
"Sayang, kamu datang kesini? Kenapa tidak memberi kabar?"
Evi hanya tersenyum tipis, dia ingin membuka suara tetapi Lusi menyelanya dengan cepat. Gadis itu muncul dari belakang tubuh Evi secara tiba-tiba.
"Kakak ipar, kenapa kakakku harus memberi kabar padamu? Oh, atau jangan-jangan, kamu takut ketahuan jika sedang berduaan dengan wanita itu, ya?" tuding Lusi membuat Aji kesal.
"Apa yang kamu katakan, Lusi? Jangan ikut campur dalam masalah rumah tangga kami. Aku sama sekali tidak takut karena aku tidak bersalah. Dan lagi, siapa yang ingin berduaan dengannya? Aku sudah memiliki istri dan mana mungkin aku menduakan istri seperti Evi ini."
Elena murka mendengar pengakuan dari Aji, dia semakin tidak suka pada Evi dan ingin segera melenyapkan wanita itu agar Aji bisa menjadi miliknya.
"Really? Wah, kalian sangat romantis.'' ucap Lusi melirik Elena dengan tatapan mengejek dan senyum remeh.
Elena mengerti akan lirikan itu, dia berpikir jika dirinya harus berhati-hati dengan Lusi.
__ADS_1
'Gadis ini tidak seperti Evi, aku harus menjauhinya dan jangan gegabah dalam menjalankan rencana.' batin Elena menyembunyikan kekesalannya.
"Maaf, Pak. Ini sudah jam sebelas, bukankah kita harus pergi ke restauran cabang?" tanya Elena membuat semua atensi mata yang ada di ruangan itu menatap ke arahnya.
"Oh iya, aku —" ucapan Aji terputus.
"Kakak, kamu ingin pergi ke restauran cabang? Bersama dengannya?"
Aji mengerutkan dahi. "Ya, apa ada yang aneh? Dia itu manager disini, jadi aku harus pergi dengan siapa jika bukan dengannya? Disana nanti, Elena bisa membantu pekerjaanku karena di restauran cabang tidak memiliki manager dan hanya ada tangan kananku saja. Orang kepercayaanku, yaitu penjaga meja kasir.'' jelas Aji agar para wanita itu tidak mencurigainya.
Elena tercengang, dia tidak terima dengan usulan dari Lusi.
"Tapi, Nona. Anda—"
__ADS_1
"Apa? Aku bukan siapa-siapa begitu? Atau Anda ingin mengatakan jika aku tidak mengerti dalam masalah bisnis kuliner seperti ini? Nona Elena! Aku saat ini melanjutkan sekolah di luar negeri, aku termasuk gadis yang memiliki pikiran cerdas dan cerdik. Jadi, Anda tidak perlu khawatir tentang apa pun." Lusi sengaja menekan kata cerdik agar membuat Elena sadar jika gadis yang ada di hadapannya itu bukanlah gadis sembarangan.
"Bagaimana, kakak ipar? Kamu setuju? Ya, kamu bisa menemani kak Evi di restauran ini. Bukankah itu ide yang sangat bagus?" Lusi tersenyum lebar.
"Baiklah, kamu dan Elena pergilah ke restauran cabang. Aku dan Evi akan tetap disini," Aji tersenyum manis menatap Evi, dia merangkul pundak istrinya itu dengan penuh kasih sayang dan cinta.
"Good," Lusi sumringah, akhirnya dia bisa menjadi penghalang bagi calon pelakor itu. "Apa kita bisa pergi sekarang, Nona Elena? Waktu semakin berjalan, dan aku sangat tidak suka membuang-buang waktu."
Elena akhirnya pasrah dan hanya bisa menuruti ucapan atasannya yaitu Aji. Dia keluar dari ruangan tersebut bersama dengan Lusiana. Sementara Aji, dia mengajak Evi untuk duduk dan dirinya meminta pada salah satu karyawan untuk mengambilkan kemejanya di ruang ganti, yang memiliki tempat sendiri dan tidak jauh dari restauran.
'Rasakan, kamu pikir bisa mendekati kakak iparku semudah itu? Jangan harap bisa jika itu masih ada aku, kakakku tidak boleh bersedih hanya karena wanita rendahan sepertimu.' batin Lusi sembari berjalan di sebelah Elena.
****
__ADS_1
Tbc