
17 TAHUN KEMUDIAN
Tak terasa hari berganti dengan Minggu, Minggu berganti dengan bulan, dan bulan pun berganti dengan tahun. Terlihat seorang pemuda berpakaian kasual dengan memakai celana jeans robek, baju kaos berwarna putih di padu jaket kulit berwarna hitam, dan sepatu berwarna cokelat mengkilat. Dia berjalan menuruni anak tangga sambil bersiul riang. Hari ini dirinya ada janjian dengan salah satu kekasihnya.
Ya, pemuda itu adalah seorang playboy. Sudah banyak hati yang dia sakiti tetapi dirinya tetap cool. Ketampanan, senyum manis, gaya elit, anak orang kaya, membuat pemuda itu banyak di gilai oleh kaum hawa. Namun, dia hanya menggunakan para wanita untuk bermain-main saja atau selingan. Mantan kekasihnya tidak terhitung oleh jari, karena setiap gadis yang dia temui langsung jatuh cinta melihatnya.
"Aris! Mau kemana kamu?" Aji bertanya ketika Aris berjalan melewati ruang tamu, disana ternyata ada kedua orang tuanya yang sedang bersantai.
Bener sekali, dia itu adalah Aris Pranata. Putra sulung dari pasangan Aji Pranata dan Evi Andriani. Bocah kecil yang dulu imut dan menggemaskan itu sekarang menjelma menjadi pemuda yang menyebalkan, Royal, dan bersikap sesukanya. Namun, meskipun begitu dia tidak pernah menyakiti hati kedua orang tuanya dengan kata kata. Sikap Aris seperti ini karena Evi yang sangat memanjakannya dulu sewaktu Aris masih kecil.
"Papa, Mama, dan adikku tercinta." Aris berjalan mendekati keluarganya.
Ara Pranata, dia adalah anak kedua dari Aji dan Evi. Wajahnya sangat cantik, imut, mirip seperti Evi. Tak sedikit juga pemuda yang mendekati gadis itu, tetapi di usianya ini, Ara belum memikirkan masalah percintaan. Dia ingin fokus belajar terlebih dahulu.
Aris duduk di sebelah Ara. Dia mengacak rambut adiknya dengan gemas. Sementara gadis berusia delapan belas tahun itu berdecak kesal, dirinya menjauhkan tubuh dari Aris.
"Kakak kebiasaan deh." pungkasnya kesal sambil membenahi rambut.
"Kamu akan cepat tua kalau suka marah seperti ini."
Ara hanya memutarkan bola matanya jengah.
"Mau kemana Aris? Kenapa setiap malam kamu harus pergi keluar? Papa heran, apa manfaat yang kamu dapatkan jika dirimu keluar seperti itu?" Aji menatap Aris yang hanya bersikap santai.
"Biasalah, Pa. Namanya juga anak muda, papa seperti tidak tahu saja jaman sekarang."
"Pa, kak Aris mana bisa diam di rumah kalau dia tidak sakit." sambung Ara mengompori sang papa.
"Hei, diamlah anak kecil. Kamu itu perempuan, tidak tahu apa pun tentang laki-laki."
"Heh, sombong!" jawab Ara kesal.
"Sudah-sudah, kenapa kalian malah bertengkar?" Aji melerai keduanya. "Aris, setidaknya pikirkan sekali saja sulitnya mencari uang. Kamu itu sangat royal, boros, bahkan begitu banyak orang yang datang ke papa dan meminta uang karena ulahmu. Jika kamu tidak mampu mentraktir teman-temanmu, maka seharusnya kamu tidak perlu melakukan itu. Lihat kondisi uangmu, jangan asal mengajak teman saja." jelas Aji panjang lebar, setiap malam dia menceramahi Aris tetapi pemuda itu tetap tidak mau tau.
__ADS_1
"Jadi papa perhitungan sama anak sendiri?"
"Bukan masalah perhitungan Aris, tapi papa hanya ingin kamu belajar hemat dan mandiri. Jangan sedikit-sedikit orang tua yang kamu andalkan, kamu tidak tahu betapa susahnya orang tuamu ini mencari uang dan kamu tinggal seenaknya saja berfoya-foya diluaran sana tanpa berpikir panjang."
Aris hanya diam, dia sudah biasa di ceramahi seperti ini dan dirinya sudah kebal.
"Usia kamu semakin bertambah, apa kamu tidak ingin menikah, maka dari itu belajarlah mandiri mulai sekarang."
"Aku belum kepikiran untuk menikah." jawab Aris membuat Aji menggelengkan kepala.
"Aris, Mama mengaku jika selama ini Mama memanjakan kamu. Tetapi, bukan begini yang Mama inginkan, Nak." ujar Evi lembut.
Aris tidak bisa menjawab jika sudah Evi yang berbicara, dia Sangat menyayangi sang Mama dan tidak ingin menyakiti hatinya.
"Aku pergi dulu, teman-temanku sudah menunggu." Aris beranjak dari sofa tanpa memperdulikan panggilan dari Aji.
Setelah Aris keluar dari rumah, Aji memijit pelipisnya yang berdenyut.
Ara yang tahu keadaan saat ini lebih memilih untuk pergi dari sana, gadis cantik itu berjalan menaiki anak tangga menuju kamarnya. Dia dekat dengan kedua orang tuanya, tidak seperti Aris yang lebih dekat dengan Evi dibandingkan Aji.
"Kenapa kamu harus meminta maaf? Ini bukan kesalahanmu, mungkin aku saja yang kurang keras mendidiknya hingga dia menjadi seperti ini."
"Aku terlalu memanjakan dia dan memenuhi segala keinginannya, Mas. Apa karena semua itu maka Aris jadi melunjak?"
"Tidak, Sayang. Kamu jangan berpikiran seperti itu. Sudah, aku pasti bisa membuat anak itu agar menjadi lebih baik lagi." Aji memeluk tubuh Evi dari samping.
****
Aris sudah sampai di tempat tongkrongan, dia membawa satu botol wine dan cemilan. Ya, beginilah aktivitas para anak muda itu setiap malam. Mereka minum-minum alkohol dan berpesta ria. Terkadang, salah satu teman Aris memanggil wanita untuk dijadikan tontonan mereka. Namun, sepertinya hari ini merekalah yang akan datang sendiri ke tempat para wanita itu.
"Hei, Ris!"
Mereka bertos ria, lalu duduk di bangku panjang. Aris meletakkan wine di tengah begitupun dengan makanannya.
__ADS_1
"Bagaimana? Apa malam ini kau kembali di ceramahi Papamu?" tanya salah satu teman Aris.
Pemuda itu hanya menggedikkan bahunya, dia membuka tutup wine dan mulai menuangkan isinya ke dalam gelas.
"Kalian tahu 'kan bagaimana papaku? Dia pasti rugi jika tidak menceramahiku satu malam saja." ucap Aris lalu meminum wine yang ada di gelas dengan satu kali tenggakan.
"Gimana, ya? Sebenarnya kami bertiga juga sama sepertimu, tetapi kami tidak peduli. Ya, jika orang tua berceramah sebaiknya diam saja dan pikirkan hal lain yang mungkin bisa membuatmu kembali bersemangat menjalani hari." ucap Johan, teman Aris.
Mereka saling berbincang hingga tak lama kemudian, datanglah seorang pemuda yang usianya lebih muda di bawah mereka. Dia adalah Willson Reagan, sepupu Aris sekaligus anak dari pasangan Ronald dan Lusi. Saat ini Willson berusia sembilan belas tahun, dia berkuliah di tempat yang sama seperti Aris.
"Hai, Wil. Kemana saja?" tanya Aris mengangkat sebelah tangan, mereka semua pun bertos.
"Maaf kak, aku terlambat ya?" tanya Willson sambil duduk tak jauh dari Aris.
"Lumayan, terlambat lima belas menit. Kau 'kan memang seperti ini tiap harinya, ngaret." ejek Aris membuat Willson terkekeh pelan.
"Oh ya, apa kegiatan malam ini? Apakah ada wanita?" tanya Willson sambil mengedarkan pandangan.
"Kau tidak ingin minum dulu? Malam ini kitalah yang akan mendatangi wanita-wanita itu." ucap Aris bersemangat.
"Benarkah? Wow, aku sudah tidak sabar menemui mereka." sambung Willson.
Pergaulan mereka begitu bebas, tetapi mereka berlima bisa menjaga diri dan kehormatan orang tua. Meskipun suka minum alkohol, tetapi mereka tidak pernah merusak gadis atau membuat nama keluarga menjadi jelek.
"Bagaimana, apa kita bisa pergi sekarang?" tanya Johan pada teman-temannya.
Setelah semuanya mengangguk, mereka pun pergi dari sana untuk menuju ke bar. Kelima pemuda tampan itu menaiki motor mereka masing-masing.
•
•
Tbc
__ADS_1