
Meera tersenyum lebar, dia menghampiri putra semata wayangnya dan memeluk tubuh atletis itu dengan erat. Senyuman merekah tidak luntur sedikitpun dari bibir Meera, meski putranya terus menatap ke arah meja makan.
"Akhirnya, anak Mama pulang juga. Kamu tidak kangen dengan Mamamu ini? Kenapa hanya—" ucapan Meera terputus ketika dia mengurai pelukan dan melirik meja makan.
"Ya ampun, Mama sampai lupa mengenalkan dia. Ayo sini, Mama kenalkan kamu dengan wanita itu." Meera menarik lengan sang putra, lalu mereka duduk berhadapan dengan Evi.
"Alex, dia ini Ayesha. Apa kamu ingat tentang seorang gadis mengalami amnesia, yang waktu itu Mama ceritakan?"
Alex mengangguk.
"Dialah orangnya, Mama sengaja mengajak di ke rumah ini karena tidak ada satu orang pun yang mau menolongnya,"
Alex melirik wajah cantik Evi yabg polos tanpa make up. Dia menunduk karena takut khilaf.
"Kamu tidak ingin berkenalan dengannya?"
"Mama sudah memberitahuku siapa nama dia bukan? Lalu, kenapa aku harus kembali berkenalan dengannya? Menurutku, itu tidak terlalu penting." jawab Alex cuek sambil mengambil piring yang sudah berisi makanan. Ya, di usianya yang sudah menginjak dua puluh delapan tahun ini, dirinya bahkan belum memiliki seorang kekasih.
Meera melirik putranya sejenak, dia takut dengan isu yang beredar jika Alex memiliki penyimpangan. Buktinya, dia sama sekali tidak tertarik dengan wanita manapun, secantik apa pun, dan seseksi apa pun.
__ADS_1
"Ayo, Ma. Kenapa hanya diam saja? Bukankah kita akan makan malam bersama?" Alex berhasil membuyarkan lamunan Meera.
Wanita paruh baya itu tersenyum dan langsung menyuapkan nasi ke dalam mulutnya. Mungkin pikirannya salah, dia tidak boleh berpikiran buruk tentang kondisi sang putra.
****
Pagi hari pun tiba, Evi bangun sangat pagi-pagi sekali karena dia ingin membantu Meera melakukan tugas rumah. Maklum saja, karena lebih sering tinggal sendiri, Meera tidak mencari asisten rumah tangga. Dia bisa menangani semuanya sendiri, meskipun harus kembali beraktivitas di rumah sakit.
Ketika Evi menyibakkan tirai jendela kamar, tak sengaja matanya menangkap sosok pria tampan yang sedang olahraga di halaman belakang. Dia adalah Alex, memang seperti itulah kebiasaannya setiap pagi. Pria tersebut tidak pernah bangun siang, dia selalu terbangun di pagi hari dan wajib melakukan olahraga meskipun hanya pemanasan saja.
"Rajin sekali," tanpa sengaja, satu ungkapan terlontar dari mulut Evi. Matanya tetap melihat ke bawah dan enggan untuk beralih.
Alex terlihat sangat tampan jika dari dekat, keringat yang menetes di tubuhnya membuat dia semakin keren. Banyak wanita yang tertarik dengannya, tetapi dia masih belum berniat untuk mendekati wanita manapun.
Suara pintu di ketuk dapat mengalihkan pandangan Evi, wanita itu melirik ke pintu lalu berteriak.
"Iya sebentar!" jawabnya sambil berlari menuju pintu.
Saat sudah terbuka, ternyata disana sudah ada Meera.
__ADS_1
"Mama," Evi tersenyum kikuk. "Maaf setelah bangun aku tidak langsung keluar dari kamar, aku tadi sedang—" wanita itu dengan cepat menghentikan perkataannya, dia takut Meera berpikiran jelek tentangnya.
"Sedang apa?"
"Membereskan kamar," jawab Evi mantap.
Meera hanya mengangguk. "Mama datang kesini ingin mengatakan jika sekarang Mama akan pergi ke rumah sakit. Tadi pihak rumah sakit menghubungi Mama, mereka bilang ada pasien yang harus di operasi. Mama belum sempat menyiapkan sarapan, apa kamu bisa membantu Mama untuk menyiapkan sarapan pagi?"
Tentu saja Evi mengangguk cepat, hanya membuat sarapan tidaklah berat baginya.
"Kalau begitu, Mama pergi dulu, ya? Kamu hati-hati di rumah,"
"Iya, Ma. Sampai jumpa," Evi berjalan mengikuti Meera, dia ingin mengantarkan wanita itu sampai ke teras.
Setelah tiba di teras, Meera berpamitan pada Alex. Dan saat itu pula, pria tersebut melirik Evi. Mungkin Meera mengatakan sesuatu tentang wanita itu hingga membuat Alex melihat ke arahnya. Tak lama kemudian, Meera masuk ke dalam mobil dan pergi bersama sang sopir pribadi.
Alex berjalan menuju pintu utama, disana masih ada Evi yang berdiri sambil meremas ujung baju yang dia kenakan.
Pria tersebut berhenti di sebelah Evi sejenak. "Cepat buatkan sarapan untukku, aku sudah lapar." sesudah mengatakan hal itu, dia segera berlalu dari hadapan Evi.
__ADS_1
••••
Tbc