Dilema Dalam Pernikahan

Dilema Dalam Pernikahan
Bab. 45 Melupakan janji


__ADS_3

Hari ini Aji memutuskan untuk menginap di kota tersebut, dirinya masih penasaran dengan wanita yang sangat mirip dengan almarhumah istrinya. Setelah di telusuri, ternyata wanita itu tinggal di jalan anggrek nomor 120. Aji lebih gencar mencari informasi tentang wanita bernama Ayesha itu.


Dirinya hanya berdiam diri di dalam mobil, saat ini dia berada tak jauh dari rumah Alex. Tak lama kemudian, keluarlah sebuah mobil Alphard berwarna putih. Pria tersebut menatap ke arah jendela dengan seksama, dia sama sekali tak berkedip sebelum melihat siapa yang berada di dalam mobil tersebut.


"Kebetulan sekali, Ayesha keluar dari rumah dan dia juga sendirian. Aku harus mengikutinya," ujar Aji lalu dia menghidupkan starter mobil dan mulai melaju pergi.


Beberapa menit kemudian, di salah satu cafe. Aji sudah sampai disana, dia dapat melihat mobil Ayesha terparkir di tempat itu. Ini adalah kesempatannya untuk bisa mendekati wanita tersebut. Untuk sesaat Aji melupakan anak dan istrinya yang sedang berada di rumah. Baru juga melakukan pendekatan selama dua Minggu, sekarang sudah ada yang akan menjadi penghalang bagi keluarga Lusi dan Aji.


Aji masuk ke dalam cafe, dia melihat ke sekeliling mencari keberadaan Ayesha. Tak jauh dari pintu masuk, akhirnya dia menemukan wanita itu yang sedang duduk sendirian sambil bermain ponsel. Aji membenahi penampilan, dirinya berlagak sok cool berjalan ke arah Ayesha alias Evi.


"Ehem, permisi." sapa Aji ketika berada di dekat Evi.


Wanita itu menoleh dan mengerutkan keningnya. "Ya, ada apa?" tanyanya sedikit melupakan Aji.


"Boleh aku duduk disini?"


Evi pun heran dengan kelakuan pria asing tersebut. "Untuk apa? Maksudku, apa kita saling kenal? Lalu, kenapa Anda ingin duduk disini? Saya lihat, masih banyak kursi yang kosong di tempat lain." ujarnya seraya melihat ke arah kursi kosong.


"Kamu melupakan aku?"


Lagi-lagi dahi Evi berkerut.


"Aku Aji, kita bertemu semalam sewaktu di perusahaan kakakmu."

__ADS_1


Evi terdiam, dia kembali mengingat kejadian kemarin. Alex mengenalkan dia pada banyak orang dan tentu saja dirinya lupa. Tetapi, nama Aji sangat tidak asing di telinganya.


"Kamu masih belum ingat?"


"Aji," Evi langsung tersenyum. "Astaga, maaf jika aku melupakanmu. Begitu banyak orang yang aku temui hingga aku tidak bisa mengingatnya satu persatu." sambungnya sambil menepuk dahi.


"Baiklah, tidak masalah. Kalau begitu, apa aku boleh duduk disini?"


"Ya, tentu saja. Silakan, kebetulan aku sendiri." Evi tersenyum manis, senyuman yang sangat Aji sukai.


Aji mulai mendudukkan diri di kursi itu, dia menautkan kedua tangannya dan menatap Evi sangat dalam.


Evi yang sadar langsung menegur. "Apa ada yang salah denganku?" dia meraba seluruh wajahnya.


"Kamu sangat cantik." ucap Aji membuat Evi tersipu malu.


"Ev—, Ayesha." Aji dengan cepat meralat panggilan, dia lupa jika wanita yang ada di depannya saat ini bukanlah Evi melainkan Ayesha.


Evi menaikkan kedua alisnya tanda bertanya ada apa.


"Wajahmu mengingatkanku pada seseorang."


"Benarkah? Siapa?"

__ADS_1


"Dia telah tiada, wanita yang sangat aku cintai dan saat ini dia sudah bahagia bersama dengan Tuhan."


Seketika senyum Evi surut, dia turut berduka atas kepergian seseorang itu.


"Apa dia istrimu?"


Aji mengangguk. "Sayangnya dia sangat cepat pergi meninggalkan aku."


"Boleh aku tahu siapa namanya? Aku turut berdukacita."


"Terima kasih. Namanya Evi, dia sangat mirip denganmu. Wajahnya, senyumnya, tata bicaranya, dan cara menatapnya." jelas Aji panjang lebar.


Entah mengapa nama Evi tidak asing di telinganya, dia seperti perlu mengingat sesuatu tetapi sulit rasanya.


"Kamu tidak perlu bersedih, aku yakin suatu saat nanti kamu pasti akan mendapatkan wanita seperti dirinya. Memang mungkin tidak sama persis, tetapi bisa saja sebaik almarhumah istrimu."


"Aku berharap wanita itu adalah kamu."


Evi hampir saja tersedak ludahnya sendiri, dia terkejut dengan perkataan Aji barusan. "Apa yang kamu katakan?" dirinya menggelengkan kepala.


"Mungkin saja kita bisa melakukan pendekatan setelah ini. Jujur aku sangat sulit melupakan almarhumah istriku, dia istimewa di hatiku, dan tidak akan terganti. Tapi, saat melihatmu entah mengapa aku merasa nyaman dan tenang." ujar Aji benar-benar melupakan Lusi.


Evi terdiam, pandangan mereka saling beradu. Evi pun sejujurnya merasa nyaman berada di dekat Aji, dia bingung kenapa perasaan ini tiba-tiba muncul setelah bertemu dengan pria itu. Padahal, mereka baru pertama kali bertemu kemarin siang.

__ADS_1


•••


Tbc


__ADS_2