DILEMA - Turun Ranjang

DILEMA - Turun Ranjang
Selingkuh?! Dipermainkan?!


__ADS_3

****


Alfiya baru saja selesai mandi setelah menyelesaikan seluruh masakannya di dapur tadiwalau dengan keadaan suasana hati yang tidak baik. Sementara Elvan langsung membawa Anggian ke kamar. Ia ingat tadi Elvan meninggalkannya lagi di dapur tanpa berbicara sepatah kata pun. Sepertinya Elvan benar-benar kecewa karena ia belum memutus hubungan dengan Joe.


Sungguh, Alfiya benar-benar pusing, dirinya terjebak oleh keadaan yang tanpa ia pernah sangka. Jujur saja ia cukup terkejut dengan keadaan ini. Keadaan yang seperti mengharuskan dirinya untuk memilih di antara banyak pilihan.


Ia harus memikirkan perasaan kedua orang tuanya terutama ibu, memikirkan Anggian, persoalannya dengan Joe dan sekarang, Elvan bahkan membuatnya semakin tertekan. Tidak bisakah laki-laki itu memahami dirinya, kalau keadaannya saat ini benar-benar sulit.


Alfiya yang baru selesai mengeringkan rambut panjangnya pun akhirnya keluar dari kamar. Sepertinya ia akan membujuk dan mengajak Elvan makan malam. Mudah-mudahan saja mood laki-laki itu sudah lebih baik saat ini.


Ingin mengintip sejenak di kamar Elvan. Tapi, sepertinya pintu kamar terkunci. Mungkin, Alfiya akan menunggu saja sampai Elvan keluar dari kamar.


Ia pun lantas menunggu di sofa ruang tamu yang letaknya berhadapan dengan kamar Elvan. Menunggu sembari melihat-lihat ponselnya.


Satu menit, dua menit, tiga menit dia menunggu, hingga hampir setengah jam Elvan belum juga keluar dari kamarnya. Membuat Alfiya akhirnya jengah menunggu. Gadis itu pun mulai menguap beberapa kali karena mulai mengantuk, hingga membuat ia berinisiatif langsung membaringkan diri di sofa.


Sementara itu, Elvan yang baru saja memastikan Anggian tertidur dikamarnya. Lantas bangkit dari sisi ranjang. Sepertinya laki-laki itu akan pergi keluar malam ini.


Setelah mengambil kunci mobil dari nakas. Elvan kemudian membuka pintu kamar. Dan, seketika itu juga matanya bertatapan dengan sosok yang tengah terkejut menatapnya, kemungkin karena suara pintu knop pintu saat ia membuka pintu tadi.


Dilihatnya Alfiya yang baru saja terbangun itu, beranjak dari berbaring lalu mendudukan diri di sofa.


"Mas!" Seru Alfiya memanggil. Matanya pun menyusuri Elvan dari atas sampai bawah. Agaknya Alfiya tahu apa yang akan laki-laki itu lakukan. "Mas, mau kemana?" tanyanya penasaran.


Elvan tidak lantas menjawab pertanyaan itu, ia lalu menutup pintu kamarnya dengan pelan.


Dan, saat Elvan melangkah tanpa menghiraukannya gadis itu, Alfiya pun kembali memanggil. Agaknya gadis itu berusaha untuk mengambil hati Elvan setelah perdebatan mereka di dapur tadi.


"Mas, mau pergi kemana? Nggak makan dulu."


Untuk sesaat Elvan pun menghentikan langkahnya, hingga Alfiya pun beranjak dari duduknya lalu berjalan mendekat menghampirinya. Gadis itu kemudian menyentuh lengan Elvan pelan dengan kedua tangan dengan maksud ingin merayu laki-laki itu.


"Mas, makan dulu ya." Mata gadis itu membulat menatap Elvan.

__ADS_1


Elvan sepertinya hampir luluh oleh tatapan itu. "Aku mau keluar." Kemudian menurunkan tangan Alfiya dari lengannya.


Alfiya nampaknya kecewa dengan perlakukan Elvan barusan. Namun, ia tetap berusaha menampakkan raut wajah seolah ia baik-baik saja.


"Sebelum keluar, makan dulu tapi, aku udah masak banyak mas buat kita berdua...."


"Lagi gak laper!" Sambar Elvan dengan nada ketus.


Alfiya makin tersentak oleh ucapan sedikit menyentak itu. Ah, Elvan benar-benar tega mengabaikannya.


"Mas...." gadis itu memprotes.


Elvan terlihat menghela nafas. "Udah Fi, mas mau keluar." ujarnya setengah menahan maraj yang masih tertimbun sedari tadi.


"Iya, tapi mau kemana? Sama siapa?" tanyanya semakin menuntut.


Elvan kembali menjawab ketus. "Memang perlu kamu tau!" dengan mata melotot tajam.


Lagi-lagi Alfiya tersentak kaget oleh jawaban dan tatapan mata tajam dari Elvan. Ya Tuhan apa sulitnya menjawab sebuah pertanyaan. "Ya, aku cuma tanya mas." ujarnya dengan suara semakin merendah. Dasar, padahal dirinya sudah berbicara secara baik-baik.


"Karena, aku kan istrinya mas Elvan." Jelasnya pelan. Tuh, kan akhrinya ia mengaku sendiri kalau dirinya adalah istri dari laki-laki yang sedang sangat menyebalkan ini.


Lagi, Elvan menghembuskan nafas berat, lalu menghadapkan tubuhnya pada Alfiya. Pada dasarnya ia senang atas pengakuan Alfiya kalau gadis itu adalah istrinya. Tapi, sepertinya ia masih lebih mementingkan ego dan harga dirinya sebagai seorang laki-laki saat itu. Seorang laki-laki yang tidak rela jika wanitanya masih memiliki hubungan dengan pria lain.


"Seorang istri, kata kamu?!" menatap Alfiya dengan tatapan menusuk hingga berhasil membuat pandangan gadis itu meredup dibuatnya "Seorang istri, tapi masih memiliki hubungan dengan laki-laki lain, begitu maksud kamu!?" ujar Elvan dengan nada suara semakin meninggi. "Seorang istri yang berselingkuh, iya?!" bentaknya lagi.


Seketika hati Alfiya pun serasa tertancap dengan wajah yang semakin panas memerah. "Mas...." ia masih berusaha menahan diri. "Kan aku udah bilang, kalau aku butuh waktu. Mas, jangan begini...." Ah, susah sekali membuat laki-laki ini memahami dirinya.


Lalu Elvan menyambar cepat. "Mas juga butuh kamu buat segera memutuskan, Alfiya." Setelah memberi tatapan penuh penekanan itu Kemudian Elvan berbalik tanpa membiarkan Alfiya memberikan alasan kembali.


"Oh, iya. Tolong jaga Gian sampai nanti aku pulang." ujarnya tanpa melihat gadis yang tengah terdiam itu. "Kamu sudah janji kan buat jadi ibu yang baik sampai mungkin kita...." Tambahnya dengan nada sinis, lalu Elvan menjeda ucapannya sejenak. "Mungkin smpai kita berpisah nanti, seperti yang sebelumnya kamu inginkan." Elvan menggenggam tangannya kuat dengan hati bergetar saat mengucapkan itu.


Sementara itu Alfiya sudah bungkam dengan kata-kata Elvan yang telah berhasil menggores setiap sudut hatinya. Rasanya ia sudah tidak bisa berkata-kata lagi sekarang. Bagaimana pun setiap ia berbicara Elvan pasti selalu mematahkan perkataannya.

__ADS_1


Elvan masih belum beranjak, sepertinya ada lagi hal yang akan laki-laki itu katakan. "Kamu tau, hari ini entah kenapa aku merasa seperti dipermainkan oleh sikap kamu beberapa hari ini, Alfiya." tanpa pikir panjang Elvan pun segera berlalu dari sana.


Alfiya ingin mengejar, tapi sepertinya hati gadis itu sudah menciut. Alfiya hanya bisa termangu dan mematung ditempat. Memandangi Elvan yang mulai menghilang dari pandangannya dari balik pintu.


Kata-kata Elvan ternyata telah berhasil membekas dihatinya.


Selingkuh?!


Dipermainkan?!


Kenapa sangat sakit ya mendengar Elvan mengatainya dengan kata itu. Bisa-bisanya Elvan membuat kesimpulan mengenai dirinya. Padahal ia sudah kan sudah berusaha.


Apa salahnya sih, memberinya sedikit waktu. Apa salahnya Elvan mencoba memahami posisi dan keadaannya saat ini. Setidaknya ia perlu mempersiapkan diri, bukan. Setidaknya dia sudah berusaha beberapa hari ini.


Setidaknya aku sudah berusaha jujur, mas!


*


*


*


*


...Hai Ges! Gimana menurut kalian ceritanya? Mudah-mudahan suka ya sama cerita Alfiya dan Elvan....


...****************...


...Happy Reading!...


...Jangan lupa untuk Vote, Like and Komen, Ges!...


...Kasih koin juga boyeh!...

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2