusaha untuk menarik tangan sang istri agar menjauh,  menggenggam erat tangan Alfiya agar gadis itu lekas pergi dari sana.


Namun, Alfiya masih terpaku ditempat seolah tertahan walau sang suami berusaha menjauhkan dengan menarik tangannya kuat. Ia belum bisa melangkahkan kakinya mundur, apalagi Joe seperti semakin menampakkan raut wajah menunggu jawaban dan tanggapan atas sebuah pertanyaan kenapa Alfiya tidak bisa kembali lagi padanya. Sehingga membuat Alfiya merasa bertanggungjawab dengan apa yang tengah laki-laki itu alami saat ini.


"Apa karena ada yang nggak aku kasih ke kamu? Sampai-sampai kamu lebih pilih dia dari pada aku." Mata Joe masih menindas wanita dihadapannya.


"Apa maksud kamu?" Lirih Alfiya dengan mata semakin berkaca-kaca tanpa kedip.


Joe menghela nafas panjang, ia memalingkan wajah sejenak dari Alfiya seolah berpikir. Lalu ia hadapkan lagi wajahnya pada wanita itu dengan datar dan tatapan dingin.


"Yang belum kamu dapat dari aku." Joe menjeda ucapnya sejenak. Ia lalu lebih mendekatkan wajahnya pada Alfiya, sudut bibirnya tertarik sinis.


"Fi, ayo. Kita pulang, nuruti sama mas." Hal itu membuat Elvan menarik tangan Alfiya hingga mundur selangkah kebelakang.

__ADS_1


Namun tiba-tiba Joe segera mengucapkan apa maksudnya menghentikan untuk gerakan Elvan yang berusaha menarik Alfiya pergi.


"Kehangatan diatas ranjang." Sudut bibir Joe pun naik. "Itu kan yang bikin kamu bertahan sama dia." Tidak perduli semua orang tengah menjadikan mereka tontonan.


Mendengar perkataan tersebut dada Alfiya berdentam kuat. Ia tersengal dengan dada naik turun bergemuruh panas.


"Sudah Fi, ayo." Ujar Elvan berbisik cemas. Ia tidak ingin ada keributan lebih disini, apalagi jika itu melibatkan Alfiya. "Nurut sama mas sekarang!" Suaranya pun sengaja ia tinggikan hingga menggema pada ruangan. Iya, Elvan terpaksa melakukan itu agar Alfiya mau mendengarnya dan pergi dari sana.


Namun kembali Joe tak ingin Elvan mengambil alih suasana yang sudah ia ciptakan begitu tegang itu. "Jadi cuma sebatas itu cinta kamu, hanya dengan sebuah kehangatan diatas ranjang kamu langsung berpaling dari aku Fiya." Joe seperti tak puas untuk membuat dada Alfiya bergemuruh.


"Fi,  sudah." Tekan Elvan kembali.


Alfiya berusaha menghentikan Elvan yang terus membujuknya untuk berhenti. Lalu ia tarik tangannya dari genggaman Elvan.


"Enak? Iya?" Ujar Joe kembali.


Joe kemudian tersenyum tipis, apalagi saat itu Alfiya belum juga menjawab. "Kalau soal itu aku bisa kasih ke kamu, Fi. Kenapa kamu nggak minta dari dulu kalau itu maunya." Ia tatap wajah memerah Alfiya dengan seksama, bahkan air mata yang sudah menggenang itu pun tak Joe perdulikan. Sakit kan rasanya, Iya memang kenyataannya Joe sengaja membuat Alfiya sakit hati saat ini. 


Tak tahan Elvan lantas merangkul Alfiya ke dalam pelukan. "Kita pulang sekarang."


"Apa alasannya Alfiya!!" Nyatanya perilaku yang diberikan Elvan pada Alfiya saat itu membuat Joe menyentak kuat.


"Bentar mas." Ujar Alfiya dengan suara tersendat.


"Biar nanti mas yang bicara sama dia." Jelas Elvan. Ia lalu memejamkan mata kuat. "Tolong, mas nggak mau kamu sakit lagi. Pulang sekarang sayang." Tatap Elvan memohon. Ia bukan tidak ingin memberikan pelajaran ndada Joe saat itu. Maksudnya tidak didepan Alfiya. "Please, nurut sama mas Fi."


Sementara itu dengan wajah datar Joe memperhatikan apa yang terjadi dihadapannya. Ia kemudian berjalan mendekati Alfiya dan Elvan.

__ADS_1


"Jadi, karena kamu nggak bilang alasannya. Aku akan bisa menyimpulkan kalau penyebab kamu ninggalin aku karena udah disentuh sama dia—"


"Aku sekarang seorang ibu Joe." Alfiya menoleh dengan cepat dan  seketika memotong ucapan Joe.  Ia tersengal dengan air mata yang menetes, iya genangan tertahan tadi tak bisa dibendung lagi.


Joe terdiam dan termangu, jawaban yang diberikan Alfiya nyatanya tidak pernah sama sekali ia duga.


"Aku sekarang punya anak." Matanya semakin berkaca-kaca. Dalam pelukan Elvan ia kesulitan bernafas.


"Dan dia butuh aku."  Setetes air mata Alfiya pun jatuh kembali di pipinya. Ia terdiam sejenak.


Lalu Alfiya arahkan kembali pandangannya pada Joe. "Saat ingin makan, saat mau mandi dia selalu panggil aku." Karena begitulah yang dilakukan Alfiya selama ini. Ia benar-benar mengurus Anggian— tanpa merasa terbebani sedikit pun.


"Aku mencintai anakku Joe. Gian butuh aku, aku bundanya." Air mata itu terus mengalir dipipi.


Keheningan nampak terjadi, semua diam— larut dalam semua kata yang Alfiya ucapkan. Terhenyak dengan jawaban yang Alfiya berikan.


Begitu pun juga Elvan, dia tidak menyangka kalau Alfiya akan memberikan jawaban seperti itu kepada Joe. Tak beralih ia memandang wajah istrinya yang sudah sembab tersebut.


"Tapi kamu bukan ibu kandungnya." Joe berkata datar, masih tak percaya pernyataan jujur dari Alfiya.


Alfiya terisak sejenak sebelum menjawab perkataan itu.


"Aku tidak perduli soal itu. Bagi Gian aku adalah bundanya,  begitu pun juga aku, bagi aku Gian adalah anakku." Alfiya terus berkata jujur dari hati yang paling dalam,  ia sesak jika mengingat bagaimana Anggian selalu membutuhkan dirinya dalam hal apa pun. Dan ia rasa itu adalah alasan tepat yang harus ia berikan pada Joe. "Dan aku harus jujur sama kamu, kalau aku benar-benar nggak bisa meninggalkan Gian." Bahkan membayangkannya saja Alfiya tidak sanggup. "Yang artinya aku nggak bisa sama kamu lagi Joe."


"Jadi tolong mengerti, aku nggak bisa ninggalin anak aku demi kamu. Aku ingin merawat dia." Masih Alfiya biarkan air matanya menetes. "Jadi, kalau aku kembali sama kamu pun percuma. Karena kita nggak akan bisa seperti dulu lagi."


...**** ...

__ADS_1


__ADS_2