DILEMA - Turun Ranjang

DILEMA - Turun Ranjang
Season 2 [Elvan mengakuinya]


__ADS_3

*


*


*


*


Mata Alfiya terus memperhatikan kala Elvan melangkah mendekat kearahnya. Lelaki itu terlihat memasang senyum diwajah, sikapnya pun nampak tenang. Tatapan mata yang Elvan berikan padanya pun begitu teduh.


Sebenarnya hati Alfiya berdegup-degup kencang karena cemas dan khawatir saat melihat pintu ruangan terbuka dengan adanya Elvan berdiri disana. Jelas saja itu terjadi karena ia baru saja keguguran dan anak yang Alfiya kandung adalah anak Elvan. Ia takut mungkin saja Elvan akan memberi banyak pertanyaan tentang kenapa anak mereka bisa pergi bahkan sebelum Elvan tahu kalau ia hamil. Dan Alfiya juga takut kalau ia akan sulit memberikan jawaban yang Elvan ingin dengar. Apalagi ia masih menyimpan rahasia yang belum elvan ketahui, jika dirinya selama dua minggu ini diam-diam menemui Joe.


Hingga akhirnya kini Elvan sudah berdiri dihadapan Alfiya, membuat wanita itu mendadak kaku seperti tak bisa bergerak.


“Fi.” Elvan membungkuk dan menyentuh wajah Alfiya. “Gak apa-apa kan mas ketemu kamu?” Awalnya Elvan mengira kalau Alfiya akan memberikan reaksi tak terduga, seperti berusaha menolak kehadirannya. Tapi kenyataan yang ia lihat sekarang adalah wanita yang merupakan istrinya itu malah terdiam bingung atas kehadirannya disana.


Alfiya masih terpaku sembari merasakan pipinya dielus oleh Elvan. Tangan laki-laki itu begitu hangat terasa di kulitnya.


“Kita udah dua hari gak ketemu sedekat ini.” Ujar Elvan lagi. “Mas rindu.”


Alfiya masih menegang kaku. Bahkan saat Elvan semakin memajukan tubuh mendekatinya. Tanpa ia sadari hal itu terjadi karena usahanya yang berusaha menjaga jarak selama dua hari ini.


“Mas boleh peluk kan?” Tanya Elvan hati-hati. Mengetahui Alfiya tidak ingin ditemui beberapa hari ini membuat Elvan benar-benar berusaha menjaga perilaku dihadapan wanita yang telah menjadi istrinya itu.


Lama Alfiya menjawab, hingga akhirnya wanita itu pun memberi anggukan pelan.


Kedua tangan Elvan pun mulai meraih tubuh Alfiya yang ia sadari semakin kurus. Ia ingat dokter bilang kalau istrinya itu kekurangan nutrisi. Elvan perhatikan wajah Alfiya dengan seksama, wajah itu juga semakin tirus dan matanya terlihat sayu. Jika dibandingkan dengan awal-awal menikah keadaan Alfiya dulu masih jauh lebih baik.


Hati Elvan mencelos, ia baru paham kalau selama ini tanpa sadar Alfiya begitu memikirkan banyak hal sejak mereka menikah- atau bisa jadi sejak Anggita pergi. Dan pasti atau tidak, ada yang sudah ia renggut dari Alfiya sejak menjadi istrinya walau Elvan tidak yakin itu apa.


“Mas minta maaf.” Tutur Elvan.


Alfiya terdiam tak menyangka saat Elvan tiba-tiba minta maaf.


Mata Elvan tiba-tiba berkaca-kaca. “Maafkan mas untuk semua yang kamu alami.”

__ADS_1


Ia yang tadinya merasa canggung mendadak luluh. Namun kemudian, “Kenapa mas minta maaf?” matanya pun ikut berkaca-kaca atas perlakuan Elvan tersebut.


“Ini terjadi karena aku. Aku yang terlambat sadar kalau aku hamil.”


Elvan lantas terdiam sejenak. Ternyata Alfiya tidak mengerti apa maksud ucapannya. Wanita yang ada dihadapannya ini malah menganggap kalau dirinya tengah membahas soal keguguran yang baru saja dialami.


“Aku yang kurang menjaga diri.” Tambah Alfiya lagi.


Elvan terus berusaha bersikap tenang “Alfiya maksud mas bukan itu.” Bagaimana Elvan harus menjelaskan semuanya jika saat ini Alfiya masih kesusahan memahami apa yang tengah ia ucapkan.


“Mas juga salah atas keguguran yang kamu alami.” Jelas Elvan, ia tak ingin Alfiya tersinggung dan salah paham atas ucapannya. “Mas selama ini kurang memperhatikan kamu.” Elvan menarik nafas sejenak. “Dan juga gak perduli dengan apa yang kamu rasakan selama ini.” Suara Elvan semakin merendah.


Wanita itu kembali termangu tak percaya, atas semua yang Elvan ucapkan.


“Mas minta maaf karena belum membalas perasaan kamu.”


Alfiya menggeleng pelan. “Enggak mas. Selama ini aku yang terlalu menekan kamu untuk setiap pertanyaan aku. Seharusnya aku sadar kalau nggak sebaiknya aku memaksa mas buat membalas setiap pertanyaan aku tentang bagaimana perasaan mas Elvan.”


Atas pernyataan itu Elvan terhenyak.


Tunggu, jadi benar kalau Alfiya sebenarnya terpaksa mencintainya.


“Aku gak akan melakukan itu lagi.” Ujar Alfiya kembali dan entah kenapa hatinya malah berdenyut sakit. “Aku gak mau mas Elvan jadi terbebani karena keegoisan aku.”


Saat itu yang Elvan lihat hanya puncak kepala Alfiya karena sedari tadi wanita itu terus menunduk. Namun tetesan air mata yang jatuh pada lantai tak sengaja tertangkap oleh pengelihatan Elvan.


Bagaimana mungkin Elvan menganggap Alfiya terpaksa mencintainya? Setelah wanita itu telah merawat Anggian dengan baik selama ini, saat Alfiya selalu berusaha menyiapkan makan untuk mereka, menyiapakan pakaian ganti untuknya setiap hari dan juga melepaskan Joe setelah sekian lama mereka menjalin hubungan.


Alfiya terpaksa mencintainya?


Untuk sesaat Elvan sadar telah menjadi sangat egois, karena memberi anggapan seperti itu pada Alfiya.


“Fi.” Lirih Elvan kemudian.


Lelaki itu kemudian merendahkan tubuhnya. Berjongkok untuk melihat wajah Alfiya dari bawah. Hingga Elvan dapat melihat jelas bagaimana Alfiya berusaha menahan air mata untuk tidak terus tumpah.

__ADS_1


“Aku malu.” Wanita itu akhirnya mengeluarkan suara isak tangisnya yang tertahan.


“Kenapa?” tanya Elvan heran. "Kenapa kamu malu?"


Wanita itu akhirnya berusaha untuk mengangkat kepala hingga terlihat dengan jelas wajahnya yang telah dibanjiri air mata.


“Apa yang membuat kamu malu?”


“Aku terlalu berani mencium mas Elvan saat makan malam waktu itu, aku banyak merayu mas Elvan agar kita secepatnya—“ Alfiya terdiam sejenak. Wanita itu lalu menundukkan kepala kembali. Menurutnya terlalu banyak hal memalukan yang ia lakukan dihadapan Elvan selama ini.


Melihat itu Elvan lalu meraih tubuh gemetar Alfiya dan memeluknya. “Kamu terlalu banyak menyalahkan diri sendiri.” Ia mengehela nafas panjang. “Yang kamu lakuin selama ini nggak salah.”


“Tapi mas pernah marah saat kita bulan madu.” Alfiya masih sangat ingat Elvan pernah marah besar saat menanyakan apa alasannya mencintai laki-laki itu. Hal itu tentu saja membuat Alfiya sangat takut, dimana juga sempat Elvan mendiamkannya seharian lalu marah-marah dan membuatnya semakin tidak mengerti.


“Sebenarnya malam sebelum kita berangkat ke bali mas sempat baca pesan yang dikirim anak itu diponsel kamu?”


Mendengar hal itu Alfiya berusaha melepaskan pelukan Elvan.


Pengakuan tersebut ternyata membuatnya terkejut.


“Apa?” Lirih Alfiya dengan suara sengau. Pesan dari Joe?


Elvan terdiam sesaat. Hingga kemudian sebuah pengakuan tak terduga pun ia sampaikan. Pengakuan yang belum pernah ia katakan sekali pun pada Alfiya.


“Mas nggak suka dengan isi pesan yang anak itu kirim." Ujar Elvan lagi.


"Mas?" Alfiya butuh penjelasan lebih.


Elvan lalu memegang kedua sisi wajah Alfiya dan mendekatkan wajah mereka. Ia perhatikan wajah sembab itu dengan seksama. Hidung Alfiya bahkan terlihat sangat merah karena tangis.


"Saat itu Mas cemburu, Alfiya.” Iya, Elvan mengakuinya.


Ha? Saat itu juga jantung Alfiya langsung berdegup-degup kencang.


...****...

__ADS_1


__ADS_2