
Evi segera berlari menghampiri putranya yang sangat kotor karena bermain tanah. Sesampainya di luar, bukannya marah tetapi wanita itu malah tertawa. Bagaimana tidak, wajah Aris saat ini di penuhi oleh lumpur begitupun dengan tubuhnya.
"Sayang, apa yang kamu lakukan? Astaga, Mama mencarimu dari tadi ternyata kamu ada disini. Coba lihat wajahmu, sangat menggemaskan sekali." Evi tertawa sambil mencubit pipi Aris dengan pelan.
Anak berusia satu tahun itu hanya tertawa menanggapi ocehan Mamanya. Evi teringat hari yang sudah sore dan sebentar lagi Aji pasti pulang ke rumah. Ya, semenjak kelahiran Aris, pria itu tidak pernah lagi pulang malam. Tentu saja dia ingin bergantian menjaga sang putra yang sedang aktif-aktifnya.
Evi menggendong Aris masuk ke dalam rumah, dia tidak peduli jika bajunya kotor karena lumpur.
Beberapa saat kemudian, Aris selesai mandi. Dia sudah wangi dan bersih sekarang ini. Tak lama, pintu kamar terbuka. Aji masuk ke dalam dengan senyum manis di bibirnya. Dia berlari kecil ke ranjang sambil merentangkan tangan.
"Halo anak Papa," Aji memeluk tubuh Aris, dia bahkan menciumi pipi anak itu. "Eum, sudah wangi ternyata. Aris baru selesai mandi, ya?" tanyanya berbicara pada sang putra yang hanya tertawa menanggapi perkataannya barusan.
Evi keluar dari kamar mandi dengan balutan handuk di atas kepalanya, dia tersenyum manis ke arah Aji yang sudah duduk di atas ranjang bersama sang putra.
"Mas, kamu sudah pulang?"
Aji mengangguk, dia mengurai pelukan lalu berjalan mendekati Evi yang tampak seksi. Tanpa berbasa-basi, dirinya langsung memeluk sang istri dari belakang dan mengecup tengkuk wanita itu dengan penuh gai*rah. Sebelum semuanya semakin menjadi, Evi pun melepaskan pelukan Aji. Dia menjauh sambil membawa pakaiannya.
__ADS_1
"Mas, jangan melakukannya di siang hari. Apa kamu tidak malu di perhatikan oleh anak kita?" Evi melirik Aris yang memang memperhatikan mereka berdua.
"Biarkan saja, dia belum tahu apa-apa."
Evi berdecak sambil tertawa pelan. Dirinya segera berganti pakaian dan mengeringkan rambut menggunakan hairdryer. Setelah selesai berganti, mereka berdua duduk di atas ranjang.
"Kamu tidak mandi?" tanya Evi pada Aji yang sedari tadi menatapnya tanpa berkedip. Pria itu merasa jika istrinya makin hari semakin cantik dan tidak bosan di pandang. Cintanya bahkan selalu bertambah, tanpa ingin berkurang sedikitpun.
"Nanti saja, aku saat ini sedang menikmati ciptaan Tuhan yang sangat indah.
"Maksudnya?" Evi menatap Aji dengan heran.
"Aku?"
"Hm, kamu sangat indah dan cantik. Aku tidak pernah bosan memandangmu, maka dari itu, aku selalu ingin cepat-cepat pulang untuk bertemu kamu dan anak kita." Aji menggenggam jemari Evi lalu mengecupnya.
Wanita itu tersenyum manis, dia juga sangat mencintai Aji. Setiap hari cintanya semakin bertambah.
__ADS_1
"Mas, kamu tau apa yang Aris lakukan tadi?"
Aji sukses menggeleng cepat dan Evi mulai menceritakan semuanya. Dimana masih ada jendela yang terbuka karena dia lupa menguncinya, dan sampai Aris bermain tanah di luar hingga tubuhnya sangat kotor. Aji tertawa mendengar cerita dari Evi, dia tidak mempermasalahkan itu karena putranya memang sangat aktif.
"Ternyata anak Papa memang bijak dan pintar," Aji mencium pipi Aris.
****
Di sudut kota lain, seorang pria tengah bermain dengan anak perempuan berusia tiga tahun. Beginilah kegiatannya setiap hari setelah pulang bekerja, dia harus menjaga anak sang kakak yang sudah tidak lagi mempunyai Ayah. Sungguh itu semua tidak membuat pria itu kesal atau lainnya. Dia malah senang bisa ikut menjaga anak sang kakak.
"Emira, ayo lempar bolanya!" teriak pria itu yang sedang bermain dengan dengan sang keponakan. Meskipun bocah kecil itu berjenis kelamin perempuan, tetapi dia suka bermain bola.
"Om-om, tangkap bolanya ya?" ucap Emi cadel.
Pria itu mengangguk lalu dia merentangkan tangan untuk menangkap bola yang Emira lempar. Dari kejauhan, seorang wanita cantik berjalan ke arah keduanya. Dia memanggil pria itu hingga membuatnya menoleh.
••••
__ADS_1
Tbc