
****
Saat itu Elvan tengah duduk di sofa ruang tengah rumahnya. Ia tengah duduk serius sambil bebicara dengan seseorang di ponselnya. Laki-laki itu tampak menahan emosinya hingga terus menghela nafas berkali-kali.
Tatapannya lurus ke depan seperti menerawang. Ia pandangi pecahan guci yang sudah ia masukkan ke dalam kotak sampah berbahan dasar plastik yan masih ia letakkan di dekat pintu kamarnya. Laki-laki itu barus saja menyapu pecahan kaca itu tadi. Hingga akhirnya ia sadar siapa yang harus di introgasi atas kejadian tidak terduga malam ini.
"Jangan ikut campur urusan mas, Rian." ucap Elvan tidak habis pikir akan ulah adiknya tersebut. "Buat apa kamu ngelakuin hal itu tadi, gara-gara kamu Alfiya jadi celaka."
"Aku cuma mau bantuin mas Elvan dan mbak Fiya." sahut suara di seberang sana. Nyatanya dia mengakui penyebab padamnya listrik di rumah sang kakak adalah akibat ulahnya. "Aku nggak bermaksud buat nyelakain siapa pun. Aku sebenarnya nggak suka mas, melihat hubungan kalian seperti yang seperti ABG lagi ada masalah itu. Apalagi jadinya karena hal tersebut Gian jadi kena imbasnya."
"Rian...." Elvan memejamkan matanya seraya menarik nafas sejenak. "Biar mas urus sendiri urusan mas."
"Hmm.... baiklah." Terdengar helaan nafas dari Rian. "aku tau mas mungkin masih menganggap aku anak kecil yang gak berhak ikut campur. Tapi kalau aku nggak ngelakuin hal itu tadi, pasti sampai sekarang mas dan mbak Fiya masih saling gengsi buat berbicara."
Elvan hanya bisa menyapu langit-langit kamar dengan sotot matanya oleh ucapan Rian itu. Sejujurnya benar apa yang dikatakan adiknya barusan. Jika bukan karena kejadian tadi ia dan Alfia pasti masih belum bertegur sapa hingga sekarang.
"Aku tau, mas pasti nggak bisa mengatasi masalah ini sendiri." Remaja 18 tahun itu terus mengutarakan pendapatnya akan Elvan. "Mas akan lebih baik andai mas bisa bertindak lebih pada mbak Fiya, dan nggak perduli soal apa pun selain berniat mempertahankan pernikahan kalian. Aku ingin mas juga membuang kesepakatan soal perjanjian tidak masuk akal itu, mas juga seharusnya melarang mbak Fiya untuk berhubungan dengan Joe lagi." Rian memang sangat pandai berbicara.
Elvan bungkam sejenak, Rian tidak tahu saja kalau penyebab Alfiya memintanya untuk menjaga jarak adalah akibat ia meminta Alfiya untuk memutuskan hubungan dengan Joe.
Tapi untuk apa juga ia menceritakan hal tersebut kepada Rian. "Mas, cuma minta kamu fokus dengan sekolah kamu. Jangan pikirkan urusan mas." lirih Elvan. "Jangan pernah untuk ikut campur lagi Rian." lanjut Elvan dengan menahan emosi yang bergejolak dihatinya.
Akhirnya Elvan pun memutuskan untuk memutus panggilan telepon secara sepihak. Setelah panggilan itu berakhir Elvan tampak termenung, merenung dan lagi-lagi merenung.
Ia jadi memikirkan perkataan Rian di ponsel tadi. Andaikan ia berniat mempertahankan hubungannya dengan Alfiya. Tapi ia memang tidak pernah berpikir sampai kesana. Pernikahannya dan Alfiya terjadi begitu saja. Mengikuti alur karena permintaan mertuanya.
Helaan nafas kembali terdengar, Elvan merasa hatinya benar-benar kosong dan hampa. Benar, dirinya seperti tidak memiliki tujuan hidup sejak hari musibah itu. Siapa yang mengerti rasanya kehilangan orang yang di cintai. Adakah orang yang tahu perasaannya saat ini?
Hambar! Seperti dunianya berhenti berputar.
Ia sudah terlalu sering kehilangan. Tapi, rasanya selalu sama. Sekitar sembilan belas tahun yang lalu, Elvan juga kehilangan ayahnya. Ayahnya pergi karena kecelakaan di saat ia bekerja. Bangunan gendung yang ambruk menjadi penyebabnya.
Sang ayah pun pergi meninggalkan dirinya beserta ibunya yang tengah hamil tua untuk selama-lamanya.
Hingga tak berapa lama setelah ayahnya tiada, beberapa bulan kemudian ibunya pun menyusul sang ayah pergi setelah melahirkan Rian. Lagi-lagi ia kehilangan tumpuan hidupnya.
__ADS_1
Kenyataannya Elvan sangat mengerti rasanya kehilangan orang terkasih. Terkadang ia jadi menyalahkan takdir. Apa memang begini jalan hidupnya selalu kehilangan orang-orang yang ia sayangi.
****
Sementara itu di dalam kamar. Alfiya tengah memandangi Anggian yang tengah tertidur pulas disisinya. Ia tatap wajah mungil itu dalam-dalam. Teringat perkataan Elvan yang akan membawa anak itu pergi jauh membuat ia terus memikirkan ucapan tersebut.
Alfiya memandang ke arah pintu kamar. Kenapa Elvan harus memabawa Anggian pergi jauh kalau hanya karena alasannya laki-laki itu tidak ingin sang anak terus mengaggap ia adalah ibunya. Kenapa? Ia tidak keberatan jika Anggian terus memanggilnya dengan sebutan bunda. Alfiya merasa itu bukanlah masalah. Lalu kenapa? Kenapa Elvan harus pergi jauh?
Gadis itu kemudian berbalik kembali menatap wajah Anggian. Wajah polos yang belum mengerti apa-apa itu tampak sangat tenang dalam tidurnya. Benarkah Elvan akan membawanya menjauh.
Tanpa sadar Alfiya tergerak untuk memeluk Anggian dengan erat, anak itu pun menggeliat. Membuat Alfiya semakin mempererat pelukannya. Baiklah dia akan berusaha menjadi sosok ibu yang baik untuk Anggian sampai hari perpisahan itu tiba.
Sayang, ia sadar sangat menyanyangi Anggian. Ia kecup wajah gembul itu pelan seraya memejamkan mata. Lalu ia ingat kembali perkataan Elvan tadi, perasaanya kembali bersedih. Tiba-tiba perasaannya menjadi sesak.
Hingga Alfiya kemudian penasaran akan seseorang yang sedang berada di luar sana. Seseorang yang telah mengeluarkan kelimat yang membuat hatinya serasa sesak hingga saat ini.
Perlahan ia melepaskan pelukannya dari Anggian. Kemudian hati-hati turun dari ranjang. Gadis itu pun membuka pintu kamar. Ia lihat bekas pecahan kaca dan juga tetesan darah tadi sudah bersih di bereskan oleh seseorang yang siapa lagi kalau bukan Elvan.
Kakinya itu pun melangkah menuju sebuah ruangan dengan lampu yang masih menyala. Hati-hati ia intip sosok yang masih terduduk di ruangan tersebut dengan posisi yang memunggunginya. Terlihat tangannya tengah menekan keningnya seolah tengah banyak pikiran yang menumpuk di kepalanya.
Seketika Alfiya terkesiap menutup mulutnya pelan. Jangan-jangan Elvan sedang menangis! Sebegitu beratkah masalah ini bagi Elvan? Kalau Alfiya boleh tahu, apa yang menyebabkan Elvan seperti itu. Apa Elvan masih mengingat Anggita, atau masalah Anggian, atau mungkin tentang pernikahan sandiwara ini?
Gadis itu terus menerka-nerka dalam hatinya. Ia kemudian berusaha untuk mendekat, namun segera ia urungkan niat itu. Ia rasa Elvan sedang butuh waktu sendiri saat itu. Akhirnya gadis itu pun memutuskan untuk kembali ke kamar.
Namun, saat Alfiya melangkah hendak kembali ke kamar, tiba-tiba ia menghentikan langkah kakinya yang masih tertatih menahan luka tusukkan beling tajam tadi. Ia menoleh sejenak ke belakang. Perasaan tidak tega meninggalkan Elvan pun merasuk kedalam hatinya.
Tidak tahu kenapa akhirnya ia pun kembali memutar arah, terpaku sejenak seolah berpikir, akhirnya ia pun memutuskan untuk menghampiri Elvan. Saat ia sudah sangat dekat, perlahan ia julurkan tangannya lalu menyentuh pundak sosok itu dengan pelan.
"Mas...." lirihnya lembut. "Mas, baik-baik aja, kan?"
Tubuh laki-laki itu pun tiba-tiba berhenti gemetar mendapati ada seseorang di belakangnya.
Elvan terdiam sejenak.
"Mas, ada yang bisa aku bantu?" tanya Alfiya hati-hati.
__ADS_1
"Kenapa kamu belum tidur?" tanya Elvan akhirnya tanpa menoleh kepada siapa dia berbicara.
Alfiya tidak menjawab pertanyaan itu. Ia malah berjalan memutar arah menuju ke depan sofa yang di duduki Elvan untuk menghampiri laki-laki tersebut.
Perlahan ia langkahkan kembali kakinya dengan menahan perih yang terasa, hanya untuk menggapai sosok yang tengah memalingkah wajah darinya itu. Alfiya tahu dia memang tidak pandai memahami perasaan orang lain. Dia bukanlah orang yang gampang peka.
Akan tetapi yang ia tahu Elvan sedang bersedih saat ini. Maka yang ingin ia lakukan saat itu adalah....
"Mas...." tubuhnya kini tepat berada di depan Elvan. Dengan mata mengerjap gadis itu kemudian ragu-ragu mengangkat tangannya dan perlahan ia mulai membungkuk hingga menggapai sosok di hadapannya.
Elvan sedikit tesentak saat Alfiya tiba-tiba memeluknya. Laki-laki itu tampak kebingungan saat itu. Kenapa Alfiya tiba-tiba memeluknya seperti ini?! Apa karena dirinya saat ini sedang terlihat lemah.
"Mas...." ujar Alfiya pelan seraya semakin memeluk erat. "Mas, boleh nangis di pelukkan aku. Walau pun aku gak tau tepatnya, mas sedih karena apa. Tapi mas boleh menumpahkan kesedihan itu di pelukan aku saat ini." Bisik Alfiya di telinga Elvan.
"Hm...." Nafas Elvan berhembus mendengar ucapan lembut yang menerpa telinganya. Perkataan Alfiya seolah sebuah magnet yang membuat Elvan perlahan mengangkat tangannya untuk membalas pelukan gadis itu dengan erat.
Benar saja, oleh perhatian yang di berikan Alfiya melalui pelukan, Elvan pun semakin menumpahkan kesedihannya. Ia seketika sesenggukan dibahu gadis itu. Dirinya tidak lagi memikirkan kalau ia adalah sosok laki-laki yang harus terlihat kuat dihadapan seorang wanita.
Alfiya benar-benar terenyuh. Laki-laki yang ia kenal sebagai sosok jenaka selama ini, akhirnya menununjukkan sisi yang berbeda. Seumur hidup baru dua kali Alfiya melihat Elvan menangis.
"Mas...." bisik Alfiya lagi. "Menangislah sepuas mungkin. Setidaknya sampai perasaan mas menjadi lebih baik." Masalah mungkin tidak akan cepat selesai, akan tetapi setidaknya Alfiya berharap Elvan akan lebih lega setelah ini.
Laki-laki itu tetap bungkam dalam sedihnya. Ia malah semakin menunjukkan sisi rapuhnya kepada Alfiya. Mengeluarkan segenap perasaan dan gundah yang ia pendam selama ini, hingga membuat Alfiya semakin mengeratkan pelukannya.
*
*
*
*
Like, Vote, Komen jika kalian suka Ges!
Happy Reading!
__ADS_1