DILEMA - Turun Ranjang

DILEMA - Turun Ranjang
Janji Suci Dan Sakral


__ADS_3

****


"M-mas...." Alfiya akhirnya menahan pergerakan tangan Elvan dengan cepat. Hingga akhirnya laki-laki itu pun sontak menghentikan kegiatannya.


Wajah Alfiya terlihat kaku. Ia menggeleng cepat, untuk menjelaskan kalau ini salah. Tapi, sepertinya Elvan sudah kehilangan kendali. Tangan yang masih menangkup benda kenyal itu kembali ia gerakan untuk mengelus-elus pelan.


Mata Alfiya kembali terpejam. Ia sangat ingin menolak. Tapi ini terlalu sulit.


"M-mas Elvan, hentikan." lenguhnya lagi. "Aku minta maaf, tolong kasih aku waktu."


"Untuk apa? Kenapa?"


"Mungkin, kita harus memikirkan ini lagi." Alfiya kembali menggeleng pelan. "Aku nggak mau salah langkah. Aku takut kita melakukannya hanya karena sedang dipengaruhi...." Alfiya memalingkan wajahnya sejenak. Terlalu malu untuk ia mengatakan ini. "Aku takut kita sedang terpancing gairah." Pada kenyataannya Alfiya masih berpikir kalau hal ini harus dilakukan atas dasar cinta.


Elvan termangu sejenak saat mendengar ucapan dari gadis yang tengah berada di bawahnya itu. Ia pandang wajah Alfiya yang mulai berkeringat dalam-dalam. Tidak menghiraukan sama sekali apa yang dikatakan oleh Alfiya barusan.


Anggita, kenapa ia malah seperti melihat Anggita dalam gadis ini. Lekuk wajahnya, bola mata, bibir dan juga hidung ini persisi Anggita. Hanya saja Anggita memiliki tahi lalat dibawah dagu sebelah kirinya.


Ia susuri wajah berkeringat Alfiya dengan jarinya. Kemudian kembali mencium pelipis itu dengan mesra, Alfiya ingin menolak namun kembali tertahan.


Sebuah pikiran terbesit dalam benaknya. Kalau ia melanjutkan ini bagaimana dengan Alfiya? Ia takut ada penyesalan nantinya dalam diri gadis ini. Akan tetapi saat ia matanya mulai berkabut, ia sudah bergairah.


Melihat Alfiya yang ada dibawahnya membuat sesuatu dalam dirinya semakin mendesak. Maka Elvan pun kembali memulai.


Dan, disaat itu juga tiba-tiba sebuah cahaya menembus dari baju tidur Alfiya. Terdengar dering ponsel disana. Elvan segera menghentikan kegiatan mereka.


Sementara itu Alfiya dengan cepat terduduk dan merogoh sakunya. Dilihat layar ponsel yang masih berdering itu.


Joe!


Astaga,


Untuk sebuah alasan ia tersadar. Joe! Ia punya Joe. Dan, dengan gampangnya ia terbuai oleh perilaku Elvan. Alfiya kemudian beralih menatap Elvan, ini sebuah kesalahan.


"Mas, aku benar-benar minta maaf." Ia membenahi bajunya yang sedikit berantakan. "Maafin aku, ini salah. Kita seharusnya nggak seperti ini." Perlahan kakinya pun menuruni ranjang. Membuat Elvan menyingkir darinya.


Alfiya keluar dari kamar Elvan. Meninggalkan laki-laki itu dengan cepat.


Elvan terdiam didalam sana, menyoroti Alfiya dengan tatapan yang tak dapat diartikan. Nampaknya laki-laki itu tahu siapa yang menghubungi Alfiya. Sesuatu dalam dirinya tiba-tiba memanas. Elvan tidak mengerti kenapa ia tiba-tiba seperti ini.


Tangannya mengepal kuat dengan dada yang memburu semakin panas. Gadis itu, masih berhubungan dengannya. Rahang Elvan pun menegang kuat. Jika benar, ia sulit menerima ini.

__ADS_1


****


"Fi, ini malam minggu sayang. Kan, aku udah bilang malam minggu aku jemput kamu."


Alfiya menggaruk kepalanya pelan, gusar, sembari ponsel miliknya menempel ditelinga. Fokusnya masih belum kearah Joe saat ini. Ia malah memikirkan tentang apa yang baru saja ia lakukan dengan Elvan tadi.


"Fi, kamu dengar aku gak?"


"Alfiya!"


Alfiya tersentak, saat ini seharusnya ia berbincang dengan Joe melalui panggilan ponselnya. Namun, entahlah, ia tidak ada gairah untuk berbicara dengan laki-laki yang berada di seberang itu sekarang.


"Joe, bisa lain kali aja gak. Lagian ini udah malem banget. Aku gak bisa pergi sama kamu." Alasannya.


"Ini masih belum jam 8 malam, Fi." Jelas Joe.


Alfiya mendesah pelan. Sebelum akhirnya ia memutuskan untuk mengakhir panggilan tersebut. "Maafin aku Joe. Aku gak bisa, lain kalia aja ya. Hem."


"Fi, sayang."


Ah, Alfiya benar-benar tidak bisa berpikir sekarang.


Tut!


Dengan mata terpejam karena merasa bersalah, akhirnya Alfiya pun memutus panggilan tersebut.


Untuk saat ini Alfiya benar-benar bingung akan dirinya. Ia seperti terbawa arus perasaan dan suasana yang ada. Dirinya tidak mengingat lagi akan rencana yang telah ia buat sedari awal.


Hanya menganggap Elvan seorang kakak, itu kan yang ia tanamkan selama ini. Ia juga akan selalu berusaha mencintai Joe. Dan, hari ini ia malah goyah. Ia terbuai, terlena oleh hal yang tidak ia mengerti.


Diam-diam hatinya mendadak goyah, ada keraguan dalam dirinya tentang segala hal yang ia rencanakan selama ini. Untuk sesaat ia mengagumi Elvan, sementara ia memiliki janji terhadap lelaki lain. Janji untuk hidup bersama selamanya. Dan kini ia memiliki keraguan akan hal tersebut.


Alfiya memejamkan matanya dalam-dalam. Seharusnya tidak begini, bukan? Kenapa hatinya tiba-tiba rapuh. Apa karena ia terlalu mendalami peran yang dilakukan saat ini, yakni berusaha menjadi ibu yang baik untuk Anggian, sehingga sampai terbawa suasana bahkan terhadap Elvan.


Rasanya, ia seperti terjebak oleh keadaan. Keadaan yang menjadikan ia kebingungan oleh semua ini.


Perlahan ia meraba-raba tubuhnya, ia masih ingat betul bagaiman Elvan memperlakukannya tadi. Sangat lembut hingga ia tidak sadar. Hah, kalau dipikir sudah sepantasnya Elvan mendapatkannya. Oleh alasanya dari sebuah status, bahwa dirinya adalah istri dari laki-laki itu.


Istri!


Istri!

__ADS_1


Dia adalah istri dari Elvan.


Gadis itu terenyuh seketika saat menyadari hal itu, terlepas mereka dijodohkan dan menikah secara terpaksa dan penuh sandiwara.


Tapi,


Tapi,


Alfiya membuka layar ponselnya. Lantas ia pun mengetikan sesuatu disana.


Apa tugas seorang istri terhadap suami?


Tubuh Alfiya bergetar hebat, rasanya ia tidak perlu mencari hal tersebut. Ingatkan saja pada saat menikah mereka saling mengucapkan janji nikah. Nyatanya tugas istri itu mutlak terhadap suami. Istri harus melayani suami dengan sepenuh hati, bagaimana seorang istri harus membuat suaminya senang. Tapi, apa yang ia lakukan. Pernikahan ini seolah permainan baginya.


Tapi, dibalik itu Alfiya sadar. Ada seorang lelaki lain yang menunggunya saat ini. Menunggu tanpa tahu kalau ia sebenarnya sudah menikah secara diam-diam. Laki-laki yang berharap akan menjalani sebuah pernikahan untuk membangun rumah tangga dengannya nanti. Laki-laki yang sudah tujuh tahun bersamanya.


Walau pun Joe terus mendesaknya, menuntut jawaban akan kelanjutan hubungan mereka. Akan tetapi, Alfiya tidak bisa menjelaskan.


Keraguan, ketakutan, perasaan bersalah semuanya bercampur menjadi satu. Menekan dadanya hingga ia sesak, membuat jantungnya berdenyut kuat. Hingga terasa sesuatu yang mengganjal dan sangat ingin ia lepaskan. Ia ingin membuang rasa yang mengganjal itu.


Tapi bagaimana?


Apa harus kembali seperti rencana awal, yakni berpisah dengan Elvan dan menikahi Joe. Tapi, bagaiman dengan Anggian kalau ia melakukan itu. Lagi, Alfiya merasa bersalah dan takut.


Atau, dia melanjutkan hubungan dengan Elvan, tanpa harus bercerai dan melupakan janjinya pada Joe? Tapi, kalau ia melakukan itu berarti dia berkhianat, dia tidak setia akan janji mereka.


Bagaimana? Dia harus bagaimana? Ini membuatnya dilema.


Dan, seketika Alfiya sadar. Nyatanya, ada sebuah janji, janji yang dianggap paling suci dan sakral. Janji yang membuat relung hatinya serasa sejuk dan damai. Yakni janji yang pernah ia ucapkan dihadapan Tuhan, apalagi kalau bukan sebuah janji pernikahan yang tertutur dari lisan untuk Elvan sebagai suaminya.


*


*


*


*


Like, Vote, Komen kalau suka gengs!


Happy Reading.

__ADS_1


__ADS_2