DILEMA - Turun Ranjang

DILEMA - Turun Ranjang
Kalau Aku Lepas Kendali, Aku Tidak Akan Melepaskan Kamu


__ADS_3

****


Alfiya malam itu, menghabiskan waktu bersama ibu Ernika sejenak untuk melepas rindu. Sebenarnya, Alfiya memang berusaha menghindari ibu selama sekitar satu bulan ini. Dengan alasan apalagi kalau bukan gara-gara sikap ibu yang terlihat sangat membencinya waktu itu.


Anak dan ibu itu bercerita tentang banyak hal. Topik utama yang mereka bahas adalah soal Anggita. Ibu mengingat masa kecil putrinya yang telah pergi itu, ibu juga berkata betapa ibu saat ini sangat merindukannya.


Ibu juga mengingat saat Anggita mengutarakan padanya dan bapak saat ia menyukai seorang laki-laki. Seseorang itu adalah anak panti asuhan yang seusia dengannya, ia juga sosok yang telah berhasil mengambil hati bapak dan ibu hingga berhasil menjadikannya anak angkat.


Bapak memang menjadikan Elvan anak angkatnya, karena anak tersebut berhasil meluluhkan hati bapak dengan perilakunya. Bapak pun rela membiayai sekolah Elvan sampai SMA, walau ia tidak membawa anak tersebut ke rumahnya. Akan tetapi saat kuliah Elvan menolak menerima uang dari bapak, sebab dirinya saat itu sudah mampu mencari uang sendiri. Kecuali untuk Rian, Elvan masih butuh bantuan bapak untuk membiayai sekolah adik laki-lakinya itu.


Namun, sesuatu yang tidak diduga pun terjadi. Elvan yang awalnya berstatus anak angkat tiba-tiba berubah status saat bapak menginginkan ia menjadi seorang menantu. Dengan alasan Anggita telah jatuh cinta pada anak angkatnya itu.


Ibu mendesah pelan mengingat semua kenangan itu.


Lalu, Alfiya mangut mendengar cerita ibu. Sebenarnya ia sudah tahu sedikit mengenai cerita yang ibu ucapkan.


Dulu, ia yang kala itu berusia delapan tahun, tiba-tiba dikejutkan oleh kedatangan dua sosok laki-laki yang kira-kira berusia lima belas tahun dan juga adiknya yang berusia sekitar empat tahun datang bertamu ke rumahnya.


Sosok seorang laki-laki yang seminggu sekali datang ke rumahnya dihari libur. Laki-laki yang sudah terlihat dewasa dimatanya itu kerap sekali menganggunya. Ia ingat dulu dirinya selalu menanggapi penganggungnya itu dengan jutek.


Hingga akhirnya, ia pun melihat sang kakak bersanding dipelaminan bersama si pengganggu.


Kemudian perlahan Alfiya paham, salah satu alasan Elvan ingin dinikahkan dengannya adalah karena mungkin ingin membalas budi pada keluarganya. Kalau dipikir laki-laki mana yang mau menikahi wanita lain disaat kuburan istrinya masih basah, kalau bukan karena sebuah alasan yang besar.


****


Saat itu, setelah selesai bercengkrama dengan ibu. Alfiya pun segera kembali ke kamar yang ia tempati saat masih tinggal dirumah ini dulu. Rasanya ia sangat rindu sekali dengan kamarnya tersebut.


Lantas gadis itu pun bergegas masuk. Akhrinya setelah sekian lama ia membaringkan diri lagi dikamar imi. Kamar berwarna dominan merah muda, warna kesukaannya.


Namun, beberapa saat kemudian. Sebuah ketukan pintu menganggunya.


"Fi...."


Alfiya tergerak bangun.


Ibuk!


Gadis itu lalu beranjak membuka pintu kamar.


"Loh?!" ibu yang tengah menggendong Anggian menatap Alfiya kaget.


"Kamu kok gak tidur dikamar Elvan?" Ibu menelisik penuh tanya.


Oh, iya. Alfiya lupa. Ini kan bukan dirumah mereka. Ibu kan tidak tahu kalau mereka pisah kamar.


"Alfiya, cuma rindu sama kamar ini buk." jawabnya kemudian terkekeh pelan.


Kening ibu semakin mengernyit bingung, seperti menaruh curiga. "Kamu ini aneh. Harusnya kamu tidur di kamar Elvan."


Seketika obrolan mereka terhenti saat Anggian minta digendong oleh Alfiya.


"Bunda...." Anak itu menjulurkan tangannya terhadap Alfiya.


"Nih, Gian cariin kamu. Dia gak mau tidur sama ibuk. Ajak gih kekamar. Tapi, jangan dikamar ini, sana dikamarnya Elvan."


Alfiya hanya bisa terdiam sembari mengambil Anggian dari ibu.


"Bikin ibu curiga aja kamu. Atau jangan-jangan kalian memang gak satu kamar ya?"


Jleb! Kata-kata ibu benar-benar menancap didada Alfiya. Ternyata benar ya seorang ibu itu punya insting yang kuat terhadap anaknya. Bisa saja tebakan ibu tepat sasaran kalau ia memang tidak sekamar dengan Elvan, kecuali saat menidurkan Anggian.

__ADS_1


Baiklah dari pada ibu terus bertanya, akhirnya Alfiya pun beranjak kemudian keluar dari kamar tersebut. Salahnya adalah, ia tidak berkomunikasi dengan Elvan mengenai masalah ini tadi. Biar bagaimana pun, ia belum pernah satu kamar dengan Elvan dirumah ini.


****


Sementara itu, Elvan juga baru saja selesai berbincang dengan bapak dan Rian. Sudah lama mereka tidak ngobrol bersama. Jadilah malam itu mereka pun mengobrol sampai larut malam.


Sampai dikamar, ia pun membuka pintu pelan. Seketika lelaki itu termangu saat melihat sosok cantik tengah berbaring miring bersama Anggian yang mulai terlelap disampingnya.


Elvan yang tadinya termangu perlahan mendekat. Entah kenapa ia seperti tidak bisa menahan desiran di dadanya saat melihat Alfiya tengah terbaring diatas ranjangnya, tepat dimana biasanya tempat Anggita dulu tidur.


"Mas...." panggil Alfiya.


"Hmmm...." Elvan menyahuti sembari menaikkan dagunya pertanda bahwa ia tengah terpesona oleh sosok itu.


Alfiya menoleh sejenak kerah Anggian, memastikan apakah anak itu benar-benar telah tertidur. Rupanya Anggian benar-benar telah terlelap, Alfiya pun kemudian berusaha mendudukan diri.


"Malam ini aku tidur disini...." lirih gadis itu pelan.


"Hm, Iya...." sahutnya dengan jantung yang tiba-tiba berdegub. Elvan juga tidak mengerti kenapa jantungnya merespon ucapan itu secara berlebihan seperti ini.


"Soalnya, gak mungkin kita tidur pisah kamar di rumah ini. Nanti ibu curiga." tambahnya lagi.


"Hm...." Lagi-lagi, jantungnya berdegub seolah tidak bisa diajak kompromi.


Alfiya menunduk sejenak oleh tadi Elvan selalu menjawab perkataan yang keluar dari mulutnya dengan seadanya.


Hm....


Iya....


Memang gak bisa jawab dengan kata lain?


Alfiya sedikit menggerutu dalam hati.


Alfiya mengangguk.


"Kamu, tidur duluan aja."


"Iya...." Sahutnya. Atau dirinya akan menunggu laki-laki itu keluar dari kamar mandi. Seperti ada dorongan pada diri Alfiya untuk melakukan itu.


Lalu setelah itu, Elvan pun menuju kamar mandi. Sementara Alfiya mulai membaringkan dirinya kembali menghadap Anggian, sembari mengelus kepala anak itu pelan.


Suara tetesan air dari dalam kamar mandi masih Alfiya dengar. Sepertinya Elvan tengah membersihkan diri saat itu. Cukup lama juga rupanya. Sementara itu dirinya sedari tadi bolak-balik seperti tidak tenang. Lagi pula dia belum ada keinginan untuk memjamkan mata saat itu.


Hingga akhirnya, beberapa saat kemudian Elvan pun keluar dari kamar mandi. Setelah menggantung handuknya, laki-laki itu kemudian memadamkan lampu kamar.


Deg! Sebenarnya Alfiya tidak suka tidur dalam keadaan gelap. Gadis itu terbiasa membiarkan lampu kamarnya menyala disepanjang malam. Namun, karna saat ini ia tidak tidur sendirian, sepertinya tidak apa-apa.


Tapi, untungnya setelah itu Elvan pun segera menyalakan lampur tidur yang terletak di samping meja kecil disisi ranjang. Setelahnya laki-laki itu pun segera membaringkan diri disisi ranjang. Akhirnya malam itu mereka pun tidur dengan Anggian berada diposisi tengah.


"Mas...." Alfiya yang memang belum berniat tidur pun memanggil.


"Hem...." Elvan menyahut. "Kenapa Fi?"


"Nggak apa-apa, cuma manggil aja."


Alfiya tidak tahu saja kalau panggilan tersebut membuat Elvan terus berdesir tidak karuan.


"Em...." Alfiya kembali bersuara. "Ini pertama kalinya aku tidur satu kamar sama mas."


Elvan mengerjap. "Lalu?"

__ADS_1


"Em...." Alfiya sedikit ragu. "Aku bisa pindah posisi gak?"


Hening sejenak, sepertinya Elvan masih sibuk untuk mencerna ucapan itu. Pindah posisi? Maksudnya?


"Iya, terserah kamu aja." sahut Elvan akhrinya.


"Terus, Gian gimana?" Alfiya meminta pendapat.


Oh Tuhan, rasanya Elvan akan segera meledak saat itu juga. Otaknya tiba-tiba saja bleng.


"Memang kamu mau pindah kemana?" Tanya Elvan akhirnya dengan hati bergetar.


"Disamping mas Elvan...." jawabnya lagi pelan, santai.


Rasanya Elvan tidak percaya kalau sosok yang baru saja berkata itu adalah Alfiya. Sepertinya ia perlu memastikan. "Kamu yakin?"


"Iya...."


Karena ranjang mereka cukup besar. Elvan kemudian menggeser dirinya untuk lebih kepinggir agar memberi jarak posisi dirinya dan Gian.


Lagi Elvan kemudian berdehem sejenak. "Sini, kamu pindah sini." Elvan sedikit menepuk tempat kosong disampingnya.


Hingga saat Alfiya beranjak. Laki-laki itu tak henti-hentinya merasa ngilu. Ingat saja dia ini laki-laki normal.


"Mas...." begitulah ucapan pertama Alfiya saat berhasil beralih posisi disamping Elvan. Dengan menghadapkan wajahnya kepada laki-laki itu. "Kenapa kemarin malam setelah makan malam, mas langsung ke kamar dan ninggalin aku di dapur sendirian?"


Hening sejenak! Hingga akhirnya mereka saling menatap.


"Bahaya, Fi." Lirih Elvan menjawab ucapan itu. "Tatapan mata kamu, bahaya. Bisa-bisa membuat mas gak bisa ngendaliin diri."


Alfiya berde-em pelan. "Kalau saat ini? Apa mas juga ingin mengendalikan diri?" Sebuah pertanyaan rancu yang berhasil lolos dari mulutnya.


Bukan lagi, saat ini Elvan mungkin sudah berusaha bertahan sekuat tenaga yang ia bisa untuk menahan diri. Apalagi dengan sikap Alfiya yang seperti ini.


"Kalau mas akhirnya lepas kendali, rasanya mas juga gak akan mau buat ngelepasin kamu." Salah satu alasan pastinya Elvan mengatakan itu adalah Anggian butuh Afliya sebagai figur ibu.


Lagi-lagi hening sesaat. Seperti setiap perkataan yang keluar dari mulut mereka terlalu berat untuk langsung dicerna seketika.


Alfiya dapat mendengar detak jantungnya yang kian berdegub. Perlahan gadis itu lantas beranjak menggerakkan tubuhnya. Mensejajarkan wajahnya dengan Elvan, lalu menatapnya lama. Hingga akhirnya ia kemudian menurunkan wajahnya hingga tak ada jarak bagi mereka.


Namun, seperti tahu apa yang akan Alfiya lakukan. Elvan kemudian langsung merubah posisi mereka dengan cepat. Hingga Alfiya yang berada dibawahnya.


Kali ini dia tidak akan membiarkan gadis itu untuk berbuat lebih dulu darinya.


*


*


*


*


Hai! Gimana menurut kalian ceritanya? Mudah-mudahan suka ya sama cerita Alfiya dan Elvan.


...Happy Reading!...


...Jangan lupa untuk Vote, Like and Komen, Ges!...


...Kasih koin juga boyeh!...


...****************...

__ADS_1


...****************...


__ADS_2