Dilema Dalam Pernikahan

Dilema Dalam Pernikahan
Bab. 26 Sadar dari pingsan


__ADS_3

Tiga hari kemudian, Lusi masih berada di rumah Aji. Bahkan, Halimah- Mama Lusi juga masih berada disana. Sementara Elly, dia sudah pulang karena dirinya tinggal di luar kota. Hari ini Lusi akan kembali melanjutkan aktivitasnya sebagai pelajar pramugari. Dia akan membahagiakan sang Mama seperti yang Almarhumah Evi inginkan.


'Kak, aku akan menjaga Mama. Aku pasti tidak akan mengecewakanmu.' batin Lusi menatap ke atas langit.


Siangnya, dia pergi ke bandara di antar oleh sopir pribadi Aji. Tidak ada yang ikut bersama gadis itu untuk mengantarkan kepulangannya. Sedih? Tentu saja tidak, Lusi merasa biasa saja karena suatu saat nanti dia akan kembali lagi ke negara tercinta.


Selesai memantapkan pikiran untuk pergi, akhirnya wanita itu berjalan masuk ke dalam bandara. Terdengar aba-aba jika pesawatnya akan segera lepas landas.


****


Aris pulang dari sekolah, dirumah tidak seperti biasanya. Evi lah yang selalu menjemput dia saat pulang dari sekolah, tetapi sekarang, dirinya hanya akan pulang bersama dengan sopir pribadi. Itu sungguh tidak mengasyikkan. Bocah kecil itu masuk ke dalam rumah, disana tidak ada siapapun. Tak lama kemudian, pintu di ketuk dan Aris segera berlari membukanya.


Setelah pintu itu terbuka lebar, dia tersenyum manis. Dirinya langsung masuk ke dalam pelukan sang Oma.


"Oma! Ternyata Oma datang, Aris kesepian tidak punya teman." rengeknya bersedih.


"Mbak Ana kemana?" tanya Halimah sambil masuk ke dalam rumah.


"Mbak sedang berada di halaman belakang, dia menjemur pakaian."


Halimah hanya mengangguk, untung saja jarak antara rumahnya dan rumah Aji hanya sekitar tujuh ratus meter, jadi dia bisa selalu menjaga sang cucu.


"Aris baru pulang sekolah?"

__ADS_1


Bocah itu menjawab dengan anggukan kepala.


"Sudah makan belum? Bagaimana kalau Oma suapi kamu?"


Aris dengan senang hati menjawab iya, dia berlari kecil menuju sofa dan duduk disana. Sedangkan Oma, dirinya pergi ke dapur untuk mengambilkan Aris makan. Saat baru saja menyuapkan satu sendok nasi, tiba-tiba Ana muncul dari arah dapur.


"Eh, ada Nyonya." wanita berusia tiga puluh lima tahun itu melirik Aris yang sedang mengunyah makanan. "Nyonya, maaf karena saya belum sempat menawarkan makan pada Den Aris."


"Tidak apa, Mbak. Saya kesini juga untuk menjaga cucu saya, mbak Ana bisa mengerjakan tugas lain."


"Terima kasih, Nyonya. Kalau begitu saya permisi." Ana berlalu dengan sopan dari hadapan Oma.


Halimah kembali bersenda gurau sambil berbincang masalah sekolah Aris tadi. Kegiatannya, dan apa saya yang Aris ketahui.


****


Wanita itu mencoba untuk bangkit dari baringnya, tetapi dia tidak bisa karena merasakan kepala yang sangat pusing.


"Dimana aku?" gumamnya lirih sambil melihat sekitar ruangan bernuansa putih itu.


Tak lama kemudian, masuklah Dokter wanita yang berniat untuk mengecek kondisi wanita tersebut. Sang Dokter tersenyum ketika mengetahui pasiennya sudah sadar.


"Nona, sebaiknya Anda jangan terlalu banyak bergerak. Luka Anda cukup berat dan Anda harus banyak istirahat." Dokter itu memegang pundak sang wanita. "Izinkan saya mengecek keadaan Anda terlebih dahulu." lanjutnya seraya tersenyum manis.

__ADS_1


Dokter itu mengeluarkan stetoskop, dia mulai memeriksa keadaan sang wanita, dirinya mendengarkan suara denyut nadi, jantung dan paru-paru. Semuanya aman dan kelihatan sudah membaik.


"Akhirnya, Nona. Saya lihat keadaan Anda sudah membaik, tapi Anda harus tetap banyak istirahat."


Wanita itu hanya diam saja, dia terlihat bingung.


"Aku dimana? Apa yang terjadi padaku?"


Seketika Dokter itu langsung menatap sang wanita dengan kaget, apa pemeriksaannya itu bener jika wanita tersebut telah mengalami amnesia?


"Nona, apa saya boleh tahu siapa nama Anda?"


"Nama?" wanita itu berpikir keras, dia memejamkan mata dan sama sekali tidak bisa menemukan namanya sendiri.


"Aku, aku tidak tahu siapa namaku. Dokter, apa yang terjadi padaku? Kenapa, kenapa aku bisa lupa dengan namaku sendiri? Bahkan aku sama sekali tidak bisa mengingat apa pun."


Dokter itu mencoba untuk menenangkan pasiennya, dia mengelus lembut pundak wanita yang terlihat kebingungan tersebut.


"Nona, tenanglah. Anda jangan terlalu berpikir keras seperti ini, tidak baik untuk kesehatan Anda, Nona." ucap Dokter itu sambil menatap Evi.


Ya, dia adalah Evi Andriana. Dirinya di temukan tergeletak di bawah juragan. Pemburu binatang lah yang menemukan wanita itu, karena bingung dan melihat Evi masih bernyawa, akhirnya mereka membawa Evi ke rumah sakit. Lalu, disinilah dia berada, entah dimana letaknya dan dalam keadaan amnesia.


••••

__ADS_1


Tbc



__ADS_2