Dilema Dalam Pernikahan

Dilema Dalam Pernikahan
Bab. 30 Mencari perhatian


__ADS_3

Elena terus saja mencoba mendekati Aji, pertama dia akan mengambil hati Aris terlebih dahulu barulah dirinya bisa dekat dengan Aji. Wanita itu bahagia dengan kepergian Evi, dirinya berhasil menyingkirkan satu penghalang untuk mendapatkan Aji.


Saat ini Elena tengah berada di rumah Aji, kebetulan Halimah sedang berlibur ke luar kota, lebih tepatnya berkunjung di rumah anak angkatnya. Ya, anak angkat Halimah laki-laki dan dia bernama Furqon. Istri Fur baru saja melahirkan dan Halimah diminta untuk menemani wanita itu jika dirinya pergi bekerja. Sebab, mertua Furqon tinggal di provinsi yang berbeda dengan mereka.


Kembali pada Elena, wanita licik itu membuatkan kopi yang Aji minta. Bahkan, dia juga menyiapkan bekal untuk Aris. Dirinya membawa nampan berisi satu gelas kopi lalu meletakkan di atas meja. Dirinya merasa jika dia sudah seperti istri seorang Aji Pranata.


"Mas, kamu nanti siang mau makan pakai apa? Aku akan menyiapkannya untukmu."


"Tidak perlu repot-repot, El. Aku bisa menyiapkannya sendiri, ada Sisil juga, aku bisa memintanya agar dia mengantarkan makananku. Lagipula, itu restauran milikku, jadi aku bebas ingin makan apa saja."


Elena hanya mengangguk kesal, tetapi dia tetap tersenyum meskipun palsu.


"Aris, kamu pergi sekolah sama Tante aja, ya? Papa kamu hari ini ada pertemuan penting dengan salah satu pelanggan."


Aris langsung menggeleng cepat. "Aku mau sama Papa!" titahnya harus.

__ADS_1


Aji mengetahui isi hati putranya, dia tidak ingin memaksa dan menyetujui permintaan Aris.


"El, terima kasih karena belakangan ini sudah banyak membantuku. Kamu membersihkan rumah yang tentunya bukan salah satu dari pekerjaanmu."


"Kamu tidak perlu berterima kasih, Mas. Aku ikhlas membantu kamu kok, setiap hari juga tidak masalah." Elena terkekeh pelan diikuti oleh Aji.


Setalah selesai berbincang, Aji dan Aris keluar dari rumah diikuti oleh Elena.


"Hati-hati, Aris. Belajar yang pintar, ya?" Elena mencubit gemas pipi Aris, padahal dalam hati dia ingin sekali mencubit pipi itu hingga merah. Dirinya membenci Aris karena wajahnya cukup mirip dengan Evi.


"El, aku duluan, ya! Maaf tidak bisa pergi bersama ke restauran karena tujuan kita berbeda." ujar Aji setengah berteriak.


Elena mengangguk lalu dia melambaikan tangannya. Setelah kendaraan Aji menjauh, wanita itu mendengus kesal.


"Akh, sial! Kenapa sulit sekali mengambil hati anak kecil itu? Jika aku tidak bisa meluluhkan hatinya, maka aku akan memisahkan bocah itu dengan Mas Aji agar tidak ada lagi yang bisa menjadi penghalangku untuk memiliki Mas Aji." tekad Elena sambil tersenyum licik.

__ADS_1


****


Di tempat lain, hari ini Alex dan Evi harus berbelanja ke pasar. Itu semua karena ulah Meera, entah kenapa wanita paruh baya itu seperti ingin mendekatkan putranya dan juga Evi. Kesederhanaan, kesopanan, dan sifat Evi sangatlah Meera sukai. Putranya itu sudah hampir kepala tiga dan masih betah melajang.


Evi berjalan menyusuri kerumunan, pagi hari seperti ini memang sangat padat di pasar tersebut. Berkali-kali Alex berdecak karena dia berdesakan dengan para pembelanja.


"Ayo cepat! Aku terpaksa mengikutimu karena perintah dari Mama." ucap Alex datar dan bernada kesal.


Evi hanya mengangguk, dia mulai mencari apa yang tertulis di kertas selembar pemberian dari Meera. Setelah selesai mencari bahan dapur, mereka pergi ke pusat penjualan makanan. Tetapi saat baru beberapa langkah, seseorang menabrak pundak Evi.


''Aw," ringis wanita itu membuat Alex melotot ke arah sang penabrak.


••••


Tbc

__ADS_1


__ADS_2