
Tak terasa satu tahun sudah berlalu, kini Aris telah menjadi anak yang pintar dan aktif. Bahkan, Evi sendiri saja sampai kewalahan menjaga putranya itu. Kesibukan padat Aji di restauran sudah tidak lagi bisa ditinggal, pria itu menyarankan agar mereka menyewa Nanny untuk membantu menjaga Aris. Tetapi, Evi dengan keras menolaknya. Dia tidak ingin putranya lebih dekat dengan orang lain di bandingkan Mamanya sendiri.
"Aku masih sanggup untuk menjaga putra kita, Mas. Bahkan, jika kamu mau menambah satu anak lagi. Tidak perlu memakai jasa baby sitter." itulah jawaban Evi ketika Aji menyarankan menyewa Nanny.
Terlihat Aris sedang berjalan kesana-kemari tak tentu arah, dia tertawa melihat kupu-kupu yang berterbangan di atas udara. Saat ini mereka sedang bersantai di halaman belakang rumah. Tempatnya sejuk karena ada pohon yang rimbun dan sengaja tidak di tebang.
Ketika berusia sepuluh bulan, Aris sudah pintar berjalan meskipun terkadang sering jatuh. Namun, itu semua tidak membuatnya kapok.
"Aris! Hati-hati, Nak. Awas kamu jat—'' ucapan Evi terhenti dan berganti teriakan. Ibu muda satu anak itu berlari ke arah putranya yang menangis. Tetapi hanya sekejap hingga Evi merasa sedikit tenang.
"Sayang, Mama 'kan udah bilang kalau Aris harus pelan-pelan jalannya. Jangan berlari seperti tadi. Kamu ini masih kecil, Sayang." Evi memeluk tubuh sang putra dan mengecup dahinya. Dia menggendong Aris masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
"Ma, tutu." ucap Aris cadel. Walau baru satu tahun, tetapi dia sudah pintar berbicara meskipun tidak jelas.
"Aris mau minum susu? Sebentar, ya. Mama akan membuatkannya untuk Aris. Tunggu disini, oke?" perintah Evi dan mendapatkan jawaban senyum dari Aris. Bocah kecil itu seperti paham apa yang Ibunya katakan.
Beberapa detik kemudian, Evi kembali dengan membawa satu botol susu untuk Aris. Tetapi setelah berada di ruang tamu, dia sudah tidak mendapati putranya ada disana.
"Aris! Aris kamu dimana?" teriak Evi kebingungan, putranya itu selalu saja menghilang seperti ini meskipun hanya di tinggal sebentar saja.
"Aris! Kamu dimana, Sayang? Ini Mama udah bawain susu untuk kamu!" teriak Evi, dia masuk ke dalam kamar tetapi nihil.
Setelah berpikir, dia pun akhirnya tersadar jika tidak mungkin Aris masuk ke dalam kamar sendirian. Handel pintu sangat tinggi, jadi tidak memungkinkan Aris bisa menggapainya. Dan lagi, hanya di tinggal beberapa detik saja mana mungkin Aris menaiki anak tangga secepat itu.
__ADS_1
Evi mulai gelisah, dia memegang dahinya dan menggigit bibir bawah. Dirinya kembali berlari menuruni anak tangga, karena merasa khawatir, dia pun sampai lupa jika tidak mungkin anak sekecil Aris bisa menaiki anak tangga dalam waktu beberapa detik saja.
"Aris!" teriak Evi yang masih tidak menemukan putranya. ''Kemana anak itu? Astaga, dia sangat suka membuat Mamanya menjadi kehilangan seperti ini.'' lanjutnya yang merasa jika Aris masih berada di dalam rumah.
Wanita itu terus menyusuri setiap sudut ruangan, barangkali Aris bersembunyi di balik tirai atau di bawah meja. Tetapi tidak ada, dia sama sekali tak menemukan jejak Aris disana. Ketika Evi menoleh ke luar jendela, dia kaget melihat sang putra yang sudah berada di luar.
•••
Tbc
__ADS_1