DILEMA - Turun Ranjang

DILEMA - Turun Ranjang
Bagaimana Nasib Anakku Nanti?


__ADS_3

Like, Vote, Komen ya Ges!


****


Sepanjang jalan menuju rumah, Alfiya terus menggerutu kala itu didalam mobil taksi online. Ia benar-benar kesal pada Joe, akhir-akhir ini laki-laki itu banyak berubah dan sering marah-marah. Lebih tepatnya setelah ia menolak untuk melakukan lamaran secepat mungkin.


Entah kenapa dia jadi ingin menghindari Joe untuk beberapa hari ini, rasanya sangat melelahkan jika terus di tuntut oleh laki-laki itu. Sekaligus ia ingin menghindar dari pertanyaan yang terus-menerus menanyakan tentang rencana untuk melamarnya, dimana hal tersebut akhir-akhir ini membuatnya semakin tertekan.


Beberapa saat kemudian taksi yang Alfiya tumpangi pun sampai di tempat tinggal dirinya dan Elvan. Saat memasuki pekarangan rumah ia melihat sebuah mobil berwarna hitam terparkir. Alfiya sangat mengenal mobil tersebut.


Itukan mobilnya bapak! Apa jangan-jangan bapak dan ibu datang berkunjung.


Dengan cepat Alfiya pun melangkah masuk ke dalam rumah. Gawat jangan sampai bapak dan ibu tahu kalau ia dan Elvan tidur di kamar yang terpisah.


Gadis itu pun akhirnya berlari hingga akhirnya ia sampai di depan rumah dengan ngos-ngosan. Mengatur deru nafasnya sejenak kemudian ia pun langsung masuk ke dalam rumah.


"Bapak! Ibuk!" teriaknya saat sampai di ruang tamu.


Semua mata yang ada diruangan itu pun langsung tertuju padanya.


Alfiya termangu, tidak ada bapak dan ibu disana. Hanya ada Anggian, bi Mina dan juga Rian. Hanya mereka bertiga karena Elvan memang belum juga pulang bekerja saat itu.


"Mbak Fiya!" Seru Rian yang kala itu tengah bermain dengan Anggian.


Alfiya yang tadinya sangat cemas langsung berjalan mendekat. "Rian, kamu sendirian? Bapak sama ibuk nggak ikut."


Rian pun langsung menggeleng. "Bapak dan ibuk belum bisa kesini, mungkin minggu depan."


Huh, Alfiya pun bernafas lega. Syukurlah!


"Bunda...." Greb! Anggian menghampiri dan memeluk kedua kaki Alfiya.


"Gian...." Gadis itu merendahkan tubuhnya untuk memeluk Anggian.


Ah, Anggian benar-benar obat yang manjur di kala dirinya tengah gelisah, cemas dan juga galau apa lagi disaat penuh tekanan seperti ini. "Bunda sayang Gian." Alfiya memeluk Anggian semakin erat. Melepas pelukan itu sejenak lalu ia menghujani Anggian dengan ciuman bertubi-tubi hingga membuat anak mungil itu tertawa kegirangan.


Sementara itu Rian dan bi Mina dapat melihat dengan jelas kasih sayang yang kuat dari pemandangan tersebut. Mereka menaruh harapan kuat untuk itu. Semoga selamanya Alfiya bisa menjadi sosok bunda dan mengganti figur ibu yang hilang untuk Anggian.


****


Saat itu pada jam makan malam, Alfiya dan Elvan tentunya masih belum menegur satu sama lain. Bedanya Elvan lebih terlihat santai sangat berbeda dengan Alfiya yang sepertinya terus gelisah.

__ADS_1


Gadis itu semakin merasa suasana ini sangat tidak enak. Baru kali ini dia dan Elvan tidak berbicara sama sekali. Sesekali ia melirik laki-laki yang tengah menyuap makanan itu.


Rian yang sepertinya menyadari tingkah Alfiya dan sang kakak kemudian berdehem beberapa kali.


"Mas Elvan dan mbak Fiya...." Ia menatap satu persatu. "Kalian baik-baik aja kan?" tanyanya kemudian.


Elvan menanggapi dengan mengangguk pelan menghindari banyak pertanyaan lanjutan dari sang adik sambil masih sibuk dengan makan malamnya.


Sementara itu Alfiya menggigit bibir bawahnya kikuk. Rupanya Rian menyadari kalau mereka berdua sedang tidak berbicara. Ia dapat menyadari kalau Rian tengah menatapnya penuh curiga.


"Tapi dari tadi kalian berdua kenapa diam terus ya?" tanya Rian lagi masih penasaran.


"Anak kecil nggak usah banyak tanya." ujar Elvan yang baru saja menghabiskan makan malamnya. Laki-laki itu lantas berdiri dan membawa piring bekas makannya menuju wastafel.


"Mbak kalian kenapa?" Bisik Rian akhirnya sambil melirik Elvan yang tengah mencuci piringnya takut kakaknya itu mendengar.


Alfiya lantas tersenyum. "Nggak apa-apa."


Alfiya kemudian beranjak dari duduknya hendak kembali ke kamar karena ia juga hendak menghindari pertanyaan Rian. Namun sebelum ia benar-benar keluar daru dapur Elvan yang sudah selesai mencuci piring berhenti sejenak didekat meja makan.


"Mas duluan." Ujar Elvan dengan hanya menatap Rian. "Mau gantiin bi Mina untuk jagain Gian yang lagi main, kasihan bi Mina sudah dijemput suaminya untukk pulang." Setelah itu Elvan berlalu.


Alfiya yang telah berdiri dari duduknya benar-benar merasa diabaikan. Awalnya ia biasa saja saat Elvan mendiamkannya. Tapi sekarang ini dia tidak mengerti akan dirinya sendiri.


Kenapa nyatanya sangat tidak enak diabaikan seperti ini. Kenapa dia jadi kesal ya?


****


Sementara itu Elvan yang kala itu tengah menemani Anggian bermain robot-robotan terlihat sangat kebingunan saat sang anak meminta untuk Alfiya juga ikut menemaninya bermain. Anak itu bahkan membanting mainannya dengan kuat karena Elvan belum juga menuruti permintaannya.


"Mau sama bundaa...." Rengek anak gembul itu. "Ayah, atu mau ditemani main sama bundaaaa...."


Elvan menghela nafas. "Bunda lagi sibuk sayang." bujuknya. "Main sama ayah saja ya."


Mendengar penjelasan lagi-lagi Anggian berteriak kuat, anak itu mendadak tantrum dengan membanting mainannya semakin menjadi-jadi.


"Aaaa...." teriak Anggian kuat.


Elvan yang tidak tahu harus apa hanya bisa merapikan kembali mainan yang berserakan akibat dilempar-lempar oleh Anggian sembari membujuk anaknya itu.


Tak berapa lama pintu kamar pun terbuka oleh Rian yang kemudian langsung masuk kemudian menutup pintu kembali.

__ADS_1


"Mas. Gian kenapa?" tanya Rian yang bingung melihat keponakannya tantrum sambil melempar semua mainan miliknya.


"Mau sama bundaaaa...." teriak Anggian lagi.


Rian pun berjalan mendekati Anggian. "Mas." Ia melirik Elvan sejenak. "Gian mau sama mbak Fiya." Ujar Rian menjelaskan.


Elvan tidak menjawab perkataan Rian. Laki-laki itu masih bungkam memperhatiakan Anggian dengan raut wajah kebingungan.


"Mas!!" Seru Rian kembali. "Mas, harus panggilin mbak Fiya kesini." jelas Rian sambil berusaha membujuk Anggian yang masih meraung-raung sambil sesekali menendang-nendang mainannya.


"Sebenarnya mas Elvan sama mbak Fiya ada masalah apa sih?" ujar Rian akhirnya. "Aku tau kalian hanya menikah untuk bersandirwa, tapi kasihan Gian mas." jelas Rian lagi. "Seharusnya mas Elvan tahu kan kalau Gian sudah menganggap mbak Fiya sebagai bundanya. Bukannya mas Elvan juga tahu rasanya nggak ada ibu."


Elvan termangu oleh ucapan itu. Benar, ia tahu dengan jelas bagaimana rasanya tidak ada kasih sayang seorang ibu, rasanya sangat menyakitkan. Tapi, hubungannya dengan Alfiya sangat sulit untuk ini, itulah yang membuat dirinya kebingungan.


Melihat sang kakak yang masih terdiam, akhirnya Rian pun memutuskan untuk membawa Anggian di gendongannya.


"Ya udah, kalau hubungan mas Elvan dan mbak Fiya sedang nggak bagus, biar aku yang bawa Gian ke kamar mbak Fiya." tegas Rian akhirnya.


"Ayo, uncle akan bawa Gian ke bunda." Rian melirik Elvan sejenak sampai akhirnya ia pun membuka pintu kamar dan keluar seraya membawa Anggian berlalu dari sana dengan cepat.


Hingga akhirnya setelah pintu kamarnya kembali tertutup dengan sempurna Elvan hanya sendiri dikamar tersebut.


Ia kembali termenung. Semakin hari ia semakin kewalahan menanggapi Anggian. Apalagi putranya itu semakin sensitif jika menyangkut tentang Alfiya. Anggian benar-benar telah menganggap Alfiya sebagai bundanya dan itu membuat Elvan ketakutan. Ia takut jika nantinya dirinya dan Alfiya berpisah bagaimana dengan nasib Anggian. Bagaimana ia bisa menjelaskan keadaan ia dan Alfiya sesungguhnya kepada sang buah hati. Semuanya benar-benar menjadi kacau dan rumit baginya.


Laki-laki itu lalu menjenggut rambutnya kasar. Oh Tuhan, ia harus bagaimana?


*


*


*


*


Like, Vote, Komen Ges!


Like, Vote, Komen Ges!


Like, Vote, Komen Ges!


Like, Vote, Komen Ges!

__ADS_1


__ADS_2