
Dua Minggu kemudian, Aris sudah dekat dengan Ayuna. Bahkan mereka pergi dan pulang bersama jika ke kampus. Sementara Clara, gadis itu merasa kesal dan benci pada Ayuna. Dia pun berniat untuk menjauhkan Ayuna dari Aris. Padahal awalnya, dialah yang terlebih dahulu terpikat dan terpesona dengan Aris. Dirinya berharap jika dia yang bisa dekat dengan pemuda itu, tapi nyatanya tidak. Ayuna memang selalu menang di depannya, padahal anak itu adalah anak orang miskin dan ibunya sakit-sakitan tetapi kenapa begitu banyak pria yang menyukai Ayuna.
Aris melihat isi dompetnya yang sudah menipis, dia memberikan uang belanja untuk sang bibi karena Bibinya itu adalah seorang janda. Suaminya meninggal ketika sedang dalam melakukan pekerjaan. Dirinya hanya memberi dua ratus ribu untuk uang belanja, dan dia melihat sisa di dompet itu hanya tinggal tiga ratus ribu.
Pemuda itu berdecak, dia berpikir harus bekerja apa di desa yang seperti ini. Sementara dirinya tidak memiliki pengalaman kerja sama sekali. Bibi pun menyarankan jika Aris ingin bekerja maka sepulang dari kuliah atau jika dia libur kuliah maka dirinya bisa bekerja di sawah.
Dia pun mencoba dia bekerja di sana dengan bayaran satu hari seratus dua puluh ribu. Tetapi, baru juga mulai bekerja dirinya sudah terkena apes dan akhirnya marah-marah sendiri. Bagaimana tidak, wajahnya penuh dengan lumpur karena dia salah teori mencangkul dan akhirnya mengenai diri sendiri. Bajunya juga kotor, dia sudah seperti anak kecil yang bermain lumpur.
Aris meninggalkan pekerjaan itu dia merasa jika pekerjaan tersebut kurang cocok dengannya lalu apa yang bisa dia lakukan di desa ini lagi, Sementara pekerjaan di desa hanyalah sebagai petani ataupun toko bangunan.
"Huft, ternyata bener sangat susah mencari pekerjaan. Aku jadi rindu dengan kehidupan di kota. Dimana aku bisa menghamburkan uang dan tidak memikirkan masalah pekerjaan." gumamnya sambil menendang botol minuman.
Dari kejauhan, Clara melihat Aris. Dia membenahi penampilan dan berjalan dengan anggun ke arah pria itu.
"Aris?" panggilnya membuat Aris menoleh.
"Clara? Kamu disini? Apa tidak kuliah?" tanya Aris heran.
"Kebetulan aku masuk siang hari ini, bagaimana denganmu? Apa kamu tidak kuliah, kenapa berada di tempat ini? Apa yang sedang kamu cari?" begitu banyak pertanyaan yang Clara layangkan.
"Aku sedang mencari pekerjaan."
Clara tersenyum. Sebuah ide terlintas di benaknya agar Aris bisa dekat dengan dia dan seperti memiliki hutang Budi.
"Kamu mencari pekerjaan? Lalu, bagaimana hasilnya?"
Aris menggeleng kesal. "Aku tidak mendapatkan pekerjaan yang cocok."
__ADS_1
"Aris, kenapa kamu bisa berada di desa ini? Aku yakin jika kamu pasti anak orang kaya bukan? Terlihat dari penampilan dan gaya kamu.''
"Tidak, aku berasal dari keluarga sederhana. Kamu jangan salah pemikiran, Clara. Jika aku anak orang kaya, untuk apa aku berada di tempat ini dan susah payah mencari pekerjaan?" Aris berbohong, dia tidak ingin jika wanita mencintainya hanya karena harta dan tidak tulus.
"Aris, aku bisa membantumu mencari pekerjaan. Kebetulan aku tadi melihat ada papan lowongan kerja di salah satu Ruko khusus bangunan. Jika kamu mau, aku bisa mengantarkanmu kesana."
"Benarkah? Tentu saja aku mau, ayo!" Aris menarik tangan Clara, hingga gadis itu tersipu malu dan jantungnya berdetak sangat kencang.
Mereka telah sampai di tempat tersebut, Aris mengatakan jika dia bisa bekerja sepulang dari kuliah. Ya, sekitar pukul dua siang. Kebetulan toko bangunan itu membutuhkan pekerja, pada akhirnya Aris pun di terima. Pria itu merasa senang hingga reflek dirinya memeluk tubuh Clara.
"Maaf, maafkan aku! Aku sangat bahagia sekali, akhirnya aku mendapatkan pekerjaan. Semoga saja cocok dan aku betah berada disini."
Clara ikut tersenyum manis, dia yakin setelah ini Aris pasti mereka memiliki hutang Budi padanya. Dan jika sudah begini, maka Aris tidak bisa kabur dari dia.
Aris pulang ke rumah dengan bersiul, dia bahagia sekaligus senang karena akan segera mendapatkan uang dari hasil kerja kerasnya. Pemuda itu berniat untuk melamar Ayuna jika dia sudah memiliki usaha sendiri nantinya. Ya, dia telah melupakan Hanna, gadis cantik, seksi dan kaya raya.
"Ada apa? Kau terlihat bahagia hari ini. Bukankah kau mengatakan jika dirimu tidak punya uang?"
"Huft, bagaimana aku tidak bahagia. Wil, hari ini kakakmu sudah mendapatkan pekerjaan, ya meskipun hanya sebagai pengangkut bahan bangunan. Tapi, setidaknya aku kerja di toko."
Ingin rasanya Willson tertawa, tetapi dia menahannya. "Bangunan? Seorang Aris Pranata, si playboy yang sekarang telah menjelma menjadi seorang kerja buruh. Wah, sangat turun drastis tiga ratus delapan puluh derajat kak." ejeknya membuat Aris melotot.
"Hei, diamlah! Aku masih mau bekerja, sementara kau?"
"Aku?" Willson menunjuk dirinya. "Aku minta saja padamu, lagipula aku jarang jajan, tidak seperti dirimu."
Pletak.
__ADS_1
"Aku jajan karena suntuk dan banyak pikiran." Aris menyentil dahi Willson.
"Bagaimana masalah gajinya kak?"
"Cukup lumayan, kurang lebih dua juta perbulan. Ya, sangat banyak untuk sekedar jajan dan memberikan uang belanja pada bibi."
"Wah, aku salut denganmu kak. Kau ternyata mau berusaha mencari pekerjaan, aku pikir kau hanyalah anak manja yang tidak tahu apa-apa."
Aris melirik tajam ke arah Willson. ''Itu kau, bukan aku." ejeknya kesal.
*****
Malam pun tiba, Aris pergi membeli sate yang berada di ujung gang. Dia membawa sate itu ke rumah Ayuna, sesampainya di sana, ternyata ayunan sudah duduk bersama seorang pria yang usianya sekitar lebih tua dari mereka. Bahkan, di situ juga ada ibu Ayuna. Meski begitu, Aris memberanikan diri untuk menghampiri mereka semua.
Ibu dan pria itu heran karena baru pertama kali melihat Aris. Ayuna pun heran kenapa Aris berkunjung ke rumahnya. Ayuna memperkenalkan pemuda itu pada orang tua dan juga seorang pria yang di sampingnya itu.
Pria tersebut adalah Farhan, dia sangat menyukai Ayuna dari dulu hingga sekarang. Bahkan, Farhan pun berencana untuk melamar Ayuna tetapi gadis itu belum mau untuk menikah ataupun menerima lamaran. Maka dari itu Farhan menunggu sambil dia bekerja di salah satu perusahaan terkenal di kota.
"Bu, saya membawakan ini untuk Ibu." Aris menyodorkan sate yang dia beli tadi.
"Kenapa harus repot-repot, nak? Terima kasih." Ucap sama ibu sambil tersenyum ramah.
Aris pun membalas senyuman itu, setelah dia mengatakan sama-sama dirinya kembali mengobrol dengan Ayuna. Sementara Ibu, dia masuk ke dalam rumah. Aris menanyakan bagaimana kabar Ayuna, bagaimana tugas kuliah mereka dan dia pun menceritakan jika dirinya sudah mendapatkan pekerjaan di toko bangunan. Sementara Farhan, dia melirik Aris dengan tatapan tidak suka. Dalam hatinya, dia sudah merasa jika Aris pasti memiliki maksud terselubung mendekati Ayuna.
•
•
__ADS_1
Tbc